Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 20 Termasuk Sahabat?


__ADS_3

Berlanjut....


Alya setelah urusannya selesai dia kembali ke kelasnya, dalam perjalanan ke kelas ia bertemu dengan teman dekatnya, Ghesa. Mereka saling tersenyum sapa.


"Udah selesai kumpulannya? Kok sebentar."


"Iyah, soalnya Shei sama El nya nggak ada. Jadi, diundur deh jadi besok."


Ghesa mengangguk-angguk.


"Lo darimana?"


Seketika ekspresi Ghesa sedikit aneh. Lalu dia pun tersenyum. "Jalan-jalan aja, bosen. Nggak ada lo."


Alya tertawa kecil mendengar itu.


"Hello guys...." Munculnya tiba-tiba, Joy. "Mau ke kelas?"


Alya angguk.


"Bareng." Joy tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


Alya yang dikenal ramah dan pribadi yang tenang, ikut tersenyum manis membuat jantung Joy seketika memompa lebih cepat. Alya menyadari perubahannya.


"Kenapa?"


"Lo kenapa heh? Kesambet yah?" Kali ini Ghesa yang bertanya.


"Hah? Ng-nggak heheh. Yaudah ayok."


Sesampainya di kelas bersamaan dengan kedatangan Ello dengan tas ransel masih di tangannya.


"Tukang bolos dah balik aja," sindir Joy.


"Apaan lo, huh?" Ngotot Ello.


"Dih."


Ghesa dan Alya yang tadinya mengabaikan keributan kedua sahabat muda itu, langsung masuk ke kelas dengan obrolan mereka.


"Si El udah balik tinggal Shei nih yang belum balik," lontar Ghesa.


Mendengar kata-kata itu Ello langsung mengakhiri keributan dengan Joy dan langsung menuju Ghesa.


"Emang Shei kemana? Nggak sekolah?"


"Dia bolos," jawab Ghesa.


"Bolos?" Ello tertegun. "Ngapain dia bolos? Ada masalah lagi?"


"Sok perhatian," sosor Joy menyindir. "Heh!" Merujuk pada Ello. "Awas aja yah deketin sahabat gue. Dia bukan cewek yang seneng aja dideketin sama lo dan dimainin perasaannya."


Ello mengerutkan keningnya kesal. "Ngawur. Sok gaya jadi pelindung Shei. Awas."


Joy mendengus kasar. Dan Alya terdiam tapi tanpa sadar menatap Joy, penuh arti. Segera Joy berbalik untuk menyesuaikan posisi pandangannya dan menemukan Alya yang terus menatapnya membuat Joy gugup. Joy menggaruk tengkuknya.


"Lo... kenapa liatin gue terus?"


Alya pun tersadar. "Ng-nggak kok. Tadi kayak ada coretan item di wajah lo, iyah coretan." Alya berseri kaku dan segera menuju tempat duduknya.


Joy menatap pada Ghesa yang masih setia berdiri. "Beneran ada coretan? Ghesa, di sebelah mana? Tolongin dong. Nanti muka gue jadi nggak ganteng lagi."


"Dari lahir juga lo udah buruk rupa mana ada kata ganteng. Bye."


"Yaa yaa!!"


Joy berteriak tidak terima.

__ADS_1


...****************...


Shei masuk ke mobilnya dengan ekspresi muram di wajahnya dan tampak pucat, gelisah membuat paman Jaka khawatir.


"Non Shei baik-baik aja?" Shei mengangguk lemah, namun paman Jaka menyadari terjadi sesuatu padanya. "Kita pulang sekarang."


"Nanti dulu, Paman," kilahnya. "Shei mau mampir dulu ke sekolah lama Shei."


"Tapi, Non--"


"Dari sana kita pulang. Shei janji."


Paman Jaka pun mengalah.


Shei bersandar lagi, mengambil napas dalam-dalam untuk mengendalikan kegelisahannya.


"Mana kak Yura?"


"Ngapain nyariin gue?"


Shei tersentak diam.


Dia, ketua dari anak-anak nakal Nusantara High School untuk perempuan. Masa sekolahnya berubah terlintas dibenak Shei, karena mereka. Dia perlahan mendekat ke arah Shei berada, sambil menyeringai. Hanya lima cm jarak mereka, Shei mencoba menutupi kegugupannya itu, dagunya dipegang oleh Yura untuk lebih mendekat.


"Masih sama. Cupu." Dilepaskan dagunya itu. "Mau apa lo kesini, mau ketemu kita? Apa kangen sama suasana sini? Bukannya lo seneng ya udah bisa bebas dari kita." Berjalan ke arah kursinya, duduk dan segera mengangkat satu kaki, meletakkannya di kaki lainnya.


"Gue kesini mau tanya sesuatu. Apa yang nyebarin rumor di sekolah baru gue itu ulah kalian?"


Yura tertawa padahal tidak ada yang lucu yang keluar dari mulut Shei. "Shei... Shei.... Ngapain kita ngurusin lo? Nggak guna amat."


"Jadi itu bukan ulah kalian? Surat misterius? Akun yang namanya @Broken_flower?"


"Denger ya Shei. Apa yang terjadi sama lo di sekolah baru lo itu, gue nggak tahu apa-apa. Apalagi tentang lo sekolah dimana, pindah kemana. Gue sama sekali nggak tahu dan nggak mau tahu."


Shei masih tidak percaya dengan ucapannya.


"Masih nggak percaya?" Dia menatap bodoh pada Shei, itu sangat lucu baginya. "Lo emang bodoh atau gimana sih?" Terlalu muak dengan sikap kebodohan Shei ini. "Jangan buat gue kesel, mending lo pergi sekarang."


"Tunggu-tunggu."


Langkah Shei terhenti.


"Ini pertama dan terakhir gue bersikap baik sama lo. Inget ini baik-baik. Nggak semua orang yang ada disisi lo itu baik. Termasuk sahabat."


Kepanikan Shei mulai mereda, dia melihat ke luar jendela mobil dan memikirkan apa maksud perkataan Yura tadi. 'Termasuk sahabat'.


...***************...


Bel sekolah berbunyi, semua siswa bergembira karenanya. Kelas Flower juga memiliki penghuninya satu per satu meninggalkan kelas mereka.


Ghesa sambil menggendong ranselnya berjalan ke arah tempat duduk Alya yang masih membereskan alat tulisnya itu.


"Al..."


Dua orang menengok ke arahnya. Ghesa baru saja menyadarinya, tersenyum pada keduanya. Alya dan Alvin yang duduk bersebelahan.


"Gue manggil Alya."


Alvin tidak masalah, ia tersenyum, kemudian bangkit dari bangkunya. "Gue duluan, Ghes, Alya."


Alya tersenyum begitu juga dengan Ghesa yang melambaikan tangan padanya.


"Ada apa?" tanyanya kepada Ghesa setelahnya.


"Ah, Senin kan udah mulai UAS nih. Gue butuh bimbingan belajar, belajar bareng gue ya? Plis! Kalau gue belajar sendiri, kadang gue malah maenin hp, tidur, belajarnya gagal."


"Oke. Hm belajarnya mau dimana? Perpustakaan?"

__ADS_1


"Ah nggak-nggak, terlalu hening. Gue ke kosan lo aja yah."


"Yaudah boleh. Kabari lagi aja."


"Oke siap Alya. Makasih."


Alya tersenyum dan mereka pulang bersama. Disisi lain, Joy yang masih duduk di bangku belakangnya memikirkan sesuatu, dia mendapatkan ide. Bangkit untuk pulang dengan perasaan senangnya, Ello yang melihat tingkahnya itu bergumam, "Dasar gila."


"Rave, gimana marching band tadi? Feby bilang apa?" Menoleh ke belakang, tempat duduk Rave.


"Dia setuju tapi dia juga pengen ngomong sama yang punya ide, lo dan Shei. Jadi, besok awas aja lo ngilang."


Peringatan.


"Hehehe iyah deh. Gue nggak bakal ilang," kekeh Ello. "Tapi Si Shei kenapa tiba-tiba bolos ya?" Saat menengok, ternyata lawan bicaranya menghilang. Ello mendengus kesal. Segera untuk menyusulinya keluar.


Rave ada di depannya, ransel dilayangkan oleh Ello untuk membentur kepala sahabatnya itu. Saat ransel itu masih melayang, bukan Rave kalau dia tidak tahu, dia segera membalik dan menarik ransel itu membuat Ello tertarik juga tersungkur jatuh ke depan. Rave tersenyum mengejeknya.


"Sialan lo! Sakit nih!"


"Salah sendiri, siapa yang mulai?"


Ello kembali mendengus kasar, segera ia bangkit namun tidak untuk membalas dendam. Tentu Ello akan kalah lagi.


...****************...


Shei telah menunggu di dalam mobil sampai sekolah dibubarkan. Dia, Shei berada di Nusantara High School, sekolah lamanya. Sekolah yang telah mengeluarkannya secara tidak adil. Shei sedang menunggu seseorang.


Terus melihat ke luar jendela mobil, sebuah sepeda motor yang dia kenal keluar dan berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah. Shei tersenyum melihat David sahabatnya sejak kecil. Shei segera turun dari mobil untuk menemuinya. Namun hendak menemui langkahnya terhenti, karena sesuatu di depan matanya mengagetkannya. Lisa, salah satu teman terdekatnya. Berjalan ke tempat David berada, tapi yang mengejutkan Shei adalah Lisa mencium pipi David.


Shei memanggil mereka dengan suara kecilnya. "David, Lisa..." Namun mereka sudah pergi, motornya sudah melaju. Tapi.


Bola mata Shei dengan Lisa bertemu, tapi Lisa seolah-olah tidak melihat keberadaannya sambil memeluk David dari belakang saat sedang diboncengi.


"Lisa,,, apa dia pura-pura nggak liat gue?"


Shei terkejut, tidak bisa berkata-kata. Dia mencoba mencerna semua yang dia lihat. Ia mencoba mendekat, memberanikan diri bertanya pada salah satu siswa Nusantara High School yang lewat.


"Sorry."


"Iyah ada ap--Ka-kak Shei?"


"Oh, ternyata kalian tahu gue." Meraka angguk, tampak sedikit gugup dan takut pada Shei. "Gue mau tanya, Lisa sama David ada hubungan apa?"


"Me-mereka pacaran, Kak."


"Sejak kapan?" kejut Shei.


"Sejak kapan ya? Lo yang jawab." Dia bertanya pada teman disampingnya itu.


"Itu... kalau nggak salah mereka udah satu bulan yah?"


"Iyah kayaknya deh. Satu bulan, Kak. Waktu kakak dikeluarin dari sekolah--upsh!" Dia keceplosan segera menutup mulutnya itu dan mendapat serangan tatapan kejut dari temannya.


Shei tidak menggubris mereka. Mereka mau membicarakan apa dia tidak peduli. "Makasih infonya."


Mereka angguk. "Kita permisi, Kak." Dan segera pergi dengan terburu-buru. "Woah, udah lama nggak liat kak Shei, cantik banget."


Shei terdiam sambil memikirkan tentang itu.


"Kenapa mereka nyembunyiin dari gue? Bukannya David pacaran sama.... Apa mereka udah putus?"


"David, Lisa. Apa yang gue nggak tahu soal kalian?"


Semenjak Shei tidak dapat menghubungi mereka, dan hari ini dia melihat mereka dengan informasi yang baru ia ketahui membuatnya terkejut.


"Ini pertama dan terakhir gue bersikap baik sama lo. Inget ini baik-baik. Nggak semua orang yang ada disisi lo itu baik. Termasuk sahabat."

__ADS_1


Mengingat kata-kata Yura. 'Termasuk sahabat'. Shei menjadi curiga. Semua orang ia curigai, termasuk sahabatnya sendiri.


...🌸...


__ADS_2