Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 71 Smell


__ADS_3

"Omah... mereka pacaran...." adu Shei lalu menatap Alvin dan Rave bergantian.


"Iyah, Omah. Ternyata mereka pacaran dari SMP, dan El sendiri, sahabat Rave nggak tahu sama sekali soal ini," adu Ello selanjutnya kecewa.


Shei dan Ello merasa dikhianati oleh hubungan Alvin dan Rave. Sejauh ini mereka berpacaran dan hubungan mereka sudah lebih dari dua tahun? Menyedihkan! Ello baru tahu sekarang. Ello lebih dikhianati daripada Shei oleh mereka.


Alvin dan Rave hanya duduk mendengarkan keluhan dan aduan Shei dan Ello kepada nenek Kartika. Dan nenek Kartika hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah Ello dan Shei yang mengadu.


"Terus, kalian berdua kenapa ngadu ke, Omah?" tanya nenek Kartika.


"Yah...." ucap Ello dan Shei bersamaan ketika hendak menjawab tapi mereka tidak tahu akan menjawab apa.


"El merasa dikhianati, Omah. Sama mereka berdua," adu Ello menatap tajam kepada Alvin dan Rave kemudian.


"Kalian ini," ucap nenek Kartika menghela nafas. "Sekarang kalian udah tahu, kan? Rave dan Alvin pacaran dan kamu Sheila, kamu udah pacaran sama Ello." Mereka berempat menganggu bersama. "Yaudah. Apa yang harus diributin? Omah ngantuk mau tidur. Kalian berempat jaga hubungan kalian itu, Nak Alvin, Nak Ello, jagain cucu-cucu omah."


Alvin angguk disusul oleh Ello yang masih kecewa. "Malam, Omah."


Nenek Kartika pergi meninggalkan anak-anak muda di ruang tamu.


Rave pun bangkit. "Gue pamit pulang."


"Biar aku anter. Kamu kan nggak bawa motor," tukas Alvin.


"Nggak usah. Gue bisa naik angkot," tolak Rave.


Ternyata mata Ello dan Shei tertuju pada bagaimana hubungan Rave dan Alvin bisa bertahan selama itu. Rave, yang tampaknya tidak pernah menunjukkan kepedulian untuk berkencan dan hanya tahu tentang masalah anak nakal, dan Alvin, yang peduli dengan aktivitas siswa dan mata pelajaran di sekolah. Ternyata mereka saling menyukai dengan sisi karakter yang berlawanan. Ello dan Shei masih tidak percaya.


Tapi Ello dan Shei menyadari keanehan ketika Alvin dan Rave saat liburan kemarin. Alvin dan Rave terlihat mencurigakan, ternyata jawabannya adalah ini. Mereka berpacaran.


"Biar gua yang anterin Rave," ucap Ello. Lalu ia menatap pacarnya. "Shei, aku pulang ya. Makasih buat hari ini, aku seneng. Salam buat omah."


Shei tersenyum angguk. "Makasih juga."


"Gue pulang dulu," ucap Rave dan Alvin mengangguk. "Shei, salam buat omah."


Shei angguk.


"Hati-hati," kata Alvin. "El jagain pacar gua!"


"Oh sekarang terang-terangan ya?" ledek Ello.


Alvin hanya terkekeh mendengarnya. Apa yang selama ini impikan akhirnya terkabul. Alvin bisa terang-terangan mengatakan bahwa Rave adalah pacarnya. Setelah Ello dan Rave pergi. Alvin ikut pamit pulang.


"Kalau gitu, gue pulang juga. Malam..."

__ADS_1


Shei melambaikan tangan kepada Alvin yang pergi.


Apa yang terjadi hari ini. Begi keempatnya adalah sebuah kejutan yang tidak terduga-duga. Mereka sama-sama berpacaran dengan teman semasa kecil pacarnya.


...****************...


Sebuah dering telepon terus terdengar.


"Nggak diangkat?"


Ghesa menggeleng. "Biarin aja. Karena apa yang gue lakuin sama kalian karena udah kehasut sama dia."


Ghesa sudah menyadarinya. Dia telah dihasut oleh Lisa, saudaranya, yang bersekolah di Nusantara High School. Mengatakan bahwa Shei seorang pembully, ketua geng, gadis murahan, dan rumor yang tidak mengenakkan untuk Shei. Dan Ghesa termakan dengan kata-kata Lisa apalagi saat menyangkut pautkan Alya. Teman yang ia kenali. Sama-sama mereka kenali. Tentu saja Ghesa menjadi lebih percaya dan bukti-bukti yang dimiliki oleh Lisa yang diperlihatkan padanya.


"Gue nggak nyangka, kenapa Lisa ngelakuin hal ini ke Shei? Padahal mereka sahabatan, mereka deket banget, Shei percaya banget sama Lisa," ujar Alya.


Ghesa hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia rasakan adalah penyesalan, Ghesa benar-benar merasa bersalah. "Alya gue bener-bener minta maaf."


"Lo udah ngucapin itu berkali-kali, Ghes. Gue udah maafin lo."


"Tapi gue ngerasa bersalah benget sama lo. Apalagi sama Shei."


"Ghesa. Lo udah ngakuin kesalahan lo terhadap Shei. Dan Shei juga udah maafin lo. Jadi, lo nggak usah terus-terusan minta maaf. Lebih baik kejadian ini jadi pembelajar, dan jangan ngulangin kesalahan lo ini lagi ke Shei, ke siapapun itu."


Ghesa tersenyum bersyukur atas teman-temannya yang baik dan memaafkan atas kesalahannya. Dia memeluk Alya sebentar.


"Makasih, Alya. Gue bersyukur banget punya temen kayak lo, dan mereka."


Alya tersenyum senang mendengarnya. Seketika wajah Alya menjadi murung mengingat apa yang akan terjadi nanti setelah dia kembali ke sekolah. Karena kenangan terakhir di sekolah adalah aibnya yang bertebaran.


Ghesa menyadari perubahannya itu.


"Alya. Nggak usah khawatir.


...****************...


"Kenapa Ghesa nggak ngebales chat dari gue lagi, sih? Dia juga nggak ngangkat telepon gue, nggak biasanya," cemooh Lisa yang berada di suatu tempat dengan banyak lampu-lampu. "Gue udah bantu dia. Ngasih tahu tentang kebusukan Shei. Tapi kenapa dia nggak ngasih kabar ke gue?! Ini udah lama banget! Biasanya dia selalu cerita sama gue. Kenapa ini nggak?"


"Lisa. Kemana aja lo? Baru nampakin lagi lo disini." Lisa menoleh menatap tidak suka pada sosok laki-laki yang baru saja tiba, Bimo. Ketua geng NHS. "Mana pacar lo? Nggak diajak?"


Lisa hanya berdeham.


"Lisa, Lisa. Lo bener-bener." Ada seringai dan tawa dari Bimo sekarang. "Pantes lo nggak bersikap takut sama gue karena Si David nggak ada disini."


"Ngapain juga gue takut sama lo," dengus Lisa kepada Bimo.

__ADS_1


"Widihh.... Gue suka sikap lo ini. Tapi, satu hal yang buat gue nyesel karena bantuin lo," bisik Bimo membuat Lisa menatapnya heran tapi Bimo malah tersenyum dan bangkit enggan membahas hal yang ingin dia sampaikan itu. "Karena sekarang lo udah disini, gue bakal kasih tahu. Gue ketemu sama Shei."


"Dimana?" kejut Lisa.


"Di... daerah rumahnya." Bimo bermain-main dengan setiap kalimat yang ia ucapkan itu.


"Shei di Jakarta?"


Kenapa Shei nggak ngasih kabar gue kalau dia lagi di Jakarta? Batin Lisa


Bimo angguk. "Tapi sekarang gue nggak tahu dia masih di Jakarta atau dah balik. Dan lo tahu Lis! Gue udah dipermaluin sama temen-temennya dia! Apalagi cewek jadian-jadian itu!"


Cewek jadian-jadian? Temen-temennya Shei? Batin Lisa tidak mengerti.


Tampaknya Bimo sangat marah terhadap Shei dengan teman-temannya. Yang Lisa tidak ketahui.


"Gue nggak ngerti apa yang lo bicarain, Bim," ucap Lisa.


"Gue! Geng NHS. Yang terkenal di sejagat raya, lingkungan sekolah ibu kota! Kalah sama satu orang? Dan itu cewek jadian-jadian! Anj*ng!!" cecar Bimo.


"Hei! Bim! Tenang dulu!" lirih Lisa.


"Lisa!" Bimo menggertak membuat Lisa bergedik terkejut. "Masalah lo sama Shei udah nggak ada urusannya lagi sama gue dan geng NHS! Gue udah bantuin, lo. Dan sekarang giliran lo bantuin gua buat hajar balik temen-temennya Shei disana!"


Lisa terdiam mematung apa yang harus ia bantu terhadap Bimo dan gengnya. Tiba-tiba Bimo mengamuk tidak memberi penjelasan yang jelas membuat Lisa terheran.


"Lo tahu persis apa yang gue mau!" bisik Bimo begitu dekat dengan telinga Lisa. "Semua tentang Shei. Lo tahu!"


Lisa memang bukan anggota geng NHS. Tapi Lisa memiliki akses lebih dan lebih membuat geng seperti NHS ini dapat tunduk kepadanya dan Lisa sendiri tidak takut terhadap orang-orang macam mereka.


Derajat sosial? Tentu mempengaruhi semuanya.


...🌸...


...Api-api pertempuran telah terlihat!!...


...Kebusukan Lisa sudah mulai nih.... Tapi apa yah yang Lisa dan geng NHS sembunyiin??...


...Dan apa yang akan direncanakan oleh sekumpulan anak marching flower untuk menangkap pelaku dari semua masalah yang menimpa Shei??...


...Ikutin terus ceritanya ya guys ^^...


...Harapan author cerita ini nggak sampe 100 chapter lebih. Kepanjangan heheh...


...Semoga cepet selesai ya biar bisa lanjut ke Diary Of A School Series 3...

__ADS_1


...✨...


__ADS_2