Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 88 Rave's Reason


__ADS_3

Setelah olimpiade berakhir, Fay sebenarnya tidak bisa fokus karena kejadian tadi dimana dia mengingat apa yang pernah dikatakan Ello padanya. Bagaimana dia bisa tahu? Jika memang Ello tahu, otomatis Shei juga akan tahu apa yang telah dia dan Lisa lakukan padanya.


Alya dan Alvin, mereka berdua tidak tahu pergi kemana, Fay juga tidak terlalu mempedulikannya untuk saat ini. Dia memutuskan untuk menemani Pak Satria yang tengah mengobrol bersama Kepala Sekolah Nusantara High School.


Ucapan Ello terus terngiang-ngiang di pikiran Fay.


Mungkin sekarang situasi masih tenang, tapi siapa yang tahu kedepannya. Dia berpikir masalah ini hanya akan bertambah buruk, karena dia tahu Lisa adalah orang yang tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan membalas dendam. Sebelum terlambat, dan dia terseret ke dalam masalah pribadinya. Dia memutuskan untuk mengambil langkah untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Pak Satria. Pak Kepala Sekolah," ucap Fay.


"Kenapa, Fay?" tanya Satria.


Fay sedikit ragu, dia juga gugup. "Mm..."


"Bicara saja tidak apa," kata Kepala Sekolah.


Fay menarik nafas dalam-dalam. Berharap keputusannya ini adalah hal yang tepat. "Begini. Ada yang harus saya sampaikan kepada Pak Satria, terutama kepada Pak Kepala Sekolah, karena ini menyangkut siswa dari sekolah ini dan siswa yang pernah belajar di sini, tetapi siswa tersebut dikeluarkan."


"Apa dimaksud kamu, Sheila?" tanya Pak Satria.


Fay angguk. "Benar, Pak."


Kepala sekolah langsung terdiam. Dia ingat nama siswa itu, Sheila Gouverneur. Siswa yang dikeluarkan dari sekolah karena membocorkan kunci jawaban soal ujian.


...***************...


"GUE BENCI SAMA LO! LO UDAH RENGGUT SEMUANYA DARI GUE!"


"Lisa... Lo bisa aja cerita sama gue apa yang lo rasain itu. Gue bisa lakuin apapun yang lo mau, lo mau gue pergi dari kehidupan lo, nyerahin posisi gue sebagai mayoret gue bisa. Lo itu sahabat gue, gue nggak mau kehilangan lo ataupun hubungan pertemanan kita rusak. Nggak seperti sekarang, apa yang lo udah lakuin itu udah salah, Lisa."


Omong kosong Shei itu, itu adalah sesuatu yang Lisa benci seolah Shei adalah yang tebaik. Menyerahkan semuanya? Munafik! Membuat Lisa merasa direndahkan.


Di luar ruangan teman-teman Shei ada di sana untuk menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di dalam. Tiba-tiba saja.


GEDEBUG!


"Akh!"


"Jonathan?" Khawatir Alya segera membantunya.


Mereka semua benar-benar terkejut melihat teman mereka, Joy, tersungkur cukup keras.


"Ohoo... ternyata ada yang salah masuk ke kandang macan kayaknya nih?"


Mereka segera menoleh ke belakang dan melihat Joy dibanting oleh geng NHS. Ada Ghesa yang ditahan oleh mereka namun tak lama kemudian Ghesa bisa kabur dan langsung menghampiri perlindungan teman-temannya.


"Ghesa, kamu nggak papa?" Khawatir Alya juga.


Ghesa mengangguk cepat, takut.


Saat Joy dan Ghesa sedang memantau keadaan sekolah, ternyata mereka ditangkap oleh sekelompok siswa Nusantara High School yang berpenampilan sangar. Pada akhirnya Joy dan Ghesa terpaksa menuntut sekelompok anak itu kesini.

__ADS_1


Di dalam ruangan Shei mendengar keributan di luar, apalagi suara jatuh dan jeritan kesakitan terdengar sampai ke sini. Shei langsung teringat bahwa teman-temannya takut terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Shei segera pergi tidak peduli apa masalahnya dengan Lisa, yang terpenting sekarang adalah dia tahu siapa pelaku sebenarnya dan mengapa Lisa melakukan ini padanya.


"Ada apa?" tanya Shei dengan panik ketika ia pun melihat siapa yang teman-temannya hadapi lagi, geng NHS.


"Kenapa kamu kesini?" Ello cemas melihat Shei malah menghampiri pada masalah besar yang akan berujung pada perkelahian.


Shei tidak menjawab. Dia malah menatap penuh percaya diri pada para ketua geng NHS yaitu Bimo dan Yura. "Jangan ganggu temen-temen gue!" Geng NHS menyeringai melihat tingkah Shei yang cukup berani itu. "Nggak cukup apa kalian udah bully gue?! Kalian mau apa lagi dari gue, huh!"


"Shei..." ucap Ello.


"Gue udah punya buktinya!" Shei memperlihatkan flashdisk yang ia pegang. "Kalian semua yang udah jebak gue. Kalian pelaku soal ujian yang bocor!"


Mata Bimo terbelalak kaget begitu juga Yura, tapi dia kaget karena dia tidak tahu apa-apa dan apa yang terjadi.


"Lo pelakunya?" kejut Yura menatap Bimo.


Bimo diam. Dia berusaha mungkin Bimo menyembunyikan bahwa dirinya segera panik. "T'ck. Bukti apa? Lo ngomong gituh cuman mau nakutin kita, kan?"


"Nggak. Sekarang, gue bakal kasih bukti ini ke polisi."


Hidungnya kembang kempis adanya emosi yang begitu besar dari Bimo sekarang. Ketika dia hendak maju untuk membuat mereka jera, menghajar mereka dan di sisi lain juga dengan insting Rave yang melihat itu segera bersiap mengambil posisinya.


"SHEILA!" pekik Lisa di belakang sana. Dia tidak cukup malu untuk memperlihatkan wajahnya yang penuh salah pada semua orang. Perkelahian itu tertunda karena teriakan Lisa disana, semua orang melihat ke arahnya. Terutama Shei. "Kebohongan gue nggak seberapa karena pertemanan kita udah putus. Tapi gimana kalau keluarga lo yang bohong sama lo?"


Keterkejutan bagi Rave, Alvin dan Ello. Mereka was-was apa yang akan dikatakan oleh Lisa.


"Maksud lo apa? Kenapa lo bawa-bawa keluarga gue?" lirih Shei.


"Dugaan gue bener, ternyata lo belum tahu kalau sebenarnya lo... punya saudara tiri," terang Lisa.


"Orang yang selama ini lo anggap temen, deket sama omah dan keluarga lo itu karena dia sedarah, dari salah satu kedua orangtua lo, mungkin bokap? Atau nyokap lo? Mungkin."


Pandangan Shei segera menoleh pada Rave, karena ciri-ciri yang dikatakan oleh Lisa tertuju padanya.


"Tepat sekali. Dia orangnya..." tunjuk Lisa pada Rave.


Semua orang benar-benar terkejut dengan informasi ini, terutama anak-anak Baknus.


Shei masih tidak percaya dia terdiam mendengar apa yang Lisa katakan padanya. Apakah Lisa hanya ingin mengalihkan masalah sekarang? Namun mengingat bagaimana Omah meminta Rave untuk menemaninya di rumah saat dia sendirian, perhatian Omah juga selalu penuh kasih sayang untuk Rave, hal yang sama diberikan padanya. Dia juga ingat Rave dan omah selalu melakukan percakapan serius dan berakhir dengan Rave kesal atau tidak, sedih. Dan ketika dia mendekati obrolan Rave dan omah, mereka selalu berhenti berbicara dan mengubah topik.


Jadi selama ini dirinya dibohongi oleh keluarganya sendiri? Apa benar dirinya memiliki saudara tiri? Siapa yang sudah berkhianat di antara orangtuanya?


"Bener yang dibilang Lisa kalau lo saudara tiri gue?" tuntut Shei menatap lekat pada Rave.


"Shei,, gue bisa jelasin," gugupnya.


"Jadi ini alasan yang lo maksud 'nggak ada sama sekali' tapi nyatanya.... lo nyembunyiin ini semua dari gue kalau kita itu saudaraan?!" Shei menghubus nafas kasar, tidak sadar dirinya meneteskan air mata.


"Shei,, dengerin gue dulu," sahut Rave perlahan agar tetap tenang.


Shei menepisnya kasar lalu pergi meninggalkan tempat ini. Disana Lisa sangat senang melihat kejadian ini. Dengan cepat Ello menyusuli Shei, karena sangat khawatir. Rave memungut flashdisk yang terjatuh dari tangan Shei tadi, ketika dia akan ikut mengejar Shei. Tapi geng NHS, Bimo, menghalanginya.

__ADS_1


"Mau kemana lo?"


"Minggri!" lirih Rave membuat emosi dia semakin memuncak, orang itu benar-benar tidak tahu situasi.


"Kasih dulu flashdisk nya!"


Rave memberikan flashdisk itu, terukir senyuman dari Bimo ketika dia hendak mengambil flashdisk tersebut sebuah tonjokan ia terima pada perutnya membuat dia meraung sakit.


Semua orang terkejut.


"Bos? Bos?"


Bimo pun tidak bisa menahan kemarahannya berjalan mendekat untuk membalas pukulan kepada gadis jadi-jadian itu.


Tapi tampaknya itu terhalang oleh orang dewasa yang tiba pada waktunya untuk menghentikan pertengkaran murid-murid mereka.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tegur Kepala Sekolah.


"Aish! Kalian ini masih di lingkungan sekolah! Berani-beraninya mau berkelahi disini!" bentak sosok guru berkepala botak yang membuat Shei dikeluarkan dari sekolah ini. Guru itu orang yang benar-benar menyudutkan Shei sebagai orang bersalah saat itu. Namanya Pak Dodi.


"Kalian kenapa pada disini? Bukannya pada pulang ke hotel, istirahat, malah buat keributan di sekolah orang." Kali ini selaku guru SMA Bakti Nusa yaitu Pak Satria. Menatap anak-anak didiknya kecewa dan marah.


Fay juga berada disini dia datang bersama Pak Satria, dan Kepala Sekolah juga dengan salah guru di sekolah ini. Karena Fay telah berbuat sesuatu untuk menyelematkan dirinya dari masalah.


"Maaf, Pak," ucap anak-anak Baknus.


"Ternyata kalian semua berkumpul disini," ucap Kepala Sekolah menatap anak-anak didiknya. "Kalian semua ikut saya ke kantor."


"Kami juga, Pak?" tanya Joy.


"Tidak. Hanya mereka, murid Nusantara High School."


Joy bernafas lega setelahnya.


"Lisa, David, ikut saya juga."


Jantung Lisa berdebar tak terkendali, dia sangat gugup kenapa kami semua disuruh mengikutinya ke kantor. Tatapan Lisa bertemu dengan teman dekatnya sejak SMP, Fay. Mereka tidak berbicara satu sama lain hanya saling memandang, Lisa dan yang lainnya pergi mengikuti Kepala Sekolah.


"Saya permisi dulu, Pak," pamit Pak Dodi pada Pak Satria.


Pak Satria angguk. Ketikan semuanya pergi yang merupakan dari sekolah ini. Sekarang gilirannya untuk mengurus anak-anak didiknya ini. "Kalian semua ikut bapak sekarang."


Rave memandang ke arah luar sekolah ini, dia benar-benar mengkhawatirkan Shei. Alvin menyadari hal itu dia segera menuntunnya sambil memberikan ketenangan padanya.


...🌸...


...Tepat pada saat yang sama Shei tahu segalanya. Alasan Lisa yang telah berbuat jahat padanya dan alasan Rave yang tiba-tiba mendekatinya dan begitu dekat dengan keluarganya....


...Bagaimana nih perasaan kalian setelah membaca chapter kali ini?...


...Apakah geng NHS, Lisa dan David harus mendapat ganjarannya juga setelah membuat Shei menderita? Apakah Fay juga?...

__ADS_1


...Bagaimana Shei setelah ini ternyata ia memiliki suadara tiri? Apakah ia akan menerima Rave ataukah sebaliknya?...


...🌸...


__ADS_2