
Berlanjut....
Ello melepaskan tangannya dari Fay dengan keras, penuh emosi dari keduanya. "El! Kamu bisa nggak sih liat aku sesekali di mata kamu? Aku itu cinta sama kamu, El...."
"Itu ambisi, bukan cinta!"
"El, dengerin aku! Aku serius suka sama kamu dari dulu. Tapi kenapa kamu milih Shei? Dia itu buruk buat kamu!"
"Emang lo nggak buruk buat gue?" Fay bisu setelah mendengar. "Lo itu lebih buruk daripada Shei!"
"Apa?! Kamu bandingin aku sama dia?!"
"Iyah! Lo itu seburuk-buruknya temen yang pernah gue kenal. Lo sama temen lo itu orang jahat!" Fay mengerutkan keningnya heran sekaligus kesal. Ello tidak bisa menahannya lagi, dia benar-benar marah. "Kasih tahu teman jahat lo! Kalian nggak bisa kemana-mana lagi. Kalian bakal skakmat!"
Fay bergedik takut, dia membeku. Apa selama ini mereka tahu akal busuk dirinya bersama Lisa?
"Kalau kalian deketin Shei maupun Alya, Rave. Gue nggak bakal kasih kalian balas kasihan lagi! Inget itu baik-baik!"
Ello pergi meninggalkannya.
...****************...
"Makasih," ucap Shei menerima minuman pemberian Aya.
Alya tersenyum angguk.
Ketika Shei sedang meneguk air minum, matanya tidak sengaja melihat sesuatu yang tergantung di leher Alya. Sebuah kalung 'itu'. Alya menyadarinya.
Shei meletakkan botol minum lalu menatap Alya penuh tanya. "Lo masih nyimpen?"
Alya kembali tersenyum angguk. "Iyah. Aku selalu pake kalung ini meskipun kamu, mungkin udah buang kalungnya."
"Ng-nggak. Gue nggak pernah buang sama sekali kalung kita. Yah, cuman gue lepas, disimpen."
"Lebih baik daripada dibuang," lontar Alya. Dan mereka sama-sama tersenyum lalu tertawa bahagia. Persahabatan mereka ternyata masih ada.
"Sekarang, mungkin lo udah butuh ini," ucap seseorang yang baru datang sambil menjinjing ransel berisi pakaian karatenya. Rave memberikan sebuah kalung puzzle milik Shei.
"Lo kok bisa tahu?" kejut Shei sambil mengambil kalungnya itu. Rave hanya mengangkat halisnya, tersenyum bangga. "Makasih," ucap Shei kepadanya lalu ia memakainya.
"Alstro... Emeria? Artinya apa?" tanya Joy penasaran.
"Alstroemeria," cetus Shei. "Bunga yang melambangkan kemakmuran dan nasib baik. Juga sebagai bunga persahabatan."
"Arti yang baik," sahut Ghesa.
Tidak lama kemudian Ello akhirnya kembali.
"Mana Fay?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Udah gue urus," dengus Ello. "Kamu nggak papa?" tanyanya khawatir pada Shei. Shei tersenyum senang mendapat perhatian penuh oleh teman-teman dan pacarnya. "Oh lo udah dateng, Rave. Gimana masuk final?"
"Yah," jawab Rave senang.
"Syukur, deh."
"Terus kalian?" Melihat pada peserta Olimpiade Sains yang telah masuk ke babak semi final.
"Setelah nonton penampilan kalian, kita langsung cabut."
"Oke nanti kita nyusul, sesuai rencana."
Semuanya mengangguk.
"Shei..." ucap Rave membuat Shei menoleh untuk melihatnya. "Ada kejutan buat lo."
"Kejutan? Tampil juga belum, apalagi menang," sahut Shei bingung.
Begitu Rave melihat ke belakang, Shei mengikuti tatapannya. Tiba-tiba raut wajah Shei berubah seketika, terukir penuh kebahagiaan, ternyata nenek yang datang kemari, apalagi melihat orang tuanya ikut bersamanya. Shei langsung bangkit memeluk mereka melepaskan kerinduan.
"Kenapa nggak kasih tahu Shei kalau kalian kesini? Papah, mamah... kapan nyampe? Kenapa nggak bilang?"
"Kan kasih kejutan."
Shei mengerucutkan bibirnya lalu kembali memeluk kedua orangtuanya. Ternyata teman-teman Shei melihat kelakuan Shei seperti ini, sangat berbeda. Dia terlihat manja kepada orang tuanya, padahal dulu semua orang takut dengan Shei yang dingin.
Rave memandang keluarga itu, dia juga senang. Sebelum datang ke sini, Rave juga dikejutkan oleh omah Kartika, Kevin, ayah kandungnya yang datang bersama Rosa istrinya yang datang di perlombaan. Meskipun dia tidak tahu alasan di balik perceraian orang tuanya, tetapi sekarang dia tidak ingin tahu yang sebenarnya. Dia hanya ingin menjadi seperti ini, mengetahui bahwa perceraian orang tuanya bukanlah hal yang buruk. Dia ingin mengingatnya dengan cinta dan kebahagiaan. Kevin menatap Rave, putri dari mantan istrinya dengan senang, Rave pun tersenyum membalasnya.
"Omah, mah, pah. Shei kesana dulu."
"Mamah, papah sama omah bakal duduk disana. Nanti kamu lihat kesana ya," ucap Rosa. Shei mengangguk senyum. "Semangat sayang..."
Ketika Shei dan Ello hendak pergi. "Shei," panggil Rave membuat langkah kaki mereka terhenti, Rave berjalan mendekati Shei dan memeluknya. Itu mengejutkan semua orang, terutama Shei sendiri. Rave baru saja memeluknya sebentar. "Semangat Kucing."
"Makasih. Selamat udah masuk final, semoga lo menang lagi besok, Singa Jelek," ledek Shei lalu pergi dengan cepat sambil menggenggam tangan Ello.
Rave terkekeh melihatnya. Dan disana, Kevin, Rosa dan Kartika begitu bahagia dapat melihat hubungan kedua putrinya akrab. Namun di sisi lain, Alvin senang melihat mereka saling memberi dukungan namun ada perasaan aneh saat melihatnya. Entah kenapa dia gelisah.
Di sela-sela itu berlangsung penampilan Marching Band Nusantara. Mereka sangat pandai membuat tim Merdeka Marching Band grogi. Ya. Marching Band Nusantara adalah rival berat bagi mereka, mungkin bagi semua tim.
Dan sekarang, giliran Marching Band Merdeka untuk tampil.
"Semuanya fokus. Kalian usahin jangan gugup, saling percaya, dan kalian ikutin komandan kalian. Paham?"
"Siap, Coach!"
Mereka berkumpul menjadi sebuah lingkaran berdoa untuk kelancaran mereka, dan setelahnya mereka bersorak penuh tekad dan semangat.
MERDEKA......
__ADS_1
FLOWER!
Yap. Itulah tambahan bagi anak-anak Baknus yang mengusulkan bahwa mereka dilambangkan sebagai 'Flower' dan anak-anak Merdeka menyukainya.
Kami langsung masuk ke lapangan, membawa alat masing-masing saling membantu dan bekerja sebagai tim. Kami disambut dengan sorakan dukungan.
Shei mengambil posisinya di depan di sisi kiri, lalu pasangannya Ken di posisi tengah dan Bina di sisi kanan. Shei bisa melihat dengan sangat jelas keberadaan keluarga dan teman-temannya yang sedang menonton di tribun di sana. Joy melambaikan tangannya dengan sangat lucu, Shei tersenyum.
Shei melirik Ken lalu Bina, mereka bertiga saling memberi isyarat bahwa teman mereka sudah siap di lapangan.
Dan.
Suara alat tiup trumpet mulai bersuara yang diinstruksikan oleh Komandan Ken, devisi Colour Guard pun mulai berjalan begitu juga dengan devisi Percussion Battery memulai aksinya. Ello berada di bagian sisi kiri sebagai drummer bergabung dengan anak Merdeka, seorang gadis yang memainkan piano.
Marching Band Merdeka menggunakan konsep kerajaan dari Indonesia – Nusantara, dimana Bina mulai bergerak sebagai komandan dua untuk melakukan aksinya memasuki lapangan bergabung dengan penampilan teman-temannya.
Sorak sorai dan tepuk tangan penonton berhasil membuat Marching Band bergembira. Selama lebih dari sebulan dari pagi hingga malam terus berlatih untuk penampilan hari ini, mereka akan terus berjuang dan berusaha memberikan yang terbaik.
Ini adalah bagian dari esensi dari semuanya. Shei masuk ke dalam, bergabung dengan teman-temannya di tengah lapangan memulai dramanya sendiri, begitu lihai dan profesional dan membuat semua orang yang menonton kagum dengan penampilan Shei, ditambah lagi Shei sangat cantik sehingga orang-orang terpesona dan iri.
Sosok di sana Lisa melihat penampilan Shei, Lisa mengepalkan tangannya dengan marah. Lisa tidak mau kalah lagi dengannya. Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya, ditariknya dia oleh seseorang ke suatu tempat yang tidak begitu ramai.
"Fay?" kejut Lisa. "Lo ngapain disini?"
"Nggak penting itu! Gawat, Lis!"
"Gawat kenapa?"
"Mereka udah tahu." Lisa mengerutkan keningnya bingung, tidak paham yang dimaksud oleh temannya ini. "Mereka udah tahu, Lis! Yang udah kita lakuin sama mereka, sama Shei!"
"Apa? Lo serius?" Lisa tersentak kejut. Fay menganguk-angguk panik. "Tapi kenapa mereka diam-diam aja?"
Fay menggeleng tidak tahu. "Lis! Gue udahan yah. Gue nggak ikut-ikutan lagi. Gue kan cuman bantuin lo ngasih surat ancaman doang ke Shei. Kalau selebihnya gue nggak ikutan."
"Apaan-apaan?! Lo udah terjerumus dari awal. Lo nggak bisa lepas dari ini!"
"Akh! Gue nggak peduli! Gue udah ikutan olimpiade gue nggak mau buat malu sekolah sama orangtua gue. Tapi kalau soal El.... Ah ****!" Fay segera sadar lagi, menggelengkan kepalanya cepat, dia tidak ingin terkena masalah. Tapi dia juga masih kesal dengan hubungan Ello dan Shei. Tapi ia pikir, dia bisa mengurusnya sendiri tanpa bantuan Lisa. "Gue udahan sampai sini, Lis. Gue cabut, mau siap-siap."
"Fay! Fay! FAY!"
Apakah Shei benar-benar tahu tentang ini atau mungkin mereka hanya menipunya. Lisa semakin marah dibuatnya.
...🌸...
...Gambar sebagai ilustrasi untuk mendukung cerita...
...Jika ingin melihat seperti apa sebenarnya marching band, bisa dilihat di YTB tentang Marching Band atau GPMB...
__ADS_1
...✨...