
Anak-anak Marching Band Merdeka sudah berkumpul dan bersiap untuk tampil. Shei melihat tim Nusantara sangat-sangat sedih karena penampilan mereka tidak berjalan dengan baik karena Lisa sebagai salah satu komandan/mayoret tidak bisa ikut tampil.
Telepon berdering dari ponsel Shei. Dia kaget melihat nama kontak yang memanggilnya. "Kak Yura?"
"Kak Yura?" kejut Alya yang masih berada disini bersama yang lainnya. "Ngapain Kak Yura nelepon kamu?"
Shei menggeleng. "Nggak tahu."
"Nggak usah diangkat," kata Ello.
"Tapi kalau penting gimana?" Shei kebingungan. Pada akhirnya dia mengangkat telepon tersebut. "Hallo... Kak Yura?" gugupnya.
"Diangkat juga."
"Kak Yura ada apa nelepon gue? Kalau Kak Yura cuman mau marah-marah, gue bakal tutup."
"Eh bentar! Sotoy banget sih lo! Jangan ditutup penting banget, nih. Ginih, pertama, gue mau klarifikasi kalau gue dan temen-temen gue Geng NHS Girls nggak terlibat sama rencana Bimo sama Lisa soal jebak lo dan gue baru tahu setelah kejadian kemarin."
"Kedua, gue emang marah sama lo tapi gue sadar gue patut nerima hukuman ini. Gue perwakilan dari Geng NHS mau minta maaf sama lo sama Alya juga, lo mau terima atau nggak permintaan maaf gue, gue nggak peduli juga, sih."
Mendengar hal itu Shei tidak tahu harus senang atau kesal mendapat permintaan maaf Yura and the geng NHS.
"Dan yang ketiga. Ini penting banget, Shei."
Suara panik terdengar dari Yura membuat Shei heran.
"Gue nggak tahu. Tapi lo harus hati-hati, gue takutnya Si Bimo nyelakain lo. Soalnya dia cabut gituh aja setelah dia ngamuk-ngamuk, sambil bawa pisau."
Seketika sekujur tubuh Shei bergedik takut.
"Tadi Lisa kesini juga. Dia mau ngerusak penampilan tim marching band gue."
"Ah kalau soal itu gue nggak tahu, nggak ada urusannya juga gue sama dia. Gue udah ngasih tahu lo dari awal, lo masih aja percaya sama Si Kutu Kupret itu! Dasar! Yaudah, bye! Semoga kalian selamat yah!"
Telepon pun berakhir dengan kalimat yang membuat Shei gelisah saja. Memang Kak Yura itu kadang-kadang baik tapi dengan cara seperti itu.
"Apa katanya?" Mereka benar-benar penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Shei dengan Yura.
"Kak Yura peringatin gue buat hati-hati sama Kak Bimo, soalnya Kak Bimo pergi sambil bawa pisau pas lagi emosi soal kejadian kemarin," terang Shei membuat mereka pun jadi ikut takut. "Alya, jangan sampai lo sendirian."
Alya angguk.
"Gue pasti jagain Alya," ucap Joy.
Shei percaya itu.
"Apa sebaiknya laporin polisi?" usul Ello.
"Kita belum tahu apa Kak Bimo mau nyelakain kita atau nggak. Jadi kita nggak bisa asal buat laporinnya," sahut Shei. Apa yang dikatakan Shei benar adanya. "Kita tunggu aja. Kalau semisalkan Kak Bimo kelihatan ada disini, kita langsung lapor ke penjaga. Kalian semua hati-hati ya. Tolong kasih tahu Alvin sama Rave juga supaya hati-hati."
"Biar gue yang kasih kabar mereka," imbuh Joy.
"Kamu juga hati-hati ya, Shei," ucap Alya.
Shei angguk.
"Gue ketemu sama orangtua lo, Shei. Mereka udah duduk di kursi penonton," kata Ghesa memberitahu.
"Oh iyah. Makasih."
"Yaudah. Kalian harus siap-siap. Kita cabut yah. Good luck!"
__ADS_1
"Semangat yah Shei, El..."
"Fighting!"
"Semuanya.... Semangat...."
Mereka kembali ke tribun dengan perasaan gelisah. Shei juga mengkhawatirkan hal ini, dan mengingat Rave. Karena Bimo sangat ingin membalas dendam padanya sehingga dia menyusuli Rave ke kota tetangga.
Semoga lo baik-baik aja. Gue harap lo langgar janji lo sama gue soal TOD itu.
"Ayok semuanya berkumpul. Ini giliran kita," ucap Coach Vivian.
Marching Band Merdeka berkumpul membuat lingkaran mereka kembali menyoraki semangat untuk tim mereka.
MERDEKA!
FLOWER!
...****************...
Rave baru saja menyelesaikan makan siangnya bersama Alvin.
"Aku beli minum dulu buat kamu. Kayaknya kamu kehausan banget," kekeh Alvin melihat pacarnya yang butuh energi.
Rave mendengus tapi ia tersenyum. "Makasih."
"Aku nggak akan lama."
"Nggak tanya."
Alvin berdecak senyum ia pun bergegas pergi.
Rave membersihkan sisa makanannya, dia tidak curiga sama sekali. Padahal ada sosok Bimo yang bersembunyi untuk membalas dendam padanya. Bimo berjalan ke arahnya perlahan dan hati-hati semakin dekat dan mereka hanya berjarak beberapa sentimeter di mana Bimo berada di belakangnya.
"Ssss!"
Bimo terdorong mundur karena kehilangan keseimbangan. Rave terlihat terkejut siapa yang dia pukul, Bimo ada di sini.
"Mau apa lo kemari?!" berang Rave.
"Gue mau nyelesain urusan gue yang belum selesai sama lo!" sergah Bimo.
Rave menatapnya dengan marah dan begitu pula Bimo. Bimo juga berteriak keras untuk menyemangati dirinya, berlari untuk memulai pertarungan dan Rave bersiap untuk melawannya.
...****************...
Shei sudah berdiri di posisinya. Dia memandang orang tuanya yang duduk di sana, baik neneknya maupun Rave tidak ada. Mungkin kondisi neneknya masih belum sepenuhnya baik tetapi Rave, dia sangat mengkhawatirkannya.
Sebuah komando Ken terdengar. Shei segera mengambil posisinya mencoba menghapus kekhawatirannya ini dan tetap fokus pada penampilannya karena dia tidak ingin mengecewakan semua orang. Shei memfokuskan kembali dan akan bersikap profesional.
Dan penampilan berlangsung....
Marching Band Merdeka memakai atribut pertempuran memberikan konsep lain, yaitu Pahlawan Nasional. Mereka berusaha menampilkan jasa-jasa pahlawan Indonesia saat bertempur membela negara.
Sebuah iringan memiliki tempo cepat dan langsung terdengar menegangkan. Mereka semua melakukannya dengan baik untuk menyampaikan pesan dan sebagainya mestinya.
...****************...
Rave dan Bimo masih saling bertarung. Tak satu pun dari mereka ingin kalah tetapi untuk Rave dia berusaha untuk tidak terluka. Dia baru saja mengingat janjinya kepada Shei yang tidak dia tepati, menghindari pertengkaran. Rave mencoba yang terbaik hanya untuk menghindari tidak berkelahi sehingga Rave tidak akan berutang pada saudara tirinya lagi.
__ADS_1
......................
"Makasih, Bu."
Alvin baru saja selesai membeli minuman. Saat hendak meninggalkan tempat ini, ponselnya berdering, ia mengangkat ponsel terlebih dahulu dari Joy.
"Ada apa nelepon?"
"Oy Al. Lo masih di tempat pertandingan Rave, kan?"
"Iyah. Ada apa emang?"
"Lo lagi sama Rave nggak?"
"Hem. Tapi sekarang gue baru aja beli minum buat dia. Gue mau balik lagi ini."
"Yaudah buruan. Tadi Si Shei ditelepon sama salah satu anggota geng NHS dia nyuruh Shei buat hati-hati sama Bimo. Tadi juga Si Lisa kesini hampir ngacauin penampilan marching band Merdeka. Siapa tahu Si Bimo juga ngelakuin sesuatu, katanya dia bawa pisau."
Sontak mendengar itu Alvin langsung panik, dia menjatuhkan botol air yang dibelinya dan segera berlari cepat kembali ke tempat Rave berada. Perasaan Alvin tidak enak dan gelisah sejak kemarin, dia teringat akan hal itu, dia sangat mengkhawatirkan Rave.
......................
Bimo kembali lengah. "Lo sengaja nggak lawan gue, huh?! Lawan gue! Gue bukan pengecut! Lo keluarin semua jurus lo itu! Lawan gue! Buruan!"
Rave menyipitkan kesal dan juga heran melihat tingkah Bimo itu yang tampak aneh. Seperti orang yang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Lo gila apa?! Mending lo cabut, deh! Gue nggak bakal nguras tenaga gue buat lo! Gue harus tanding!" Rave dengan tenangnya berbalik badan menuju tempat duduknya tadi untuk mengambil ransel.
Bimo terhuyung-huyung melihat Rave meski emosinya belum surut. Dia mengeluarkan pisau lipat yang telah dia siapkan. Jika bertarung dengan tangan kosong masih tidak bisa melawannya maka dengan alat ini dia akan menang melawan gadis itu.
Ternyata kecurigaan dan perasaannya benar. Sesuatu yang berbahaya terjadi pada pacarnya. Alvin kaget dan panik karena ada Bimo yang akan mencelakai Rave dengan pisau yang dipegangnya. "RAVE....!! AWAS...!!"
Rave memutar matanya kaget mendengar suara keras di sana, dia menoleh untuk melihat dan ternyata Alvin. Dia dengan cepat menyadari situasi saat ini, tapi ia tidak tahu bahwa Bimo benar-benar akan melukainya.
Jleb!
"RAVE...!!" Alvin berlari kencang dengan panik.
Pisau itu berhasil menembus perut kiri Rave. Rave mendesis kesakitan, menatap Bimo dengan pikiran kosong dia menatap luka tusukan itu seolah waktu telah berhenti dalam hidup Rave.
Bimo dengan cepat mengeluarkan pisau dia menyadari apa yang telah dia lakukan. Dia menusuk seseorang. Apa yang dia lakukan membuatnya takut. Dia menyadari kedatangan sosok anak laki-laki yang bersama Rave tadi. Bimo dengan cepat melarikan diri agar tidak tertangkap.
"RAVE....?! RAVE....!!!" Tidak terbayang begitu paniknya Alvin sekarang sampai keringat dingin membasahinya, air mata menetes, melihat darah yang keluar dari luka tusuk Rave yang ia terima. Alvin berusaha menutupi luka itu dengan tangannya agar darah tidak keluar begitu banyak.
"TOLONG!"
"TOLONG!! HIKS....!!"
"A-Alvin."
"Bertahan sebentar!" Alvin tidak kuasa menahan tangis dia tidak bisa melihat Rave terluka seperti ini.
"Shei..." ucapnya lemah dan dia menutup matanya tidak sadarkan diri.
"RAVE BANGUN!! HIKS....!!"
Isak tangis terus terdengar dari Alvin, ia menarik tubuh Rave ke dalam pelukannya, mencium keningnya seolah ia benar-benar tidak ingin kehilangan gadis yang ia cintai.
...🌸...
__ADS_1
...#Rave...
...✨...