
Mereka telah kembali ke sekolah meskipun harus menanggung konsekuensi bolos kelas. Mereka semua sedang membersihkan halaman sekolah dan mendapat ceramahan maupun omelan dari Pak Satria, selaku wali kelas.
Namun di sisi lain, meski tangan Ghesa bergerak menyapu bersih, pikirannya galau mengingat kejadian tadi.
"Dan.... kalian?" tanyanya lagi Ghesa sekarang tertuju pada Alvin dan Rave.
Ghesa semakin gugup untuk mendengar jawaban apakah Alvin dan Rave berpacaran atau tidak. Karena alasan Ghesa sejak awal menyukai Alvin, jika benar Alvin dan Rave berpacaran, pupuslah harapannya.
Dan ternyata.
Sesuatu yang mengiris hatinya membuat ia merasa sedih setelah tahu jawabannya.
Rave dan Alvin berpacaran.
Ghesa galau.
"Gue nggak kepikiran mereka selama ini pacaran. Sebelum masuk SMA lagi," cetus Joy memperhatikan Alvin dan Rave yang menyapu di sisi yang lain.
Alya tidak terlalu terkejut dengan kabar itu, karena dia sudah menyadari ada sesuatu diantar Alvin dan Rave. Tapi ia menatap sedih kepada Ghesa karena perasaannya tidak akan pernah terbalaskan, Ghesa menyadari hal itu ia berusaha tersenyum dan melepaskan perasaan sukanya kepada Alvin.
"Okeh!" ucap Ghesa penuh semangat membuat Joy dan Alya keheranan. "Jadi, kapan kalian jadian juga?"
Joy tersenyum malu sedangkan Alya mencoba untuk tidak terbawa perasaan mendengar hal itu.
"Aku.... nyapu kesana," kilat Alya segera pergi.
Ghesa pun menepuk pundak Joy sekilas. "Hahahaha...."
"Ketawa lo," cicit Joy.
Ghesa berseri. "Sabar ya. Mungkin dia nggak mau pacaran dulu, atau mungkin dia belum move on hahaha..."
"Apa? Belum move on?" kejut Joy.
Ghesa mengangguk ragu. "Lo... nggak tahu Alya pernah pacaran?"
"Tahu, tahu!" sahutnya. "Tapi gue nggak tahu kalau Alya belum move on sama mantannya. Emang mantannya siapa, sih?"
"Mantanya di Nusantara High School."
"Yah maksud gue siapa orangnya? Yang mana?Lo tahu nggak?"
"Tahu. Tapi, gue nggak mau ngasih tahu," ledek Ghesa segera pergi menyusuli Alya disana.
"Yah! Ghesa!" teriak Joy kesal.
Dia sangat penasaran siapa mantan Alya.
"Kak Shei... Kak El...." panggil seseorang.
Shei dan Ello menoleh ke sumber suara itu, ternyata Lily dan Rayhan adik kelas mereka telah memanggilnya mengajak pergi.
"Kenapa liatin saya? Udah simpen sapunya, kalian berangkat sekarang."
"Makasih, Pak."
Shei dan Ello berpamitan karena akan latihan marching band di luar sekolah.
"Dan yang lainnya sapu sampai bersih," lanjutnya terdengar tegas.
"Iyah, Pak."
...****************...
"BANGSAT! ANJ*NG!" murka Bimo memukul dan menendang-nendang motornya. "BEGO LO SEMUA!"
Bimo tampak marah lagi setelah anak-anak Baknus mempermalukan dan mempermainkan geng NHS seperti sebuah lelucon. Padahal sedikit lagi saja ia memberi pelajaran kepada Rave, tapi gagal.
"Bos, lo kenapa sih pengen kasih pelajaran sama cewek itu? Cewek itu bener-bener kuat, Bos. Kita lawan dia, dia masih bisa tahan."
"Bener, Bos. Kalau kita dilaporin polisi gimana? Katanya dia kenal banyak pol--akh!"
Bug! Bimo memukulnya.
"Bacot! Berisik!"
Mereka menunduk takut.
__ADS_1
"Lo semua diem! Kalau nggak mau kena amukan gue!"
Dert Dert Dert
Ponsel Bimo berdering segera ia mengangkatnya. "Hallo!" jawabnya malas.
"Dari suaranya gue yakin lo gagal kasih pelajaran sama cewek itu."
"Gue udah hajar dia keroyokan, tapi keburu temen-temennya dateng!"
"Shei juga ada?"
"Hem."
"Udah gue bilang. Lo bersabar dulu, masih banyak waktu."
"Tangan gue udah gatel pengen hajar tu cewek!"
"Okay! Okay! Gue tahu! Lo percaya sama gue, di waktu yang tepat itu lo pasti bisa kasih pelajaran sama dia. Tapi lo harus bersabar, tahan emosi lo."
Bimo berdehem.
"Gue pengen ngasih tahu buat hati-hati aja. Jangan sampai lo kena masalah dan berurusan sama polisi. Bisa-bisa gue kebawa juga."
"Bawel lo, Lis! Gue tahu!"
"T'ck! Yaudah gue tutup!"
"Eh tunggu, Lis."
"Apa?"
"Shei. Dia anak tunggal, kan?"
"Iyah. Dia anak satu-satunya. Kenapa emang?"
"Lo yakin? Mungkin Shei punya saudara?"
"Saudara?"
...****************...
Telepon berakhir dengan diakhiri percakapan yang membingungkan untuk Lisa.
"Shei punya kakak?" gumam Lisa berpikir. "Rave...."
Dering telepon kembali berbunyi dari teman yang lain, yaitu Fay. "Aish! Ganggu aja!"
Lisa tidak mengangkat dulu untuk sesaat. Dia pun bergegas pergi.
Ternyata ada seseorang yang berada di tempat ini mendengar percakapan Lisa di telepon. David keluar dari persembunyiannya memandang kecewa Lisa yang semakin jauh dari hadapannya.
Apa yang mereka katakan padanya ternyata benar. Lisa ada di balik ini semua.
Berusaha melindungi kedua sahabatnya namun ternyata David salah memilih pilihan untuk melindungi yang ternyata dalang dari semua itu Lisa. Kecewa, David sangat kecewa dan marah. Bagaimana bisa Lisa melakukan ini pada sahabatnya? Pada pacarnya?
David melihat pada sesuatu yang ia pegang di tangannya, sebuah flashdisk.
...****************...
Alvin dan Rave berada di rooftop sekolah sedang beristirahat setelah menjalani hukuman mereka tadi.
"Rave," panggil Alvin. Rave menoleh menatap bertanya. "Kamu nggak marah kan aku kasih tahu temen-temen kita soal kita pacaran?"
"Udah terlanjur. Gimana lagi? Yah. Udah saat mungkin mereka harus tahu. Aku seneng, kok."
"Beneran?"
Rave tersenyum angguk.
"Aku kira kamu nggak seneng kalau hubungan kita diketahui sama orang-orang."
"Seneng, tapi waktu itu aku belum berani."
Alvin memeluknya beberapa detik saja lalu menatap lekat tersenyum bahagia. "Makasih." Rave membalasnya dengan senyuman. Alvin pun meraih tangan pacarnya itu khawatir. "Merah. Masih sakit?"
"Nggak. Kan udah diobatin sama kamu."
__ADS_1
Senyum Alvin terukir kembali dan mendekatkan tangan kuat itu ke arah bibirnya, dikecupnya luka yang ada ditangan Rave tersebut membuat Rave terkejut dengan pipi meronanya.
"Kamu ngapain?!" dengus Rave segera menjauhkan tangannya.
"Biar cepet sembuh," kekeh Alvin.
"Modus kamu!"
"Sesekali nggak papa, kan? Atau mau dicium di..."
"Apa? Apa? Huh?! Awas ya!"
"Ampun, Bos!" Alvin tertawa kecil senang menjahili pacarnya itu sampai dibuat malu dengan pipinya seperti tomat.
Sepi sejenak hanya hembusan angin yang menemenin mereka.
"Al," ucap Rave. "Apa dia bakal dipihak Shei?"
Alvin terdiam dia juga sedikit ragu untuk itu. "Semoga."
...****************...
Perwakilan MB Baknus telah sampai di lapangan kota bersiap untuk berlatih. Tapi Shei benar-benar tidak merasa nyaman ketika perubahan Ello kembali muncul.
Ketika Ello akan segera bangkit, Shei menahan tangannya. "Kamu kenapa?"
Ello masih diam.
"Semenjak kemarin aku ngerasa ada yang aneh dari kamu. Kalau ada masalah kamu cerita sama aku, El. Atau aku ngelakuin kesalahan?"
Ello terus diam.
"Shei..." Seseorang memanggilnya, yaitu Ken. "Buruan."
"Iyah sebentar," sahut Shei padanya. Dia ingin menyelesaikan lebih dulu dengan Ello. Ketika dia tidak sengaja melihat raut wajah Ello saat menatap Ken itu. Shei baru saja menyadarinya. "Kamu lagi cemburu?"
Ello segera menoleh. "Siapa?"
"Kamu," balas Shei tersenyum. "Kamu cemburu sama Ken ya??"
"Nggak, nggak ada!"
"Bohong banget. Harusnya aku yang cemburu. Kamu dikerumuni sama mereka terus...." tunjuk Shei kepada gadis-gadis SMA Merdeka. Shei mengerucutkan bibirnya kesal.
"Tapi aku nggak sendirian. Sama Rayhan. Kamu. Kamu sama Ken terus, sampai ngerangkul kamu segala lagi. Apa-apaan."
Shei tersenyum ternyata benar, Ello sedang cemburu. "Yaudah. Kasih tahu mereka."
"Hah?" kejut Ello. "Beneran?"
Shei tersenyum angguk. Ello pun segera memeluknya dengan cepat, membuat Shei terkejut begitu juga dengan yang lainnya melihat Ello memeluk Shei.
"El," cicitnya.
"Kenapa? Kata kamu boleh kasih tahu mereka."
"Iyah tapi nggak disini juga. Nanti kalau ditegur sama Kak Vivian gimana?"
"Hehe iyah maaf. Kak Vivian juga nggak liat ini."
Shei menghela nafas lalu tersenyum kemudian. Tapi tiba-tiba saja, dering telepon berbunyi, nama kontak yang Shei tunggu selama ini akhirnya meneleponnya. Dia sedikit gugup menatap Ello. Ello melihat nama kontak itu dan menyuruh Shei untuk segera mengangkatnya.
"Angkat."
Shei angguk.
"Hallo Shei?"
"David?"
"Ayok kita ketemu. Gue bakal cerita sejujurnya."
...🌸...
...Apa David benar-benar akan mengungkapkan kebenaran?...
...✨...
__ADS_1