Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 91 Dendam Yang Tak Terbalas


__ADS_3

BRUK!


WOAAAAAAAAAAA


"RAVE RAVE RAVE...."


Lawan terjatuh. Segera Rave membantunya untuk bangun.


"Selamat," ucap lawan mainnya.


Rave tersenyum.


Rave baru saja memenangkan pertandingan dan dia lolos ke grand final untuk mendapatkan tempat pertama. Namun grand final akan dimulai nanti siang.


"Rave..." panggil Alvin yang berada di sisi lapangan bersama Coach, pelatih Karate Rave. Alvin menunjukkan sesuatu ke arah penonton, dan Rave mengikutinya arahannya. Dia melihat ayahnya dan mamah Rosa berada di antara penonton. Mereka melambaikan tangannya tersenyum ke arah Rave. Rave membalasnya, dia tersenyum namun tidak terlalu menampakkannya.


Rave segera keluar dari arena. Disambut meriah oleh Coach nya dan teman-teman se-timnya.


"Kasih minum kasih minum."


Alvin dengan cepat memberikannya minum dan handuk pada pacarnya ini yang begitu luar biasa.


"Kamu harus jaga stamina. Banyak-banyak istirahat dulu buat ngisi tenaga."


"Baik Coach."


Setelah evaluasi ini Rave pergi bersama Alvin keluar dari gedung ini, untuk makan siang bersama. Mereka sedang duduk di tempat yang tersedia disini. Rave sedari tadi melihat kesana kemari mencari keberadaan ayahnya walaupun tadi ia melihat ayahnya yang menonton dirinya bertanding tapi kenapa ayahnya tidak menemui langsung.


"Kenapa?" tanya Alvin yang sedang mempersiapkan makanan.


"Hah? Enggak."


Alvin terukir senyuman. "Tuh... itu kan yang kamu cari."


Rave segera membalikkan badannya untuk melihat apa yang Alvin artikan itu. Benar saja. Ayahnya sedang berjalan ke arah sini bersama mama Rosa. Alvin tahu saja apa yang dipikirkan Rave.


Rave langsung bangkit dari duduknya dan langsung mendapat pelukan dari Rosa dan Kevin. "Selamat yah."


"Makasih," ucap Rave pelan.


"Mamah sama papah beliin kamu makanan. Di makan yah." Rave sedikit enggan untuk mengambilnya. "Ambil..."


Rave membungkuk kepalanya untuk berterima kasih. "Maaf jadi ngerepotin."


"Kamu ini," lirih Kevin lalu ia tersenyum mengelus kepala putrinya.


"Mmm.. Kalian nggak ke tempat Shei? Bentar lagi dia tampil."


"Ah benar," ucap Kevin melirik istrinya sejenak.


"Lebih baik kalian berangkat sekarang nanti tertinggal."


"Tapi kompetensi kamu?"


"Saya nggak papa. Lagi pula kalian udah nonton saya barusan."

__ADS_1


Kevin berdesis. "Kamu masih aja bicara formal sama kami? Hm?" Rave terdiam, dia belum siap untuk berbicara selayaknya anak terhadap orangtua. "Nggak papa. Tapi nanti, kamu harus panggil ayah sama mamah. Oke?"


Rave hanya angguk.


"Pah. Papah disini aja, temenin Rave. Nanti biar mamah yang pergi lihat Shei," usul Rosa.


"Nggak usah, tan.. te..." Suara Rave meredup dia benar-benar belum terbiasa. "Nanti saya kesana juga nyusul, setelah ini. Bareng Alvin."


"Bener nyusul?"


"Iyah."


"Yaudah. Kalau gitu,, kamu hati-hati jangan sampai kamu terluka di pertandingan terakhir nanti. Ayah tunggu kamu di sana. Kami pergi dulu."


"Hati-hati om tante," kata Alvin.


Rave terdiam terus memandangi mereka yang pergi. Rave memikirkan sesuatu yang membuatnya seperti ini. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Dia juga takut tidak bisa mengatakan ini di kemudian hari. Rave berlari mengejar mereka yang belum terlalu jauh.


Langkah Kevin dan Rosa terhenti karena Rave tiba-tiba saja berada di hadapan mereka. Mereka terheran. "Ada apa, Nak?"


Rave mengumpulkan keberaniannya ini, untuk mengatakan pada mereka. "Makasih. Udah nyempetin lihat saya tanding. Ayah. Mamah."


Hati kedua orang tua menjadi hangat setelah mendengar kata-kata putrinya. Kevin langsung memeluknya. Rave membalas pelukannya lebih erat. Ia merasakan kembali kehadiran sosok ayah untuknya.


Kevin melepaskannya, ia menyekat air matanya yang hampir keluar. Dia tersenyum bahagia. "Kami pergi dulu ya."


"Hati-hati."


Kevin dan Rosa pun kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke tempat pertandingan Shei.


...****************...


Fay sedang membeli minuman, dia merasa haus, dia sudah menunggu penampilan Marching Band Merdeka yang belum juga tampil. Ketika dia tidak sengaja melihat sosok yang ia kenali yang mengenakan seragam sekolah Nusantara High School, yaitu Lisa. Gelagatnya sangat mencurigakan Fay segera berlari untuk mengikutinya.


"Eh Mbak... Minumnya...."


Fay mengabaikan penjual itu.


...****************...


Di markas geng NHS. Mereka semua berkumpul. Beberapa dari mereka dikeluarkan dari sekolah setelah apa yang terjadi kemarin. Termasuk Bimo dan Yura. Yura terlihat kesal karena Bimo dan geng NHS laki-laki adalah dalang dari bocoran soal ujian di sekolah, Yura juga terkena imbasnya. Dia dan teman-temannya tidak tahu tentang rencana itu, tetapi mereka sama-sama dikeluarkan dari sekolah.


"Dasar bodoh lo semua! Mau aja di kadalin sama Si Lisa!" sembur Yura. "Gue sama temen-temen gua yang nggak tahu apa-apa soal ini kena imbasnya! Kalau aja lo ngasih tahu kita dari awal nggak bakalan ginih! Gue nggak bakal dikeluarin dari sekolah, gue juga nggak bakal ngulang kelas!"


"BACOT LO, YUR!" cecar Bimo. "Gue lagi pusing, nih! Udah mah di keluarin dari sekolah, gue juga diusir dari rumah."


"Makanya dipikir-pikir dulu kalau mau buat kriminal! Untung aja tuh nyokap bokap nya Si Shei nggak ngelaporin kita ke polisi! Kalau udah, mampus!"


Praaang!


"Akh!" jerit para gadis yang ada disini karena Bimo melemparkan botol kaca yang merupakan minuman alkohol yang dia sedang minum tadi.


"SIALAN!"


"BIM! LO GILA APA?! KALAU KENA KITA GIMANA?" sergah Yura.

__ADS_1


Sepertinya Bimo benar-benar tidak sadarkan diri, dia seperti orang linglung. Mungkin Bimo mabuk karena alkohol yang diminumnya. Atau mungkin karena obat terlarang. Sebenarnya Yura baru tahu kalau Bimo sekarang lebih berani dan terjerumus ke hal-hal seperti itu yang seharusnya dilarang. Dulu, geng NHS hanyalah gerombolan anak muda yang hanya membully anak-anak, mengambil uang jajan dan balapan liar. Tapi sekarang itu benar-benar di luar batas, sebuah kriminal.


"HEH! LO MAU KEMANA?!" teriak Yura.


Bimo pergi sambil membawa pisau lipat. Yura pun jadi takut apa yang akan Bimo lakukan dengan pisau lipat itu, dia jadi mencemaskan sesuatu.


...****************...


Lisa mengendap-endap masuk ke salah satu ruangan Marching Band, yaitu tim SMA Merdeka. Ketika di dalam tidak ada siapa-siapa dan keadaan sangat aman dia segera masuk untuk menghancurkan penampilan mereka nanti. Dia akan merusak kostum milik Shei.


"LISA!"


Dia terperanjat kejut segera membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang sudah memergokinya ini, ternyata itu Fay.


"Lo ngapain di ruangan Marching Band Merdeka, huh?! Lo mau apain kostumnya Shei?! Siniin!" Fay merebut kostum itu dari pegangan Lisa.


"Dasar pengkhianat! Lo bantuin Shei dan jebak gue, dan lo laporin gue. Sekarang gue dikeluarin dari sekolah dan itu karena lo semua!"


Fay menyeringai tidak takut dengannya.


"Fay? Lisa? Ngapain kalian disini?" Suara yang mereka kenali terdengar. Mereka segera menoleh untuk melihatnya. Shei bersama timnya berada di depan pintu yang hendak bersiap untuk tampil sebentar lagi.


"Shei, dia mau ngerusak kostum lo. Untung aja gue pergok," ucap Fay lantang.


"Lo nggak ada kapok-kapoknya ya, Lis!" cela Shei. Kali ini dia benar-benar kecewa terhadap Lisa. Dia kira Lisa akan kapok setelah kejadian kemarin. Tapi ternyata.


"Kamu bukannya mayoret dari Nusantara High School, kan?" tanya Coach Lisa. "Saya harus laporkan kajadian ini."


Lisa diam. Dia tidak bisa kabur. Karena sudah dikerumuni oleh anak-anak. Dia menatap kesal pada Fay dan Shei.


Setelah itu.....


Lisa dibawa oleh Coach Vivian kepada pihak sekolahnya yang bertanggung jawab di sini, Marching Band Nusantara.


Anak-anak melihat Lisa yang hanya diam menerima amarah dari pelatihnya itu. Dan dibawanya pergi, entah apa yang akan Lisa terima lagi setelah ini.


"Lisa nggak ada kapok-kapoknya yah! Gue heran, deh!" celetuk Ghesa. Dia sebagai sepupunya pun malu.


"Gue nggak nyangka ternyata dia kayak gitu."


"Bener loh. Lo mau aja temenan sama dia."


Shei pun tidak tahu harus menjawab apa.


Coach Vivian pun telah kembali. "Kenapa pada diem disini? Cepetan masuk, ganti baju, siap-siap!"


"Siap, Coach!" Anak-anak pun langsung terbirit-birit masuk.


Kecuali Joy, Alya, Ghesa dan Fay.


...****************...


Bimo yang baru saja tiba, bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-gerik gadis yang masih duduk dengan bocah laki-laki. Bimo yang masih menyimpan dendam terhadap Rave, dan belum menyelesaikan rencananya, akhirnya bergerak sendiri untuk membalas dendam.


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2