
Hari ini Shei sedang menunggu neneknya tiba di bandara kembali dari tanah suci. Tidak hanya sendirian, dia datang ke sini ditemani oleh Paman Jaka. Dan juga seorang anak yang tidak tahu persis bagaimana bisa akrab dengan nenek, yaitu Rave. Shei mengira Rave tidak akan datang menjemput nenek Kartika, tapi kenyataannya.
Yah know, lah.
Kami disini ikut bergabung dengan keluarga lain yang sama tujuannya. Menunggu kepulangan anggota keluarga dari Mekkah. Satu jam kami berada disini. Rombongan haji dari Indonesia telah tiba. Shei dengan penuh semangat mencari nenek tercintanya. Lebih dari seminggu, Shei tidak melihatnya. Shei merindukan neneknya.
"Omah? Omah...." Setelah melihat posisi keberadaan neneknya, Shei segera memanggil dan berlari ke arahnya. "Omah... Shei kangen."
"Aduh cucu omah. Kangen banget ya? Padahal ditinggalinya nggak lama," ejeknya sambil mengeratkan pelukan cucuknya.
"Ih omah... kangen banget tahu," balas Shei mengerucutkan bibirnya, seolah sedang kesal.
Paman Jaka dan Rave tiba. Paman Jaka segera membantu membawakan barang bawaan Nenek Kartika, dan Rave tersenyum melihat neneknya kembali dengan selamat. Nenek Kartika memeluknya. Shei yang diam menatap neneknya yang memeluk Rave, tercengang. Mereka begitu akrab. Nenek Kartika sepertinya menyayangi Rave seperti cucunya sendiri. Namun, pertemuan awal mereka berlangsung singkat. Tapi Nenek sudah mempercayai Rave.
"Kalian nggak berantem, kan? Selama omah nggak ada. Rave... Shei nggak nakal, kan?"
"Na--" Ketika Rave hendak menjawab, Shei malah menyambarnya.
"Nggak, kok, Omah. Shei baik-baik di rumah, di sekolah juga. Ujian juga lancar," kilah Shei tersenyum. "Tapi yang nakal malah Rave, Omah...." Seketika kalimat terakhir sebuah rengekan.
Rave yang mendengarnya langsung menatapnya heran pada Shei.
"Dia udah ngerjain aku, Omah. Nyuruh Shei nyuci bajunya!" decitnya.
Dasar tukang ngadu. Batin Rave.
"Betul tuh Rave?" tanya nenek Kartika.
"Iyah, Omah. Tapi saya punya alasan sendiri kenapa saya nyuruh Shei nyuci baju saya. Shei udah nyiram saya," terang Rave dengan tenang.
Dan tatapan Nenek kali ini berpindah ke arah Shei. Shei langsung menggeleng mencoba mengembalikan kepercayaan neneknya.
"Shei juga punya alasan sendiri." Suatu pembelaan terhadap dirinya sendiri. "Waktu itu Rave kesambet, Omah. Makanya Shei siram... biar setannya keluar."
"Kamu ini... omah baru juga pulang dari tanah suci udah ngebahas hantu hantu gituan," tegur nenek Kartika membuat Rave menahan senyumnya melihat Shei yang tidak berkedip.
Dan Paman Jaka hanya bisa cengegesan melihat kejadian ini.
"Udah ah. Yang penting kalian baik-baik aja. Sehat-sehat aja disini. Omah, udah capek. Pengen istirahat. Ayok."
"Sini, Omah. Biar saya bawain," kata Rave membantunya.
"Hem iyah..." dengus Shei lalu ia menatap ke arah Rave dengan tatapan tidak suka.
...• • •...
Mereka pergi dengan mobil. Jalanan ibu kota sangat padat, tetapi setidaknya kendaraan masih bisa berjalan perlahan. Shei sangat ceria mengobrol dengan neneknya tentang ini dan itu. Rave sesekali tersenyum, lalu melihat ke luar jendela lagi.
Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di rumah. Tentu saja, rumah milik keluarga Shei yang ada di Jakarta. Nenek memutuskan untuk beristirahat dulu di rumah ini, dan belum kembali ke Bogor. Tidak disangka Rave akan kembali menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. Disaat untuk bertemu dengan ayah kandungnya, Kevin. Sementara Shei, sudah lama ia tidak berkunjung lagi ke rumah ini. Begitu sepi.
"Eh mbak kesini lagi," ujar satpam rumah ini melihat pada Rave.
Sepertinya penjaga keamanan masih mengingat Rave dengan jelas. Rave terdiam, semakin gugup, tanpa sadar ia memegang leher bagian belakangnya. Begitu pula nenek Kartika yang cemas. Dan Shei menatap Rave dengan penuh tanya.
"Pak. Teman saya ini baru pertama kali kesini," cetus Shei.
"Tapi... Mbak ini pernah kesini, kok," jawabnya.
"Yang dibilang Shei bener, Pak. Saya baru kesini," kata Rave dengan suara dinginnya.
"Oh... Mungkin saya salah kali ya. Maaf."
"Nggak papa, Pak," sahut Rave.
__ADS_1
Nenek Kartika menghela napas lega lalu menatap cucu pertamanya dengan cemas. Rave tersenyum kepada Nenek, agar tidak terlalu memikirkannya.
"Omah mau langsung istirahat?" tanya Shei yang menggandeng tangan neneknya.
"Iyah. Omah ke kamar dulu ya." Shei angguk. "Kamu ajak juga Rave ke kamar kamu buat istirahat. Jangan dianggurin."
"Hem iyah omah," deham Shei malas. Nenek membelai lembut lengan Shei sebelum pergi. "Bibi....." panggil Shei kepada asisten rumah tangga di rumah ini.
"Iyah, Non?"
"Tolong ambilin minum ya dua, sama cemilan. Nanti bibi tolong anterin ke kamar Shei."
"Baik, Non."
"Ayok," ajak Shei ketus kepada Rave. Rave begitu sabar dengan sikap Shei, akhirnya mengikutinya.
Mereka berdua telah memasuki kamar Shei yang cukup luas dengan dekorasi yang tidak jauh berbeda dengan kamarnya di rumah Nenek.
"Gue ikut ke kamar mandi," kata pertama Rave yang baru saja berucap.
"Iyah... itu kamar mandi," tunjuk Shei dengan malas. "Apa? Apa?" sungutnya ketika Rave menatapnya tajam.
Rave sangat gemas, rasanya ingin mencubit adiknya. Kesal. Rave ada di kamar mandi, dia hanya ingin membasuh wajahnya untuk menyegarkan diri.
"Hah... Kenapa gue jadi peduli banget sama keluarga ini? Terutama,, Omah sama Shei."
Tidak disangka perasaan sedikit benci Rave mulai meluluh kepada keluarga ini.
Di samping itu. Shei yang sedang duduk manis di tempat tidur sambil bermain dengan ponselnya. Tiba-tiba ada panggilan masuk, dengan nomor tak dikenal. Shei memutuskan untuk mengangkat telepon.
"Hallo? Maaf siapa ya?"
"Shei..."
Seketika mata Shei sedikit terkejut. Dia mengenali suara perempuan di balik telepon.
"Iyah ini gue Lisa," ucapnya begitu semangat. "Lo apa kabar? Yaampun gue kangen banget sama lo tahu."
Meski sebenarnya Shei juga merindukan temannya ini. Namun perasaannya sedikit aneh, karena mengingat kejadian tempo hari dan dimana nomor Lisa tidak bisa dihubungi sama sekali. Dan sekarang. Tiba-tiba dia memanggilnya, sangat bersemangat. Seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Hei! Shei! Lo kok diem aja? Lo nggak kangen sama gue?"
"Ah iyah Lisa? Gue juga kangen, kok. Tapi lo kenapa baru ngehubungin gue? Kemana aja kemarin? Nomor lo kok nggak aktif, sih?!" Seketika suara Shei menuntut penjelasan dari sahabatnya ini.
"Hehehe sorry, Shei. Ponsel gue ilang waktu itu. Dan sekarang gue baru bisa hubungin lo, nomor lo baru ketemu. Lo liat, kan? Gue langsung hubungin lo."
Shei sedikit lega mendengar itu. Ternyata kecurigaannya salah. Tapi untuk kejadian Lisa dengan David?
"Dasar ceroboh," ledek Shei terkekeh.
Rave di dalam kamar mandi, mendengar suara orang yang tengah mengobrol dari luar. Suara Shei. Tapi Shei mengobrol dengan siapa? Pikirnya. Rave pun keluar.
"Ihh lo mah. Jadi gimana nih? Gue denger lo nggak tinggal di Jakarta lagi. Gue sempet ke rumah lo, katanya sekarang lo tinggal sama omah."
"Iyah, nih. Nyokap bokap nitipin gue ke omah lagi. Ahk! Padahal gue pengen ikut sama mereka ke Australia," rengeknya mendapat suara tawa dari Lisa di balik telepon itu sesuatu yang mengejek. Pandangan Shei sekarang melihat Rave yang sudah keluar dari kamar mandi, namun ia fokus kembali pada Lisa.
"Kasian banget sih temen gue ini."
"Ohiyah, Lis. Gue lagi di Jakarta sekarang."
"Oh serius?" kejutnya.
"Heem. Omah gue baru pulang umroh. Lo sibuk nggak? Ketemuan."
__ADS_1
"Ayok ayok, Shei. Udah lama kita nggak ngobrol. Gue pengen denger cerita lo nih hahaha..."
"Oke. Ketemuan di tempat biasa ya?"
"Oke siap. See you."
Setelah telepon terputus. Shei dengan senang hati bangkit dan bersiap untuk pergi. "Rave. Gue mau ketemuan sama temen gue dulu. Kalau omah bangun nanyain gue, lo bilangin aja gituh. Ah.. kalau lo mau tidur, tidur aja di kasur gue. Nggak papa. Bye..."
Shei berbicara panjang lebar tetapi Rave tidak menanggapi sama sekali. Setelah Shei meninggalkan ruangan, Rave masih mencerna pikirannya mendengarkan Shei di telepon dengan temannya.
"Lis? Apa itu Lisa?" gumam Rave dan setelah itu ia meninggalkan ruangan ini.
Rave menuruni anak tangga, ia melihat ada asisten rumah tangga yang tadi Shei suruh.
"Eh, Non. Kenapa turun? Baru aja bibi mau nganterin ke atas."
"Nggak usah, bi. Shei nya juga pergi."
"Oh.. gitu..."
"Mm boleh saya minta minumnya?"
"Ohiyah yah silahkan, Non."
"Makasih, bi."
Rave meminumnya.
"Ih.. Pak! Saya nggak mau dianterin! Saya mau pergi sendiri, naik mobil ini!"
Suara keras dari luar milik Shei terdengar sampai ke dalam.
"Oh kenapa sama Shei?" Rave tanpa sadar bertanya.
"Paling mau pergi naik mobilnya," jawab asisten rumah tangga yang masih setia disini.
"Tapi kedengarannya lagi marah-marah."
"Iyah. Soalnya Non Shei digabolehin bawa mobil sendiri. Harus dianter pake supir."
"Kenapa?" Rave penasaran.
"Waktu sekolah disini. Non Shei suka pulang larut semenjak masuk SMA. Sikapnya jadi nakal. Terus tuan cabut fasilitasnya. Ngelarang bawa mobil."
Seketika Rave tertawa kecil. "Yaudah, bi. Saya kesana dulu."
"Iyah, Non."
Rave berjalan dengan tenang keluar rumah untuk memeriksa Shei yang masih ribut dengan salah satu pekerja di sini.
"Papah nggak ada disini! Jadi dia nggak bakalan tahu kalau Shei bawa mobil!"
"Tapi, Non. Saya udah diamanahin sama Tuan. Kalau Non mau kemana-mana, harus ada yang nganter. Nggak boleh bawa mobil sendiri."
Shei geram dengan itu. Padahal ayahnya di negeri seberang. Tapi aturan masih berlaku di rumah ini.
"Nggak boleh ngerusak kepercayaan orang, Shei," ujar Rave yang baru tiba langsung ikut campur.
"His ikut campur aja," desis Shei. "Pak ayo... Sekali aja. Shei juga nanti pulang lagi ke Bogor. Nggak bakalan di Jakarta. Kalau naik taxi bakalan lama."
"Nggak bisa, Non."
"Pak. Kalau gituh biar saya yang nganterin."
__ADS_1
Shei segera menatap Rave kejut.
...🌸...