
...Diingatkan kembali ini adalah memori masa lalu dan alur ceritanya akan mundur maju....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum kejadian bocornya ujian semester di Nusantara High School.
Lisa baru saja tiba dengan begitu riang berjalan menyusuri lorong sekolah. Namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya yang membuat perasaan itu tak terlukiskan. Shei bersama teman barunya, geng NHS.
Memikirkan bahwa Shei akan menjadi bagian dari geng jahat di sekolah ini. Tentu saja dia tahu kenapa. Shei bergabung dengan geng NHS untuk melindungi sahabatnya, Alya. Lisa cukup kesal karena pilihan Shei, melihat Shei yang lebih memberontak, tapi dia senang melihatnya. Di luar sepertinya dia memang bagian dari geng NHS tapi Lisa tahu, di belakang Shei dianiaya oleh geng tersebut. Karena itulah tujuannya.
Semua yang terjadi adalah ulahnya. Seolah-olah telah menjadi teman yang baik bagi Shei, Lisa menutupi kebusukannya karena suatu hal yang terjadi di masa lalu. Dan ternyata Shei tidak mengingat apa-apa tentang itu.
Geng NHS sangat ingin merekrut Shei karena Shei adalah siswa yang berpengaruh dan memiliki popularitas besar sebagai siswa di sekolah dan akan membuat nama geng lebih baik jika Shei bergabung. Tapi Shei yang keras kepala tidak mau, meski geng NHS terus mengejarnya tapi tetap saja gagal mengajaknya bergabung.
Kesempatan tiba untuk Lisa. Dalang awal di mana Alya yang saat itu selalu di-bully oleh geng NHS adalah karena usulnya. Lisa memberi tahu mereka bahwa Shei tidak akan membiarkan sahabatnya diganggu, dan mereka dapat menggunakan nama Alya untuk mengancam Shei.
Akhirnya. Shei ikut bergabung. Seperti apa yang Lisa katakan. Alya adalah prioritas Shei saat itu, Lisa sangat tahu persahabatan mereka sejak SMP.
Tapi apa yang dia rencanakan kurang dari cukup untuk membuat Shei menderita. Karena api cemburu pada Shei yang begitu dekat dengan David. Lisa tahu mereka berteman sejak kecil. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya. Dari kebencian, kecemburuan, dan kedengkian terhadap Shei ditambah dengan tekanan dari orangtuanya, membuat Lisa semakin buruk.
Shei, Shei, dan Shei lagi.
Lisa muak mendengar nama itu.
Suatu hari ketika insiden akan menjadi bumerang besar untuk salah satu siswa sekolah Nusantara High School. Dia tidak sengaja mendengar rencana geng NHS yang ingin membobol lembar jawaban ujian sementara kali ini.
Lisa memang murid yang tidak pernah takut, karena kekuasaan orangtuanya lebih besar dibanding dengan murid-murid lain yang lebih berkuasa di sekolah. Maka dari itu, Lisa sama sekali tidak takut terhadap geng NHS.
Kesempatan datang lagi, Lisa adalah bagian dari rencana mereka. Otak dari semua yang terjadi dari insiden tersebut. Lagi dan lagi. Lisa memberi celah bagi geng NHS untuk mendapat keuntungan tidak hanya bagi mereka tapi bagi Lisa juga.
"Kalian mau nyuri lembar jawaban ujian semester?"
Sontak membuat Bimo dan yang lainnya terkejut. Bimo and geng NHS. Hanya mereka anggota laki-laki tidak termasuk anggota perempuan seperti Yura and geng NHS.
"Lisa? Ngapain lo kesini, huh?! Mending lo cabut sekarang!"
Lisa menyeringai bukannya pergi tetapi dia semakin dekat dengan kerumunan geng NHS anak laki-laki.
"Kalian nggak takut apa? Yang kalian rencanain itu bisa buat kalian semua kena masalah. Mungkin kalian bisa masuk penjara."
"Bukan urusan lo! Cabut atau nggak--"
"Gue punya rencana yang lebih bagus, dibanding dengan rencana bodoh kalian itu," tukas Lisa.
"Maksud lo apa, huh?!" sungut Bimo bangkit. "Bilang rencana kita bodoh?! Berarti kita bodoh gituh, maksud lo?!"
Lisa bersikap santai tapi tidak dengan Bimo yang berkelut emosi. "Kalian nggak bisa bawa badan kalian itu buat nerobos sekolah, dan nyuri soal ujian. Nggak bakal lama dari itu, kalian bakal ketahuan."
Bimo dan yang lainnya terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Lisa itu ada benarnya. "Maksud lo ngomong gituh apa? Lo mau bantuin kita?"
"Mmm bisa dibilang gituh."
"Kenapa? Kenapa lo mau bantuin kita?" tanya Bimo penasaran. "Orangtua lo bangkrut, huh?!" Ada seringai dan tawa dari mereka membuatnya Lisa menatap malas.
"Gue bukan kalian yang ngelakuin hal bodoh kayak ginih buat nyari uang!" dengusnya.
"Terus apa?!"
"Lo mau tahu caranya atau nggak?" tukas Lisa segera untuk mengalihkan pertanyaan sebelumnya.
Dan saat itu, terjadilah malam sebelum ujian berlangsung besok.
Bimo memerintahkan seseorang untuk mengirim pesan ke Shei bahwa Alya sedang diganggu di gudang sekolah malam itu. Shei dengan cepat menjadi sangat terpengaruh dan segera berlari ke sekolah untuk membantu sahabatnya, yang sebenarnya tidak ada sama sekali.
Sementara tugas Lisa. Adalah membuat kebohongan untuk David. Walaupun sebenarnya Lisa menyukai David, tapi dia menyukainya hanya karena dia tidak ingin kalah dari Shei, kebenciannya memenuhi hatinya membuat cintanya pada David dia gunakan untuk membuat Shei menderita.
Dengan kebohongannya itu, Lisa mengatakan bahwa dia diancam oleh geng NHS untuk mencuri jawaban ujiannya, jika dia tidak memenuhi permintaan mereka, mereka akan menyakiti Shei atau tidak, keduanya.
__ADS_1
David pun percaya tentang apa yang dikatakan oleh Lisa. David begitu mencemaskan mereka berdua, yang merupakan sahabatnya. Terlalu cepat mengambil keputusan, David yang menggantikan Lisa untuk mencuri soal ujian tersebut.
Dan malam itu, David dan Shei, sama-sama ke sekolah dengan tujuan yang berbeda. Tapi dengan ulah seseorang yang sama.
Besoknya, saat hari ujian tiba.
Upacara bendera berlangsung, Lisa tidak melihat tanda-tanda Shei ke sekolah. Tapi setelah selesai, ternyata Shei hanya datang terlambat.
"Shei, lo kemana aja?"
"Shutt! Jangan keras-keras, nanti gue ketahuan kalau gue nggak ikut upacara," bisiknya. "Babu babu mana? Hah?"
"Ke toilet dulu barusan."
"Nggak guna banget punya babu. Yaudah ayok cabut."
"Kemana?"
"Ke kelas lah. Kan mau ujian."
"Masih lima menit lagi, mending ke kantin dulu."
"Ke kantin? Ayok. Lagian perut gue belum diisi juga, nanti bisa nggak konsen gue ngisi soal."
"Oke deh! LETGO!"
Lisa menyeringai senang, menyembunyikan semuanya dari Shei yang akan terjadi padanya nanti. "Shei, Shei! Si Babu malah ada di kantin, pacaran."
"Wah kampret tuu anak!"
Pandangan Lisa sudah menemukan manik David, mereka saling bertukar pandang, berusaha untuk bersikap biasa atas apa yang mereka lakukan kemarin malam.
Segera Shei menghampirinya, menatap tajam manik Babu itu, tapi yang mendorongnya keras oleh Lisa. Shei tertegun melirik ke arah Lisa, Lisa kembali melirik ke arah Shei. "Tunggu apa lagi?"
"Ah iiyah. Babu! Babibubebo! Ngapain lo disini pacaran sama dia?"
"Jangan pacaran sama dia! Dia itu miliknya..." Seketika perkataan Shei berhenti, dia sedang berpikir sambil melirik sahabatnya, Lisa.
"Mbak Lastri," bisik Lisa.
"Nah iyah Mbak Lastri yang punya warung di pengkolan ojek. Lo tahu, kan?"
Alya mengangguk.
"Nah bagus kalau lo tahu. Jangan deketin dia, nanti sama Mbak Lastri lo bakalan dipe--"
"AaaAaaaw!" Ringkis Shei, sosok David ada disini, memilin telinganya Shei.
"Bener-bener lo itu nggak punya akhlak kalau ngomong! Siapa yang ngajarin?"
"Li-Lisah--Aawwhh!"
"Loh? Lok jadi ke gue, sih?" kelakar Lisa. "Permisi calon ketos, permisi Babu, saya izin undur diri. Assalamu'alaikum."
"YA LISA! JANGAN KABUR! AaAaw sakit, sakit!"
Lisa pergi meninggalkan mereka di kantin. Dan ternyata ia pun bertemu dengan Bimo dan gengnya NHS. Menatap dengan cara yang sama, dengan satu pemikiran yang sama. Soal ujian.
"Anak-anak letakkan kembali alat tulis kalian, kalian tidak usah lagi mengerjakan ujian sekolah ini."
Peperangan pun dimulai.
"Wah seriusan, Pak? Nggak usah dikerjain nih?"
"Bapak beneran ini?"
"Emang kenapa, Pak?"
__ADS_1
"Kalian tidak usah berpura-pura, bahwa kalian juga sudah tahu. Semua soal beserta kunci jawaban bocor."
"Kok bisa, Pak?" tanya Lisa seolah-olah tidak tahu apa-apa.
"Sekolah sedang menyelidikinya."
Murid-murid menjadi ricuh atas masalah yang terjadi ini.
"Sheila," panggilnya.
"Iyah, Pak?" Shei segera menjawabnya.
"Ikut saya keluar sebentar."
Shei memberikan raut wajah yang bingung. Semua orang menatap ke arahnya. "Baik, Pak."
"Shei ada apa?" bisik Lisa. Shei menaikkan bahunya tidak tahu dengan perasaan yang gelisah. Lisa menyenderkan punggungnya ke kursi, merasa bebannya telah hilang seketika. "Selamat tinggal Shei."
Dikeluarkannya Shei dari Nusantara High School karena telah ditetapkan bersalah karena telah mencuri kunci jawaban. Setelah perpisahan dengan Shei saat itu. David dengan wajah penuh emosi, Lisa menyadari itu. David pergi dengan tergesa-gesa, dia mengikutinya karena takut David akan melakukan sesuatu untuk mengungkap rahasia ini.
Ternyata David menemui Bimo yang tengah bersenang-senang bersama gengnya. David mengamuk disana.
"GARA-GARA LO TEMEN GUA DIKELUARIN DARI SEKOLAH!"
"David... tenang," ucap Lisa khawatir.
"APA MAKSUD LO, HUH?!" Bimo bangkit tidak kalah emosinya dari David.
"GUE TAHU RENCANA BUSUK LO SAMA GENG LO INI! LO NGANCEM LISA! NYURUH DIA BUAT NYURI KUNCI JAWABAN!"
Terlihat emosi Bimo meredup dengan santai. "Terus kalau iyah, kenapa? Lo mau ngasih tahu orang-orang? Guru? Kalau Shei bukan pelakunya? Tapi.... lo, David!"
David tertegun, dia menelan ludah kasar. Bagaimana bisa Bimo tahu bahwa dirinya terlibat dalam pencurian itu.
Bimo berjalan berputar, mencoba mempermainkan kejadian ini, memutari David. "Kira-kira. Reaksi orang-orang bakalan gimana ya kalau murid calon ketua OSIS ini,, adalah pelaku sebenarnya. Yang udah nyuri jawaban semester ini?"
"Gu-gue nggak peduli! Karena gue nggak salah! Itu karena ancaman lo mau nyakitin temen-temen gua!" bantah David.
"Hahaha... David, David! Tolol banget! Lo ada buktinya?"
David bisu.
"Gue yang punya buktinya," lanjutnya. "Harusnya lo berterima kasih sama gue, karena gue, lo keluar dari masalah ini!"
"Tapi Shei yang kena imbasnya!" hardik David.
Bimo berdecak pinggang kesal. "Nggak ngerti-ngerti juga, lo!" Bimo menepuk pundaknya. "Vid. Kalau nggak ada Shei, ataupun gue. Lo yang bakal kena! Lo mungkin bisa dipenjara, ataupun sama persis kayak Si Shei dikeluarin dari sekolah. Tapi gue jamin, reputasi lo sama keluarga lo bakalan hancur lebih dari apa yang dirasain Shei. Karena lo anak dari seorang pejabat yang berbuat kriminal, pelaku sebenarnya? Bukan begitu?"
David mengepalkan tangannya, geram. Ia mati-matian menahan emosinya.
"Apa yang mau dilakuin itu harus penuh rencana matang-matang. Jangan gegabah. Lo jadi nyesel bantuin Lisa? T'ck, sabar! Gue tahu, sekarang lo lagi kebingungan. Antara laporin kejadian yang sebenarnya atau Shei yang tetap jadi kambing hitamnya. Tapi gue saranin, lo mendingan tutup mulut. Karena akhirnya bakalan reputasi kekuarga lo yang kena. Seluruh masyarakat bakalan tahu apa yang udah dilakuin oleh anak seorang pejabat ini!"
Bimo merasa menang, dia lebih diuntungkan dengan rencana Lisa. Bimo tidak salah mengikuti rencana yang diberikan olehnya. Meskipun dia tidak begitu tahu mengapa Lisa melakukan ini, mengorbankan teman-temannya. Tapi bagi Bimo juga tidak masalah, karena dia sangat diuntungkan dari uang hasil penjualan kunci jawaban. Dan dia tidak akan terseret ke dalam masalah ini. Karena tidak ada bukti-bukti.
Lisa.
Lisa tidak salah bekerja sama dengan Bimo yang pandai memainkan peran dalam masalah ini. David dapat bungkam, dan tidak akan berani memberitahu orang-orang yang sebenarnya. Karena dia juga terancam dengan statusnya sebagai anak dari seorang pejabat.
Menendang Shei dari sekolah. Adalah akhirnya.
Tidak ada lagi Shei, berarti tidak ada lagi pusat perhatian padanya.
Tapi waktu terus berjalan, memberitahunya bahwa Shei telah kembali ke sekolah. Mendengar itu di sekolah baru, bukan hanya Shei tapi Alya juga ada di sana. Dan mereka sama-sama ekskul marching band. Lisa berpikir bahwa mereka seharusnya tidak bahagia di sekolah karena mereka telah melepaskan masalah masa lalu mereka. Membuat Lisa kembali melakukan sesuatu untuk mereka meskipun perbedaan sekolah bukanlah masalah.
Dan sesuatu yang menjadi keberuntungan, di mana ada seseorang yang ia kenal di SMA Bakti Nusa.
...🌸...
__ADS_1