
"Makasih semuanya, kalian udah kerja keras buat ekskul ini. Dan besok jam istirahat kedua kita kumpul lagih disini. Oke."
"Siap Kak Faby...."
"Udah mau malem, kalian langsung pulang besok sekolah."
Satu persatu anggota marching band sudah pulang, meski dari pagi hingga sore semangat mereka masih terlihat. Namun ada juga beberapa anak yang kelelahan.
"Sheila. Kamu pulang sama siapa? Sama gue aja yah."
"Jangan Shei, sama gue aja. Naik mobil."
Dua anak laki-laki itu memiliki keberanian berbicara kepada Shei. Tentu tidak salah lagi mereka tingkat tiga. Mereka ribut mengajak Shei untuk pulang bersama.
"Makasih. Gue bisa pulang sendiri," sahut Shei.
"Lo tadi berangkat sama gue, pulangnya juga harus sama gue," sosor Ello.
"Maen nyosor aja lo. Shei itu mau pulangnya sama gue."
"Hei Man! Sheila mah mau sama gue, naek mobil. Naek motor kayak kalian mah nanti dia masuk angin. Ya kan Shei?" Seketika mereka bertiga menoleh ke arah Shei menatapnya.
Shei terdiam dengan wajahnya yang datar.
"Kalian malah ribut! Belum tentu Shei mau pulang sama kalian bertiga huh?!" omel Feby, ketua beraksi. "Rave..." Rave yang hening tengah bersiap untuk pergi dengan motor cross nya itu, terpanggil. "Lo bisa anterin Shei, kan?"
Rave terdiam begitu tenang langsung melirik ke arah Shei yang tengah menyembunyikan keterkejutannya itu. Tidak lama, Rave pun mengangguk.
"Nah Shei lo bisa pulang sama Rave," lanjut Feby.
"Tapi..--" ucap Shei ragu.
"Naik," perintah Rave. Shei dengan ragu berjalan menghampirinya, Rave tahu itu dan segera memberikan helm padanya.
"Lah Feb! Kenapa jadi si Rave yang nganter Sheila," dengus tiga anak laki-laki termasuk Ello.
"Kalian bertiga mending anterin gue aja. Ahmad gue ikut lo yah."
"Yaelah, malah gue yang apes," cicitnya.
"Masak sama tetangga kelas ginih lo nggak mau anter sih."
"Yaudah ayok gue anterin."
"Nah gitu dong." Feby sumringah.
Tin...
"Kak Feb, duluan," pamit Rave sambil mengendarai motornya. Di belakang Shei sudah duduk dengan gugup.
"Iyah hati-hati kalian..."
Kemudian tidak lama dari itu, Ello pun berpamitan dengan ketiga kakak kelasnya tersebut.
Ello masih kesal karena dia tidak bisa membawa pulang Shei, meskipun dia berusaha mendekatinya. Setelah beberapa kilometer dari jarak sekolah. Dia tidak sengaja melihat punggung seseorang dengan ransel yang dia kenal tengah berjalan sendirian.
"Alya?" Langkahnya terhenti, begitu juga dengan Ello yang memberhentikan motornya. "Bener kan ini lo." Ello berseri.
"El?"
"Kenapa jalan sendirian? Bahaya loh." Alya tersenyum, sedikit senang mendapat perhatian. "Ayok naek. Gue anterin."
"Nggak usah, El. Makasih."
"Nurut aja. Buruan, gue takut."
Kata-kata itu membuat Alya kebingungan. "Takut kenapa?"
"Takut kalau ada orang yang culik cewek cantik kayak lo ginih." Alya tertawa kecil mendengar lelucon itu. Ia tahu sikap Ello yang sering menggoda gadis-gadis. Dia juga tahu bahwa Ello adalah logo kelinci. "Yaudah ayok."
Alya masih dengan senyumannya tadi, ia pun tidak bisa menolak ajakan pulang dari Ello. Menghemat waktu dan uang, pikir Alya.
...****************...
__ADS_1
Sheila duduk di belakang dengan perasaan tidak tenang. Dia sangat gugup saat bersama Rave. Yang dulu pernah membantunya, dan Sheila sangat malu dengan perubahan sikapnya terhadapnya.
Whooooosh!
Whoosshh!
Motor dari sisi kanan dan kiri melintas dengan cepat mencoba menyerempet motor kami. Beruntungnya Rave tidak kehilangan keseimbangannya, dan Sheila sangat terkejut.
"Oy berhenti lo!" hardiknya.
Sisi mata Rave berubah menjadi tajam karena orang-orang itu. Namun Rave tidak mengikut. "Pegangan." Shei segera mencengkram erat, berpegangan pada sisi jaket yang Rave kenakan.
Vrom...
Dan orang-orang itu mengejarnya setelah Rave menancapkan gasnya.
...****************...
"Libur ginih, nggak satupun yang ngajak gue maen."
Dia mengerut dada sedih. Berjalan sendirian sedari tadi untuk membebaskan diri dari kejenuhan di rumah. Sahabatnya pun sedang sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler barunya, Shei. Meski dia tidak tahu apakah Shei menganggapnya sahabat atau tidak. Tapi dia menerimanya.
"Gue ke taman aja deh. Moga aja gue bisa liat kucing lucu." Dia berjalan di atas trotoar yang akan menuntut ke arah taman kota, sambil minum susu kotak.
Ia sudah memasuki taman kota, tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat seekor kucing berwarna moca. Sangat imut. "Hai empus." Dia mengelus-elus, kucing itu merasa nyaman. "Nama gue Joy. Nama lo siapa? Moka? Empus?"
Meong...
"Oh lo suka gue panggil Empus? Berarti lo betina yah."
Meong!!
"Ouhiuh!" kejut Joy, dimana kucing itu meraung garang dan melarikan diri. "Aish dasar galak amat. Apa tersinggung ya gue bilang dia betina? Berarti dia laki dong."
Joy pun berdiri, hendak kembali berjalan, pandangannya menemukan sosok yang ia kenal. Teman sekelasnya, Ghesa yang mengobrol dengan beberapa orang-orang disana.
"Ghesa lagi sama siapa? Samperin ah."
Ghesa mengobrol dengan beberapa teman perempuannya yang berbeda sekolah. Tiba-tiba saja ada suara yang tidak asing memanggil namanya.
"Lo ngapain disini?" tanya Ghesa kepada Joy.
"Jalan-jalan," jawabnya sambil berseri.
"Sendirian aja?"
Joy angguk.
"Ghes, kalau gitu kita duluan yah."
"Ohiyah."
"Lo lo pada mau balik? Karena gue? Sorry deh."
"Nggak, kok." Kata temannya Ghesa. "Temen lo lucu juga, Ghes." Joy yang mendengar pujian sangat senang. Sementara Ghesa tersenyum kecut. "Yaudah, duluan... dadah."
Ghesa melambaikan tangan kecil sambil tersenyum diikuti oleh Joy, meski dia tidak kenal dengan teman-temannya Ghesa tadi.
"Eh lo mau kemana?"
Melihat Ghesa yang ikut beranjak setelah teman-temannya pergi.
"Mau balik juga lah."
"Mending disini dulu, deh. Sekalian makan malam. Gue traktir."
"Mm. Oke."
...****************...
Vroom Vroom Vrom
Shei benar-benar ketakutan, dia tidak berharap motor ini terjatuh. Dia tidak mau jatuh dari motor. Mengerikan.
__ADS_1
Tiga motor yang mengejarnya mengambil arah lain, Rave mengira mereka lolos dari kejaran orang-orang itu. Tapi sepertinya itu belum berakhir. Rave mengerem ketika orang-orang itu sudah berada di depannya, menghalangi jalan.
Rave membuka helmnya, tampak ada emosi dibaliknya. "Tunggu disini."
Shei menurut.
"Mau apa kalian?" lirih Rave, yang sudah berdiri berhadapan dengan orang-orang itu, yang ia kenali. Mungkin mereka ingin balas dendam karena Rave selalu menggagalkan dalam aksi mereka, mereka berandalan dari sekolah lain.
"Gue nggak suka kalau lo selalu ikut campur sama geng gue! Lo jangan urusin kita deh, urusin aja yang lain atau sekolah lo itu."
"Ngapain ngurusin sekolah orang."
"Kalau kalian pada nggak ngusik orang, gue juga bakalan diem," sahut Rave tenang. "Ah oke gue kasih saran. Lo cari tempat yang nggak bisa gue temuin. Beres."
"Ngapain lo ngatur? Kita kita pada nggak bakalan tunduk sama cewek kayak lo."
"Yah gue nggak maksa. Itu urusan kalian."
Rave berbalik menuju motornya.
"Me... mereka nggak bakal ngapain-ngapain kita, kan?" tanya Shei, khawatir.
"Nggak bakal."
"Woy Rave! Jangan kabur! Gue belum selesai ngomong! Beresin dulu nih...."
Rave yang sudah berada di atas motor tidak merasa takut sama sekali untuk orang-orang itu, tapi justru sebaliknya bagi Shei.
"ANJ*NG LO RAVE!"
Bom!
Salah besar. Mereka membangun singa dengan kata-kata kasarnya. Rave sangar benci dengan itu. Tampak lebih jelas api darinya, membuat mereka menciut gelisah dan berwaspada.
Sebelum ada perkelahian, Shei menghentikan Rave. Dia berusaha menahan Rave agar tidak kembali mendatangi orang-orang itu.
"Jangan."
Rave menghela kasar, rasanya sangat ingin menghajar mereka. Namun melihat Shei yang khawatir, Rave berusaha menahan emosinya.
"Ho ho siapa yang kita liat? Wah nggak salah nih. Murid baru Baknus yang buat heboh di sekolah lain. Ternyata bener, cantik juga."
"Primadona Baknus, Broh."
Dia mengangguk-angguk. "Gue lupa. Siapa namanya?"
"Sheila bos."
"Ah iyah yah gue inget."
Rave menyadari perubahan Shei yang semakin takut, karena Shei memegang lebih erat tangannya.
"Wedeh... yang satu pahlawan yang satunya nakal hahahaha lucu juga kombinasi kalian. Oh atau jangan-jangan lo diancem sama si Rave?"
"Kasian amat."
"Kita pergi sekarang," kata Rave pada Shei. Mencoba untuk tidak mempedulikan perkataan mereka itu.
"Gue kenal sama geng lo di sekolahan lama lo itu. Nusantara High School. Yura sama Bimo kan ketuanya."
Perkataan mereka membuat Shei terpengaruh kembali. Shei berkeringat dingin.
"Denger-denger lo di keluarin dari sekolah karena nyuri jawaban Ujian Semester terus lo jual. Dan lo juga...." Tiba-tiba ada sesuatu di balik kata-kata terakhirnya. Dia menyeringai pada lekuk tubuh Shei. "Gue bisa bayar lo berapa hum?"
Sudah keterlaluan.
Rave tidak tinggal diam, dia segera berjalan dengan memburu. BUGH! Pukulan mendarat pada wajah laki-laki itu sampai tersungkur.
"--akh!"
"Sekali lagi gue denger kata sampah dari mulut lo itu. Gue jamin, lo bakal ada dibalik jeruji."
Mereka membeku. Kembali menyesal karena berurusan dengan Rave.
__ADS_1
Rave kembali ke tempat motornya, berusaha agar tidak membuat Shei semakin takut. Mereka berdua telah pergi dari tempat ini.
...🌸...