Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 19 Anak Nakal


__ADS_3

Berlanjut...


Sebuah sepeda motor yang sudah tidak asing lagi, diparkir di tempat nongkrong anak muda. Mereka semua masih mengenakan seragam sekolah dan tidak pergi ke sekolah untuk membolos.


"Eh Al kemarin lo ikutan lomba yang di Jakarta itu, kan?"


"Si El cuman juara tiga," ledek teman-temannya.


"Lumayan juara tiga daripada nggak," kelit Ello membela diri. "Udah jam segini, gue mau cabut."


"Kemana?"


"Sekolah lah, emangnya lo lo pada. Gue mah budak bolos setengah hari."


"Kayak saum ayakan," ledek teman-temannya.


"Dih, bolos mah bolos aja. Ngapain balik lagi ke sekolah."


"Menimpa ilmu," timpal Ello kembali dengan ledekan sambil menaiki motornya. "Termotivasi lah pada gue, biar jadi anak pinter."


"Lo mah dari lahir juga dah pinter, nggak belajar juga nilai-nilai lo bagus. Yah nggak?"


Mereka angguk membenarkan.


"Heh denger nih. Di dunia ini ada tiga tipe orang. Pertama, orang males. Kedua orang yang udah berusaha tapi tetep hasilnya tidak memuaskan. Ketiga, orang yang beruntung. Kalian pada tahu artinya?"


"Apa?"


"Dari tipe-tipe itu ujung-ujungnya bakalan ada hasil akhir. Nah lo lo pada emang nggak ada di tipe tiga tapi juga jangan mau ada di tepi pertama."


Meski menasehati, Ello tetap saja ada kata-kata untuk sindiran.


"Mending tipe dua, tinggal berusa lebih keras lagi, nanti juga bakalan terbalaskan. Nah jadi demikian ceramah dari saya, saya pamit undur diri. Assalamu'alaikum."


Huuuu prok prok prok


Mereka semua cengegesan dan tertawa dengan tingkah Ello itu.


"Wa'alaikumsalam."


Ello tertawa kecil, sepeda motor nya pun telah melaju.


...****************...


Sesuatu membuat Alya tidak bisa mengeluarkan suaranya setelah Rave menanyakan perihal kepindahan sekolah. Alya menjadi lebih gugup. "A...aaku."


"Lo takut sama gue?"


"Hah nggak, nggak," bantah Alya panik.


"Terus kenapa gugup?"


"Ini pertama kalinya kita ngobrol," terang Alya mendudukkan kepalanya malu. Sifat Alya yang sebenarnya muncul.


Rave berdeham dan menjadi malu pada dirinya sendiri karena sikap Alya seperti ini, ini seperti kasus percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Rasa curiga terhadapnya teralihkan karena ini. Tidak lama dari itu, suara orang-orang terdengar memasuki ruangan ini.


Akhirnya.


Kecanggungan mereka berdua sedikit hilang karena yang lainnya sudah tiba.

__ADS_1


"Kalian udah disini daritadi?"


"Iyah kak Feby," jawab Alya dengan cepat.


"Mana El?"


"Belum dateng ke sekolah," jawab Rave kali ini.


"Shei?"


"Kayaknya bolos, Kak," jawab Alya


"Bolos?" Mereka sedikit terkejut.


Alya angguk. "Tadi udah sekolah, tapi pulang lagi sebelum gerbang ditutup."


Terdengar helaan nafas panjang. "Yaudah, kalian aja yang ngejelasin. Jadi gimana kemarin? Idenya."


Seharusnya yang menjelaskan adalah Shei karena dia yang mempunyai ide tersebut.


"Kita mau nyoba ngegabungin sama instrumen band, Kak," papar Alya.


"Band?"


"Iyah, Kak. Jadi ini usulan dari Shei, dan juga bakalan ada sedikit drama yang ditampilin."


"Kita cuman punya waktu seminggu setelah UAS. Tapi... ide ini bagus, sayang kalau nggak dipake, kita juga belum pernah nyoba. Ah anak ini kenapa malah bolos, gue kan jadi susah nanya-nanya lebih detailnya."


"Terus gimana jadinya, Kak?"


"Ide ini sebenarnya bakalan mudah, tapi karena kita kekurangan anggota bakalan sulit juga. Besok, kita harus kumpul lagi. Gue bakalan bagi-bagi tugas, dan kalian, awasi Shei sama El jangan sampai bolos lagih."


......................


Ello, tidak tahu lewat dari mana dia masuk tapi dia sudah berada di dalam sekolah, berjalan dengan santai tanpa rasa takut dan tak tahu malu masuk ke kelasnya.


"Lo darimana aja? Heh?" sindir Joy yang tengah asik bermain game di ponselnya, melihat Ello yang baru saja masuk.


"Kumpulan dulu," jawab Ello santai.


Tatapan Joy langsung berubah gugup tapi juga berusaha menahan tawanya. Karena.


"Kumpulan apa huu?"


"--aaawh sakit, sakit." Wali kelas kami, Pak Satria, menarik-narik telinganya.


"Sini ikut bapak. Kamu bener-bener nggak kapok jadi anak."


"Iyah pak tapi lepasin dulu sakit."


Penghuni kelas Flower tertawa terbahak-bahak mendapatkan hiburan di atas penderitaan temannya.


......................


Rapat hanya sebentar di ruang ekstrakurikuler marching band. Semua orang bubar dan berpisah di berbagai persimpangan jalan. Alya sudah pergi lebih dulu, beberapa detik Rave memutuskan untuk mengikutinya dari belakang tanpa ketahuan. Rave masih curiga padanya. Setelah kejadian itu.


Alya masih memegang surat itu, Rave sesekali melihat surat itu dan kembali fokus mengikuti Alya. Berada di tikungan banyak murid-murid yang bergerombol saling bercanda membuat Rave geram. Mereka membeku tidak sengaja menghalangi jalan Rave, seorang ketua dari kalangan berandalan. Mereka langsung meminta maaf dan pergi. Karena itu, Rave kehilangan jejak Alya. Alya sudah tidak terlihat. Rave berdecak pinggang.


......................

__ADS_1


"Hukuman yang pantas buat kamu sekarang apa ya." Pak Satria masih menjewernya sampai mereka meninggalkan kelas. Dan itu membuat semua siswa melihatnya.


"Hukamannya di kantin aja, Pak. Sekalian saya bisa makan siang."


"Ide bagus tuh. Selama seminggu kamu bantu pekerja di kantin, layanin makan siang semua murid."


Ello tertegun dengan hukuman yang ia terima. "Seminggu, Pak? Layanin temen-temen makan siang? Ah bapak mah, nggak mau, ganti, Pak!"


"Kan kamu yang ngasih ide. Mulai besok, kerjakan hukamannya. Kalau nggak,, bapak panggil orang tua kamu."


Seketika mata Ello seperti akan keluar dan segera menggeleng kepalanya cepat, takut dengan ancaman tersebut.


"Ya sudah. Terdengar bel masuk langsung ke kelas, belajar."


"Iyah, Pak," jawab Ello malas.


Meskipun Pak Satria sudah pergi, tapi gerutuan dia masih terdengar oleh Ello. Ello mendengus, mendapat sindiran itu.


...****************...


Sebuah mobil diparkir di suatu tempat di kota Jakarta dimana tempat ini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak nakal dari Nusantara High School, sekolah lamanya. Termasuk dirinya pernah menjadi bagian dari mereka.


"Paman tunggu aja disini."


"Tapi Non saya udah diamanahin buat jagain Non Shei."


"Shei nggak lama, kok. Cuman nyapa temen, yah."


Shei tersenyum meyakinkan, setelah berbalik dan menginjak kakinya dengan percaya diri, ekspresinya berubah menjadi aura gelap.


Shei telah melewati tembok pemisah ini. Suasana tidak berubah sama sekali, gelak tawa mereka, gelak tawa di atas penderitaan orang.


"Sheila?"


"Heh lo ngapain nyebut si bodoh itu, hahaha..."


"Iitu beneran... Shei."


Dan mereka langsung menoleh dengan kejut.


"Eh Sheila apa kabar?"


"Eh bukannya hari ini bukan hari libur ya? Lo bolos? Atau putus sekolah karena trauma?"


HahahaHAHAHhahaha


"Widih lo makin cantik aja. Bisa dong kita.--" Ditepisnya kasar oleh Shei dari wajahnya. Menjijikkan. "Makin hot nih."


Mereka tertawa, tapi tidak untuk Shei. Muak.


"Mana kak Yura?"


"Ngapain nyariin gue?"


Suara itu terdengar, baru saja keluar menunjukkan dirinya, perasaan tidak nyaman bagi Shei muncul. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


...🌸...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2