
"Jadi.... Soal Lisa sama Fay. Mereka kenapa neror Shei? Dan kenapa bisa mereka bisa saling kenal?" tanya Alvin membuat suasana disini menjadi tidak bersahabat lagi.
Dan mereka semua menatap bertanya-tanya kepada Ghesa yang mungkin tahu sesuatu tentang Lisa dan Fay.
"Lisa sama Fay. Mereka temen SMP," ungkap Ghesa. "Mungkin lo nggak inget mereka." Shei mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dimaksud oleh Ghesa. "Tapi mereka selalu inget lo, Shei. Mungkin lo nggak sadar pernah buat mereka marah dan benci sama lo."
"Gue baru aja kenal mereka waktu masuk SMA. Apa yang udah gue lakuin? Sampai mereka marah dan benci sama gue?" tanya Shei terheran-heran.
"Gue nggak tahu pasti. Tapi, yang pernah gue denger lo pernah mempermalukan mereka waktu SMP. Saat perlombaan marching band."
"Perlombaan marching band... SMP...." Shei memikirkannya tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang pernah terjadi dengan mereka. Yang Shei tahu, dia hanya mengenali mereka saat dia masuk SMA dan pindah sekolah. "Gue nggak tahu, gue nggak inget. Gue harus tanyain ini langsung sama Lisa, gue harus nemuin dia."
"Shei!" ucap Rave menahannya. "Jangan temuin Lisa dulu."
"Kenapa? Kalau gue nggak nemuin Lisa, permasalahan ini nggak bakalan selesai-selesai, Rave! Gue pengen masalah ini tuntas! Gue udah capek!" keluh Shei.
"Gue tahu. Tapi gue ngerasa ada sesuatu yang lain. Lo harus selidiki dulu sebelum lo nemuin Lisa. Lo juga belum tahu siapa yang udah jebak lo sampai dikeluarin dari sekolah. Dan dibalik sosok Lisa, dia anggota geng NHS."
"Lisa bukan anggota geng NHS," sanggah Ghesa.
"Dia anggota geng NHS! Gue tahu persis," tangkas Rave lagi. Jika Rave berkata seperti seserius itu, berarti hal itu adalah benar adanya. "Maka dari itu, gue punya rencana buat kasih pelajaran sama mereka yang buat kalian menderita. Kita harus selidiki dulu, dan cari tahu siapa yang udah jebak lo, Shei, sampai lo dikeluarin dari sekolah secara tidak adil!"
Mereka masih terdiam, apakah yang dikatakan Rave akan berjalan baik ataukah semakin memperburuk keadaan. Tapi bagi Shei, dia akan terus maju dan mencari ketidakadilan nya di sekolah lamanya.
"Bantu gue buat cari pelakunya," ucap Shei.
Rave tersenyum angguk. Tangannya menunjuk ke depan, dan Shei juga meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Rave. Kemudian mereka melihat yang lain. Alya, Ello, Joy dan Alvin langsung ikut bergabung.
Tinggal satu orang lagi, yaitu Ghesa. Mereka menatapnya. Ghesa tampak ragu tetapi segera dia meletakkan tangannya di atas tangan mereka dan tersenyum. Ghesa bergabung untuk memberikan pelajaran kepada mereka yang telah menyakiti teman-temannya.
Mereka tersenyum bersama.
Ini lah awal dari perjalanan mereka sebagai Marching Flower.
"Rave....!"
Suara seseorang memanggil dari belakang. Rave menoleh ke belakang, dan Bimo and The Geng NHS menatap lurus pada orang-orang yang baru saja tiba bersamaan memakai seragam sekolah Bakti Nusa sambil membawa sesuatu seperti senjata. Mereka Marching Flower. Mungkin nama mereka sebagai pertemanan.
"Kalian?" heran Rave.
Shei, Ello, Alvin, Joy, Alya, dan Ghesa. Berjalan bersama dengan berani dan percaya diri sambil membawa senjata yang mereka miliki.
"Hai Rave!" sapa Joy bersemangat.
Rave semakin kebingungan dengan adanya teman-temannya ini berada disini dengan sesuatu yang mereka bawa.
"Kalian tahu darimana kalau gue..."
"Gue nggak sengaja liat lo," terang Joy. "Terus gue cari bantuin, deh."
"Lo ingkar janji," lontar Shei menatap Rave.
Rave diam, dia tahu apa yang dimaksud oleh Shei. Permainan TOD saat itu, Rave mendapat tantangan dari Shei yang harus menghindar perkelahian tapi Rave tidak memenuhinya itu sekarang.
"WOY!" teriak Bimo membuat mereka segera menoleh dan berfokus padanya. "Lo semua mending cabut! Dari pada ngerumpi disini! Kecuali lo, Rave! Kita belum selesai!"
Joy berdecak pinggang kesal. "Cemen lo pada! Beraninya keroyokan apalagi sama cewek!" Lalu Joy melihat pada teman-temannya sambil cengengesan bangga. "Keren nggak gue?"
__ADS_1
Dan teman-teman hanya diam sambil menggeleng, Joy terlalu lucu.
Geng NHS tertawa meremehkan. "Oh jadi kalian semua mau lawan kita?"
"Dengan senjata yang kalian bawa itu??"
"Hahahah HAHAHAHA...."
Tawa mereka seolah membuat Marching Flower menahan kekesalannya. Tentu saja mereka menertawakan Marching Flower karena membawa senjata seperti mainan anak-anak.
"Jangan remehin senjata kita, lo semua bakal mampus!" lontar Ello.
Geng NHS kembali terheran-heran diam.
Ello menyerimik melihat pada teman-temannya, dan mereka tersenyum angguk kecuali Rave yang kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.
Ello mengangkat pistol air itu ke atas dan meluncurkannya. "Serang!"
Dan segera, sekelompok anak-anak kecil dari belakang berlari ke arah geng NHS dengan membawa senjata yang sama, yaitu pistol air mainan. Dan Marching Flower juga berlari ke arah musuh dan menyemprotkan air ke mereka.
"Weh! Apa-apaan ini! Anjir! Aah!"
"Dasar bocah! Awas!"
Anak-anak kecil itu menikmatinya, begitu senang karena mereka berpikir sedang bermain. Geng NHS basah kuyup dan tidak bisa lari dari serangan pistol air tersebut. Sementara Rave masih diam masih mencerna semua yang ia lihat ini. Alvin pun memberikan pistol air yang lain pada Rave. Rave tersenyum kemudian ia ikut bergabung menyerang geng NHS dengan mainan anak-anak ini.
"Hahaha kena juga," ucap Ello senang. "Serang lagi anak-anak!"
Tidak ada kekerasan adalah hal yang baik.
"Cabut! Buruan!"
"Yahh kabur lo pada..." ledek Joy.
"Huuu... cemen...." sambung Ghesa bertos ria.
"Shei..." teriak Alya memanggil.
Shei yang mendengar seseorang yang memanggilnya berhenti, diikuti oleh Ello, Alvin dan Joy yang begitu panik untuk segera menolong Rave.
"Alya?" heran Shei.
"Ay ngapain disini?" heran Joy. "Ghes?"
"Kita mau bantuin kalian," sahut Alya. Ghesa pun membenarkan itu.
"Yaudah. Ayok!" balas Alvin cepat, ia tidak mau berlama-lama. Karena dia sangat cemas terhadap Rave.
"Sebentar!" potong Shei ketik mereka hendak pergi lagi.
"Ada apa?" tanya Ello.
Shei tidak menjawab dan hanya memberi petunjuk ke arah yang ia lihat ke sebuah taman terdapat anak-anak kecil sedang bermain pistol air. Mereka pun mengikuti arah pandang Shei, dan mereka paham apa yang dimaksudnya.
Shei tersenyum bahagia karena geng NHS akhirnya pergi. Tapi dia sedih, merasa bersalah karena sekarang Rave yang dipukul karena masalah Shei sendiri.
...****************...
__ADS_1
"Kalian semua tidak tahu mereka pergi kemana?"
Penghuni kelas Flower menggeleng. Pak Satria kebingungan dengan beberapa anak didiknya yang tidak ada di kelas.
"Pak. Saya lihat mereka pergi."
"Pergi kemana?"
"Nggak tahu, Pak. Tapi mereka pada panik, lari. Keluar sekolah."
Pak Satria menghela nafas panjang, tidak tahu harus bagaimana dengan anak didiknya yang bersama-sama bolos sekolah.
Fay terdiam memikirkan apa yang terjadi pada mereka. Ketika dia bangun, dia akan mengejar teman-teman sekelasnya.
"Kamu mau kemana, Fay?" cegah Pak Satria.
"Saya.... mau ke toilet. Iyah ke toilet," jawab Fay bohong.
"Yasudah. Setelah itu kembali ke kelas."
"Iyah, Pak."
Fay pun pergi meninggalkan kelas.
...****************...
Setelah pertarungan tadi, Marching Flower sedang bersama di taman makan es krim. Mereka juga membelikan es krim untuk anak-anak kecil yang telah membantu.
"Harus gue rekam tadi. Muka sangar kayak mereka kabur kalah sama anak TK," lontar Joy tertawa begitu juga dengan yang lainnya. "Sebenarnya mereka siapa? Kenapa bisa nyegat lo, Rave."
"Mereka geng NHS," sahut Alya ada perasaan takut ketika mengatakannya. Semua orang menyadarinya.
"Mereka mungkin nggak terima kalah sama gue waktu itu," terang Rave.
Joy pun ber'oh.
"Rave tangan lo..." pinta Alvin untuk mengobati lukanya.
Selama beberapa menit ini.
Sepertinya dari sisi lain Joy, Alya dan Ghesa menaruh curiga pada Ello yang sedang menyuapi es krim kepada Shei dan Alvin yang sedang memeriksa luka di lengan Rave dari pertarungan tadi.
"Kalian... pacaran?" tanya Ghesa pada mereka, membuat keempat pasangan itu berhenti dari aktivitas mereka.
Rave tampak gugup sendirian.
Sementara Ello dan Shei, mungkin sudah saatnya teman-teman tahu.
"Yah. Gue sama Shei udah pacaran," ucap Ello.
Tampaknya ada kekecewaan dari Joy mendengar hubungan itu, meskipun Joy berharap Shei berkencan dengan Alvin, bukan Ello. Tapi Joy akan mendukung apapun itu demi kebaikan Shei, sahabatnya.
Sementara Alya dia senang mendengarnya bahwa sekarang akan ada sosok yang selalu ada dan melindungi Shei.
"Gue sedikit sedih. Tapi gue bakal dukung keputusan Shei. Gue harap lo jaga Shei baik-baik, jangan buat sakit hati," celetuk Joy pada Ello.
Ello tersenyum puas, dapat memenangkan hatinya Shei.
__ADS_1
"Dan.... kalian?" tanyanya lagi Ghesa sekarang tertuju pada Alvin dan Rave.
...🌸...