
Shei terpaksa menerima Rave yang mengantarkannya. Shei berpikir jika Rave menemaninya, neneknya akan percaya juga sehingga Shei dapat memiliki waktu luang untuk berlama-lama di luar.
Rave ternyata bisa menyetir mobil juga, Shei mengira dia hanya bisa menyetir sepeda motor. Tapi ternyata. Dia bisa bela diri, ditakuti anak sekolah dan preman, bisa mengendarai motor, mobil, memainkan alat musik, dan secara akademis dia di atas rata-rata. Apakah Rave tidak memiliki kelemahan? Shei sangat penasaran.
Memang, Rave adalah murid yang patut diacungi jempol. Pertama kali bertemu dengannya, di mana Shei diselamatkan oleh Rave, Shei telah mengaguminya. Tapi itu sebelum mengenali sifat aneh Rave atau Rave yang misterius? Oh menyebalkan!
Shei sudah lama tidak berada di mobilnya sendiri. Dia merindukan Copen oranye favoritnya. Karena setelah kejadian itu, dimana sikap Shei berubah menjadi anak yang sedikit nakal, dia selalu pulang larut malam. Kevin tidak membiarkan Shei membawa mobilnya lagi. Dan wajib dijemput oleh supir. Ternyata banyak risiko yang dialami Shei selama menjadi anggota NHS. Tapi itu dulu. Sekarang Shei sudah terlepas dari geng NHS. Tapi tidak dipungkiri Shei masih mendapat dampaknya.
Sebuah Copen mungil telah diparkir di salah satu tempat seperti tempat nongkrong anak muda. Jelas begitu banyak anak muda di sini.
Oh shit! Gue benci tempat ginian. Umpat Rave dalam hati.
Begitu ramai disini. Rave sangat tidak menyukainya. Ia menatap Shei sejenak. Berpikir bahwa anak seperti Shei biasa berkumpul di tempat ini? Apa benar dia menyukai hal yang seperti ini? Bad!
"Lo sering ngumpul disini sama temen lo? Nggak salah?" tanya Rave masih tidak percaya.
"Iyah. Kenapa? Gue udah biasa kesini," dengus Shei.
Shei berjalan di depan diikuti oleh Rave dari belakang. Sebenarnya Shei sedikit khawatir tentang sesuatu. Tapi dia harus menutupinya. Melihat sekeliling, Shei menghela nafas sedikit lega pada orang-orang yang tidak ingin dia lihat. Tidak ada. Kemudian dia melihat Lisa yang sudah duduk disana.
"Lisa..." panggil Shei ceria.
Tatapan Rave segera mengikuti arah Shei. Teman Shei itu tidak jauh berbeda dengan Shei dalam hal berpakaian. Akhirnya Rave dapat melihat langsung teman Shei yang bernama Lisa.
"Gue kesana. Kalau udah selesai, kabarin," ucap Rave dengan suara dinginnya. Ia pergi untuk duduk di tempat lain dan memutuskan untuk tidak bergabung dengan Shei dan temannya itu.
Lisa melambaikan tangannya untuk menyambut Shei dengan riang. Sudah hampir dua bulan mereka tidak saling mendengar. Tentu saja mereka saling merindukan sebagai teman.
"Aaaaaa Shei...."
"Lisa...."
Mereka berpelukan.
"Omg! Sumpah gue kangen banget sama lo, Shei!"
Shei terkekeh bisa mendengar lagi suara Lisa. "Gue juga."
Dan di ujung sana, Rave telah duduk, bergedik geli dengan interaksi Shei dengan Lisa yang sangat heboh. Jika Rave sebut mereka itu alay.
"Yang dateng sama lo siapa?" tanya Lisa melihat ke arah Rave yang datang bersamaan dengan Shei, tadi.
"Oh. Itu... Rave. Temen sekelas. Tapi nggak terlalu akrab, sih."
Mungkin.
"Nggak akrab kok bisa barengan?"
"Nggak tahu omah gue."
"Lah kok jadi ke omah?"
"Jangan bahas dia, deh. Nggak penting juga," celetuk Shei. Dan Lisa hanya mengangguk dengan senyum. "Gue kira lo nggak mau temenan lagi sama gue." Shei dengan cemberut mengingat bahwa nomor Lisa tidak dapat dihubungi.
__ADS_1
"Ihh mana mungkin. Lo kan sahabat gue."
Shei tersenyum mendengarnya. Namun ia pun teringat satu hal. "Lisa."
"Hum?"
"Waktu itu gue sempet ke sekolah. Gue liat lo sama David boncengan. Lo juga... nyium pipi David. Kalian pacaran?"
Berarti gue nggak salah lihat. Batin Lisa mengingatnya.
Senyuman Lisa sedikit memudar hanya beberapa detik. Ia kembali tersenyum hangat. "Lo ke sekolah, Shei? Kapan? Kok nggak bilang, sih?"
"Emang lo nggak liat gue? Diseberang?"
"Nggak...." Bohongnya.
Shei pun ber'oh dengan pikiran yang masih mencerna.
"Shei..." Shei kembali melihat Lisa. Lisa masih setia tersenyum dengan bahagia. "Gue pacaran sama David."
"Sejak kapan?" tanya Shei terlihat ikut senang mendengar kabar itu. Meski sebenarnya sudah tahu lebih dulu.
"Hampir dua bulan, sih," jawabnya.
Yah. Tepat setelah Shei dikeluarkan dari sekolah.
"Gue nggak tahu ternyata lo suka sama David," ujar Shei. "Padahal dulu kita sering ribut sama David. Bawa-bawa Mbak Lastri lagih." Kekehnya.
Shei mengangkat halisnya sedikit heran. Lalu ia tertawa kecil. "Lo kenapa bisa mikir kayak gituh?"
"Yaa.. Kali... Lo juga suka. Sama David."
Sontak mendengar itu Shei tertawa. "Mana mungkin gue suka sama David. Dia sahabat gue. Ada-ada aja lo, Lis."
Lisa berseri malu. "Ah jadi. Gimana sekolah baru lo itu?"
...****************...
Hari ini kudendangkan
Lagu yang ingin kunyanyikan
Terkenang semua kenangan
Yang tlah kualami
Ingin kubuka lembar baru
Untuk meneruskan hidupku
Tak mau lagi kesedihan
Selimuti diriku
__ADS_1
Suara yang sedikit bass dari pemilik anak muda ini, Ello. Dia seperti biasa mengisi waktunya untuk tampil di atas panggung. Entah itu untuk lomba atau hanya sekedar manggung di cafe biasanya bersama teman lainnya.
Semua orang ingin bahagia
Menjalani hidup di dunia ini
Ingin kubukakan jawaban
Misteri kesenangan yang sejati
Dia dengan gitarnya bersama bandnya, menyanyikan lagu dari band Indonesia J'Rocks - Ceria. Mungkin lagu ini sangat cocok untuk suasana hari ini memberikan semangat pada semua orang pengunjung kafe.
Dua gadis, baru saja masuk ke kafe ini. Namun satunya tampak sedikit memberontak kepada temannya yang memaksanya untuk ikut kemari. Mereka adalah Alya dan Ghesa.
"Ghes... gue nggak mau!" rengeknya.
"Ih... nggak papa, Alya. Kafe ini nggak kayak yang lo pikirin."
"Tapi...."
"Tuh liat. Biasa-biasa aja, kan?"
Alya melihat sekeliling. Sepertinya kafe ini tidak seperti yang dia pikirkan. Alya takut tempat ini tempat yang sering dikunjungi anak-anak nakal. Alya sangat takut akan hal itu.
"Eh, Alya. Liat tuh... ada El lagi nyanyi," tunjuk Ghesa.
Alya pun segera melihat ke arah yang ditunjuk Ghesa. Benar saja Ello sedang manggung di kafe ini. Ello yang disana, melihat dua orang yang berdiri menatapnya. Alya dan Ghesa. Ello pun tersenyum melihat mereka berada disini, menikmati nyanyiannya.
"Ayok, Al. Cari tempat duduk...."
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan selalu ceria
Berikanku arti hidup ini
Nyanyian Ello selesai. Live band berhenti untuk istirahat digantikan dengan memutarkan lagu. Ello langsung menghampiri teman sekelasnya itu.
"Ghes, Al... Kalian kesini?"
"Iyah. Mampir," jawab Ghesa. "Lo sering manggung disini?"
"Heem. Tempat tongkrongan gue juga. Disini kan ada studio musik. Sekalian latihan sama temen-temen."
Ghesa dan Alya ber'oh.
"Kalau gitu, gue kesana dulu," tunjuk Ello kepada kumpulan teman-temannya. "Kalian enjoy aja. Makanannya enak-enak, kok. Nggak macem-macem juga anak-anak disini."
Ternyata Ello mengetahui isi pikiran Alya. Ghesa dan Alya tersenyum angguk dan setelah itu Ello pergi untuk berkumpul dengan teman bandnya disana.
...🌸...
__ADS_1