
"kalian akan pulang hari ini juga?"tanya Demian yang berada di depan pasangan suami istri itu.
sedangkan mereka berdua yang di tanyai hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
"dan kau juga pulang?"tanyanya lagi pada Veronica yang berada di sebelahnya.
"iya lah Kaka, untuk apa aku di sini? Rania saja pulang"jawab Veronica menangapi ucapan kakaknya.
"hais...kenapa kalian malah meninggalkan aku?"gerutu Demian sambil mengacak-acak rambut miliknya dengan tangannya sendiri.
"ya itu derita kakak,mau bagaimana lagi kan masalah ini harus selesai secepatnya"ucap Veronica dengan cuek. dia sudah bodoh amat dengan keluh kesah kakaknya yang Beberapa kali sering mengeluh perihal rindu.
setelah pembicaraan itu mereka langsung bersiap menuju bandara, karena satu jam lagi pesawat akan lepas landas.
...*****...
waktu berjalan cukup cepat satu Minggu berlalu setelah kepulangan mereka bertiga ke indonesia.semua berjalan seperti biasa dengan kepentingan masing masing.
penambahan jadwal harian terjadi karena Rania harus menghubungi dokter Maya kembali untuk melakukan pengobatan ulang. tentu hal tersebut di dukung penuh oleh suaminya yang menginginkan dia sembuh. semua hal tersebut tak luput dari dukungan keluarga dan juga orang sekitarnya.
saat keluarga Rania tau tentang apa yang terjadi kepadanya. orang tuanya selalu meminta maaf dan sampai menangis di depan Rania setiap hari begitupun dengan kakaknya yang merasa bersalah karena tidak mengerti perasaan yang adiknya rasakan saat itu.
hari ini adalah jadwal Rania untuk bertemu dokter Maya dan hal itu membuat rendy harus iku melihat perkembangan kesehatan istrinya.
setelah berada di kantor seharian akhirnya Rendy beranjak dari kursi kebesarannya untuk menjemput istrinya di kantornya.
berjalan di tempuh dalam setengah jam untuk sampai di sana. langsung saja dia masuk ke dalam tentu resepsionis dan para karyawan sudah tau kalau dia adalah suami dari Atasan mereka.
Ting
Rendy sampai di lantai teratas dari gedung itu yang merupakan ruangan milik istrinya pemilik perusahaan tersebut.
"maaf tuan, nyonya sedang meeting bersama pemegang saham"ucap salah satu sekertaris Rania ketika melihat Rendy.
"jam berapa ini kenapa masih ada meeting?"tidak aneh Rendy menanyakan hal itu karena Rania bilang hari ini meeting setelah jam makan siang.
"terjadi beberapa kendala, karena itu meeting di lakukan sore hari. nyonya bilang anda bisa menunggu di dalam terlebih dahulu"jelas sekertaris Rania.
__ADS_1
"tidak, tunjukkan saja ruangannya aku ingin ke sana"pinta Rendy dengan nada tegas.
"baik tuan"
sedangkan Rania yang berada di ruang meeting tidak sadar bahwa hari ini dirinya ada janji dengan dokter Maya, karena memang menyelesaikan urusan yang harus di selesaikan sekarang.
".....dalam kurun waktu enam bulan ini angka penjualan meningkat pesat...."pembicara saat ini adalah Dandi yang menggantikan posisi Elsa yang memilih resign karena saat ini sedang mengandung.
"apakah ada yang di tambah nyonya?"tanya Dandi kepada Rania.
"tidak ada, selesaikan pembicaraan tadi saja dan beri mereka hak untuk bertanya"jawab Rania dengan nada penuh wibawa.
"saya ingin bertanya"salah satu dari pemegang saham terbesar mengajukan pembicaraan, Rania hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"menurut laporan yang ada,anda selaku CEO sekaligus pemimpin dari perusahaan jarang menampakan diri di kantor dan sering lalai akan tanggung jawab. apakah masih pantas kinerja kerja anda di pertanyakan?"tanyanya dengan berani sedangkan beberapa dari mereka yang memang pemegang saham lama hanya menatapnya prihatin.
"dari mana anda memperoleh informasi tersebut?"tanya Rania dengan tengah sambil tersenyum smrik.
"saya membutuhkan jawaban bukan pertanyaan ulang. apa memang karena sekarang anda sebagai seorang perempuan yang sudah menikah karena itu kinerja anda menurun. kalau seperti itu lebih baik mencari pengganti saja"orang itu terus menyatakan pendapatnya tanpa di rem sama sekali.
perlu di ingat saat ini Rania sedang berada di perusahaannya tetapi agenda rapat pemegang saham tersebut adalah milik perusahaan milik orang tua Arsene yang di pegang olehnya. memang hal itu yang di rencanakan oleh Rania agar tidak bolak balik pindah tempat kerja.
"kalau anda setuju,saya punya usul lebih baik mengangkat manager pemasaran saat ini sebagai pengganti anda. karena dilihat dari data sebelumnya dia masih berkerabat dengan pemilik lama sedangkan anda tidak"ucapan sedikit menyinggung pada hubungan darah.
"Terima kasih atas sarannya saya akan memecatnya"ucapan Rania ternyata berbanding terbalik dari kenyataan.
"tidak bisa seperti itu,atas dasar apa anda memutuskan seenaknya. oh apa karena anda tidak ingin jatuh miskin"bantah orang itu dengan suara sedikit meninggi.
"maaf tuan bisa diam sebentar, pembicaraan itu kita bicarakan di akhir, kita selesaikan pembicaraan sebelumnya"pinta Dandi dengan sopan.
Rania kembali fokus pada tablet yang berada di tangannya tidak mengindahkan ucapan orang itu dan pembicaraan berjalan kembali.tetapi dia tersadar ketika seketika ruangan tersebut menjadi sunyi entah mengapa dia menjadi bingung.
Tak
sebuah gelas berisi air putih di letakkan di depan meja rapat tepat di depan Rania. dia melirik ke arah samping dan matanya langsung melebar melihat seseorang itu.
"sayang sudah jam berapa ini?"tanya Rendy dengan nada halus sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Rania dengan segera melihat jam tangannya, dan benar saja Rendy ada di sini ini hampir lewat waktu pulang.
"maaf aku lupa"jawab Rania dengan rasa bersalah.
"tidak masalah"ucap Rendy sambil mengusap kepala Rania dengan sayang. sedangkan semua yang ada di sana pun diam.
Rendy langsung menghadap ke arah semua orang yang ada di sana sambil meletakkan kedua tangannya bertumpu pada meja meeting dan menatap dengan mata elangnya.
"maaf menganggu sedikit rapat hari ini perkenalkan saya Rendy xavion Rahardian Franziska dan juga suami dari CEO kalian saat ini"ucapnya dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah orang yang mempertanyakan kinerja kerja Rania.
"Dia adalah salah satu CEO perusahaan terbesar di Asia dan juga keturunan keluarga Franziska yang merupakan keluarga terpandang berdarah Italia"mereka semua yang berada di sana membisikkan hal yang sama.
"saya ingin meluruskan suatu hal bahwa nyonya xavion selalu bertanggung jawab atas kewajibannya di perusahaan ini. memang dia jarang datang ke kantor tapi pekerjaan selalu selesai tepat waktu "jelas Rendy.
"tapi mengapa belakangan ini tidak kompeten,"protes orang itu kembali.
"saya belum selesai bicara, beberapa Minggu terakhir ini dia sedang sakit. apa anda tidak lihat sesuatu yang menempel di dahinya ha?.."suara rendy naik satu oktaf sambil menyikap rambut Rania dan terlihat kepala Rania yang di tempel oleh dengan plester.
"seorang pemimpin juga manusia, pernyataan anda tentang kinerja kerja tidak masuk di akal. lagi pula dia tidak hanya mengurusi satu perusahaan saja dan lagi untuk apa takut miskin sedangkan suaminya saja bisa membiayai hingga tujuh turunan sekali pun"ucapnya dengan gamblang tak terima dengan ucapan yang dilontarkan oleh tersebut kepada istrinya.
"detik ini juga saya akan membeli saham yang ada padanya dengan harga berapapun dan segera keluarkan dia dari sini"final sudah keputusan Rendy.
brak
"ini tidak adil,saya tidak mau menjualnya"bentaknya sambil berdiri menggebrak meja.
"saya setuju"ada suara baru yang ikut berpendapat yang tidak lain adalah dewan direksi.
"dia terlalu banyak mengunakan uang kotor,cepat bawa dia keluar dan cabut saham atas namanya"sebagai seseorang berstatus tinggi yang berdiri di sana tentu memikirkan keuntungan dan kerugian yang terjadi.
"tidak saya tidak mau,"orang itu berteriak meskipun sudah di bawa oleh petugas keamanan keluar.
"dasar bedebah sialan,buat ribut saja bisanya"umpat Dandi dengan lirih.
.
.
__ADS_1
.
happy reading