
Dalam perjalanan ke sekolah untuk pertemuan ekstrakurikuler, Shei diboncengi oleh Ello. Shei dengan imut mengenakan helm bogo merah muda yang sangat cocok untuknya. Dan itu, helm ibunya saat masih muda saat ibunya juga selalu diboncengi ayahnya, yang merupakan kekasihnya waktu itu.
Sampainya di gerbang sekolah, Shei turun setelah Ello memberhentikan motornya untuk diparkiran.
"Gimana?"
"Gimana apa?" heran Shei.
"Dibonceng sama orang ganteng."
Shei sebenarnya mual mendengar hal itu, dengan percaya dirinya Ello. Namun. "Lo mau tahu?"
Sontak pertanyaan itu membuat Ello penuh harap padanya.
"Rasanya. Gue pengen muntah di motor kesayangan lo ini."
Bukannya kesal, tapi Ello malah senang mendengar pernyataan itu. Kata terakhir. "Ciee kok tahu motor ini motor kesayangan gue?"
Malas.
Shei langsung pergi.
"Eh mau kemana? Tungguin."
Ello sudah menyusul Shei, sekarang mereka berjalan bersamaan menuju lapangan indoor di sekolahnya. Ternyata memang benar, anggota lainnya sudah berkumpul disana.
"Jangan seenaknya, walaupun ekskul MB nggak sebanding dengan ekskul lain yang aktif."
Suara sindiran itu keluar dari mulut Rave yang berjalan sambil membawa terompet melewati mereka, tentu Shei menyadari bahwa sindiran itu untuknya. Dan Ello mendesis tidak suka dengan sikap sahabatnya itu, namun Rave acuh. Feby yang sebagai ketua ekskul ini, mencoba tidak memperpanjang masalah ini.
"Maaf telat, Kak. Gue nggak tahu," kata Shei dengan muka yang merasa tidak bersalah meski berucap 'maaf'.
"Nggak papa, asal jangan diulangin lagi," sahut Feby. "Oke kita mulai aja. Gue mau denger ide lo itu."
Tampaknya ada lebih banyak orang di sini daripada sebelumnya. Mereka duduk untuk mendengarkan ide Shei ini, yang berdiri menghadap mereka semua. Usulan Shei saat itu sekarang ia sampaikan pada mereka maupun ide-ide baru yang terlintas begitu saja. Melihat dari mimik wajah mereka, tampaknya mereka menyukai ide tersebut, tentu lebih tepatnya dari mereka mengagumi sosok primadona baru di sekolahan ini setelah kakak kelasnya bernama Lia. Gadis yang tengah berbicara di depan mereka, Sheila dari kelas XI - Flower atau F1.
"Nggak jauh dari konsep biasanya, cuman kita menambahkan sisi musik band."
Shei mangakhirinya.
"Oke. Makasih. Lo bisa duduk dulu," kata Feby.
Shei pun duduk di tribun paling bawah, berada di samping Alya namun Shei menyisakan jarak satu meter dengannya. Namun sebelumnya mereka saling bertatapan hanya tiga detik, dan Alya segera memutuskannya.
"Gue putusin kita pake konsep Shei dan beberapa ide dari kalian yang akan digabungkan nantinya. Kalau ada yang nggak setuju bilang dari sekarang."
Mereka diam.
"Nggak ada nih? Berarti setuju semua yah...."
"Iyah kak setuju."
"Kita setuju-setuju aja."
Setelah beberapa menit berlalu, Feby yang merupakan kakak kelas sebagai ketua ekskul marching band ini tengah berdiskusi dengan beberapa orang yang mungkin mereka juga memegang tanggung jawab di ekskul ini. Shei sedari tadi hanya memakai ponselnya, selama itu.
Namun.
"Hei, boleh duduk disini?"
Shei menoleh untuk melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki yang mengenakan kemeja denim tersenyum padanya. Kepala Shei kembali menatap layar ponselnya mengabaikan laki-laki itu. Laki-laki itu duduk meski belum ada jawaban dari Shei.
"Kenalin nama gue Ahmad, kelas 12." Dia mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
Shei menoleh sekejab.
"Shei."
Tanpa menerima uluran tangan itu.
Dengan ragu, laki-laki bernama Ahmad sedikit berambut keriting itu kembali menurun tangannya yang diacuhkan oleh Shei.
"OYYY...." teriakan cempreng perempuan dari tribun seberang terdengar oleh semua orang.
Mereka langsung menatap ke arah sana, ada dua orang yang mereka kenali akan keusilan dan pertengkaran dari dua kakak kelasnya itu.
"OYY AHMAD... LO NYARI CEWEK BARU YA???" Kali ini yang berteriak berbeda orang, yang awalnya perempuan sekarang suara laki-laki berat.
Dua orang yang seperti Tarzan, berteriak-teriak berasa lapangan indoor ini seperti hutan membuat suara mereka semakin bergema. Mereka adalah Tyo dan Oni. Nama yang terpanggil mengerutkan keningnya kesal menatap ke tribun seberang, mantan pacar dan orang ketiga dari hubungan dia dulu.
"HAHAHAHA Oni, lo mampus, si Ahmad udah move on."
__ADS_1
Ejekan itu malah beralih pada temannya, Oni mengerucutkan bibirnya kesal pada Tyo. Melayangkan sebuah pukulan kecil yang terus menerus.
"AaAhw sakit-sakit!"
"Kenapa malah gue yang diejek?! Dasar bule nyebelin!"
Tyo menghidar dari serangan sahabatnya, pada akhirnya mereka saling kejar mengarah keluar pintu.
Keributan itu berakhir.
Shei menoleh, menatap wajah laki-laki di sebelahnya yang memperkenalkan wajah kesal. Shei tersenyum tipis, menurutnya kejadian ini sangat lucu. Namun, senyum itu menjadi heran disaat seseorang tiba-tiba saja duduk di tengah, diantara mereka.
"Anjir, ngapain lo duduk disini? Tuh, banyak yang kosong," sungut Ahmad.
"Lo dipanggil sama Feby. Buruan sana," kelitnya.
Dan dia tersenyum senang, di saat Ahmad kakak kelasnya telah pergi. Dan disini hanya ada Shei dan Ello, orang yang seenaknya duduk di tengah-tengah.
"Eh mau kemana??"
Shei bangkit dari duduknya.
"Mau ke toilet."
"Oh mau gue anter nggak?"
"Nggak."
Shei pergi, alasan itu hanya untuk menghindarinya.
Shei turun dari tribun untuk pergi ke toilet. Ketika dia akan masuk. Mereka berdua terkejut meskipun keterkejutan mereka disembunyikan. Terutama Shei.
Segera Alya pergi untuk menghindari yang namanya Shei, jika hanya mereka berdua. Tapi justru dalam situasi mereka berdua seperti ini, Shei bahkan lebih agresif.
"Lepasin!" racaunya.
Shei melepaskan. Alya masih diam, tatapannya memberikan kebencian, Shei tahu itu.
"Gue mau tanya sesuatu sama lo."
"Tanya apa?" ketusnya.
"Lo kenapa berubah kayak gini?"
Shei diam.
Alya mendengus kasar.
"Bukannya,, lo yang ngasih surat ke gue?" tanya Shei ragu.
Alya yang awalnya menatap kesamping, sekarang kembali menatap lurus pada Shei dengan raut wajah yang kebingungan.
"Surat apa?"
Shei langsung menyadari. "Lupain." Dan pergi begitu saja, tidak jadi masuk ke dalam toilet.
Tidak lama diikuti oleh Alya pergi dengan kesal.
......................
Dan dibalik tembok lain, ada seseorang yang bersembunyi mendengar keributan antara Shei dan Alya. Hubungan persahabatan yang sudah lama terputus. Sampai sekarang, kerenggangan itu masih ada.
...• • •...
Persiapan awal sudah dilakukan oleh anggota marching band Baknus. Mereka telah mendapatkan bagiannya. Sekarang anggotanya lebih banyak, meskipun tidak sampai dua puluh orang, hanya lima belas orang yang cukup untuk menggunakan konsep ini. Di antaranya delapan perempuan dan tujuh laki-laki, termasuk ketua tingkat ketiga, yakni Feby, Ahmad, Usman dan Wanda. Itu akan membantu.
Alya berlatih dengan kelompok memainkan xylophone, kemudian Rave dengan terompet, dan Ello dengan snare drum. Ketiganya juga berperan sebagai pelatih sesuai instrumennya untuk melatih anggota yang belum pintar.
Sementara Shei. Dia berada di barisan pemain sebagai alat bantu aksi tari untuk menghasilkan efek visual tertentu yang mendukung pertunjukan. Yang lain mengira Shei akan menjadi mayoret, tetapi ternyata ketua menempatkan Shei di posisi itu sebagai titik awal.
Waktu terus berjalan hingga hari menjelang sore. Dimana mereka masih berlatih dan mempersiapkan beberapa hal untuk konsep mereka.
Shei juga lupa tujuan dia masuk ke ekstrakurikuler marching band ini, dia sudah terjebak dengan kegiatan disini dan menikmatinya, seperti dulu.
"Sheila semangat....." sorak Ello dari sisi kanan yang tengah duduk sambil memukul drum di depannya.
Shei mendengarnya tapi dia mengabaikannya. Ia memfokuskan kembali dengan melatih gerakan-gerakannya yang akan ia lakukan nanti.
"Kak Shei?" Shei menoleh, pada salah satu orang yang diantaranya. "Kakak deket sama Kak El?"
"Nggak," jawabnya santai.
__ADS_1
"Tapi kayanya Kak El tertarik sama Kak Shei deh," ujar orang yang berbeda.
Anggota marching band disini, mayoritas kelas 10.
"Mana ada yang nggak tertarik sama Kak Shei, Kak Shei cantik banget. Primadona sekolah lagih."
"Bener. Aku juga suka sama kakak," kekehnya. "Aku bakal jadi fans nomor satu Kak Shei."
Shei hanya tersenyum mendengar obrolan adik kelasnya ini.
"Ah iyah tapi, Kak. Mm kalau soal Kak El nih," paparnya hati-hati. Shei merasa aneh karena suara adik kelasnya itu terdengar bisik-bisik. "Jangan terlalu deket sama Kak El. Kak El itu playboy."
"Bener, Kak. Mantannya banyak, suka godain cewek lagih. Tapi nggak luput kalau Kak El itu orangnya baik, dan nyebeliin juga."
"OYYY... kalian," teriak dari sisi lain membuyarkan obrolan gadis-gadis disana. "Kuping gue panas, kalian ghibahin gue yah?"
"Iihhh kegeeran. Ngapain ghibahin Kak El. Nggak ada kerjaan," ejek mereka melihat ke arah Ello.
Ello tergerak untuk mencoba mendekati mereka sambil menggosok telinganya yang terlihat seperti gatal. "Nih telinga gue masih gatel pasti gara-gara kalian, lo ghibahin apa ke Shei?" Meski sebuah lontaran sebagai candaan.
"Ihh Kak Ello mah. Obrolan perempuan nggak boleh tahu, tahu."
"Shutt! Ngeles terus. Udah sana latihan lagih."
"Bilang aja mau berduaan sama Kak Shei," celetuk adik kelas sebelum mereka pergi beranjak dari sini.
Ello berdecak pinggang melihat kelakuan adik kelasnya itu dan Shei bersikap biasa-biasa saja. Wajahnya datar.
"Shei."
"Hum?"
"Nanti--"
"Sheila Ello..." panggil Feby dari kejauhan. Dan mereka berdua segera menoleh setelah nama mereka terpanggil. "Kalian lagi nggak sibuk kan? Tolong bawain itu dong, simbal, dua."
"Dua aja?" tanya Ello.
"Iyah nggak usah banyak-banyak, buat apa."
Ello terkekeh sendiri lalu menatap Shei ke sampingnya. "Ayok."
Mereka berjalan beriringan menuju ruang ekstrakurikuler marching band, ruangan tersebut tidak hanya untuk berkumpul tetapi juga untuk menyimpan alat musik marching band.
Ada keheningan. Namun tidak lama.
"Mereka ngomongin gue kan tadi? Ngomongin apa?"
"Lo itu playboy," jawab datar.
"Playboy?" kejut Ello. "Wah mereka ini yah. Ngomong tuh suka bener."
Shei tersentak kaget, menatapnya setelah mendengar itu. Tak heran dengan pengakuannya. Tapi dengan sikap jujur. Dan Ello, hanya cengengesan.
Sekarang mereka berada di ruangan marching band, membuka pintu dan Ello menyalakan lampu. Dan keduanya sambil mencari simbal, alat musik yang diminta oleh ketua.
"Oh iyah. Gue denger kemarin lo bolos ya? Kenapa?" tanyanya. Belum sempat menjawab, Ello langsung kembali dengan ucapannya itu. "Hah kalau gue tahu lo bolos kemarin, gue nggak bakal balik ke sekolah."
Shei tidak tahan dengan omongannya. Dia sudah kesal dengan suara keibuan Ello yang terus-menerus. Shei berdiri tegak menatapnya dengan kerutan di dahinya. Elo terkejut.
"El."
"Aapa?"
Ello menelan ludah, jantungnya berdegup kencang tengah ditatap oleh gadis cantik di depannya. Baru kali ini, ada gadis yang membuatnya berdegup, gugup.
"Lo...." Ello semakin gugup dibuatnya dengan kata yang menggantung oleh Shei. "Lo tahu alasan Alya pindah ke sekolah ini nggak?"
Seketika kegugupan itu reda. Sedikit ada penyesalan.
"Gue nggak tahu." Ello menatap curiga. "Kenapa?"
"Cuman nanya," jawab santai Shei tidak memperlihatkan kegelisahannya. "Bawa simbal doang, kan?" Shei menemukan simbal itu, dan segera mengambilnya.
Ello angguk, dia juga mengambil satu pasang simbal. Hendak akan pergi, Shei terhenti karena Ello sempat berbicara. "Ghesa temen deket Alya semenjak pindah kesini. Lo bisa tanya dia. Mungkin itu bisa ngejawab dari pertanyaan lo tadi."
...🌸...
...Mohon maaf karena ada kesalahan teks di Bab 22 - 23 yang update kemarin. Maka dari itu silahkan cek kembali....
...So, Terus dukung Author dengan like, rate 5, vote, masuk Favorit ❤️ dan jangan lupa komen : Saran dan kritikan agar Author lebih bersemangat dan memperbaiki kesalahannya....
__ADS_1
...Terima kasih...