
Berlanjut....
"Ini bos. Yang lo minta. Gua ngambil foto mereka diem-diem, susah juga."
"Jadi ini geng dari NHS?"
NHS singkat Nusantara High School.
Orang itu telah memenuhi apa yang disuruh oleh Rave saat itu.
"Iyah, bos. Pemimpinnya yang ini, kalau nggak salah namanya.... Bimo." Menunjuk pada pria yang besar, kekar dan memiliki sedikit rambut.
"Yang ini siapa?" tunjuknya pada perempuan yang disamping ketuanya. Di foto itu.
"Cewek seksi itu namanya Yura. Dia ketua dari ceweknya, bos."
"Terus apa yang mereka lakuin sebagai geng?"
"Yaah geng sekolahan pada umumnya. Malakin, balapan motor. Tapi cewek ini nih, bos, Yura, dikenal sama bullyannya."
Rave akhirnya menemukan informasi penting dari tersangka pertama, yang ia incar. "Lanjutin..."
Orang itu memberikan beberapa gambar lagi. Rave menemukan Shei di antara foto-foto itu. Wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan apapun darinya, malah dia terlihat tertekan, dan ketakutan. Seperti yang pernah dilihatnya secara langsung, ketika Shei mendengar nama-nama pemimpin geng, Bimo dan Yura.
Rave kembali ke gambar berikutnya. Ada orang yang familiar disana, dua orang yang pernah dia lihat di foto sebelumnya yang dia terima dimana mereka berdua berfoto dengan Shei sambil tersenyum. Rave pikir, mereka adalah teman terdekat Shei.
"Dua ini siapa?"
"Oh itu bawahannya, kelas 11. Lisa sama David."
"Oke, makasih infonya."
"Berarti gue udah dibebasin nih? Nggak bakal panggil polisi, kan?"
"Hem."
"Yesss! Oke makasih bos... gue cabut dulu."
Rave terus menatap foto itu. "Oh... jadi namanya Lisa sama David. Kalau emang mereka temenan sama Shei, Alya juga temen Shei waktu SMP. Tapi kenapa Alya diperlakuin buruk sama Shei? Padahal dulu mereka deket."
Awalnya Rave tidak ingin mencari tahu dan ikut campur dalam urusan Shei. Namun, sesuatu di mana dia ingin mengungkapkan kebenaran kepada Shei, yang sama sekali tidak bersalah.
__ADS_1
"Permisi, tuan."
"Iyah ada apa?"
"Di luar ada yang mencari tuan."
"Siapa?"
"Tidak tahu, tuan. Masih gadis, katanya anak dari Dara."
Deg! Lelaki tua itu langsung meletakkan penanya yang tadi terfokus pada berkas-berkas yang menumpuk di meja kantornya, namun setelah mendengar nama Dara, konsentrasinya memudar.
Tamu yang mengejutkannya, telah diizinkan masuk. Pria tua bernama Kevin datang dengan kaget bersama dengan istrinya Rosa, mereka saling berpandangan.
Anak dan ayah yang sama-sama kuat, tidak meneteskan air mata meski berlinang air mata menahannya. Mereka telah duduk bersama, masih ada beberapa menit keheningan karena terkejut dengan kedatangan putri pertamanya yang telah ia rindukan, dan belum pernah bertemu sama sekali.
"Kamu mirip sekali dengan Dara. Ayah senang, ternyata kamu yang mendatangi ayah lebih dulu. Ayah sangat rindu sama kamu. Maafkan ayah di masa lalu. Ayah sangat menyesal."
Kevin sangat menyesali karena tidak menemani lahirnya putri pertamanya, dia. Dia adalah Rave. Dan kabar yang begitu sedih, bahwa Dara tidak bisa tertolong saat melahirkan Rave.
"Karana itu, saya datang kemari bukan karena rindu. Saya tidak mau membuat Anda merasa bersalah, dan lupakan itu, agar saya bisa hidup dengan tenang, tampa menyesalinya juga karena belum sempat menemui ayah kandung saya sendiri."
Tergores hati seorang ayah mendengar kalimat dari putrinya yang sangat formal dan dingin padanya. Merasa gagal menjadi sosok ayah bagi putri pertamanya.
"Tunggu, Nak. Kamu tidak mau tinggal sama ayah disini? Bukannya kamu di Bogor tinggal sendirian." Harapnya.
"Iyah, Nak Rave. Kamu bisa tinggal disini dengan ayah kamu. Kita bisa jadi keluarga. Ayah Kevin, mamah Rosa, dan adik kamu Sheila," sambung Rosa, istri Kevin.
Rave sedikit terkejut, ternyata dia memiliki saudara. Tapi, sekarang, Sheila yang merupakan adiknya, Rave tidak menemukannya disini.
"Kalian seumuran, kalian pasti cocok sebagai saudara dan teman. Sheila juga pasti seneng punya kakak kayak kamu, bisa hibur dia."
"Yah, Nak Rave. Adik kamu dikeluarin dari sekolah dan belum masuk sekolah lagi. Dia trauma, karena teman-temannya. Adik kamu dituduh mencuri kunci jawaban. Kalau kamu bisa tinggal sama kami, kamu bisa menjadi penyemangatnya. Bukan karena itu, kami juga berharap kamu tinggal disini agar jadi keluarga yang sempurna dengan adanya kamu."
Sedikit perhatian pada saudara perempuannya dari ayah yang sama. Meski begitu itu tidak dapat merubah keputusannya.
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi saya tidak bisa tinggal disini. Saya permisi."
Langkahnya terhenti ketika melihat foto yang terpampang di dinding cukup besar memperlihatkan keluarga ini. Dan melihat gadis itu di tengah-tengah orang tuanya. Rave mengira gadis itu lah yang mereka maksud. Saudara perempuannya, Sheila. Setelah melihatnya sebentar, ia keluar dari rumah besar ini.
...****************...
__ADS_1
Malam ini Ghesa akan menginap di kost Alya, mereka juga akan belajar bersama untuk ujian semester yang akan datang. Banyak berbagai jenis buku paket dilantai ini. Alya benar-benar mengajarkan Ghesa dengan sungguh-sungguh, tanpa sedikitpun celah untuknya istirahat. Harus fokus. Dan Ghesa kewalahan. Dia sudah lelah.
"Alya... istirahat dulu. Gue capek," rengeknya.
"Tapi Ghesa... kita baru aja mulai loh. Baru satu jam, ini belum sampe materi matrik dasar."
"Otak gue udah nggak mampu lagi sama angka. Istirahat dulu ya." Ghesa tersenyum penuh harap, memohon.
Alya tidak tega melihatnya juga. "Yaudah, kita istirahat sepuluh menit."
"30 menit," pinta Ghesa.
"No. 10 menit."
"Bonus dikit dong..."
"15 menit."
"Yes. Okew." Alya naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. "Akhirnya..." Bernafas lega.
Alya tersenyum melihatnya, dia tidak ikut istirahat, malah dia kembali pada buku yang berbeda. Tidak salah lagi, memang murid teladan Bakti Nusa.
"Alya."
"Kenapa?"
"Lo nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa gimana?" Yang masih asik dengan bolpoinnya menulis di atas kertas.
"Lo satu sekolahan lagi sama Shei, satu kelas dan satu ekskul juga." Tangan Alya yang tadi sibuk menulis, tiba-tiba berhenti. Namun itu tidak lama, ia tidak mau terganggu dengan nama itu. "Lo nggak diganggu sama dia, kan? Karna lo mantan murid Nusantara juga."
"Nggak. Lo nggak usah khawatir, Ghes."
Padahal Ghesa adalah salah satu teman terdekatnya sejak pindah. Tapi Alya juga tidak menceritakan semuanya antara dia berteman dekat dengan Shei. Alya hanya sekali mengatakan bahwa alasan dia pindah karena dia tidak nyaman dengan sekolah lamanya. Dan dirinya pernah dirundung karena culun.
"Apa... Shei salah satu orang yang pernah ngusik lo juga?"
Deg! Alya gugup.
"Dia anggota geng. Berarti dia juga termasuk," kejut Ghesa segera bangkit dari tidurannya, menghampiri Alya memeluknya. "Alya,, lo pasti ketakutan banget kan ketemu lagi sama anggota geng yang pernah bully lo. Di sekolah lama itu. Astaga Alya! Maaf gue baru sadar. Maafin gue yah."
__ADS_1
Alya bisu. Tidak tahu harus menjawab apa. Karena disisi lain, itu memang benar.
...🌸...