
"Aaw! Pelan-pelan, Shei!"
"Ini udah pelan, kok!"
"Aah sakit! Udah ah!"
"Dikit lagi! Bentar!"
"Lebay!"
Ello yang merasa tersendiri langsung menyipit menoleh ke arah Rave dengan kesal. "Heh! Sakit nih serius! Bukannya lebay!"
"Kalau gituh tadi nggak usah sok sok an nolongin gue!" ucap Shei selagi mengobati memar di wajah Ello.
Mereka berada di rumahnya Shei.
"Hets! Jangan bilang gitu, dong! Gue kan udah janji bakalan lindungin lo."
Mendengar apa yang dikatakan Ello barusan. Shei, yang fokus pada perawatan memar, matanya langsung menatap Ello dengan saksama. Mereka saling menatap untuk beberapa saat, Shei memutuskan.
"Udah." Shei selesai merawatnya, dia membersihkan kotak P3K. Setelah itu ia menatap ketiga temannya yang tiba-tiba berada di Jakarta. "Kalian kenapa bisa ada disini? Omah yang ngasih tahu kalian?"
"Iyah, omah yang ngasih tahu kita karena kita maksa. Kita khawatir sama lo," sahut Alvin. "Yah. Sebenarnya gue sama Rave nggak tahu kalau El ternyata kesini juga."
"Heem. Gue juga nggak tahu mereka kesini. Nggak janjian," sambung Ello. "Eh ternyata... untung aja kita dateng di waktu yang tepat kalau nggak lo bisa dibawa sama orang-orang tadi. Emang mereka siapa? Maksa-maksa lo buat ikut."
"Bukan siapa-siapa," kilah Shei.
"Lo mau terus-terusan tutup mulut kayak ginih?" sosor Rave sedikit kesal dengan sikap Shei. Semua orang langsung menatap ke arahnya. "Gue tahu. Lo terpaksa ngelakuin hal itu. Lo nggak ada pilihan."
Ello dan Alvin bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Rave. Sementara Shei menatap bagaimana Rave bisa tahu.
"Lo nggak tahu apa-apa!" kelit Shei.
Rave menghela nafas berat. "Surat. Surat misterius yang lo terima itu. Itu ulah gue." Shei tersentak kejut menatapnya tidak percaya. "Gue salah satu pelaku pengirim surat itu, yang ngirim lo petunjuk."
Ada perasaan marah tapi entah kenapa Shei sedikit lega mendengarnya. Dia terdiam sejenak, mencerna semuanya. "Gue itu cuman murid baru di sekolah kalian! Kenapa juga lo ngelakuin itu?! Emangnya lo tahu, siapa yang udah jebak gue?!" kelakarnya.
"Buat sekarang gue emang nggak tahu. Tapi gue udah punya beberapa petunjuk, gue bakalan nemuin pelakunya buat lo," ujar Rave terdengar tulus dan penuh tekad. "Nggak usah khawatir, sekarang bukan lo doang yang ngelindungin tapi lo juga dilindungin."
__ADS_1
Kemarahannya, beban yang dia tanggung sendiri setelah mendengar kata-kata Rave, membuatnya lebih ringan, ada perasaan lega. Shei tidak tahu harus berbuat apa, apa yang harus dikatakan kepada mereka. Selama ini dia sendirian, tapi sekarang ada seorang teman yang meskipun dia selalu menyakiti tapi teman itu terlalu baik dan percaya padanya.
Terlihat mata Shei berkaca-kaca menahan air matanya. "Shei..." Ello lebih mendekat melihat Shei seperti itu, ia khawatir.
"Gue... Nggak tahu harus bilang apa. Maafin sikap buruk gue,, gue tahu gue salah."
"Nggak. Lo nggak salah, Shei," potong Ello.
"Gue salah, El! Gue udah banyak nyakitin semua orang, temen-temen gue! Gue berhak dibenci."
"Lo emang salah. Tapi itu karena lo nggak ada pilihan lagi. Perbaiki kesalahan lo, dan jujur sama Alya apa yang sebenarnya terjadi. Dia khawatirin lo. Mungkin juga dia merasa bersalah selama ini," pungkas Rave. "Yang terpenting, sekarang kita harus cari tahu, siapa yang udah jebak lo sampai lo dikeluarin dari sekolah."
Alvin dan Ello mengangguk menyetujui ucapan Rave begitu juga dengan Shei.
"Apa ada orang yang lo curigain?" tanya Rave.
...****************...
Joy sedang menunggu seseorang di gerbang kost putri. Tentu saja seseorang itu adalah Alya. Belum lama ini, Alya terlihat keluar dari rumah, disambut riang gembira oleh Joy.
"Udah siap?"
Liburan semester telah tiba, Alya memutuskan untuk pulang lagi ke ibu kota. Karena Alya tidak dijemput oleh siapapun yang akhirnya memberi kesempatan Joy untuk lebih dekat dengan Alya, Joy pun tidak keberatan menemani Alya ke Jakarta. Meski tidak naik kendaraan pribadi, Alya tidak mempermasalahkannya. Itu membuat Joy semakin menyukainya.
Transportasi yang akan membawa mereka ke Jakarta, dengan menaiki KRL.
...****************...
Dua orang yang menatap tak percaya, dengan keheranan satu sama lain. Nama mereka ada dalam daftar orang yang dicurigai.
"Maaf," keluh Shei berseri kepada Ello dan Rave.
"Nggak papa. Ini salah gue, karena ngasih petunjuk marching band," sahut Rave.
"Anak baik kayak gue dicurigain? Nggak salah, Shei?" cakap Ello.
"Yah awalnya. Maaf. Gue udah lama nggak curiga sama lo, kok. Lihat, kan? Nama lo udah gue coret, dah lama."
"Tapi gue belum," sindir Rave sedikit kecewa namanya masih menjadi orang yang dicurigai.
__ADS_1
"Nggak salah, dong. Terbukti kan, salah satu pelakunya lo," seloroh Shei. Dan Rave tidak bisa menyangkalnya.
Melihat kembali buku catatan Shei tentang daftar orang yang dia curigai. Semuanya adalah anggota marching band Baknus. Meskipun semuanya dicoret bahwa mereka bukan pelakunya. Rave jadi merasa bersalah terhadap anggota marching band, mereka jadi dicurigai. Padahal maksudnya bukan seperti itu.
"Jadi mereka semua udah nggak dicurigain?" tanya Alvin yang mendapat anggukan dari Shei. "Apa ada lagi?"
"Ini..." sosor Ello. "Lisa, David, siapa?" tanyanya melihat dua nama asing di bawah buku catatan ini.
"Mereka temen gue di Nusantara High School. Awalnya gue sempet curiga sama mereka, tapi itu cuman salah paham gue sendiri. Mereka nggak ada sangkut pautnya sama masalah ini."
"Ada," ucap Rave membuat ketiganya bertanya-tanya. "Lo harus curiga sama mereka."
"Kenapa?" Shei kebingungan. "Gue yakin kok mereka nggak tahu apa-apa, gue udah cari tahu sendiri. Soal pelakunya,, gue yakin ada di SMA Bakti Nusa. Pelakunya itu selama ini merhatiin gue dari deket. Waktu gue dapet surat
ancaman terakhir, nggak lama dari itu dia ngirim DM."
"Kalau gituh, emang bener," cetus Ello. "Biasanya orang yang kita nggak sangka-sangka, ternyata itu pelakunya."
"Gue yakin pelakunya tahu banget soal lo, Shei," sambung Alvin.
"Apa mungkin... pelakunya lebih dari satu?" papar Rave.
"Lebih dari satu?"
Rave angguk. "Bisa jadi, orang yang selama ini ngirim surat ke lo itu cuman tangan kanannya si pelaku sebenarnya." Shei, Alvin dan Ello tercengang dengan kemampuan Rave yang menyelediki. "Ginih. Kita nggak tahu motifnya apa atau mungkin orang itu ada dendam sama lo makanya ngelakuin ini. Dari yang gue lihat di surat terakhir...."
"Tunggu," potong Shei. "Lo baca surat gue?"
Rave angguk sedikit kaku. "Sorry. Gue masuk ke kamar lo, dan nemuin surat-surat itu." Shei tampaknya kesal tapi ia menahannya. "Lisa sama David. Lo harus curiga. Karena mereka anggota geng NHS."
Shei tercengang mendengar bahwa dua teman dekatnya adalah anggota geng NHS. Bagaimana mereka bisa menjadi anggota geng itu. Padahal keduanya menentang dan menyuruh Shei untuk keluar dari geng itu.
...🌸...
..."Mari kita ingat: Satu buku, satu pena, satu anak, dan satu guru dapat mengubah dunia."...
...- Malala Yousafzai -...
...✨...
__ADS_1