
...Diingatkan kembali ini adalah memori masa lalu dan alur ceritanya akan mundur....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari yang lalu saat liburan semester. Alvin kembali ke Jakarta tapi kali ini bersama adiknya, Gadis. Untuk melihat ayah mereka. Alvin menghabiskan beberapa hari di rumah ayahnya di Jakarta dan di mana hari itu, kami semua makan bersama di sebuah restoran, tentu saja tidak hanya kami tetapi ayah mereka mengundang teman terdekatnya.
Apa yang Alvin lihat, dia bertemu dengan anak laki-laki seumurannya yang merupakan anak dari teman ayahnya. Namanya tidak asing baginya.
David.
Itu namanya.
Alvin pun jadi teringat dengan pembicaraan tempo hari bersama teman-temannya ketika masalah Shei terungkap. Dan nama 'itu' ada dalam pembicaraan mereka. Alvin pun semakin yakin ketika anak teman ayahnya itu mengatakan dirinya bersekolah di Nusantara High School.
Alvin segera menghubungi Rave agar lebih menyakinkan lagi, bahwa David yang dimaksud oleh mereka adalah 'dia'.
Alvin terus menunggu cukup lama selama lebih dari satu jam, berharap teman-temannya akan tiba tepat waktu. Waktu berlalu di mana makan malam selesai, kami ingin pulang. Dan di sanalah Alvin dan David dikejutkan oleh seseorang yang ada disini.
"Alya?"
"Al?" kejut Alya. Lalu ia menatap pada sosok yang pernah menjadi bagian dari kebahagiaannya, yaitu mantan pacarnya. "David?"
Alvin melihat tatapan Alya kepada David, begitu juga sebaliknya David kepada Alya. Tidak lama teman-teman yang ditunggu Alvin tiba juga. Shei, Rave, dan Ello tiba. Mereka sama-sama dikejutkan, semua orang terkejut.
"David!"
"Sheila?" David dibuat heran dengan orang-orang disini yang berdatangan.
Shei melihat ke arah Alya, yang ternyata berada disini juga. "Lo disini?"
Alya mengangguk ragu. Dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi di sini, mengapa teman-temannya berkumpul dan bahkan lebih bingung mengapa David ada di sana. Meskipun dia datang ke sini untuk acara keluarga, tetapi dia dipertemukan kembali dengan teman-temannya.
"Alvin, kenapa berdiri disana?"
"Kak ayok pulang..."
__ADS_1
Ayah dan saudara perempuan Alvin memanggilnya.
"Nak. Kamu sedang apa? Ayok."
Kali ini pihak dari keluarga David memanggilnya.
"Vid. Lo harus tetep disini. Ada sesuatu yang mau mereka bicarain sama lo, terutama Shei. Sahabat lo," ujar Alvin kepada David.
Meski David bingung, ia menurut. Alvin dan David meminta izin untuk tinggal di sini sebentar, dan akhirnya keluarga mereka pulang duluan.
Mereka semua berkumpul dengan David yang sangat gugup ditatap oleh semuanya. "A-ada apa ini?"
"Kalian bisa tinggalin kita berdua dulu?" pinta Shei pada teman-temannya.
Tampaknya mereka mengerti dan memberi waktu kepada Shei dan David untuk berbicara empat mata.
"Sebenarnya ada apa, Shei?" heran David.
"David. Gue mau tanya sesuatu sama lo," ucap Shei. "Apa lo tahu sesuatu soal insiden yang menimpa gue waktu itu? Gue yang dituduh udah nyuri soal ujian."
David menelan ludah kasar, pandangannya benar-benar terlihat gelisah. Mengapa Shei tiba-tiba menanyakan soal itu.
"Gue nggak tau, Shei. Kenapa lo tiba-tiba nanyain itu? Lo... udah nemu pelaku aslinya?" David berusaha untuk tidak dicurigai oleh mereka.
"Hampir," balas Shei membuat David semakin gelisah. "David. Lo itu sahabat gue dari kecil, gue sangat percaya lo. Lo nggak nutupin sesuatu dari gue, kan?"
"Nu-nutupin apa?"
Shei diam sejenak. "Lo anggota geng NHS?"
David mengerutkan keningnya. "Kenapa lo bisa mikir gitu? Gue bukan anggota mereka."
Shei bernafas lega, dia percaya dengan ucapan David. "Tapi Lisa?"
"Lisa juga bukan," kelit David. "Shei. Lo ini kenapa, sih? Kenapa lo nuduh gue sama Lisa anggota NHS. Bukannya lo tahu semua tentang geng itu, karena lo masuk bagian mereka."
__ADS_1
"Karena pelaku yang udah jebak gue, ada di diantara kalian! Geng NHS!" berang Shei. Suara Shei cukup keras membuat yang lainnya khawatir, sementara David tersentak kejut semakin gelisah dibuatnya. "David. Gue mohon, kalau lo tahu sesuatu soal ini kasih tahu gue. Lisa, Vid. Temen yang selama ini kita percaya, dia udah ngelakuin sesuatu yang udah ngerusak persahabatan gue sama Alya."
David tidak paham yang dikatakan Shei itu.
"Gue nggak tahu alasannya kenapa, tapi Lisa sampai neror gue ke sekolah baru gue. Dan gue baru tahu belum lama ini kalau ternyata itu ulahnya Lisa."
David tidak percaya jika Lisa melakukan sesuatu seperti itu. "Lisa nggak kayak gitu, Shei."
"Awalnya gue juga mikir gitu. Gue nggak percaya sama sekali kalau Lisa, sahabat gue kayak gitu. Tapi sesuatu, bukti, Lisa selama ini yang neror gue. Dan gue curiga kalau Lisa juga ada dibalik insiden bocornya soal ujian."
Kalimat terakhir membuat David bungkam dan entah kenapa perasaan begitu marah. "Shei! Gue, sama sekali nggak tahu apa-apa soal ini! Dan gue perjelas, gue sama Lisa bukan anggota NHS. Gue harus pergi."
Shei diam, benar saja apa yang ia takutkan hal terjadi seperti ini. Pertemanannya hancur. Karena tidak saling percaya, dan menuduh.
David berhenti ketika sosok gadis dengan rambutnya diikat menghalangi jalannya dan dia menunjukkan sebuah foto membuat David tertegun. Foto dirinya saat berfoto bersama geng NHS, padahal sebenarnya ia dan Lisa terpaksa berfoto bersama mereka.
"Masih mau menyangkal?" tuntut Rave.
David jadi tahu, karena foto ini membuat mereka menganggap dirinya dan Lisa sebagai anggota NHS. "Foto itu bukan berarti gue sama Lisa bagian dari geng NHS!"
"Gue nggak peduli kalau lo bagian dari mereka atau nggak. Yang kita pengen denger, apa lo tahu sesuatu soal insiden itu? Apa lo tahu siapa pelaku yang udah jebak Shei sampai dia harus dikeluarin dari sekolah?"
David terlihat geram sekarang, menatap gadis itu begitu mencengkram. "Udah gue bilang berkali-kali! Gue. Nggak tahu. Apa-apa. Soal insiden itu!"
Nafas David memburu, sebelum pergi ia memandang gadis yang pernah menjadi bagian dari kebahagiaannya yang telah banyak berubah secara penampilan. Mantan pacarnya, Alya. Dia semakin cantik dan lebih dewasa. Sudah lama dia tidak mendengar kabarnya. Sangat ingin mengajaknya mengobrol tapi situasi saat ini tidak memungkinkan. David harus segera pergi sebelum mereka semakin curiga padanya.
"David," panggilnya. Suara yang lembut itu ia kenali. Suara Alya membuat langkah David berhenti tapi tetap menghadap ke depan enggan untuk menengok ke belakang. "Aku tahu kamu itu orang yang baik. Aku tahu persis. Kalau kamu tahu sesuatu, tolong kasih tahu kita. Shei udah difitnah, dan kamu juga nggak mau kan temen kita dicap sebagai pelaku?"
David bungkam. Dia juga tidak mau seperti ini. Tapi dia harus apa? Pelakunya sebenarnya adalah dia. Dia sendiri. Kalian semua sudah melihat pelaku sebenarnya.
David pergi meninggalkan mereka.
Shei terus melihat sahabatnya pergi, berharap jika David tahu sesuatu, dia akan memberitahunya.
Seperti yang dibilang Alya. David adalah teman yang baik.
__ADS_1
...🌸...