
keesokan harinya atas janji bertemu di markas Avega akhirnya ditepati oleh Rania. tetapi dia tidak sendirian,baby rhea tidak ada yang menjaga, lebih tepatnya dia belum bisa mempercayai pengasuh atau pembantu lainnya dan juga Rendy yang harusnya berkerja tadinya memaksa untuk ikut dengannya.
"aku yang punya perusahaannya,jadi bisa bebas berangkat atau tidak itu urusanku"ya kurang lebih seperti itulah kurang lebih alasan yang diberikan oleh Rendy.
"selamat datang kembali nona abay"para anak buah Rania yang berada di depan menyambut kedatangannya.
"kenapa mereka masih memanggilmu nona abay, padahal kan seharusnya nyonya xavion"bisik Rendy kepada Rania sambil menggerutu.
Rania hanya diam sambil melirik suaminya sebentar,alu membuka suara untuk memberikan balasan atas sambutan dari para anggota organisasi Avega.
"terima kasih semua atas sambutannya, kalian boleh kembali melakukan kegiatan masing masing"
"baik nona abay"
"dimana dia?"tanya Rania kepada salah satu orang kepercayaannya.
"tuan Alexander sudah menunggu Anda di ruang kerja"jawab orang kepercayaannya.
"baiklah,aku akan ke sana lanjutkan pekerjaan mu"ujar Rania kemudian berlalu untuk pergi ke ruangannya bahkan mengabaikan suaminya.
"baik nona abay"
Rendy hanya menggerutu kesal sambil berjalan mengikuti langkah Rania, sedangkan baby rhea yang berada di gendongannya malah tertawa melihat kekesalan orang tuanya.
ceklek
"oh...jadi nyonya xavion sudah datang rupanya"ucap seseorang yang berada di Balik kursi kerja yang membelakangi pintu.
srekkk
orang yang berada di kursi itu membalikkan arah kursinya menghadap ke Rania.
"cepat katakan kau tidak perlu basa basi Demian Alexander"jawab Rania dengan nada dingin dan datar membuat semu seisi ruangan menjadi mencekam (biasa udah lama ngga ngeluarin auranya jadi kebablasan:)
"settt...santai nona abay oh atau tuan Baruna saja"ejek Demian memecah suasana agar tigak mencekam, karena di sana tidak hanya ada dirinya tetapi juga Rendy dan bayi berusia satu tahun.
"oke kita bicara empat mata di tempat latihan sekarang"ucap Rania dengan penuh penekanan dan berlalu pergi ke ruang yang dibicarakan.
"tunggu di sini,ga usah kemana mana"sambung Rania sambil menunjuk suaminya untuk di dalam ruangan saja dan tidak kemana mana.
dua jam berlalu
tetapi pembicaraan antara dua pemimpin itu belum terselamatkan. membuat Rendy merasa gelisah dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
"lama banget boy,apa sih yang mereka bicarakan di sana"gerutu Rendy sambil menimang anaknya.baby rhea sedang tidur di ajak bicara olehnya apakah itu masih waras?
tidak, karena Rendy menahan penasaran yang sangat besar apa yang sedang mereka bahas.yang Rania beritahu adalah "ini tentang keberangkatan Arsene bersama mereka ke Italia dan melihat organisasi yang ku pimpin" ya kurang lebih seperti itu.
__ADS_1
ceklek
Demian dan Rania masuk ke dalam ruangan itu.
"maaf lama"ujar Rania sambil mengambil baby rhea dari Rendy.
"emang"ketus Rendy yang sudah kesal karena menunggu terlalu lama.
"lah kok marah"ucap Demian.
"ngga dikasih restu baru tau rasa nanti"sahut Rania.
tok
tok
tok
"masuk"
ceklek
"nona abay sudah lama tidak bertemu"sambut Dandi yang baru saja memasuki ruangan itu.
"terlalu formal,terlalu basa basi"jawab Rania singkat.
"haha...berjanda doang"Rania hanya menatap Dandi datar.
"mereka sudah kembali?"buka malah menjawab di malah balik bertanya.
"sudah seminggu yang lalu,dan baru ingin berkumpul sekarang"jawab Dandi.
"aku...."
"tidak boleh"ucapan Rania terpotong karena Rendy yang membuka suara menolak untuk Rania tidak pergi.
"kenapa?kamu cemburu?"tanya Rania.
Rendy hanya menganggukan kepalanya pelan seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal oleh ibunya.
"hahahah"tawa Demian dan juga Dandi seketika pecah melihat kejujuran Rendy.
"jangan tertawa"ketus Rendy.
"sumpah,baru tau kalau tuan Rendy xavion Rahardian Franziska yang dingin bisa berekspresi seperti ini di depan istrinya...haha"Dandi dan Demian semakin tertawa keras karena melihat wajah kesal Rendy.
"sudah diam...kalau baby rhea bangun kalian harus tanggung jawab"selah Rania dengan wajah garang.
__ADS_1
...*****...
"Daddy dan mommy sudah pulang"sambut Arsene yang berada di ruang tamu dengan sebungkus cemilan di tangannya.
"iya sayang,di mana kedua adikmu?"tanya Rania.
"mereka di rumah Oma, ngga mau pulang kata bibi pengasuh"jawab Arsene.
"kenapa sen ngga nyusul ke sana aja nanti dijemput sama Daddy"sahut Rendy yang berada di sebelah Rania.
"sen mau di rumah aja,lagian mommy belum bilang sen boleh liburan sama uncle Dami lusa ke Italia"jelas Arsene.
"kakak boleh ikut liburan"jawaban Rania membuat sang putra sulung menjadi senang.
"kakak jaga adik kamu dulu ya, mommy mau bicara sama Daddy"
"siap mom"mereka langsung menuju kamar Arsene untuk menitipkan baby rhea.
"satu Minggu lagi aku ingin ke los angeles"ucap Rania dengan langsung pada intinya yang saat ini sudah berada di kamar mereka sendiri.
"kenapa? bukankah seharusnya kamu tidak menginjak mafia itu lagi"tanya Rendy
"kamu dulu memaksa untuk tetap menikah denganku bukan, bahkan kamu mau menerima masa laluku.tapi apakah kamu berfikir bahwa masa laluku bisa saja kembali"jawab Rania.
"kamu jangan egois"terlalu cepat Rendy mengambil kesimpulan tanpa berfikir panjang.
"dimana sisi egois ku?aku sudah pernah mencoba melepaskan mu.ini adalah hal yang paling ku takutkan di masa depan"ucap Rania sambil melihat ke cermin.
"aku tidak bisa membendungnya,saat itu aku sudah pernah bilang pergilah dariku aku terlalu berbahaya.tapi kamu malah langsung mengucapkan ijab Kabul tanpa sepengetahuan ku"sambungnya sambil menelusuri setiap sisi wajahnya melalui pantulan cermin.
Rendy langsung mendekati Rania dan memeluknya dengan erat dari belakang.
"aku hanya tidak ingin kehilanganmu.kamu adalah kehidupanku,ya aku dulu terlalu gegabah tapi aku juga tidak ingin kamu pergi"Rendy mengucapkan kalimat tersebut sambil terisak menyembulkan kepalanya di leher jenjang Rania.
nasi sudah menjadi bubur, bagaimana kehidupan cinta yang lalu tidak seharusnya dilanjutkan malah berbalik harus ada ombak kencang yang menerpa.
terlalu rumit jalinan takdir yang di peruntukan Rania dan juga rendy.semua kebahagiaan pernikahan bukan akhir dari cerita melainkan awal dari masalah baru muncul.
"sudah seperti ini aku tidak bisa mengubah takdir, berjanjilah padaku saat aku belum kembali atau bahkan tidak kembali berikan kasih sayang yang cukup untuk anak anak kita"pinta rania kepada Rendy sambil mengusap tangan Rendy yang melingkar di perutnya.
"tidak, berjanjilah padaku kamu harus kembali dengan selamat.kalau tidak aku tidak mengijinkan pergi"Rendy langsung menarik Rania untuk berbaring di tempat tidur.
"kamu mau apa?"tanya Rania saat Rendy sudah menindih tubuhnya.
"berjanjilah sayang"Rendy mengunci pergerakan Rania.mengengam tangan tepat berada di atas kepalanya.
"iya aku janji"segera Rendy langsung menyambar bibir ruam milik rania.lama kelamaan menjadi sebuah *******.dan ya kejadian setelah itu hanya mereka yang tau.
__ADS_1
...*****...
happy reading:)