
Gadis malang yang telah menghabiskan masa SMA-nya dengan berbagai masalah yang begitu sulit dan menyakitkan. Apa yang dia lakukan ternyata membuat masalah semakin besar. Dia berpikir bahwa setelah dikeluarkan dari sekolah, dan pindah ke sekolah baru dia tidak akan menghadapi kesulitan lagi dengan masalah ini. Apa yang diinginkan orang itu darinya? Apakah dia telah melakukan sesuatu yang salah, sengaja atau tidak sengaja, yang membuat orang itu terluka. Jika itu benar, dia merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Tapi bukankah ini terlalu jauh untuk menyeret temannya, jika orang itu membencinya maka bencilah dia dan jangan menyeret temannya ke dalam masalah ini.
Orang itu tahu betul tentang kehidupan Shei, apa yang dia alami, dan siapa teman terdekatnya. Kejadian kemarin adalah hari yang lebih buruk baginya di sekolah. Kata-kata yang menyakiti perasaan sahabatnya baru saja keluar dari mulutnya. Dia sangat menyesali itu. Tetapi tidak ada cara lain untuk melindungi orang dari pikiran negatif tentang temannya, dan lebih baik dia yang dibenci karena dia sudah memiliki reputasi buruk.
Shei telah menjauhkan diri selama beberapa hari terakhir, dia juga tidak menyentuh makanan yang selalu disimpan pengurus rumah tangganya. Matanya masih bengkak, seperti mata panda yang tidak bisa dia sembunyikan. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut untuk menutupi lukanya. Shei merasa bahwa dia memang seorang pengecut di dunia ini, dia menyadari bahwa dia terlalu buruk untuk memiliki teman.
Tuk tuk tuk
"Non. Bibi masuk ya."
Pintu kamar Shei terbuka, pelayan di rumah ini bernama bi Ayu membawakan sarapan. Melihat makanan yang disimpan di meja tadi malam tidak tersentuh oleh anak majikannya. Masalah apa lagi yang membuatnya seperti ini. Ia teringat saat anak majikannya dikeluarkan dari sekolah karena dituduh mencuri soal ujian dan kunci jawaban. Persis seperti sekarang ini. Anak majikannya mengurung dirinya sendiri.
"Non sarapan dulu. Non belum makan dari kemarin. Kalau nanti Non sakit, nanti saya harus bilang apa sama tuan sama nyonya, sama ibu. Non makan dulu ya, satu suap juga nggak papa yang penting perut Non keisi. Atau Non mau sesuatu biar bibi buatkan yang lain."
"Bibi..."
"Iyah, Non?" Bi Ayu dengan cepat menjawabnya. Suara anak majikannya serak dan lemah. Berpikir bahwa dia terus menangis sepanjang malam. Dia tidak bergerak sedikitpun dan masih menutupi dirinya dengan selimut. "Non mau apa? Biar bibi buatkan."
"Bi..."
"Iyah, Non?" Bi Ayu semakin mengkhawatirkan kondisi anak majikannya.
"Shei anak yang buruk yah."
"Tidak, Non. Non anak yang baik, kok."
"Bibi bohong."
"Tidak. Bibi berkata jujur. Non itu anak yang baik malah terlalu baik. Bibi yakin, Non Shei seperti ini karena memiliki alasannya, mungkin Non belum siap untuk cerita. Tapi setidaknya, lebih baik Non harus jujur. Karena jika terus seperti ini, mungkin apa yang ingin Non selesaikan akan lambat tahu."
Shei terdiam, namun ia mendengarkan.
"... Menyelesaikan sendirian memang tidak salah. Tapi dengan mengatakan semuanya, bukannya beban akan lebih ringan lagi?"
__ADS_1
"Tapi di luar sana udah banyak kebencian sama Shei," keluh Shei bersuara yang akhirnya dia keluar dari selimut.
"Maka dari itu, Non butuh kedamaian." Sontak hal itu membuat Shei terdiam, apa yang dikatakan Bi Ayu membenarkan apa yang diinginkan Shei. "Kedamaian itu datangnya dari hati. Lalu orang-orang yang Non sayangi, tepatnya ada di dalam hati, Non."
Bi Ayu tersenyum, saat melihat raut wajah anak majikannya itu. Bi Ayu semakin khawatir, tetapi dia akan berusaha membantu sebanyak mungkin dengan masalahnya. Anak majikannya seperti anak sendiri, dia merawatnya sejak dia masih bayi. Bi Ayu senang anak majikannya bisa berkeluh kesah lagi padanya.
"Nah. Kalau gitu, Non makan ya. Biar Non punya tenaga buat cari kedamaian, Non itu. Yah? Sekalian bibi siapin air hangat buat Non mandi."
Shei akhirnya mengangguk mau. Bi Ayu senang akhirnya bisa menghidupkan kembali semangat anak majikannya itu. Dia tidak tega melihat Shei terus menerus terpuruk.
"Makasih, Bi."
Bi Ayu tersenyum angguk lalu pergi menyiapkan keperluan anak majikannya.
...****************...
Liburan semester telah tiba, yang seharusnya menyenangkan untuk berlibur dan beristirahat, tetapi bocah ini terus memikirkan gadis yang disukainya. Apakah dia baik-baik saja, makan dengan baik, dan tidak melukai dirinya sendiri. Dia sangat khawatir padanya.
Bahkan tidak bisa dihubungi, sepertinya Shei mematikan ponselnya. Ello tidak mendengar kabar darinya selama beberapa hari. Dia sangat merindukannya, dan ingin melihatnya. Tapi karena janji dengan Nenek Kartika dia tidak bisa bertemu Shei, sebelum Shei mau. Tapi berapa lama lagi? Ello tidak tahan lagi, dia sangat mengkhawatirkannya.
"Shei, gue nggak bakal ninggalin lo sendirian."
...****************...
Rave mengunjungi rumah Nenek Kartika dan mengambil sisa pakaian disana. Dia memasukkan sisa pakaian ke dalam ranselnya serta buku-bukunya. Setelah Shei menghilang dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta, Rave juga tidak lagi tinggal di sini. Meskipun dia sesekali mengunjungi untuk melihat bagaimana kondisi neneknya, setidaknya Rave tahu dia harus berbakti padanya. Rave sudah mulai sedikit membuka hatinya untuk keluarga ini.
Dia bergegas keluar, kamarnya berada di sebelah kamar Shei. Melihat pintu kamar Shei yang sedikit terbuka, dia masuk ke sana entah apa yang terjadi tapi sesuatu di dalam menariknya ke kamar Shei.
Melihat keadaan kamarnya yang sepi dan sunyi, biasanya dia akan mendengar suara keras Shei, dan terkadang bertengkar dengannya karena hal-hal kecil.
Hendak pergi, tapi tatapan Rave menemukan sesuatu di meja belajar Shei. Sebuah alat musik unik diletakkan dengan rapi, kalau tidak salah namanya carimba. Dia tersenyum tipis dan kemudian matanya menemukan kembali objek di samping carimba, sebuah kalung dengan liontin puzzle, tertulis 'Emeria'.
Meski penasaran dengan nama atau makna di balik tulisan tersebut. Dia segera mengingat surat-surat yang diterima Shei. Dia permisi walaupun tidak ada orang sama sekali, mencari surat-surat milik Shei, dia membuka laci satu per satu, dan akhirnya dia membuka laci kecil itu. Rave menemukannya.
__ADS_1
Dia meletakkan surat-surat itu di atas meja, membukanya satu per satu. Dia menemukan dua suratnya dan sisanya pasti surat ancaman. Namun Rave sedikit terkejut bahwa surat itu bertambah, ternyata Shei telah menerima satu surat baru.
Ia membuka ketiga surat ancaman tersebut satu per satu, yang pertama ia menemukan foto Shei dikelilingi sekelompok anak, dan itu adalah foto pertama yang tersebar di media sosial yang menjadi awal dari rumor yang menyebar sebagai ketua pembully dan lainnya. Padahal, jika dicermati lagi, sangat jelas Shei di foto ini dikerumuni sekelompok anak tapi bukan sebagai pengganggu tapi ditindas oleh mereka.
Kali ini surat yang dia buka adalah teks ancaman yang berarti Shei tidak bisa mengikuti ekstrakurikuler marching band meskipun dia berada di sekolah barunya dan orang itu tidak akan membiarkan kehidupan Shei beristirahat dengan tenang. Rave berpikir bahwa masalah ini ada hubungannya dengan marching band, tapi dia tidak tahu marching band dari sekolah baru Shei atau yang lama.
Tapi saat Rave memberi surat menyuruh Shei bergabung dengan marching band Baknus, itu karena Alya ada di ekstrakurikuler tersebut. Mungkin Alya adalah pelakunya atau seseorang yang memiliki petunjuk lain, dan tidak menutup kemungkinan untuk memperbaiki persahabatan Shei dengan Alya. Jika saat itu Aya tidak bersalah.
Surat terakhir. Rave segera membukanya. Dan itu membuatnya semakin terkejut dengan apa yang tertulis beserta foto yang ia temukan.
"Alya!" gumamnya melihat foto tersebut. Foto itu sama persis dengan postingan video aib Alya waktu itu, yang menjadi masalah bagi Alya dan Shei.
Rave segera membaca teks dalam surat itu.
...✉️...
...LO UDAH MENGABAIKAN PERINGATAN DARI GUE DAN LO MASIH GABUNG SAMA MARCHING BAND!!!!...
...KALAU LO MASIH PEDULI SAMA SAHABAT LO! KELUAR SEKARANG JUGA!! GAGALIN PENAMPILAN MARCHING BAND SAAT DIES NATALIS NANTI!...
...KALAU NGGAK! LO TAHU PERSIS APA YANG AKAN GUE PERBUAT DENGAN VIDEO YANG SAMA DI FOTO INI!...
Rave benar-benar terkejut, dengan apa yang dia baca. Jadi masalah yang terjadi kemarin di Dies Natalis karena ancaman ini. Shei terpaksa melakukannya sehingga dia berada dalam dua pilihan yang sama-sama merugikan dirinya. Shei tidak mengindahkan peringatan tersebut dan membiarkan penampilan marching band berjalan lancar dengan konsekuensi aib sahabatnya itu tersebar dan itu adalah Alya. Tapi Shei juga berusaha melindungi Alya, yang mengatakan bahwa dirinya yang sudah membullynya.
Tapi itu membuatnya aneh, dan membingungkan bagi Rave. Postingan video tersebut dikirim melalui akun Shei. Jika Shei melindungi ekstrakurikuler dan teman-temannya, maka ada seseorang yang sengaja mengirim melalui akun Shei. Dan orang itu pasti sangat mengenali Shei.
"Siapa yang bisa ngelakuin ini semua?"
"Kalau pelakunya ada di Baknus, kemungkinan orang itu.... nggak mungkin, nggak ada hubungannya sama sekali sama Shei. Kecuali orang itu."
...🌸...
...Kira-kira siapa ya yang dicurigain sama Rave?...
__ADS_1
...✨...