Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 62 NHS


__ADS_3

Berlanjut....


Shei akhirnya keluar dari rumah setelah beberapa hari mengunci diri di kamarnya. Dia berjalan-jalan di sekitar lingkungannya untuk mendapatkan udara segar, mendinginkan pikirannya.


Ternyata Shei sudah lama tinggal di rumah neneknya hingga ia bersekolah di sana dan kini kembali ke Jakarta. Tentang sekolah di sana, meskipun sebenarnya Shei sangat nyaman tetapi apa yang dia lakukan karena surat-surat misterius membuatnya tidak bisa tenang untuk pergi ke sekolah. Haruskah dia pindah sekolah lagi, ataukah menyusuli orangtuanya ke Australia, pikirnya.


Orang tua dan neneknya pasti mengkhawatirkannya karena Shei mematikan ponselnya. Dia benar-benar tidak ingin diganggu. Mungkin setelah pulang dari sini, ia akan menyalakan kembali ponselnya.


"Hallo manis."


Langkah Shei terhenti, karena dia melihat seekor anak kucing yang lucu. Dia juga bermain dengan anak kucing itu. Tapi tiba-tiba dia ingat dimana Rave selalu memanggilnya 'Kucing'. Terkadang terdengar menjengkelkan jika keluar dari mulutnya lagi. Shei juga tidak tahu alasan sebenarnya Rave tinggal bersamanya saat itu.


"Hallo manis juga."


Deg!


Shei sangat terkejut sehingga dia menjauhkan diri dari orang yang baru saja dia lihat. Tubuhnya membeku sesaat, kakinya gemetar. Dia terlihat gugup tidak menyangka akan melihat lagi orang-orang yang dia takuti di sekolah lamanya, anggota geng NHS dan sekarang ada dua ketuanya secara bersamaan.


"Wah udah lama ya, kita nggak ketemu. Terakhir gue lihat lo... waktu lo dikeluarin dari sekolah."


Mereka adalah Bimo dan Yura, ketua geng NHS yang ditakuti oleh semua anak sekolahan.


"Tapi gue udah pernah ketemu dia, sih," lontar Yura. Bimo langsung menatap kearahnya. "Waktu itu dia datengin ke markas, dan nanyain rumor sendirinya yang nyebar di sekolah barunya itu, Bim. Dia kira itu ulah kita. Gimana? Udah ketemu pelakunya?"


Shei hanya diam, dia benar-benar gelisah. Jika ia takut kepada Yura sementara Bimo adalah orang yang paling ia takuti. Dulu, jika ia di luar sekolah ia selalu diminta untuk pergi bersama Bimo kemanapun. Selalu melihatnya, terus melukai orang-orang. Shei sangat takut.


"Gue denger... Sekarang lo sekolah di Bogor? Namanya... Gue lupa, Bakti.. SMA Bakti Nusa bukan?" Bimo tampaknya kesal melihat Shei yang hanya diam saja. "Kenapa diam?!" Shei dengan cepat mengangguk-angguk. "Gue nggak suka kalau orang cuman diam aja gue tanya. Lupa?!"


Shei menggeleng cepat. "Iiiyah, Kak. Aku... sekolah di SMA Bakti Nusa."


Tidak hanya Bimo dan Yura tapi anak buahnya juga ada di sana, mereka datang berombongan dengan motor masing-masing.


"Hah... Gue nyesel biarin lo keluar. Kalau bukan karen-ekhm!" Seketika Bimo menyamarkan suaranya, entah Kenapa. Shei yang langsung menatapnya curiga, tapi ia enggan untuk berbicara lebih. "Yaudah. Sekarang lo ikut gue!"


Shei menatap kejut, dengan gugup. "Mau kemana, Kak?! Ma-mau ngapain?!"


"Ikut aja! Nggak usah banyak tanya!" Shei menggeleng gelisah. "Gue nggak suka penolakan! Buruan!"


"Ng-nggak, Kak! Aku nggak mau! Aku udah nggak ada urusannya sama geng kalian!"


"Wih... Bagus-bagus! Ck! Lo udah berani sama gue??!" Pandangan Bimo terarah pada anak buahnya, menyuruh mereka membawa Shei.


Shei yang tahu itu segera pergi, tapi terlambat dia dihentikan oleh mereka.


"Mau kemana kamu?"


"Hahahaha...."


"LEPASIN! GUE NGGAK MAU IKUT SAMA KALIAN!" Shei memberontak. Dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya nanti. Ia tidak mau merasakan kesakitan seperti dulu lagi. "LEPAS! GUE NGGAK MAU!"


Sepeda motor yang dikenal banyak orang di kota Hujan baru saja tiba di lingkungan baru, Ello sudah masuk ke perumahan mencari rumah seseorang yang dia khawatirkan sejak kemarin, Shei.


Saat hendak memasuki jalan baru, tanpa sengaja ia melihat sekelompok anak muda seperti dirinya, sangat semrawut disana.


"Tcp tcp tcp... Siang bolong ginih, udah buat keributan."


Namun ketika hendak mencari lagi, penglihatan itu menemukan orang yang dicarinya berada di sekelompok anak muda di sana. Ello memutar matanya, khawatir. "SHEI?!" Ello segera memutar balik arahnya untuk menolong Shei yang sepertinya akan dibawa oleh orang-orang itu.

__ADS_1


"LEPAS!! LEPASIN!! GUE NGGAK MAU IKUT!!!!"


Mendengar pemberontakan Shei membuat Bimo semakin kesal, dia turun tangan untuk mencengkeram tangan Shei dengan kuat sampai Shei tidak bisa lagi mengeluarkan suara untuk memberontak. Shei meringis kesakitan pada tangan yang digenggam oleh Bimo.


"--Aahk! Le–lepasin, Kak!"


BLAM!


DEG!


"KETUA...!!"


"Lo baik-baik aja?!"


Semua orang kaget terhadap Bimo yang dipukul oleh seseorang yang baru saja datang. Orang itu segera menarik tangan Shei untuk bersembunyi di balik tubuhnya. Meskipun Shei terkejut kenapa Ello ada di sini, tapi dia masih gemetar ketakutan memegang lengan Ello untuk meminta perlindungan.


"Shei kamu nggak papa?" tanya Ello khawatir. Shei segera mengangguk dengan gugup.


"HEH! LO SIAPA DATANG-DATANG MAEN NONJOK?!" Kelakar Yura kepada Ello.


"Gue?" Ello menunjuk dirinya. "Gue... calon pacarnya!" Meski sebenarnya Ello sangat ingin mengatakan Shei adalah 'pacarnya'.


"Tck! Masih calon aja udah bangga!" sindir Bimo yang kembali bangkit menahan amarahnya.


"Yee biarin terserah gua!" timpal Ello. Lalu menatap cemas lagi pada Shei. "Ayok pulang."


"Mau kemana kalian?! Urusan kita belum selesai?!" cegat Bimo dengan itik-itiknya.


"Tapi gua nggak ada urusan sama tikus-tikus! Jadi, sekarang minggir!" harap Ello yang tengah menahan kemarahannya. Padahal ia sangat ingin memukul mereka semua yang telah menyakiti Shei.


"LO BILANG APA?!"


"HAJAR!!" Perintah Bimo pada anak buahnya.


"EH! EH! TUNGGU-TUNGGU DULU!" sosor Ello membuat mereka berhenti mendadak ketika hendak akan memukulinya. Sementara Shei, ia malah jadi kebingungan melihat sikap Ello, dia sedang bercanda atau serius, sih! "Pengecut kalian! Kalau mau satu lawan satu!"


Sadar diri. Ello akan langsung K.O, karena lawannya berjibun-jibun.


"HALAH! Nggak usah didenger! HAJAR!" erang Bimo.


YAAAAATH


Shei segera menghindari perkelahian itu dengan panik, dan Ello dengan cepat memundurkan langkahnya menghindari serangan mereka.


Yura segera menghampiri Shei dan membawanya ke Bimo, meski Shei memberontak tapi tidak ada hasilnya. "Lepasin, Kak!"


"Bim..."


Bimo menyeringai bisa melihat lagi wajah cantik Shei. "Shutt! Diem! Lo hanya milik gue! Jadi, siapapun yang mau rebut lo dari gue, gue bakalan hajar!"


Shei sedikit tersedu-sedu, khawatir Ello takut terjadi sesuatu, karena dia memiliki lebih banyak lawan. Satu lawan tiga, apalagi jika nanti Bimo bergabung. Habislah.


Maafin aku, El. Dalam hati Shei.


Ello lebih banyak menghindar daripada menghajar, dia merasa sulit untuk mengalahkan tiga orang sekaligus. Ia sangat menyayangkan kenapa ia malas berlatih bela diri dengan Paman Haris, ayah angkat Rave. Jika dia berlatih dengan serius seperti Rave, dia mungkin bisa melawan mereka dengan mudah.


"Akh!"

__ADS_1


"EL....!" teriak Shei cemas melihat Ello mendapat pukulan dari mereka.


Ello mengerang, ia tidak boleh kalah, dia harus melindungi Shei.


Vroom! Vroom! Vrom!


"AaaAh!"


Lawan mundur, menghindar dari keberadaan Ello karena tiba-tiba sebuah motor cross menghalangi. Sontak ada senyum harapan bagi Ello dan Shei. Mereka berdua tahu siapa 'mereka'.


Alvin dan Rave.


Rave yang duduk di belakang motor karena Alvin yang mengendarai motornya kali ini. Rave langsung turun dan berjalan dengan gagah berani dan tanpa rasa takut ke arah orang-orang, melemparkan helmnya ke salah satu dari mereka dan langsung menendangnya ke tanah. Dan dua yang lain dengan mudah dilawan begitu cepat sehingga mereka terkejut tidak percaya, bagaimana wanita ini bisa begitu pandai berkelahi.


"Pthh! Lo kenapa? Hahahaha..." ledek Alvin melihat keadaan Ello yang memprihatinkan.


"Sialan! Bantuin gue dulu, berdiri!" Alvin yang masih tertawa segera membantunya. "Gue cuman pemanasan doang, tadi." protes Ello. Malu, lah.


"H-Heh! Cewek jadi-jadian!" sembur Bimo kepada Rave. Rave yang mendengarnya sedikit kesal begitu juga dengan Alvin yang disana mendengar pacarnya disebut 'gadis palsu' tentu saja Alvin juga marah. "Lo siapa, huh?! Mending minggir, deh! Cewek kayak lo bukan tandingan gue!"


"Oh. Bukan ya?" polos Rave bertanya. Seakan dia tidak mampu melawannya.


"BRAVE HAJAR AJA!" teriak Ello bersorak. "Biar tahu siapa lo!"


"Rave, nggak usah dilawan! Berdamai aja!" sambung teriakan Alvin yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ello.


"Hajar, lah! Damai, damai! Bacot! Dia mau nyulik, Shei!" sungut Ello tidak terima.


Pritt Pritt!


"Hei! Kalian...! Yang disana! Kenapa ribut-ribut disini, huh?!" Akhirnya ada orang tua yang datang untuk menghentikan perkelahian ini. Satpam di lingkungan disini tiba untuk melerai anak-anak muda ini. "Kalian berdua kenapa ribut-ribut disini?!" Menatap Alvin dan Ello membuat mereka semua terheran.


"Yang ribut disana, Pak! Bukan saya sama temen saya ini!" protes Ello.


"Bener, Pak. Bukan kita," sambung Alvin.


"Mereka mau nyulik calon pacar saya, Pak! Tuh..." Ello menunjuknya.


Satpam itu menghela kesal, mengurus keributan anak muda sangatlah melelahkan. Apa-apa saja direbutkan. Cewek pun dipeributkan. "Kalian semua lebih baik bubar! Kalau tidak, saya akan panggil polisi karena sudah mengganggu kenyamanan orang-orang yang tinggal disini!"


Bimo, Yura and the geng. Mereka bubar dengan kekesalan. Terpaksa kali ini mereka mundur daripada mereka berurusan dengan polisi. Menyebalkan. "Urusan kita belum selesai!"


"Sana....! Urusin dulu hidup lo, jangan maen ngurusin orang!" ledek Ello mendapat kemenangan. "-Aaw!" Terlalu bersemangat ia malah meringkis kesakitan karena wajahnya sedikit babak belur.


"Lo nggak papa?" tanya Rave kepada Shei.


Shei mengangguk. "Makasih."


...🌸...


...Ada apa gerangan Rave dan Alvin berada disini Apakah seperti Ello...


...Pengen buat alur action tapi nggak mau terlalu serius juga untuk saat ini, sedikit berkomedi biar nggak tegang-tegang amat wkwk...


...Author jadi ngakak juga sama karakter Ello jadi lebih ngelawak :D...


...Nggak papa yah El. Masak harus Alvin atau Rave. Karakter mereka tidak mendukung heheh...

__ADS_1


...✨...


__ADS_2