Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 32 Pernah


__ADS_3

Seorang gadis yang masih polos, namun dikelilingi oleh anak-anak muda yang mengenal dunia luar. Gadis itu sangat tertekan di tengah-tengah mereka, perasaan takut dan cemas yang dia rasakan saat ini. Dia ingin lari dari lingkaran ini, tapi dia tidak bisa. Tubuhnya mati rasa. Kutukan, lelucon menyakitkan, sentuhan, dan hinaan mereka membuatnya semakin takut. Matanya tidak bisa menutupi rasa takutnya pada mereka. Terjatuh.


...Hosh...


...Hosh!...


Shei terbangun dari mimpi buruknya di hari-hari sekolah lamanya. Bangun dengan wajah khawatir. Mencoba menenangkan dirinya.


Dert Dert Dert


Dering ponsel membuatnya sadar, dia segera mengangkat telepon dari temannya, Joy.


"Lo dimana sih, Shei? Gue udah nyampe daritadi, nungguin lo nih sampe kaki gue bengkak."


"Sorry." Suaranya terdengar lelah, karena mimpi itu. "Sebentar lagi gue kesana."


"Awas lo yah jangan lama-lama."


"Iyah.."


Telepon berakhir.


Hari ini, dia punya janji dengan Joy untuk belajar di perpustakaan kota. Sebenarnya Shei malas ke perpustakaan, itu bukan seperti dirinya. Tetapi karena Joy juga bersikeras, Shei berpikir tidak ada salahnya jika dia pergi ke perpustakaan untuk mencari udara segar selain hanya tinggal di rumah, yang terus menerus mengingat sesuatu yang tidak ingin dia ingat.


Dia segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap.


...****************...


Joy berdiri di depan perpustakaan kota dengan raut wajah yang tampak kesal setelah menelpon Shei.


Joy berdisis kesal. "Gue yakin dia baru bangun. Dasar."


"Joy? Joy...."


Joy menoleh setelah mendengar ada seseorang yang menyapanya. "Alya? Ghesa? Hai..." Joy tersenyum lebar setelah melihat mereka, dia membalas sapaan.


"Lo ngapain disini?" tanya Ghesa.


"Maen PUBG." Membuat kedua gadis itu menatap bingung dan Joy menatapnya malas. "Di belakang gue perpustakaan bukan warnet. Lah iyah gue maen games. Gue kesini mau belajar."


"Lo suka belajar di perpustakaan ini juga?" tanya Alya dengan ramah.


Joy terlihat senang mendapat pertanyaan darinya. Dia bertingkah malu-malu untuk menjawabnya. Hendak untuk menjawab, Ghesa malah meledekinya.


"Sejak kapan lo suka ke perpustakaan? Belajar juga nggak pernah. Kerjaan lo itu maen games atau nggak shoping," ledeknya.


Joy mendengus kesal dengan lelucon itu. Meski sebenarnya ucapan itu benar. Tapi jika diledeki di depan orang yang disukai, memalukan.


"Udah, udah, nggak usah ribut," kekeh Alya pada mereka. Ghesa masih tertawa meledeki Joy. "Joy, kesini buat belajar sendiri?"


Akhirnya keributan itu mulai reda, dengan Alya melontar pertanyaan lagi.


"Gue mau belajar bareng sama Shei," jawabnya. Ghesa mendengar itu segera melirik ke arah Alya, mencemaskannya. "Tapi, dia belum dateng juga. Kalau gue gabung dulu sama kalian nggak papa ya."


"Nggak boleh," tolak Ghesa.


"Yaa kenapa?"


"Karena..--"


"Yaudah ayok masuk," potong Alya.


"Serius dibolehin, Al?" Sumringah Joy. Alya tersenyum angguk. "Makasih." Kemudian kembali menatap Ghesa, untuk memberikan ledekan.


Mereka bertiga masuk ke perpustakaan kota bersama.


...****************...


"Omah..."


"Omah... Shei mau berangkat sekarang."


Shei menuruni tangga, sambil memeriksa tasnya tanpa memperhatikan sekeliling bahwa ada seorang pemuda di bawah yang sedang mengawasinya.


"Sibuk amat, Bu."


Shei melongok dengan kejut. "El?"


"Hai," sapanya dengan senyum.


"Lo ngapain disini?"


"Jemput lo."


"Hah? Gue nggak ada janji juga sama lo," ketusnya. "Omah..." Shei mengacuhkan, dan mencari nenek keluar. Di belakang sana, Ello terus mengikutinya.


Namun di luar nenek tidak ada sama sekali. Yang ia temukan adalah pak Jaka.


"Paman, omah kemana?"


"Oh ibu lagi di rumah samping, rumah tetangga."


"Ohh.. Yaudah kalau gitu. Paman, anterin Shei ke perpustakaan kota ya."


"Sekarang, Non?"


"Iyah. Kenapa? Paman nggak bisa?"


"Maaf, Non. Tapi bentar lagi ibu mau keluar juga, mau beli buat persiapan besok berangkat."

__ADS_1


"Ohh gitu."


Shei tampak murung. Dan di sini Ello yang telah berdiri di sampingnya, yang telah diabaikan, masih menunggu dengan setia dengan senyum bodoh itu.


"Kuy. Gue yang anter," katanya. Shei masih diam, ragu. "Ayok.... Nggak usah malu."


"Ih gue bisa jalan sendiri," desisnya melepaskan genggaman tangan Ello darinya.


Ello hanya cengengesan, memberikan helm padanya.


"Paman, tolong kasih tahu omah yah, kalau Shei pergi ke perpustakaan kota."


"Siap, Non Shei."


"Makasih, Paman."


Shei naik ke motor dengan pemilik pemuda yang menyebalkan.


"Udah siap?"


"Hem."


"Pegangan."


"Nggak."


"Pegangan atau nggak gue nggak jadi nganter." Dengan senang hati, Shei akan turun. Namun ternyata ancaman itu tidak mempan membuat Ello yang menjadi panik. "Eh eh! Jangan! Oke, gue anter. Nggak pegangan juga nggak papa."


Shei menghela nafas, datar.


"Pak, berangkat dulu," pamit Ello pada pak Jaka.


"Siap, Den. Hati-hati bawa Non Shei."


Motor melaju.


Dan Pak Jaka tersenyum sendiri setelah melihat kedua anak muda itu pergi. "Maaf ya Non Shei. Paman udah bohong, disuruh Den El, biar Non Shei ikut sama dia."


...****************...


"Shei... Lo ada janji disana?"


Dalam perjalanan Ello berusaha mencari topik agar tidak hening.


"Hem."


Dan Shei hanya menjawab dengan dehamnya.


"Sama siapa?"


"Joy."


"Ck! Sama dia lo mau diajak keluar. Tapi sama gue nggak," cibirnya.


"Masalah, lah!" sungutnya.


Shei mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban Ello itu.


Stang motor telah berbelok memasuki gerbang masuk perpustakaan kota. Ello memarkirkan motornya itu.


"Makasih," ucap Shei dingin sambil mengembalikan helm.


"Sama-sama," jawab Ello ramah.


Shei langsung pergi meninggalkan Ello disana. Tidak berperasaan. Dengan tergesa-gesa Ello berlari menyusul Shei di depan.


"Lo ngapain?" tanya Shei heran.


"Tujuan yang sama kayak lo."


Shei tidak berkutik, mengabaikan Ello lagi.


Di Sini. Ghesa, Alya dan Joy sudah mulai belajar sejak lama. Dan Alya adalah mentor untuk mempelajari kelompok ini, dia senang memberikan kursus meskipun Ghesa dan Joy sebenarnya pintar di bidang akademik. Dalam mata pelajaran yang berbeda.


Joy menemukan temannya yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Namun ternyata temannya tidak datang sendirian. "Shei," panggilnya.


Fokus Alya dan Ghesa hilang setelah Joy memanggil nama Shei.


Shei telah datang bersama Ello.


"Lo bilang janjiannya sama Joy. Ternyata ada Alya sama Ghesa juga," tutur Ello sambil melihat Shei.


Shei diam, karena tidak tahu juga.


"Ooh.. tadi gue nggak sengaja ketemu Alya sama Ghesa. Yaudah deh ikut gabung dulu sambil nunggu Shei dateng," urai Joy menjelaskan apa yang terjadi. "Lo kenapa bisa sama Shei?" tunjuk pada Ello.


"Bisa, lah. Gue," balas Ello sombong.


"Dih," decak Joy. "Mm Shei, barengan sama mereka aja kalau gituh yah. Belajarnya." Shei masih diam, menatap pada Alya. "Alya, boleh, kan?"


Alya menganguk memperbolehkan agar orang-orang tidak curiga.


"Ayok Shei. Duduk," lanjut Joy senang.


Shei meletakkan tasnya, dan hendak duduk. Tapi. Alya telah beranjak dari duduknya membuat yang lain menatap ke arahnya.


"Kalian haus nggak? Gue beliin minuman dulu," katanya dengan senyum dan segera pergi.


Shei mengikuti arah perginya Alya. Dan setelah itu. "Gue ke toilet dulu." Izinnya pada yang lain dan pergi.

__ADS_1


Sementara itu, Ghesa dan Ello yang tahu. Menyadari sesuatu.


......................


Alya baru saja memesankan minuman untuk teman-temannya. Tiba-tiba seseorang mengejutkannya, orang yang ia hindari dengan alasan ia pergi kesini membeli minum karena haus.


"Lo ngapain kesini? Gue udah pesenin juga," ketusnya kepada orang yang ia hindari ini, Shei.


"Emang lo tahu gue mau minum apa?"


Shei menatap Alya.


"Tahu. Strawberry Milk Late."


Tampaknya Alya belum sadar dengan apa yang ia katakan.


"Gue nggak suka minuman yang terlalu manis."


"Tapi dulu lo suka minuman manis."


Hening.


Shei terus menatapnya dengan tanya. Akhirnya Alya sadar akan hal itu.


"Ya--Yaudah... sana! Ganti pesenan sendiri. Gue... nggak mau buang waktu gue buat ganti pesanan lo itu." Alya pergi, dan duduk di tempat yang kosong dengan gugup. Namun ternyata Shei mengikutinya duduk. "Ngapain ngikut?!"


"Nunggu minuman gue," jawab Shei santai.


Alya tidak mengeluarkan suara lagi, dia membiarkan Shei duduk bersamanya. Ada sedikit kegugupan darinya untuk bisa dekat dan berbicara lagi meski hanya sebentar dengan perdebatan itu.


Tring! Shei mendapat pesan dari Joy.


JOY


| Gue tadi habis dari toilet, tapi lo nggak ada. Lo bareng sama Alya?


| Bantuin gue. Tanyain.. type cowoknya dia


^^^Read^^^


Shei mengeluarkan nafas dengan kekehan kecil setelah membaca pesan dari Joy. "Gue disuruh nanyain type cowok lo sama Joy," cetusnya pada Alya yang kebingungan.


"Buat apaan?" lirih Alya.


"Joy suka sama lo."


"Ohok ohok..." Alya langsung tersedak padahal sekarang dia tidak minum dan tidak makan apapun. "Ke-kenapa lo ngasih tahu ini ke gue?"


Shei mengangkat bahunya. "Kalau lo nggak suka, biar gue bilangin sekarang type cowok lo bukan kayak dia. Dia terlalu manis buat lo. Lo kan sukanya cowok pinter, rajin, karismatik. Dan lo juga pacarnya David."


Alya mengerutkan keningnya. Terkejut. Sedari tadi pembahasan bersamanya terus ke arah masa lalu. "Lo... tahu.... gue pernah pacaran sama Da-David?"


"Pernah?" Shei yang tadi tidak menatap ke arah Alya, sekarang menatapnya dengan heran. "Lo udah putus sama David?"


Mereka berdua menatap satu sama lain dengan kebingungan yang berbeda dari mereka.


"Permisi. Mbak pesanannya."


Alya segera mengambil pesanannya. Namun ternyata minuman Shei yang seharusnya diganti, masih tetap sama. "Mas, maaf. Strawberry Milk Late satunya bukannya udah diganti."


"Oh? Nggak, Mbak. Itu sudah sesuai pesanan tadi."


Alya masih menatap bingung.


"Gue nggak jadi ganti," ucap Shei. Suara itu tiba dibelakang.


Alya membalikkan badannya. "Kenapa?"


"Buat ngehargain orang yang udah mesenin."


Alya berdecak menatap Shei. Merubah kembali ekspresi menjadi ramah pada pelayan. "Makasih, Mas."


"Iyah, Mbak."


Alya beranjak pergi bersama Shei.


"Punya gue berapa?" tanya Shei.


"Nggak usah. Gue kan udah bilang mau beliin," ketusnya. "Bukan lo sendiri. Buat yang lain juga." Ralatnya.


"Thanks. Ah soal Da--"


"Guys.... minumannya udah dateng...."


Alya datang dengan ceria memberikan teman-temannya minuman. Shei tahu, Alya sengaja memotong kata-kata Shei yang hendak menanyakan sesuatu padanya.


"Dasar. Gue nggak suka Alya yang sekarang," gumam Shei melihat ke arah Alya yang tengah membagikan minuman pada yang lain.


"Shei... Kenapa diem disana? Ayok," panggil Joy.


Shei pun kembali melangkahkan kaki menemui mereka.


Joy melihat minuman yang sama yang diminum oleh Alya dan Shei. "Ternyata kalian suka minuman yang kayak gitu."


Mata semua orang langsung tertuju pada minuman Strawberry Milk Late yang dimiliki oleh Shei dan Alya.


"Gue asal pesen," kilah Alya gugup.


Joy pun ber'oh tanpa curiga sementara Ello dan Ghesa tidak. Shei tersenyum miring melihat ke arah Alya. Alya menyadari hal itu membuat semakin gugup.

__ADS_1


"Kita fokus belajar lagi," katanya. Mencoba mengalihkan kegugupan itu.


...🌸...


__ADS_2