Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 84 Gelora (1/2)


__ADS_3

Pembukaan penyelenggaraan Kompetisi Marching Band Nasional yang digelar di istora Gelora Bungkarno akan segera dimulai.


Marching Band Merdeka begitu bersemangat juga gugup yang masih berada di belakang untuk bersiap.


"Sheila. Lo cantik banget."


Ketika Shei tiba bersama dengan Ello, mereka disambut baik oleh anak-anak Merdeka. Shei juga terlihat senang karena dirinya telah diterima oleh mereka. Mungkin mereka sadar, ternyata Shei tidak seperti yang mereka dengar dari orang-orang dan rumor itu. Selagi Shei tidak merugikan mereka, mereka akan menerima dan saling bekerja sama.


"Makasih," sahut Shei tersenyum tulus.


"Oy liat tuh. Mayoret Nusantara nggak kalah cantik," tunjuk salah satu anak Merdeka.


Mereka semua segera menoleh ke arah yang ditunjuk, Shei dan Ello segera ikut mengikuti arah pandang teman-temannya.


Shei tertegun, orang yang dimaksud adalah sahabatnya, ataukah masih dibilang seperti? Orang itu adalah Lisa, tampaknya tidak sengaja pandangan mereka saling bertemu. Lisa memberikan keterkejutan dengan senang karena dia langsung menghampiri Shei.


"Shei," ucapnya. "Lo disini juga?" Lisa memeriksa semuanya dengan girang. "Gue nggak nyangka kita bisa ketemu di perlombaan dan lo... ikut marching band lagi? Gue seneng, deh. Kenapa nggak bilang? Gue sedih, lo nggak pernah chat gue lagi."


Shei benar-benar tidak tahu harus berkata apa untuk menghadapi Lisa setelah dia tahu kebenarannya, kebusukan dari sahabatnya sendiri. Tapi, jika Lisa pandai berakting seperti ini maka Shei juga harus bisa melakukannya.


Terukir senyuman dari Shei dapat melihat lagi temannya. "Lo juga kemana aja? Nggak pernah ngechat gue."


Lisa berseri. "Gue sibuk nyiapin ini semua."


Shei mengerucutkan bibirnya. "Gue nggak tahu lo masuk marching band.


Lisa diam sejenak lalu ia tersenyum lagi. "Iyah. Sebenarnya sejak SMP gue pernah gabung sama drum band. Dan akhir-akhir ini gue putusin buat kembali."


"Setelah gue cabut?" tanya Shei dan Lisa diam, gugup mendapat tatapan dari Shei yang berbeda. Tapi tidak lama Shei tertawa kecil seperti melontarkan candaan. "Dari dulu, kek. Cerita sama gue. Kan kita bisa jadi partner."


Lisa berseri kaku setelahnya. "Mm Shei. Yaudah, gue harus balik lagi nih."


"Iyah. Semoga lo berhasil dan nggak ngelakuin kesalahan lagi."


Lisa kembali dibuat diam dan gugup oleh Shei yang me mengatakan 'Lagi'. Lisa tersenyum kemudian. "Lo juga. Dah..."


Shei melambaikan tangan memandangi punggung sahabatnya yang kembali bergabung dengan timnya. Shei mengingat semuanya. Tentang perlombaan drum band junior tingkat nasional saat mereka duduk di bangku SMP. Lisa ada di tim sekolah lain sebagai lawan kuatnya, namun ternyata Lisa melakukan kesalahan yang membuat timnya tidak mendapatkan juara pertama.


"Sheila. Lo kenal sama mayoret Nusantara?"


"Yah. Dia temen gue waktu gue masih sekolah disana."


"Jadi lo pernah sekolah di Nusantara High School?"


Shei hanya angguk.


"Woah! Kalau Shei nggak pindah sekolah kemungkinan besar Shei bakalan ada tim mereka sebagai lawan kita."

__ADS_1


Mereka mengangguk-angguk setuju.


"Untung deh lo pindah," lontar mereka membuat Shei tertawa kecil.


Yah, beruntungnya aku pindah. Batin Shei bahagia.


Mengingat kembali dulu dia benar-benar tidak mau bersekolah lagi ataupun pindah ke rumah neneknya. Tapi sekarang, Shei sangat bersyukur karena kedua orangtuanya memindahkannya, membuat Shei bertemu dengan orang-orang sebaik mereka.


Ah. Shei jadi merindukan papah dan mamahnya.


...****************...


Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pasangan ini baru saja tiba setelah sekian lama mereka tinggal di Australia meninggalkan putri mereka bersama neneknya. Sebaliknya, memberi putrinya waktu untuk beradaptasi dan bertemu saudara tirinya.


Kartika mengatakan bahwa anak-anak mereka menjadi lebih dekat meskipun pada awalnya Shei dan Rave selalu bertengkar, meskipun itu normal. Kevin dan Rosa memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah mendengar kabar bahwa kedua putri mereka akan bertanding di tingkat nasional, mereka ingin bertemu dengannya dan juga ingin mengungkapkan segalanya kepada Shei bahwa dia memiliki saudara tiri, Rave, yang selalu ada dengan dia. Semoga ini waktu yang tepat untuk keluarga kami.


...****************...


Pembukaan penyelenggaraan Kompetisi Marching Band Nasional yang digelar di istora Gelora Bungkarno telah dimulai. Diikuti dari berbagai jenjang klasemen yakni mulai dari Jenjang Junior tingkatan TK hingga SD, Jenjang Senior tingkatan SMP sampai dengan SMA dan Jenjang Umum yakni tingkat universitas dan umum oleh sejumlah kelompok drumben yang tersebar di wilayah Indonesia. 



"Selamat berkompetisi dalam semangat dan disiplin yang tinggi ke arah tercapainya prestasi yang tinggi. Menang dengan rasa bangga dan kalah dengan sikap ksatria."


Prok Prok Prok Prok Prok


Semua bertepuk tangan setelah sosok yang berbicara untuk berpidato, dan itu menjadi akhir dari sebuah pembukaan kompetisi ini.


Shei menoleh ke belakang, dia melihat kakak kelasnya ketika dia masih belajar di Nusantara High School dan dia adalah pemimpin marching band Nusantara. "Kak Vero?"


"Apa kabar?"


"Baik, Kak."


"Wah gue nggak nyangka bisa ketemu lo disini, jadi lawan lagih," cetusnya membuat mereka tertawa kecil.


"Kok Kak Vero bisa ikutan? Bukannya..."


"Kelahiran gue masih bisa, untungnya satu bulan lagi."


Mereka berdua kembali tertawa, dan Shei senang mendengarnya.


Vero menatap Shei sangat lekat. "Gue seneng lo balik lagi ke marching band. Waktu lo tiba-tiba mutusin keluar, gue bener-bener sedih, soalnya lo itu kayak... sesuatu yang nggak bisa dipisahkan buat lo jadi diri sendiri. Tapi ternyata, gue bersyukur lo balik lagi."


Shei hanya tersenyum dan senang bahwa kakak kelasnya ini mendukungnya.


"Shei," ucap Ello tiba melihat pacarnya sedang mengobrol dengan seseorang yang dia tidak ketahui. Siapa lagi pria yang ingin mendekatinya?

__ADS_1


"Ah El. Kenalin dia kakak kelas aku waktu masih sekolah di Nusantara High School, sekaligus ketua marching band."


Ello pun ber'oh dengan pandangan tidak suka. "Gue El."


"Vero," balasnya dengan ramah. "Kalau gitu gue balik ke tim. Good luck!"


"Makasih, Kak. Fighting!" balas Shei.


Ello terus menatap Shei dengan penuh curiga, ketika Shei menoleh dan mendapati tatapan seperti itu dari Ello, Shei hanya tersenyum mengelus pipinya dan mengajaknya pergi untuk kembali bergabung dengan teman-teman Merdeka.


Waktu terus berlanjut hingga beberapa peserta telah menunjukkan penampilan mereka.


Marching band Merdeka belum pada urutannya sehingga masih menunggu dan bersiap di belakang.


Kami dari Baknus, melihat teman-teman kami berdatangan untuk mendukung.


"Shei....." teriak Joy berlari dan melentangka tangan memeluk sahabatnya.


"Hei! Heh! Itu tangan...." Peringatan dari Ello mendekat.


"Dih, cemburuan jadi orang," dengus Joy setelah melepaskan pelukannya. "Shei lo betah banget jadi pacarnya?"


Shei tertawa kecil lalu mengangguk.


"APA-APAAN BARUSAN?!" Sontak semua orang terkejut mendengar suara yang lantang itu. Mereka lupa bahwa ada sosok yang seharusnya tidak disini, yaitu Fay. Fay mendengarnya. Dia lebih terkejut dan marah mendengar hubungan Ello dengan Shei dibandingkan dengan kebenaran dari hubungan Rave dan Alvin.


"Fay. Pelanin suara kamu," tegur Alya.


Fay mengabaikannya dengan kesal mendekati Shei dan mendorongnya cukup keras, untungnya Ello cepat menangkapnya kalau tidak Shei akan jatuh.


"Lo ngapain dorong-dorong Shei?!" bentak Ello menatap Fay marah.


"Gue nggak suka sama dia! Minggir!" sembur Fay.


Tapi Ello menghalangi, melindungi Shei dibalik tubuhnya. "Gue nggak bakal biarin lo sedikit pun nyentuh pacar gue!"


Fay berdecak kesal, muak mendengarnya. Luar biasa dia begitu berani untuk secara paksa menyingkirkan Ello untuk menyerang Shei, tetapi Ello masih mempertahankan posisinya. Fay mendatangkan malapetaka sampai orang-orang melihat ke arah keributan mereka.


"Aaw!"


Detak jantung Ello seketika berhenti sejenak melihat Shei dengan keterkejutannya. Shei terkena pukulan Fay, hingga amarah Ello tidak bisa dikendalikan lagi. Dia menarik tangan Fay dengan paksa membawanya pergi dari sini.


Segera Joy, Alvin, Alya dan Ghesa menghampiri Shei dengan cemas.


"Lo nggak papa?"


Shei angguk.

__ADS_1


"Aku beliin minum dulu," ucap Alya pergi dengan panik. Shei tidak percaya ternyata Alya begitu khawatir padanya.


...🌸...


__ADS_2