Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 34 Rumah


__ADS_3

Berlanjut....


Alya dan Joy berjalan kaki terlebih dahulu sebelum naik angkutan umum. Meski dikenal sebagai cowok yang melihat gaya dalam berpakaian, dia keren dan manis. Namun Joy tidak pernah terlihat membawa kendaraan pribadinya. Ke sekolah atau kemanapun.


"Maaf ya. Gue nganterin lo sama-sama boong. Pake angkutan umum juga," ucapnya terlihat malu-malu.


Alya tetap tersenyum ramah. "Nggak papa. Malah makasih, lo mau repot-repot nganterin gue. Padahal nggak usah."


"Nggak, kok. Nggak ngerepotin. Gue seneng kok bisa nganterin lo." Joy memberikan senyuman yang semanis-manisnya untuk Alya. "Eh lewat sini-sini." Dia menarik Alya membuatnya terkejut. Dia berusaha menghindarkan langkah kaki Alya yang hendak masuk ke lubang kecil, dengan air.


"O-h! Makasih."


Joy tersenyum angguk. Mereka kembali melanjutkan jalannya.


Alya pun jadi teringat dengan perkataan Shei saat menunggu pesanan. Bahwa Joy menyukai dirinya.


Apa bener Joy suka sama aku? Ah nggak-nggak. Shei pasti cuman bercanda.


Bener. Dia kan sering ngerjain aku. Sama temennya Lisa dan gengnya.


Mengatakan nama Lisa. Ingatan yang ingin Alya lupakan kembali bermuculan.


Alya. Kamu bisa lupain. Semuanya udah selesai. Kamu udah nggak ada urusannya lagi sama mereka. Kamu juga bukan Babu mereka lagi. Ayok buat kenangan Alya baru di sekolah Bakti Nusa.


David....


Di saat dirinya sedang menyemangati dirinya dalam hati. Nama-nama di masa lalu muncul lagi. Sekarang David yang muncul dalam pikirannya. Mantan pacarnya yang tidak diketahui oleh siapapun. Tapi.


Sheila tahu aku pernah pacaran sama David? Apa David yang ngasih tahu dia ya? Tapi kenapa dia baru ngasih tahu aku sekarang. Atau emang dia baru tahu?


Berarti dia masih kontakkan sama David, Lisa. Otomatis sama anak-anak Nusantara. Dasar. Dia bodoh atau gimana sih? Masih bergaul sama gengnya kak Yura. Udah jelas mereka jahat. Kenapa masih temenan.


Ingin Alya mengatakan kata-kata itu di depan wajah Shei. Namun Alya tidak bisa.


Dan... kenapa juga...


Joy terus memperhatikan Alya yang sedari tadi menatap lurus ke depan dan tampak berpikir. "Alya hei..."


"Hem?" Alya menoleh seperti orang kebingungan.


"Mikirin apa? Serius amat."


"Nggak ada," sahutnya tersenyum.


Joy ikut tersenyum tidak lagi memberikan pertanyaan padanya. Cukup sekali. Jika memang ada masalah dan Alya ingin ceritakan, Joy siap untuk mendengarkan. Namun jika tidak, Joy tidak akan memaksa.


"Mmm.. Joy."


"Iyah?" Dia menengok dengan senang.


"Gue denger El tadi... neneknya Shei..."


"Ah... itu. Iyah, Shei disini tinggal di rumah neneknya. Dia pindah kesini juga karena bokap sama nyokapnya yang ngirim, sekolah disini juga. Soalnya Shei ditinggal ke Australia sama mereka."


Alya pun ingat. Memang orangtuanya Shei selalu pergi ke negara itu, karena disana juga ada keluarga besar dari ibunya. Dan Alya juga ingat, Shei pernah cerita, sejak kecil dia pernah diurus oleh nenek dari ibu ayahnya yang ada di Bogor.


"Kenapa nggak sekalian aja ikut sama papah mamahnya?"

__ADS_1


"Nggak diizinin. Disuruh tinggal sama neneknya."


Alya ber'oh. Untungnya Joy tidak curiga sama sekali padanya yang terus bertanya tentang Shei. Dan ternyata Joy semakin tahu tentang Shei, Alya bersyukur. Karena tampaknya Joy sangat tulus untuk berteman dengan Shei.


...****************...


Pintu gerbang rumah itu terbuka lebar. Ello mengendarai motornya sampai ke dalam. Mendapati motor cross yang tidak asing terparkir disini.


"Bukannya ini motor punya Si Brave? Kenapa ada disini?" tanya Ello heran setelah melepaskan helmnya.


Shei mengangkat bahunya tidak tahu. Karena ikut penasaran, dia segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ello dibelakang. Suara dua orang tengah mengobrol terdengar.


"Brave?" panggil Ello.


"Lo? Lo... ngapain disini?" tanya Shei terheran.


"Kamu udah pulang?" sambut neneknya. "Sini duduk dulu. Ah ada Nak El juga."


"Iyah, Omah," sahut Ello sopan.


"Makasih udah nganterin Sheila pulang."


Ello hanya tersenyum angguk dan ikut duduk bersama mereka. Dia duduk di samping Rave. "Eh lo ngapain disini? Kok bisa disini?" Bisiknya pada Rave.


Rave tidak menjawab, namun memperingatinya untuk tidak berisik.


"Lo ada urusan apa ke rumah gue?" tanyanya lagi oleh Shei yang terheran. Dekat dengan Rave tidak. Berbicara dengannya pun jarang sekali.


"Sheila. Omah, besok kan berangkat umroh. Nah omah minta temen kamu, Rave. Buat nemenin kamu di rumah selama omah pergi."


"Kenapa lo yang kaget?" heran Shei yang mengerutkan keningnya. "Harusnya gue."


"Maaf. Gue ikut kaget juga. Soalnya anak ini. Nggak pernah kayak ginih sebelumnya," sindirnya pada Rave.


Rave langsung menatap Ello, horor. Sementara nenek Kartika terkekeh.


"Maksud omah. Rave jagain aku gituh? Dia nginep disini juga?" Nenek mengangguk senang. Tapi tidak dengan dirinya. "Omah... Aku tuh udah gede. Disini juga ada paman Jaka. Omah juga bilang katanya bi Lastri mau kesini. Lo juga..." Menatap tidak suka pada Rave. "Kenapa mau sih disuruh nginep disini sama omah?! Deket juga nggak!"


"Huss Sheila, jangan ninggiin suara kamu," tegur neneknya.


"Omah..." Rengeknya Shei.


"Bi Lastri nggak jadi kesini. Jadi omah khawatir kalau kamu sendirian di rumah."


"Kan ada paman Jaka," lirih Shei.


"Lo anggap aja gue nggak ada selama gue tinggal disini," cetus Rave membuat Shei menoleh padanya. "Dan gue pun sebaliknya. Gue cuman bantuin omah lo aja."


Rave yang berbicara, Shei pun tidak lagi bisa membantahnya. Shei menatap neneknya meminta balas kasihan. Namun balas kasihan itu gagal total.


Suka tidak suka. Shei harus terima.


Setelah berdiskusi meski berakhir sama. Shei langsung menuju kamarnya. Nenek Kartika juga pergi dengan izin untuk memeriksa kamar yang akan ditempati Rave.


Setelah mereka pergi, Ello langsung menarik Rave keluar. "Heh! Ada angin apa lo?! Bisa-bisanya lo mau nemenin Shei. Tinggal disini pula."


Datar. Itulah wajah Rave sekarang.

__ADS_1


"Lo... Rave yang gue kenal bukan, sih? Aneh. Serius. Hubungan lo.. sama Shei itu... ibaratkan pohon sama angin. Lo yang kokoh, cuek ajah sama Shei yang kayak angin kesana-kemari. Kenapa tiba-tiba?"


"Gue nggak bisa nolak permintaan omah Kartika."


"Sejak kapan hati lo ini jadi Razita? Huh?" cibirnya. "Apapun.... Nggak liat umur, status, jahat baiknya. Lo dengan gampangnya bisa nolak. Gue curiga,, jangan-jangan lo ada maksud lain sama Shei?"


"Berisik!" desisnya. Rave memajukan satu langkah agar lebih dekat dengannya, untuk berbicara. "Apapun kecurigaan lo itu terhadap gue. Lo yang tahu persis, tentang gue. Gue harap lo ngerti dan bisa nunggu."


Ello terdiam. Dia tahu persis tentang teman kecilnya ini. Rave tidak suka ada orang yang ikut campur dalam masalahnya dan tidak suka dipaksa. Dia harus menunggu untuk penjelasan Rave tentang semua ini.


Waktu itu. Saat Rave terjebak di rumah ini oleh nenek Kartika untuk makan malam bersama. Nenek Kartika terlihat senang karena bisa makan malam bersama dengan kedua cucunya di meja yang sama. Namun tidak dengan kedua cucu itu.


Selesainya.


"Sheila."


"Iyah, Omah?" Sheila yang baru saja selesai minum.


"Omah lupa belum minum obat. Kamu ambilin obat omah yah."


"Omah sakit?" Ada kecemasan dari Shei terhadap neneknya.


"Nggak."


"Tapi omah minum obat."


"Obat rutinan aja. Biar stamina omah kuat."


"Ohhh... Alhamdulillah kalau gitu." Shei bangku dari kursinya sambil berbicara. "Omah harus sehat. Siapa nanti yang jagain Sheila selain, Omah? Papah sama mamah pergi mulu."


Nenek Kartika hanya tersenyum, senang mendapat perhatian cucunya. Sedangkan cucu yang lain, yang begitu tanpa ekspresi, sibuk dengan dunianya sendiri setelah selesai makan. Shei pergi mengambil obat neneknya.


Tinggallah nenek Kartika dengan cucu yang begitu dingin disini.


"Nak Rave," panggilnya lembut Rave menoleh, menyudahi dunianya sendiri, menatap nenek Kartika. "Kamu boleh. Kamu mau tetap sendiri atau tinggal dengan keluarga kamu yang benar-benar masih ada. Omah nggak akan ngelarang, omah tahu kamu sangat mandiri dan bisa jaga diri."


Rave tersenyum meski tidak nampak oleh orang yang dihadapannya.


"... Tidak seperti adik kamu, Sheila. Dia harus dijaga, dan perlu perhatian. Tingkahnya berubah. Dia salah pergaulan. Omah, tidak tahu masalah apa yang dialaminya di sekolah. Dengan teman-temannya."


Perubahan raut wajah nenek berubah menjadi sedih. Rave menyadari hal itu. Rave tidak bisa berbohong, dia sedikit cemburu terhadap Shei. Memiliki nenek yang sangat memperhatikannya. Meski sebenarnya, nenek Shei adalah nenek Rave juga.


"Boleh omah minta bantuan sama kamu?" Rave tidak bisa menolak terhadap orang tua yang harus dihormati. "Omah akan pergi umroh. Dan Shei akan sendirian di rumah. Omah minta tolong sama kamu untuk temani adik kamu selama omah pergi."


Rave sedikit terkejut. "Tapi omah...--"


"Omah takut terjadi sesuatu sama Sheila jika ditinggal sendiri. Kamu bisa kan bantu omah? Omah juga berharap dengan kamu tinggal bersama adik kamu, bisa mempererat persaudaraan kalian."


"Omah..." Nenek Kartika meraih tangan Rave dengan erat, matanya begitu memohon.


Rave sangat ingin menolak. Tapi karena ini nenek. Rave akhirnya mengangguk pelan dengan perasaan ragu. Nenek Kartika tersenyum bahagia setelahnya.


Ello sudah pergi dari sini. Rave yang masih berada di luar, berdiri menatap ke depan dengan pikiran tentang keputusannya untuk tinggal di rumah ini bersama saudara perempuannya, satu ayah.


Semoga gue nggak nyesel sama keputusan yang gue ambil ini.


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2