Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 78 I don't Know Anything


__ADS_3

Sekolah terus untuk David meskipun banyak hal yang harus dia lakukan sebagai siswa, mengambil tanggung jawab dalam organisasi sekolah, serta masalah ini. Melihat pacarnya, Lisa, sedang bersama teman-temannya. Kesempatan bagi David untuk melakukan sesuatu.


Sejak berpacaran dengan Lisa, David merasa ada yang aneh dan masalah selalu bermunculan dan pasti akan berurusan dengan geng NHS. Dahulu, kehidupan David tenang, saat Shei masih bersekolah di sini meskipun Shei adalah siswa pembuat onar, dan David juga berkencan dengan sahabatnya. Dia adalah Alya.


Shei tahu hubungan mereka, karena David memberitahunya. David juga menyembunyikan hubungannya dengan Alya saat itu dari semua orang, termasuk Lisa. Hingga saat ini, Lisa tidak mengetahui bahwa David pernah berpacaran dengan Alya.


David menyelinap ke ruang keamanan sekolah. Untung saja pria yang berjaga di sini baru saja keluar, David langsung masuk ke sana. Dia memeriksa keamanan CCTV sekolah, dia mencari rekaman waktu malam itu. Hari sebelum insiden Shei dikeluarkan dari sekolah.


David bisa melihat rekaman itu lagi. Shei berada di sekolah pada malam yang sama ketika David menyelinap ke sekolah. Tapi kenapa David tidak memiliki rekaman CCTV yang menangkapnya. Tapi hanya satu dan itu hanya menunjukkan punggungnya. Tapi Shei terlihat jelas di CCTV yang menangkapnya.


Meskipun David harus bersyukur bahwa apa yang dia lakukan tidak ada bukti yang tersimpan. Namun hidupnya tidak tenang karena rasa bersalahnya terhadap teman dekatnya. Dia tidak sengaja menemukan sebuah rekaman yang mencurigakan. Segera ia meng-klik nya, memunculkan rekaman dirinya saat menyelinap. Ternyata bukti itu ada disini.


David terheran-heran. Jika penjaga keamanan ini memiliki bukti dia menyelinap ke sekolah untuk mencuri soal ujian. Itu berarti ada seseorang di balik ini yang melindunginya. Apakah sekolah itu sendiri atau orang lain yang menyuap penjaga sekolah? Dia segera mengambil rekaman itu dan menyalinnya dan bergegas pergi.


......................


Lisa pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang. Dia berjalan dengan tenang di koridor sekolah sampai dia bertingkah curiga di belakang sekolah. Dia bertemu dengan dengan Bimo dan beberapa anggota geng NHS.


"Dia bukan cewek jadi-jadian yang lo maksud?" Lisa memperlihatkan sebuah foto padanya.


Perubahan Bimo terlihat jelas ia berkelut emosi setelah melihat sosok yang mempermalukan gengnya. "Bener. Lo dapet darimana?"


"Nggak perlu tahu. Yang pasti, sekarang lo udah tahu cewek jadian-jadian itu. Namanya Rave. Dia dikenal bos preman, anak jalanan, orang-orang onar di sekolahan, gue nggak tahu pasti, lah. Yang pasti cewek itu jago bela diri, dan ditakuti sama kalangan anak muda disana."


Lisa mendapat informasi tentang Rave. Tentu saja dia mendapat info dari Fay. Dan juga Lisa tidak menyangka bahwa yang dicari Bimo adalah orang yang pernah ditemuinya saat itu, saat bertemu Shei di kafe, dan Rave ada.


Lisa juga merasa kagum pada Shei yang memiliki teman dengan latar belakang seperti Rave. Ternyata, bukan hanya di sekolah inilah persahabatan Shei begitu liar, tapi juga di sekolah barunya.


"Pantesan! Kemarin anak-anak kalah sama dia. Padahal, dia sendirian ngelawan temen-temen gua yang nggak becus ini," geram Bimo sambil melirik kepada anak buahnya.


"Lo harus hati-hati juga. Dia sering ngejeblosin orang-orang ke polisi. Ayahnya Jenderal, di Angkatan Darat. Tapi udah meninggal, sih."


"Anj*ng! Bisa ada cewek kayak gituh!"


"Lo mau lanjut kasih pelajaran sama dia?"


"Lo kira gue pengecut?!" raung Bimo tidak terkira. Lisa menyeringai senang.

__ADS_1


"Kalau gituh. Rencana kita berjalan lagi?"


Bimo dengan cengkraman marahnya itu mengangguk.


Gue nggak bakal biarin lolos gituh aja! Dasar cewek jadi-jadian!


"Bimo!" Suara nyaring itu membuat orang yang ada disini menolak ke arahnya. Yura tiba dengan anggotanya. "Heh! Bim! Insiden bocornya soal ujian semester kemarin rame lagi! Lo tahu, kan?! Gue nggak tahu apa-apa soal ini! Nama gue sama temen-temen gue keseret! Lo mau apa sekarang? Nama geng NHS ke cemar, termasuk lo juga! Kita nggak tahu apa-apa soal itu, kan?! Kenapa bisa orang-orang nyangkutin geng kita sama masalahnya Si Shei?!"


Ocehannya itu berakhir ketika ia baru sadar ada sosok Lisa disini.


"Lo, lagih! Ngapain disini?" tanyanya. "Ada urusan apa lo sama Bimo? Sama Boy NHS?"


"Nggak ada, kok. Nggak sengaja lewat, disuruh Kak Bimo tadi," imbuh Lisa. "Gue cabut dulu."


Pandangan Yura terus mengikuti kepergian Lisa dari sini dengan curiga. "Dari dulu gue nggak suka sama dia. Lo ngapain juga sama Lisa?"


"Nggak ada," jawab Bimo.


"Gue kenal banget ya cewek kayak Si Lisa itu. Di depan aja sok alim, tapi di belakang. Najis!"


"Ginih yah. Gue mau bicarain soal insiden Si Shei yang rame lagi, nama geng NHS kita keseret, padahal kita nggak tahu apa-apa. Dan gue, apalagi nggak mau ada dalam masalah ini! Gue mau lulus, gue nggak mau ngulang!" Yura pun kembali dalam topik permasalahan yang sedang ramai diperbincangkan di sekolah. Lalu menatap curiga kepada Bimo. "Lo, sama temen-temen lo nggak ada yang disembunyiin dari gue, kan?"


"Lo nuduh gua?!" berang Bimo.


"Bukan nuduh! Gue nanya pasti, lo tahu sesuatu kan soal insiden waktu itu? Nggak mungkin kalau anak-anak ngungkit masalah yang udah selesai ini apalagi geng NHS terlibat!"


Rahang Bimo mengeras, dia melangkah maju sampai benar-benar dekat dengan Yura. Yura menelan ludah kasar. Mereka saling menatap satu sama lain dengan mencengkram. "Lo! Nggak usah banyak bacot!" Setelahnya Bimo pun pergi, diikuti oleh anak buahnya.


Yura mengepalkan tangannya geram. Berpikir bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bimo dan Boy NHS darinya.


...****************...


"Woah! Keren!" puji Ken pada Shei setelah Shei melakukan aktraksi dengan tongkatnya. Bina juga memberikan pujian pada Shei dengan matanya yang berbinar-binar.


Shei tersenyum setelah mendengarnya.


Namun beberapa detik kemudian terdengar suara bisikan orang-orang menghampirinya. Sesuatu yang tidak enak didengar terutama bagi Shei.

__ADS_1


"T'ck! Keren dari mana? Nggak ada bagus-bagusnya"


"Paling kepilih karena mukanya. T'ck, orang cantik mah bebas!"


"Tukang bully bisa-bisanya masuk MB Merdeka. Gimana kata orang nanti?"


"Shutt! Nanti orangnya denger loh."


"Biarin! Biar sadar diri."


Shei hanya diam, meski sebenarnya dia kesal mendengar kata-kata itu. Tapi ia juga tidak terlalu memperdulikannya toh kenyataannya memang seperti itu.


"Duh temen-temen kita tuh," decit Bina kecewa mendengar teman-temannya berbicara tentang Shei seperti itu dibelakang. "Sorry yah, Shei."


"Lo mau diem aja diomongin kayak gituh?" tanya Ken pada Shei.


"Mau ngomongin apapun, gue nggak peduli. Gue juga nggak bisa bantah, karena beberapa emang bener."


Seketika Ken dan Bina tersentak kejut saling menatap satu sama lain. Shei menyeringai melihat reaksi mereka.


"Mmm jadi... itu bener?" tanya Bina dengan ragu.


"Yah. Beberapa mungkin," jawab Shei.


Ken merangkul Shei segera dengan senyumannya membuat Shei heran. "Apapun, rumor lo itu, atau berika hoax. Yang gue kenal sejak SMP lo itu orang baik. So, gue nggak peduli."


Bina pun yang awalnya ragu jadi lebih tenang mendengar perkataan Ken tentang Shei. "Yah gue juga. Walaupun gue baru kenal lo, gue pikir lo nggak kayak yang dibilang orang-orang. Tapi karena barusan lo membenarkan beberapa omongan mereka. Gue nggak tahu pasti, tapi yang penting lo mengakui kesalahan lo itu."


Shei tersenyum.


"Mereka juga bakal sadar keberadaan lo disini bakal banyak bantu Marching Band Merdeka, dan kita.... pasti bisa menang di tingkat nasional," lanjutnya.


Shei tersenyum angguk senang mendengarnya.


Di sisi lain, ada sepasang mata yang memperhatikan ketiga mayoret itu. Yaitu Ello yang sedari tadi melihat ke arah mereka. Dan dia menahan perasaannya ketika tangan Ken melingkari bahu Shei, dan Shei sama sekali tidak keberatan bahwa itu membuat Ello cemburu.


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2