Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 27 Sibling?


__ADS_3

Besok telah tiba, Shei mencoba menguatkan hatinya dan terus menatap ke depan mengabaikan orang-orang yang membisikkan tentang dirinya. Dia tengah menyembunyikan rasa takutnya sekarang, keringat dingin telah membasahi kedua tangan itu.


"Murahan kali lo jadi cewek."


"Udah pembully, cewek nggak bener lagih."


Teriakan, dan cacian terus terdengar oleh Shei. Dia tidak kuat lagi. Berjalan lebih cepat, menuju ke balik dinding, keberuntungan itu sangat sunyi sehingga dia bisa menenangkan diri di sini. Dia menarik nafasnya panjang.


"Eits lo mau kemana?"


Terdengar suara dibelakang dinding ini.


"Mau lewat."


"Putar balik. Jalan ditutup sedang diperbaiki."


"Dih, nggak jelas banget."


Benar. Ada seseorang dibalik sana yang menghentikan orang-orang agar tidak melewati lorong ini, tempat berdirinya dia sekarang. Shei menyenderkan kepalanya pada dinding, menghela nafas lega. Lalu dia pun mulai bicara.


"Makasih."


Shei menyadari, orang yang telah membantunya muncul hanya setengah dari tubuhnya di balik dinding. Dia adalah Ello.


"Udah baikan?"


Shei angguk perlahan.


"Minum dulu."


Shei melirik botol air yang ditawarkan Ello, sedikit ragu tapi dia tetap mengambilnya. "Makasih." Setelah ia selesai minum.


Ello tersenyum angguk. "Nggak usah khawatir. Lo nggak sendirian. Ada gue." Dia menatap Shei begitu lekat, dan teduh. Shei merasakannya lalu tersenyum.


Kelas Flower sudah diisi oleh beberapa penghuninya. Shei yang masuk lebih dulu disusul Ello, mereka berdua langsung menuju tempat duduk mereka. Namun tatapan semua orang terus tertuju pada Shei, karena rumor baru.


Joy yang tampak mencemaskan temannya itu, yang baru saja duduk di belakangnya. "Shei, lo baik-baik aja, kan?"


Shei tersenyum tipis. "Gue baik. Rumor kayak ginih udah biasa buat gue."


Joy tahu bahwa Shei berbohong dengan kata-katanya. Namun Joy juga berusaha untuk tidak membuat Shei terlalu memikirkan rumor tersebut. "Gue tahu lo pasti kuat."


Shei tersenyum. Beruntung, ada yang masih mau berteman dengannya seperti Joy.


"Sheila..." Namanya dipanggil, Shei segera menoleh pada pak Satria yang memanggilnya. "Ikut bapak sebentar."

__ADS_1


Shei menunjukkan wajah bingung. Semua orang menatapnya dengan penuh ingin tahu mengapa Shei dipanggil seorang diri oleh wali kelas mereka. Shei pun bangkit dari tempat duduknya mengikuti Pak Satria keluar dari kelas dan menuju ke suatu tempat yang merupakan kantor guru.


Pak Satria masih sibuk dengan kertas-kertas yang ada di atas mejanya. Shei masih menunggu, dan tidak lama seseorang berdiri disampingnya.


"Al?" Alvin tersenyum. "Lo... dipanggil juga?" Dan Alvin hanya mengangguk.


"Oke. Alvin udah ada ya," ucap pak Satria. "Tinggal satu orang lagi."


"Siapa?" tanya Alvin.


Shei masih bingung kenapa dirinya berada disini.


"Permisi, Pak. Maaf tadi saya lagi sekre MB, bapak manggil saya?"


Orang yang ditunggu telah tiba dan itu adalah Alya. Alya juga menunjukkan kebingungan bahwa bukan hanya dia tetapi Alvin dan Shei di sini.


"Kalian pasti kebingungan ya," kekeh pak Satria. Dan kami hanya tersenyum tidak tahu apa artinya. "Begini, kalian bantu saya mengurus ujian semester ini. Dan kemudian kalian bantu saya memeriksa nilai ujiannya."


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa," tolak Shei segera dengan sopan.


Sedangkan Alya dan Alvin sudah terbiasa mengurus ini dan membantu wali kelas mereka. Tapi tidak dengan Shei, dia tidak ingin mengulang kejadian masa lalu dan mengingatnya. Tuduhan di saat ujian semester. Shei benar-benar menghindarinya.


"Kenapa kamu menolak? Cuman bantu memeriksa nilai," kata pak Satria.


"Bapak sudah tahu alasan kenapa saya dikeluarin dari sekolah lama saya. Saya hanya berusaha menghindarnya."


"Saya permisi, Pak."


Shei pun pergi tanpa persetujuan. Pak Satria menghela nafas panjang.


Padahal bapak mau membantu memperbaiki masalahnya. Tapi ternyata, cara ini dia malah salah sangka. Batinnya.


"Ah astaga saya melupakan hukumannya."


Setelah beberapa menit, mendapat arahan dari Pak Satria. Alvin dan Alya meninggalkan kantor bersama. Alvin menutupu pintu rapat-rapat.


"Jadi, rumor itu bener. Lo udah tahu semuanya."


Alya hanya mengangguk mengiyakan. Sebelum menyebar lebih jauh, Alvin bertanya padanya, Alya berpamitan untuk pergi dulu. Dan Alvin masih bungkam dengan apa yang baru diketahuinya dan semalam. Di mana Rave memberitahunya sesuatu yang belum pernah dia katakan padanya sebelumnya.


Alvin langsung bergegas saat Rave mengajaknya bertemu. Mereka bertemu di sebuah taman tempat mereka berada. Alvin terus mendengarkan cerita Rave dengan perasaan yang masih tidak percaya. Ternyata alasan Rave tidak mau masuk ke kawasan perumahan ini karena rumah yang ditempati wanita paruh baya, ibu Kartika, yang merupakan nenek dari Shei.


"Jadi, kamu kenal sama omah Kartika? Dia emang siapanya kamu?"


"Dia... omahku juga."

__ADS_1


Alvin tersentak.


Tapi sekarang, yang dia tahu, ibu Kartika bukan hanya nenek Shei tapi juga nenek Rave, nenek dari pacarnya.


"Jadi, Shei sama Rave saudara."


Bertanya pada dirinya sendiri yang masih tidak percaya.


......................


Shei segera duduk di kursi di bawah pohon ijo, tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan datang kemari. Dengan pikiran yang masih mengingat permintaan wali kelasnya tadi.


"Kenapa pak Satria malah ngelibatin gue sama soal ujian? Udah tahu, gue nggak suka. Karena itu gue dikeluarin dari sekolah."


"Nyebelin banget! Siapa sih yang udah jebak gue waktu itu?! Gue harus nemuin dia secepatnya. Marching band. Gue bakal fokus cari pelakunya disana."


"Widih... bawelnya keluar nih."


Shei terperanjat kejut tiba-tiba ada suara dibelakang pohon ijo. "Lo dari tadi disitu?" Dengan nada kesal.


Ello tersenyum dengan suara tawa kecil. "Gue suka kalau lo bawel. Itu tandanya lo baikan."


Shei memalingkan wajahnya, masih kesal.


Dia denger nggak ya omongan gue tadi? Batin Shei resah.


Ello pun ikut duduk. "Ngapain disini sendirian? Lo pasti udah tahu soal mistis pohon ijo ini. Lo emang nggak takut?"


Ternyata Ello tidak membahas apa yang digerutu Shei tadi, dan sepertinya Ello tidak mendengarnya, Shei menghela napas lega.


"Soal apa? Soal ditolak cinta? Emang siapa yang nyatain cinta ke gue?" ketusnya.


Ello berseri. "Gue nggak mau ngomong. Nanti bisa-bisa ditolak." Shei mengerutkan keningnya bingung dan senyum Ello tidak luntur dari bibirnya. Dan tiba-tiba. "Ayok."


"Ayok kemana?"


"Kumpul. Udah jamnya."


Shei lupa.


"Ohiyah, Alya titip pesen ke gue. Katanya lo dapet hukuman dari pak Satria karena kemarin bolos. Terus lo disuruh bersihin kolam renang sepulang sekolah."


Shei menghela, dia melupakan hal bodoh itu juga. Membolos.


Dan pada akhirnya, Shei menuju pertemuan ekstrakurikulernya dengan Ello. Dengan kenyataan bahwa tadi Ello mendengar semuanya.

__ADS_1


Ternyata dia mutusin ikut gabung marching band karena mau nyari pelaku yang nge-jebak dia. Dalam hati Ello sedikit kecewa.


...🌸...


__ADS_2