
"Apa kabar semuanya?"
"Baik, Kak." Dijawab serempak dari beberapa anak muda yang cukup banyak berbaris di lapangan kota Bogor yang merupakan peserta latihan marching band yang akan bertanding di tingkat nasional.
"Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya. Kita akan memasukan peserta baru untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi marching band tingkat nasional dan bergabung dengan marching band kita. Mereka lah orang-orang yang saya pilih dari SMA Bakti Nusa."
Shei, Ello, Lily dan Rayhan berdiri di depan tersenyum untuk memberikan sapaan pada mereka.
Prok Prok Prok Prok
"Yeeeee....."
Mereka menyambut peserta baru dengan sangat antusias, apalagi ada sosok yang begitu populer di kalangan anak muda di kota Hujan ini. Ello. Seorang penyanyi yang selalu tampil di kafe. Tentunya bagi orang lain untuk anak laki-laki untuk melihat gadis baru yang cantik di antara mereka, Shei.
"Asik ada yang bening, nih."
"Gue bisa lihat lagi primadona dulu," ucapnya senang membuat semua orang menatap ke arahnya bertanya-tanya.
Sementara gadis-gadis Merdeka.
"Gila gila! Kita bakalan ngeliat El terus, nih. Mata gue bakalan seger."
"Semangat gue jadi plus! Nggak salah pilih dah Kak Vivian ngerekrut El."
"Eh tapi tapi guys. Cewek disampingnya El itu, rambut kepang. Bukannya itu... Siapa? Em! Ah! She–Shei, Sheila yah?!"
"Oh iyah bener, tuh! Murid pindahan Baknus, yang buat heboh sekolahan."
"Biang onar, kan?!"
Selama para gadis-gadis Merdeka itu mengoceh tentang Shei. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi di sekolahan SMA Bakti Nusa itu.
"Kalian boleh bergabung dengan yang lainnya," ucap Pelatih Vivian. Shei, Ello, Lily dan Rayhan mengangguk dan segera bergabung dengan barisan yang lain. "Kalau gitu. Saya akan memberikan kalian waktu untuk saling berkenalan agar latihannya tidak terlalu canggung, dan bisa mempererat kerjasama tim."
"Siap, Kak."
Usai Coach Vivian mengatakan itu, seluruh anak Merdeka berhamburan menghampiri anak-anak Bakti Nusa. Mereka begitu bersemangat untuk saling menyapa dan ramah.
"Hai."
"Hai."
"Salam kenal yah."
"Marching band kalian keren. Kita lihat penampilan kalian waktu di acara sekolah SMA Bakti Nusa."
"Makasih."
"Marching band Merdeka lebih keren," puji Lily.
Dan anak-anak Merdeka tersenyum senang mendengarnya.
"Oyy! What's up bro?" Suara yang tidak lebih dia ketahui, Ello segera melihat ke arah suara itu. Apa yang diduga benar. "Wee... ketemu disini. Bagus, bagus, kalau ada apa-apa lo bisa tanyain ke gue."
__ADS_1
Ello tertawa kecil melihat teman yang ia kenali ternyata ikut dalam marching band ini. Sosok Ken kembali lagi. Ken lalu menatap ke arah Shei. Tentu saja dia mengenalinya.
"Hallo Sheila."
Shei hanya tersenyum.
Melihat gerak-gerik Shei yang sepertinya tidak mengenalinya, Ken segera memperkenalkan diri lebih jelas. "Lo masih inget gue nggak?"
Shei diam dibingung, dia melirik ke arah Ello.
"Temen SMP kamu," kata Ello pada Shei membuatnya semakin bingung.
"Gue Ken. Temen sekelas lo waktu SMP sama Alya juga," ujarnya. Orang itu mengatakan nama Alya, hal itu membuat Shei percaya bahwa anak laki-laki itu memang teman SMP nya. Meski Shei lupa. "Lupa yah? Masak lupa, sih? Emang murid baru sih waktu itu. Satu ekskul juga marching band, rekan lo Sheila. Sesama mayoret."
Seketika ingatan itu ada, Shei pun tersenyum lebar sedikit tidak percaya pada teman SMP nya ini. "Ah iyah gue inget. Si Batok Kepala, kan?"
Ello tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Sementara Ken mendengus kesal. Mengapa setiap bertemu dengan teman SMP nya selalu saja diingat tentang rambutnya yang seperti mangkuk itu. Kemarin saat bertemu Alya, dia mengingat dirinya dengan rambut mangkok. Sekarang Shei. Lebih parah, mengatakannya seperti batok kelapa.
"Kenapa orang-orang pada inget rambut dulu gue, sih?" cicit Ken.
Shei pun tertawa kecil. Ia terlihat senang bertemu dengan teman SMP-nya apalagi Shei kenal Ken yang merupakan rekan mayoret di drum band SMP mereka. Meskipun awalnya dia lupa, sekarang dia mengingatnya.
Suara Coach Vivian dengan memakai alat toa membuat semua orang terkejut dan beralih perhatian padanya. "Untuk berkenalan, kita sudahi dulu. Semuanya kembali berbaris dengan rapih. Sesuai dengan alat yang kalian pegang. Ayok! Cepat-cepat!"
Anak-anak Merdeka segera berbaris dan sudah tahu posisi masing-masing kecuali Shei, Ello, Lily dan Rayhan yang terlihat kebingungan.
"Baknus," lanjut Coach Vivian memanggil anak-anak Baknus itu. "Sheila. Kamu masuk barisan mayoret. Ello dan Rayhan divisi Percussion Battery. Dan Lily devisi Colour Guard."
Dan mereka langsung bergegas mengikuti arahan Coach Vivian yang sekarang terlihat lebih tegas dan bersikap keras pada anak-anak.
"Hai," sapa gadis itu tampak cantik. Shei tersenyum membalas sapaannya. "Kita belum sempet kenalan. Nama gue, Bina."
"Sheila," balas Shei memperkenalkan diri.
Dan sepertinya mereka bertiga akan terus berinteraksi satu sama lain karena mereka dalam devisi yang sama di dalam marching band ini.
Satu bulan. Apakah itu waktu yang begitu lama ataukah singkat sampai hari kompetisi itu tiba.
...****************...
Para murid SMA Bakti Nusa yang terpilih untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional. Sekarang mereka semua berada di dalam satu ruangan. Termasuk Alya, Fay dan Alvin. Mereka berlatih untuk mengisi soal-soal ujian sesuai dengan pelajaran yang mereka dapatkan. Mereka terus berlatih untuk olimpiade sains mendatang. Dan sudah lima jam mereka berada di ruangan ini dengan berbagai soal yang diberikan oleh para pembimbing mereka masing-masing.
Tampaknya Alvin telah menyelesaikannya. Dia sedang berbicara dengan pembimbingnya, begitu juga dengan Alya.
Fay yang masih mengerjakan soal di belakang sana, melihat ke depan di mana Alvin dan Alya berada. Mereka berdua sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu, tapi Fay tidak curiga sama sekali.
"T'ck. Nggak nungguin gue apa?" cicit Fay melihat kedua teman sekelasnya, Alvin dan Alya telah meninggalkan ruangan ini lebih awal.
Di luar, Alya dan Alvin sedang berjalan bersama dan masih membicarakan sesuatu yang penting.
"Baru satu hari," keluh Alya merasa lelah mengingat dia harus mengerjakan soal matematika yang cukup sulit.
Alvin berseri melihatnya. "Semangat Alya!"
__ADS_1
Alya mengangguk memberikan semangat juga kepada Alvin. "Semangat!"
"Kapan Joy balik?" tanya Alvin.
"Katanya sih semingguan lagih," jawab Alya.
Alvin hanya mengangguk-angguk. Joy memang tidak masuk sekolah sejak kemarin, dia izin karena harus pergi ke Korea Selatan untuk urusan orangtuanya.
Terlintas dari ingatan Alya tentang rencana itu. "Alvin. Gue mau tanya."
"Iyah?"
"Rencana kalian di sekolah lama gue sama Shei, gimana?"
"Nggak usah khawatir. Kita udah urus semuanya. Lo sama Ghesa urus yang disini aja."
Alya pun mengangguk. Sebenarnya dia ingin tahu apa yang mereka rencanakan untuk masalah yang menimpa Shei ini. Setelah kejadian kemarin, semua yang telah terungkap. Alya hanya bisa mengobrol sebentar dengan Shei. Secukupnya dan membahas apa yang benar-benar penting secara singkat. Meminta maaf dan terima kasih. Setelah itu, mereka tidak lagi berkomunikasi atau bertemu satu sama lain. Seperti yang seharusnya, sebagai kembalinya persahabatan mereka. Tapi ini tidak.
Terukir senyuman dari Alvin, Alya menyadari hal itu karena tatapan Alvin pada sosok gadis di depan yang berjalan ke arah mereka.
Mengingat bahwa Alya pernah melihat Alvin dan Rave berpelukan. Membuatnya menaruh curiga bahwa mereka berpacaran. Tapi mereka masih menutup-nutupinya.
"Jadi latihan?" tanya Alvin.
Rave hanya angguk. Lalu dia melihat pada Alya, dan tersenyum sontak membuat Alya sedikit terkejut, dan gugup. Rave menghela nafas melihat reaksi Alya itu yang masih canggung kepadanya.
Tidak sengaja Rave menemukan sesuatu yang tergantung di leher Alya. Sebuah kalung dengan liontin puzzle. Rave seperti mengenali kalung itu. Bayang-bayang itu tampak muncul. Kalung yang sama dengan Shei yang ia lihat di kamarnya.
"Emeria," ucap Rave.
"Hah?" Alya terkejut. Kata yang menyambung dari kata yang tertulis di kalung miliknya. Mengapa Rave bisa tahu. Dan biasanya, Alya juga memasukkan kalung itu ke dalam bajunya dan tidak pernah diperlihatkan. "Kok bisa..."
Rave hanya tersenyum. "Gue duluan," pamitnya.
Alya masih diam, bengong.
"Alya. Gue juga duluan," sambung Alvin. Alya hanya angguk. "Rave bareng."
Rave dan Alvin pun pergi bersama, dengan Alya yang masih berdiri diam memikirkan apa yang diucapkan oleh Rave barusan.
"Shei. Kamu masih nyimpen kalungnya?"
...🌸...
Biar nggak pada bingung....
...Jika kalian masih ingat, karakter Ken sebelumnya sudah muncul di awal chapter. Ken adalah teman SMP Ello tapi dia harus pindah ke Jakarta dan diharuskan pindah ke SMP baru dan disanalah Shei dan Alya bersekolah juga. Jadi Ken mengenal mereka....
...Kemudian ada Lily dan Rayhan yang merupakan murid kelas 10 dari marching band SMA Bakti Nusa....
...Coach Vivian yang akan melatih marching band untuk berkompetisi di tingkat nasional....
...Dan tokoh baru yaitu gadis bernama Bina dari anggota marching band SMA Merdeka....
__ADS_1
...Mungkin sampai sini dulu... So, terus ikutin ceritanya ya ^^...
...✨...