
Berlanjut....
Shei dan Ello berada di taman. Mereka duduk di rerumputan yang indah sambil menyantap makanan cepat saji yang mereka beli sebelum datang ke sini.
"Shei makasih. Headset baru sama kasetnya," ucap Ello senang. Karena ia mendapat bonus ganti rugi ditambah dengan kaset jadul - Padi Reborn.
"Sama-sama. Makasih juga traktiran makanya," balas Shei tidak kalah senang.
Ello tersenyum angguk. "Tadi lo beli apa?"
"Oh. Ini... Carimba."
"Boleh gue lihat?"
Shei angguk lalu memperlihatkan carimba yang ia beli.
"Lo tahu alat musik ini? Bisa maininnya?" tanya Ello sambil memainkan alat musik tersebut.
"Nggak. Gue beli karena keliatan unik," jelas Shei dengan alasan lainnya.
"Mmm..." Ello mengangguk lalu memainkan carimba yang memiliki ukiran bunga dengan mengeluarkan suara yang cukup indah. Shei tertegun, lalu tersenyum bahwa Ello bisa memainkannya. "Mau coba?" tanya Ello melirik Shei. Shei pun segera mengangguk.
Dia mengajarkan Shei memainkan alat musik carimba dengan jarinya. Setiap blok carimba, ia ketuk yang akhirnya menghasilkan sebuah melodi. Shei tidak bisa menghilangkan senyumannya, ia sangat senang.
"Sini... Lo tebak ini lagu apa?" Sekarang kembali lagi Ello yang memainkan carimba. Dengan antusias Shei mendengarkan melodi yang dibuat oleh Ello agar bisa menebaknya.
"Sebentar. Gue tahu.... Tapi apa ya...." Melodi itu terdengar familiar bagi Shei yang selalu mendengar lagu. "Lagu barat, kan?"
Ello angguk tidak menghentikan jarinya untuk menghasilkan melodi dari carimba.
"Ah! Can't Help Falling in Love," jawab Shei bersemangat.
"Betul..."
"Yeay...!"
Shei mampu menjawabnya, Ello menatap Shei yang terlihat senang, membuatnya pun ikut senang.
"Lagu itu suasana hati gue, ke lo," ungkap Ello tiba-tiba membuatnya Shei nanap, degup jantungnya kembali tidak normal mendengar pengakuan Ello secara tiba-tiba lagi.
__ADS_1
"Ah emm... Ayok!" Shei berdiri mencoba menghapus kegugupannya. "Kita pulang. Nanti keburu malem."
Ello tersenyum senang melihat tingkah Shei. Dia juga berdiri dan mengacak rambut Shei dengan lembut membuat pipi Shei merona lagi dengan sikap manisnya.
Apa ini yang namanya jatuh cinta?
...****************...
Suara motor cross yang familiar terdengar oleh gadis berambut pendek yang masih mengenakan seragam sekolahnya, dia sudah berjam-jam di sini sampai langit sudah berubah gelap untuk menunggu seseorang.
Tampaknya dia tidak salah lihat. Motor cross itu berhenti disini, di depannya. Pemilik motor itu membuka helmnya. Dia adalah Rave.
"Dari tadi disini?"
Dan yang sudah menunggu di rumah Shei adalah Alya. Alya mengangguk meski bingung kenapa Rave ada di daerah ini. Di depan rumah Shei juga.
"Kenapa nggak masuk?"
"Rumahnya kosong. Kayanya... Shei nya belum pulang," sahut Alya. "Mm rumah kamu di perumahan ini juga?" Kebanyakan siswa kelas Flower tidak tahu rumah Rave karena mereka tidak pernah bermain ataupun berkunjung kesana.
"Nggak. Gue nemenin Shei doang. Tinggal di rumahnya sementara waktu. Disuruh omahnya," terang Rave sambil beranjak dari motornya untuk membuka gerbang rumah.
"Ti.. tinggal disini?" Alya benar-benar terkejut. "Kalian deket?" Tanpa sadar Alya sangat penasaran dengan hubungan Rave dan Shei. Jika diingat bahwa mereka di sekolah tidak pernah berinteraksi satu sama lain kecuali memiliki urusan penting.
"Mau masuk?" Rave yang bersiap masuk ke dalam dengan motornya.
"Hah? Eng-enggak! Aku pulang aja. Aku titip kaosnya aja."
Rave hanya mengangguk.
Alya membuka ranselnya, lalu mengambil koas kelas Shei. Jika dia tahu Rave tinggal di sini, Alya tidak akan menawarkan untuk memberikan t-shirt ini kepada Shei. Alya juga ingat, wajar saja kalau awalnya Alvin menitipkan pada Rave. Ternyata ini alasannya. Jadi, Alvin sudah tahu dan tempat tinggalnya juga di perumahan ini.
"Sama ini... Aku titip ini tolong kasi--" Seketika Alya terdiam karena barang lain yang ia cari tidak ditemukan di ransel.
Kemana kuncinya? Batin Alya.
Alya hendak memberikan kunci loker yang diminta Shei beberapa hari sebelum ujian. Sekolah baru bisa memperbaiki loker yang rusak. Tapi, ketika dia ingin menitipkan kunci loker Shei kepada Rave. Sekalian dan mumpung ingat. Tapi kuncinya tidak ada.
"Em. Nggak jadi, deh. Nanti aja." Alya melanjutkan kembali kalimatnya. "Makasih."
__ADS_1
Rave hanya angguk kemudian ia masuk ke dalam setelah pamit.
Alya beranjak pergi dari sini dengan kebingungan.
"Kemana kuncinya ya? Apa jatuh? Aduh.. Alya. Kenapa kamu ceroboh sih!"
Alya tengah menggerutu dirinya sendiri karena kehilangan barang orang lain. Kemudian dia sadar lagi dengan kejadian ini, dia masih bertanya-tanya tentang Rave yang bisa tinggal di rumah Shei.
Sepertinya saat jalan berbelok di pertigaan, Alya belok kiri dan sebuah sepeda motor terlihat dari jalur kanan dan itu adalah Ello dan Shei. Perbedaan jalan membuat mereka bertiga sama sekali tidak melihat satu sama lain.
Motor mereka sudah sampai di depan rumah. Ternyata Rave masih di halaman, dia melihat kedatangan Shei bersama Ello.
"Lo baru nyampe juga?" tanya Ello kepada Rave dan Rave hanya berdeham.
"Punya kalian," ujarnya memberikan kaos kelas dengan warna hitam milik Ello dan warna putih milik Shei.
"Wih... udah jadi. Keren euy," sahut Ello senang begitu juga dengan Shei.
Setelah memberi mereka koas, Rave tanpa sepatah kata pun masuk ke rumah. Namun sebelum itu ia teringat. "Tadi ada Alya kesini."
"Alya?" ucap Shei bertanya.
"Mau ngasih kaos kelas lo, tapi lo nya nggak ada." Rave pun pergi setelahnya.
Alya kesini? Dalam hati Shei.
"Sheila." Shei segera menoleh pada Ello yang memanggilnya. "Gue pamit. Makasih."
"Makasih juga, El," balas Shei sedikit terkekeh.
Shei masuk ke rumah setelah Ello pamit untuk pulang. Tidak ada perubahan suasana rumah ini, sama seperti di Jakarta. Ditinggalkan. Urusan apa yang membuat neneknya lama berada di Jakarta? Kalau begitu Shei tidak harus pindah saja ke sini, neneknya juga pergi ke Jakarta.
Dia melirik ke kamar sebelah tempat Rave berada. Tertutup rapat. Dia juga tidak terlalu peduli, langsung masuk ke kamarnya, meletakkan ranselnya di kursi dengan meja belajar. Kemudian dia mengeluarkan barang yang dia beli tadi, meletakkan carimba di atas meja dan membuka laci untuk mengambil sebuah kotak kecil yang dia buka. Dan yang ada di dalamnya adalah kalung dengan liontin puzzle warna putih cantik dengan tulisan 'Emeria' kecil di atasnya. Kalung itu diletakkan di samping carimba. Dia menatapnya sayu pada kedua barang tersebut.
...🌸...
...Siapa 'Emeria' ?...
...Ada yang bisa nembak kalungnya?...
__ADS_1
...dan carimba ukir bunga?...
...✨...