Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 23 Kian Masa Lalu


__ADS_3

Pergaulan Jakarta, sebebas dirimu ingin menjadi kamu yang seperti apa. Kota Jakarta, sama saja dengan kota lain. Selalu ada kesempatan melakukan hal yang tidak baik jika diri kita mau melakukan hal itu.


Di suatu tempat dimana remaja berkumpul di tanggal merah ini, untuk bermain-main. Beberapa dari mereka adalah murid Nusantara High School, termasuk gadis bernama Lisa yang tengah menyenderkan kepalanya di bahu anak laki-laki yang merupakan kekasihnya.


Namun sedari tadi Lisa terus terdiam, melamun. Dia memikirkan kejadian tempo hari. Apakah benar yang ia lihat itu.


"Hei, kamu kenapa? Kok bengong terus? Aku perhatiin dari kemarin,, kamu ada masalah?"


Lisa mengubah posisinya menjadi menghadap pada kekasihnya itu, David.


"Sayang..."


"Hem?"


"Kemarin waktu kita pulang sekolah,, aku kayak ngeliat Shei disana. Bukan, bukan. Tapi betulan Shei."


"Kamu salah liat kali."


"Nggak, nggak mungkin. Aku sempet tatapan waktu itu, aku pasti nggak salah, itu pasti Shei dateng ke sekolah. Dia pasti dateng karena nggak bisa hubungin nomor kita," resahnya. Dan itu membuat David ikut gelisah. "Sayang, gimana dong? Kalau dia tahu sebenarnya kita itu...--" Ucapan terhenti dengan David mencoba menenangkannya.


"Shtt... Dia nggak akan tahu. Oke? Percaya sama aku."


Meskipun begitu Lisa masih gelisah. Tidak lama kemudian sekelompok orang datang menyapa mereka berdua. Termasuk di antara orang-orang itu adalah kakak kelas mereka yaitu Yura.


"Hallo, Kak," sapa Lisa dengan cepat merasa gugup.


Dia menyeringai melihat adik kelas di depan matanya ini bermesraan. Tidak tahu malu. Meskipun begitu mereka orang-orang yang dapat diandalkan.


"David..."


"Iyah bang?" Gugup David, karena yang memanggilnya adalah ketua geng besar di sekolahannya, Bimo.


"Lo nggak lupa kan? Balas budi sama gue. Karena gue lo bisa keluar dari kasus itu dan sebentar lagi lo bakalan kepilih jadi ketua OSIS."


"Gue nggak bakal lupa, Bang. Gue janji bakal bayar itu semua."


Sebuah kejadian di mana dia terpaksa melakukan itu membuatnya merasa bersalah atas kesalahannya yang berdampak pada orang lain yang sebenarnya disalahkan.


Segerombolan anak itu telah pergi. Kecuali. Hendak kembali berjalan, ia memundurkan langkahnya di depan mereka berdua. Sekarang yang tengah berbicara adalah Yura.


"Ah gue lupa, apa Shei nemuin lo?" Lisa diam, bingung dibarengi dengan kegugupan. "Lo emang sesuatu. Serigala berbulu domba, keren juga lo yah, tapi gue nggak bakal ikut campur. Oke good luck!"


Mereka pergi.


Namun mereka mampu menimbulkan kegelisahan pada Lisa dan David.


...****************...


Tin, tin, tin, tin...............


"Aish siapa yang--"


Shei terkejut, di depan gerbang rumahnya ada sosok makhluk tidak undang.


"Hallo Shei...."


Dia Ello.


"Kamu ini siapa? Ngeganggu orang pake ngeklasonin segala," tegur Jaka di depan gerbang rumah.


Ello menyengir. "Maaf, Pak." Segera dia mencium punggung tangan pria agak tua itu. "Saya El temennya anak bapak."

__ADS_1


Jaka terdiam, melongo. "Anak saya?"


Ello mengangguk senyum.


Shei telah tiba. "Paman nggak usah dibukain."


"Bukan temen Non?"


"Bukan, Paman."


"Oh bapak bukannya ayahnya Shei?" Ello bingung.


"Bukan. Saya yang kerja disini."


"Kirain saya, bapak orangtuanya Sheila heheh... Maaf, Pak."


"Nggak papa, Jang," kekeh Jaka. "Jadi, gimana Non Shei? Bukain atau jangan?"


"Buka aja, Pak. Saya ada perlu sama princess Sheila. Urusan sekolah."


"Ah gituh, yaudah tunggu sebentar." Tanpa persetujuan dari Shei, paman Jaka membuka gembok gerbang rumah membuat Shei melongo tidak percaya.


"Paman kenapa dibuka?" lirihnya.


"Kan temennya Non Shei. Iyah kan?" Ello tersenyum angguk membenarkan. "Paman permisi dulu. Mau nyimpen ember ke dalem."


"Iyah pak hati-hati," canda Ello.


Setelah paman Jaka pergi, Shei masih diam tidak mempersilahkan Ello masuk ke dalam rumah. "Lo tahu rumah gue darimana?"


"Itu--"


"Oke gue tahu."


"Mau apa lo kesini?" Ganti pertanyaan.


"Gue mau ngajak lo ke sekolah bareng."


"Sekolah libur."


"Tapi kenapa lo pake seragam?"


Malu. Shei tertegun, dia melupakan bahwa dirinya masih memakai seragam sekolah.


"Hayoh... pasti lo bangun kesiangan dan ternyata baru inget kalau sekarang tanggal merah," goda Ello.


"Eng...ngg-nggak." Shei mencoba menyangkalnya.


"Ketahuan.... ketahuan...."


"Apasih nggak gituh."


"Hum malu yah...."


Ello terus-menerus menggoda Shei sampai Shei malu dan kesal. Sampai dimana suara itu membuat Ello berhenti menggodanya.


"Ada siapa ini, sayang? Kok nggak disuruh masuk?"


"Bukan siapa-siapa, omah. Cuman pengamen, minta dui--"


"Hallo omah...." Tanpa babibu mendengar ocehan Shei, Ello segera menghampiri wanita paruh baya itu yang Shei sebut 'omah'.

__ADS_1


Ello memberi salam, meskipun sedikit terheran untuk apa nenek Shei memegang gayung.


"Ganteng. Temennya Shei?"


"Iyah omah. Saya El, temen sekelasnya Shei."


"Ah gituh. Seneng dengernya kalau Shei bisa berbaur di sekolah barunya. Padahal omah udah takut, kalau cucuk omah ini nggak bisa punya temen disana karena masalahnya itu."


Ello terdiam memikirkan sesuatu 'masalah' Shei yang dikatakan nenek. Mungkin masalah 'itu'.


"Oma--"


"Hahaha tenang aja omah. Shei punya banyak temen kok termasuk saya. Malah Shei murid populer, omah. Banyak yang pengen temenan sama cucuk omah yang cantik ini."


Ingin menghentikan pembicaraan Ello dengan nenek, tapi setelah mendengar Ello tidak membicarakan masalahnya di sekolah, Shei sedikit lega.


"Iyah,, cucuk omah ini emang yang paling cantik pastinya, kan?"


"Oh jelas itu mah, omah. Saya juga langsung terpanah."


"Hahaha kamu ini. Dasar anak muda." Nenek Kartika tertawa dan menyukai karakter Ello ini.


"Lo pergi aja sana," bisik Shei kepada Ello.


"Gue mau jemput lo," ucapnya. "Omah, maaf sebelumnya kalau diizinin saya mau jemput Shei, soalnya ada kumpulan ekskul di sekolah."


"Kamu ikut kegiatan sekolah?"


Shei angguk.


"Kenapa nggak bilang, ikut apa?"


"Marching band, omah."


Nenek tersenyum. "Omah izinin."


"Makasih omah."


"Yaudah omah masuk dulu, jagain cucuk omah yah."


"Siap omah. Beres."


Setelah nenek masuk.


"Lo bilang kayak gituh biar omah ngizinin kan?"


"Ngapain bohong. Cek aja sendiri di grup."


Shei lalu mengecek ponselnya.


"Lo nggak nongol-nongol terus di grup, makanya gue jemput kesini. Padahal yang punya ide lo, tapi malah ngumpet. Buruan ganti baju, kasian yang lain nunggu."


"Iyah," ketus Shei.


...****************...


Berada di negara asing, orang tua Shei sibuk dengan pekerjaan mereka di Australia tetapi juga memikirkan masalah yang mereka hadapi. Tidak hanya dengan masalah pekerjaan tetapi juga dengan masalah keluarga.


Setelah Rosa menghubungi anaknya tadi, dan Shei menceritakan tentang sekolahannya. Rosa menjadi ingat tentangnya.


"Shei sudah ketemu dia tidak ya?"

__ADS_1


Ada kekhawatiran yang dipendam oleh wanita itu terhadap anaknya disana.


...🌸...


__ADS_2