Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 59 Everything Will be Just Fine


__ADS_3

Berlanjut....


Semua anggota marching band bingung setelah leader dan mayoretnya jatuh karena tersandung benda bundar dari tongkat mayoret yang terlepas. Jika Feby tidak bisa memimpin saat penampilan marching band, lalu siapa yang akan menggantikannya.


Feby tidak kuat untuk berdiri maupun berjalan, kaki kanannya kesakitan. Tidak lama kemudian, Ello tiba dengan panik setelah selesai tampil dan mendengar bahwa ketua Feby telah jatuh.


"Gimana sama Feby? Feb, lo baik-baik aja?" tanya Ello khawatir.


"Kaki gue kenapa-kenapa... Aaww!"


"Terus ini? Gimana? Penampilan marching band? Lo masih bisa ikutan?" tanyanya. Feby segera menggelengkan kepalanya. "Aduh... Jadi marching band nggak bakalan tampil?"


"Feb...." Seseorang datang yaitu Ahmad. "Kita dikasih lima menit buat siap-siap."


Mereka semakin panik meskipun mereka telah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk menunjukkan penampilan ini kepada semua orang tetapi bencana datang tanpa permisi.


"Shei..." ucap Feby, membuat semuanya menoleh. "Lo gantiin gue jadi mayoret."


"Hah?!" Shei tampaknya terkejut mendengar itu. "Tapi, Kak..."


"Lo udah latihan juga, lo pasti bisa. Gantiin gue ya. Biar marching band tetep bisa tampil."


Sebenarnya selain menjadi penari dan melakukan sedikit drama, Shei juga diminta untuk berlatih mayoret dengan Feby agar jika terjadi sesuatu bisa ditangani seseorang, seperti sekarang ini.


Shei tampak ragu-ragu untuk melakukannya. Sekarang mereka meminta Shei untuk menyelamatkan marching band. Padahal sebelumnya ia sempat dibingungkan untuk menggagalkan penampilan marching band tersebut.


Tatapan mereka kepada Shei, meminta harapan. Shei semakin merasa bersalah jika benar-benar akan menggagalkan penampilan mereka ini.


Ting!


Notifikasi dm masuk pada Shei.


Broken Flower


| Nasib sahabat lo, ada ditangan lo sendiri


Pelakunya bukan mereka. Lalu siapa? Batin Shei melihat para anggota marching band yang ada disini.


Shei melihat ke arah Alya berada, mencoba berpikir kembali.


Nggak masalah kalau foto aib gue tersebar karena reputasi gue udah jelek. Tapi kalau Alya. Dia murid nggak bermasalah, murid teladan. Gimana Alya nantinya....


Sebuah ancaman surat misterius beserta foto sahabatnya, foto tersebut adalah Alya yang sedang mensembat rokok. Namun dibalik foto tersebut hanya Shei yang tahu, Alya dibully oleh geng NHS dan dipaksa untuk merokok dan Shei merasa bersalah karena tidak membantunya hanya bisa bersembunyi dan malah kabur saat itu.


Jika dia tidak melakukan apa yang diinginkan pelaku yang mengirim ancaman, maka foto Alya akan menyebar dan juga pelaku memiliki video yang tidak diketahui Shei.


Rave memperhatikan Shei sedari tadi, Shei tampak bingung dan gelisah dan terus melihat ke mana Alya berada. Meski Shei bisa dengan mudah menyetujui permintaan Feby untuk menggantikannya sebagai mayor, tapi mengapa kali ini merasa ragu dan terus terlihat gelisah.


...• • •...


"WWWOOOOOOOOO...."

__ADS_1


"WAAAAA AAAA...."


"KEREN BANGET...."


Semua orang berteriak memeriahkan penampilan marching band yang memukau. Semua orang belum pernah melihat penampilan salah satu ekstrakurikuler marching band di sekolah ini dan sekarang setelah sekian lama mereka kembali beraksi dengan semua alat musik tersebut.


"Penampilan mereka asik bener. Keren... Ada band nya..."


"Yah gila. Apalagi mayoret-nya Si Shei, cantik abis dia. Gue kira bakalan Si Feby."


"Ho'oh. Tapi Si Feby kenapa nggak ikutan tampil ya?"


Dan semua orang tidak tahu apa-apa.


Tanpa mayor, semuanya tidak akan berjalan karena mayoret memimpin marching band. Shei mencoba yang terbaik untuk tidak melakukan kesalahan, dia tidak ingin menyakiti orang-orang yang mengharapkannya. Tapi apa yang dia lakukan sekarang dengan ancaman itu, lebih baik mengorbankan semua orang atau satu orang yaitu sahabat yang telah dia lindungi sejak lama.


Pada akhirnya....


Dia mengorbankan satu orang untuk semua orang di sini. Dia tidak ingin menghancurkan senyum dan kebahagiaan mereka. Dia bisa merasakannya dari atas sini.


Dan di sana, seseorang yang ada di antara penonton, sedang menatap ke arah Shei dengan menyeringai. "Lo ngambil keputusan yang salah, Sheila. Dan tentunya... ini akan terus, hidup lo nggak bakalan tenang karena gue."


PROK PROK PROK PROK


"WAAAAA....."


Tepuk tangan dan sorakan riuh setelah marching band selesai tampil. Senyuman terukir dari seluruh anggota marching band karena mampu melakukannya dengan baik dan berjalan lancar sesuai harapan. Tapi bagi Shei, ini berarti baginya akan ada bencana.


Marching band telah meninggalkan lapangan, tapi perasaan Shei begitu gelisah dan curiga.


"Kak Alya, kenapa orang-orang pada liatin Kakak?"


Alya pun menggeleng tidak tahu.


"Alya..." panggil orang-orang.


Dan tentu saja bukan hanya Alya yang berhenti tapi yang lain juga berhenti berjalan.


"Gue kira lo anak baik-baik. Polos. Tapi ternyata... Lo sama aja kayak Shei! Murahan!" Semua orang menatap jijik kepada Alya.


"Heh! Kalau ngomong tuh yang bener! Jangan setengah-setengah!" lirih Ello.


"Liat aja postingan Instragram dia!" Merujuk kepada Shei. "Dia ngebongkarin kebusukan Alya di sekolah lamanya!"


Sebenarnya anak-anak marching band ingin segera melihat postingan tersebut, namun mereka semua menyimpan ponsel di tas mereka saat mereka tampil. Alya menyambar ponsel orang yang berbicara omong kosong, dia tersentak kaget saat melihatnya. Sebuah postingan video di akun Shei, dimana Alya sedang memegang sebatang rokok.


Semua orang segera ikut melihatnya mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat, bagaimana bisa seorang siswa teladan seperti Alya merokok.


Shei dengan tatapan benci, marah, bersalah, dan bingung, bagaimana bisa postingan itu dikirim melalui akun Instagram-nya. Siapa yang mengirimnya? Tentu jawabannya adalah Si Pelaku yang mengancamnya.


Tatapan mereka langsung tertuju pada Shei, dengan ekspresi kekecewaan atas apa yang telah dia lakukan. Terutama Alya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Shei?!" berang Alya dan sekarang dia sudah mengeluarkan air matanya.


Shei hanya diam-diam merasa bersalah lagi untuk teman lamanya. Entah apa yang Shei pikirkan, ekspresi wajah dan tatapannya berubah sangat dingin. Shei menyeringai menakutkan, semua orang yang melihatnya bergedik takut.


"Kenapa? Lo marah sama gue udah posting aib lo itu? Hah? Hahaha... BA. BU!"


Semua orang tahu sikap Shei yang sebenarnya, dan tentu saja mengira Alya adalah salah satu korban bullying Shei.


"SHEI!" bentak Ello untuk menyadarkan sikapnya.


"APA?!" balas bentakan Shei untuk Ello. "KENAPA?! Kenapa?" Shei menatap semua orang. "Ya! Alya korban bullying gue! Babu gue di sekolah lama! Itu kan yang kalian pengen denger dari mulut gue?! Cih!" Shei segera pergi dari keributan yang dia buat, dia tidak sengaja menabrak teman sekelasnya, yaitu Ghesa, yang keduanya memberikan pandangan sesaat.


"Shei... Shei! Mau kemana?" Joy segera menyusulinya.


Rave, Alvin, Ello tidak percaya perubahan sikap Shei yang tiba-tiba seperti ini. Shei tidak peduli dengan perasaan orang lain, terutama Alya. Alya yang tidak bisa berkata apa-apa kecuali bisa menangis entah karena aibnya terbongkar atau mungkin dia melihat sikap Shei yang begitu kejam padanya.


Masalah ini belum selesai bagi semua siswa SMA Bakti Nusa, mereka akan menganggap Shei sebagai pengganggu dan Alya sebagai korban. Namun bagi anak-anak marching band masih terkejut dengan sikap Shei tadi. Mereka seharusnya bahagia dan bersenang-senang dengan penampilan mereka yang berjalan lancar tetapi karena kejadian ini semua orang khawatir dengan kondisi buruk Alya.


Kini para anggota marching band berkumpul, terdiam karena masih kaget dan ada juga yang menenangkan Alya. Mereka juga menunggu penjelasan dari Alya. Sementara Shei dia hilang entah kemana setelah mengambil tasnya. Joy pun kehilangan jejaknya.


"Anak-anak, lebih baik kalian pulang duluan. Bapak mau bicara sama Alya dulu..." ujar Pak Satria. Karena sebagai wali kelas maupun pembina ekskul ini, beliau merasa bertanggungjawab atas insiden ini. "Usman, Ahmad, bantuin Feby buat jalan..." lanjutnya.


Mereka satu persatu meninggalkan tempat ini. Kecuali anak-anak Kelas Flower.


"Pak. Saya izin tetep di dalam," ujar Rave.


Pak Satria pun mengizinkannya.


"Pak, saya juga," sambung Alvin.


"Saya juga, Pak!" Dilanjutkan oleh Ello dan Joy bersamaan.


Pak Satria menghela nafas panjang. "Bapak izinkan kalian disini karena kalian kelas Flower. Bapak juga minta penjelasan dari kalian karena kalian dekat dengan Alya dan juga Sheila."


Mereka berharap penjelasan Alya dapat menemukan jawaban dari semua sikap Shei selama ini.


...****************...


Dua orang berdiri di depan mobil, salah satunya adalah Ghesa. Ghesa mengantar saudaranya ke depan gerbang sekolah untuk pulang, dan dia sudah masuk ke mobilnya dan pergi setelah apa yang dia inginkan tercapai di sini.


Ghesa berbalik untuk melihat ke dalam sekolah, dia tersenyum miring. Bumerang yang lebih besar telah terjadi, kali ini dia merasa telah memenangkan siapa pun.


...🌸...


...Shei berat banget nih pasti kesulitan ngadapinnya......


...Sedih :'...


...Bertahan Sheila! Everything will be just fine!...


...✨...

__ADS_1


__ADS_2