
Berlanjut....
Ello sudah sampai di rumahnya Shei.
"Eh? Non Shei kenapa? Non Sakit?" Panik Paman Jaka melihat Shei dipapah jalannya oleh temannya yang ia kenal bernama El.
"Nggak kenapa-kenapa, kok, Paman," jawab Shei lemas.
"Shei, cuman kecapean aja," tutur Ello yang menjawabnya. "Saya anterin Shei dulu ke kamarnya."
"Iyah, Den. Tolong ya..." Suara Paman Jaka masih terdengar khawatir. Ello tersenyum angguk.
Sudah memasuki pintu rumah.
"Gue bisa sendiri. Lo nggak usah anterin gue sampe dalem," decitnya.
"Shutt! Jangan berisik..."
Shei yang sebenarnya ingin meronta tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk berdebat. Dengan terpaksa ia mengizinkan Ello untuk membantunya sampai mengantarkan ke kamar.
"Sampe sini aja. Makasih udah nganterin gue," ucap Shei berhenti di depan pintu kamarnya.
Ello tersenyum. "Sama-sama."
Setelah Ello pergi, Shei pun masuk ke kamarnya untuk istirahat mencoba menjernihkan pikirannya.
Anak tangga terus Ello turuni, ternyata ia bertemu dengan Rave yang sudah tiba.
"Gimana Shei?" tanyanya.
"Udah di kamarnya. Istirahat."
Terdengar helaan nafas lega dari Rave. Meski terdengar kecil. "Apa nggak dibawa ke dokter aja?"
"Dia bilang nggak mau. Nggak sakit juga katanya."
__ADS_1
"Tck,, keras kepala." Ello yang sedari tadi memperhatikan tingkah Rave terhadap kondisi Shei. Rave menemukan Ello yang menatapnya. "Kenapa?"
"Gue minta penjelasan sekarang dari lo kenapa lo bersikap kayak gini sama Shei," tuntutnya.
"Jangan sekarang," desis Rave melangkah kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum. Dibuntuti oleh Ello dari belakang.
"Sampe kapan, Rave? Gue nggak bisa nunggu lagi. Lo harus jelasin sekarang. Setidaknya lo jangan buat gue mikir negatif sama lo!"
Rave yang menuangkan air ke dalam gelas, ia kembali meletakkannya, terdengar suara benturan kaca dengan meja itu. Dia menatap dingin kepada Ello yang terus menuntut penjelasan darinya.
"Okeh... gue bakal cerita sekarang. Dengerin baik-baik. Karena gue, nggak nerima pengulangan cerita."
Ello hanya angguk.
"Lo udah tahu kalau papah gue Haris, bukan orang tua kandung gue." Rave memulai ceritanya. Jenderal Haris adalah orang tua angkat Rave. Sebenarnya Jenderal Haris akan segera menikah dengan Dara ibunya Rave, setelah melahirkan Rave saat itu. Namun ternyata, Tuhan berkehendak lain. Dara meninggal setelah melahirkan Rave, dan diurusnya Rave oleh Haris seorang Jenderal dari Angkatan Darat.
"Iyah gue tahu," sahut Ello.
"Setelah ada kabar papah meninggal dalam tugasnya. Waktu itu, gue coba buat ikhlas, gue beres-beresin barang-barangnya. Dan gue nemuin ini."
"Balikin," pintanya. Ello dengan sadar mengembalikan foto itu. Namun tampaknya Rave kesal, Ello semakin bingung dibuatnya. "Maksudnya balikin. Lo liat tulisan dibelakang foto itu."
"Ohh... yang jelas, dong," cicit Ello. Dia melakukan apa yang disuruh oleh Rave. Melihat tulisan di belakang foto tersebut. Bertuliskan.
...'Pernikahan Kevin & Dara Tahun 19**'...
Ello menatap kejut. "Berarti laki-laki difoto ini bokap lo? Ayah kandung lo?" Rave angguk mengiyakan. "Terus ini... neneknya Shei kenapa ada difoto ini?"
"Omah. Ibu dari mempelai pria itu."
Ello menganga, dia tidak berucap sejenak. Mencoba memahaminya. "Kalau neneknya Shei, orangtua dari mempelai pria yang nikah sama ibu lo. Berarti.... omah.... nenek Shei... orang tua dari ayahnya Shei juga." Ello membulatkan matanya kejut menatap pada Rave. "Ayah kandung lo ayahnya Shei? Pak Kevin?"
Rave kembali mengangguk mengiyakan.
"Oh My God! Lo serius? Nggak bohong? Astaga.... Lo sama Shei saudaraan, dong?"
__ADS_1
"Shutt....! Jangan keras-keras. Kalau Shei denger gimana?" lirih Rave.
"Dia nggak tahu? Soal ini?" bisik Ello. Ia mencoba menenangkan kekejutannya ini.
"Shei nggak tahu. Tapi omah tahu kalau gue cucunya. Anak dari Dara. Mantan menantunya."
Ello memegang kepalanya masih shock dengan kebenaran yang baru ia ketahui dari teman masa kecilnya ini. "Jadi siapa yang lahir duluan disini? Lo atau Shei?"
"Gue."
"Lo...? Hah... Tapi gue yakin, sih. Lo pasti yang jadi kakaknya," tutur Ello. "Tapi Rave gue mau tanya. Tapi lo jangan kesinggung."
"Hem." Rave hanya berdehem.
"Apa ada perselingkuhan atau orang ketiga sewaktu belum cerai antara ibu lo sama ayah kandung lo itu?"
Tidak salah Ello berpikir seperti itu. Karena jelas, adanya Rave dan Shei yang lahir seusianya.
"Nggak ada."
"Hah... Alhamdulillah deh..." Ello bernafas lega setelah mendengar itu.
"Omah bilang setelah Pak Kevin sama ibu gue cerai. Mereka nggak tahu kalau ternyata ibu ngandung gue. Dan... papah gue juga pernah cerita sepintas, kalau perceraian ibu sama Pak Kevin karena konflik lain. Kalau emang ada perselingkuhan, gue bakal lebih benci lagi sama keluarga ini."
Ello mendekat segera memeluk teman masa kecilnya ini yang sangat kuat.
"Ngapain peluk-peluk gue?! Lepasin!"
"--argh! Gue lagi prihatinin lo. Malah ditonjok!" lirih Ello kesakitan. "Tapi gue salut sama lo. Lo nggak nyimpen dendam sama keluarga ini terlepas dari masa lalu. Termasuk sama Shei."
Rave hanya berdehem kecil. Mungkin untuk kenyataan bahwa perceraian orangtuanya tidak ada perselingkuhan. Namun ia juga masih belum bisa menerima semuanya. Termasuk dengan sikap ayah kandungnya, yang tidak peduli dengannya. Saat itu.
Untuk masalah dendam. Haris, ayah angkatnya telah mendidik Rave dengan baik. Tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat, tidak pendendam, cinta damai dan mengajarkannya agar selalu menolong orang yang lemah.
...🌸...
__ADS_1