Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 57 Dies Natalis


__ADS_3

Tak jauh dari sana, Ello dengan setelah jersey tim futsalnya menatap kemeriahan lapangan voli bersama yang lainnya untuk mendukung pertandingan voli tim kelas mereka. Setelah selesai bertanding futsal karena kemarin tim futsal mereka menang masuk babak selanjutnya, dia segera kesini untuk melihat Shei. Tatapannya terus tertuju pada Shei yang bermain dengan semangat hingga senyumannya mereka ketika mereka mencetak nilai.


Alvin pun sama dia menatap pacarnya di lapangan yang bermain voli untuk kelasnya. Dia tidak bisa lepas memandangi Rave yang begitu keren menambah kecantikannya.


Namun terus terang, ada keanehan dari sikap Shei sejak kemarin di mata Ello maupun semua orang menyadari hal tersebut. Kemarin Shei tiba-tiba menjadi pendiam, dingin, tidak banyak bicara seperti saat pertama kali masuk sekolah ini. Tapi sekarang secara tiba-tiba lagi Shei sedikit ceria, baik hati, ramah dan banyak tersenyum. Malah sikap Shei yang sekarang membuat semua orang keanehan.


Pertandingan selesai tim voli putri bergegas keluar dari lapangan.


"Wii... ternyata lo nggak jago-jago amat main voli," canda Joy kepada Shei.


Shei tidak tersinggung tetapi malah tertawa bersama Joy. Meski sebenarnya Joy terkejut dengan sikap sahabat dekatnya ini, Alya pun sama merasakannya.


"Rave... lo keren banget! Kalau nggak ada Rave mana mungkin bisa menang," puji yang lain.


"Yealah puji gue juga dong. Udah usahain nih."


"Aduh bau keringat. Kan udah gue bilang! Gue nggak mau ikutan lomba-lomba kayak ginih."


Rave hanya tersenyum tipis melihat interaksi teman-teman sekelasnya.


"Udah ini lo istirahat. Lo harus jaga stamina buat lari estafet," kata Alvin dan dia mendapat anggukan dari Rave.


Semua orang telah bubar untuk kembali ke kelas. Disengaja atau tidak siswa Kelas Flower yang berpengaruh masih duduk di tempatnya seperti Shei yang merupakan siswa baru yang populer tetapi selalu mendapat rumor sebagai anak nakal dan pemimpin geng. Ello yang jago olahraga dan musik ini juga playboy dan punya banyak fans. Alvin yang pasti akan menjadi ketua OSIS selanjutnya dan merupakan pangeran sekolah. Rave, orang yang ditakuti semua anak. Joy yang selalu fashionable dengan pakaian dan baik hati. Kemudian Alya, seorang siswa teladan dan selalu tersenyum ramah.


Semua pandangan tertuju pada mereka dengan tatapan takjub. Visual mereka ketika dikumpulkan seperti itu bisa membuat orang terpesona.


"Woah gila! Liat ke sana... Itu anak-anak Flower Class, kan? Mereka Most Wanted semua! Lagi kumpul!"


"Gue kayak lagi baca novel fiksi remaja aja! Liat tokoh-tokohnya langsung!"


"Barisan Bunga, dong. Marching Flower nih! Kalau aja gue cantik, kaya, gue pengen masuk kelas sana, lah!"


"Cup cup cup sabar..."


"Pasrah banget hidup lo, Tong!"


Ketika anak-anak lain membicarakan mereka, ada Ghesa yang mendengar ketika dia melewati orang-orang yang bergosip tentang anak-anak kelas Flower. Dia melirik di mana mereka berada, sedikit cemburu mengapa dia pergi begitu saja. Dia kemudian melanjutkan berjalan pergi.


...****************...


Lisa sedang bersantai di rumah karena sekolah diliburkan setelah ujian. Memikirkan kembali saat itu ujian sekolah mereka dibatalkan karena kasus soal dan kunci yang dibocorkan oleh salah satu siswa yang mencurinya, yaitu Sheila. Temannya sendiri. Meski Shei membantahnya tapi CCTV membuktikan dia bersalah. Semua orang tidak percaya bahwa Shei melakukan kejahatan seperti itu, meskipun dia adalah siswa yang cerdas meskipun dia dianggap nakal sejak bergabung dengan geng NHS. Sangat disayangkan bagi semua orang yang menaruh harapan pada Shei untuk kembali seperti dulu, murid yang baik.


Lisa bermain dengan ponselnya dengan browsing media sosial. Dia tidak sengaja melihat salah satu postingan yang berteman di akun Instagram yang sedang bersenang-senang di acara sekolahnya. Sekolah tersebut SMA Bakti Nusa. Dia ingat bahwa sahabatnya juga pindah ke sekolah itu, Shei. Dibagikan poster peringatan hari jadi sekolah yang menginformasikan bahwa penutupan acara terbuka untuk umum dan mengundang beberapa penyanyi Indonesia.


Lisa juga ingin melihat akun Shei. Akun Shei masih sama, tidak ada postingan terbaru. Setelah kasus itu, Shei menutup-nutupi akun media sosialnya karena mendapatkan komentar jahat dan sampai sekarang dia masih belum membukanya kembali.


"Apa gue dateng aja ke acara sekolahannya Shei? Gue juga lagi libur sekolah ini. Hitung-hitung liburan kesana."

__ADS_1


"Tapi...."


"Waktu ketemuan itu... Kenapa Shei nggak cerita,, nanyain sama sekali soal Alya."


...****************...


Alya baru saja dari toilet, dia sedikit gugup karena sebentar lagi dia akan ikut lomba lari estafet bersama yang lain. Dia akan kembali ke kelas tetapi di jalan dia bertemu Ghesa.


"Alya..."


"Eh Ghes. Mau kemana?"


"Nemuin lo."


"Oh.. Ada apa? Sampai nyamperin kesini, di kelas kan bisa," kekeh Alya.


"Iyah sih gue mau sekalian beli minum tadinya. Ini... gue nemuin kunci loker di kelas. Gue kasih aja ke lo aja ya. Lo kan ketua kelas," ujar Ghesa sambil menyerahkan kunci loker yang dia temukan tempo hari.


"Ah... ketemu juga. Gue cari-cari.. Makasih ya, Ghesa," balas Alya merasa lega.


"Kunci siapa emang?"


"Kunci lokernya Shei. Lokernya kan rusak. Kasian, dia diteror terus harus buru-buru di kunci lokernya," tutur Alya memberitahu teman terdekatnya.


"Diteror?" kejut Ghesa. "Sama siapa?"


"Iya yah dong nonton. Gue bakal nyemangatin lo sama yang lainnya. Gue beliin minum nanti buat lo..."


Alya senang mendengarnya. "Makasih Ghesa. Yaudah gue ke kelas dulu."


"Oke."


Setelah Alya pergi, Ghesa melamun tentang apa yang baru saja dikatakan Alya padanya.


Shei diteror...


...• • •...


Di lapangan yang memiliki lintasan lari. Beberapa kelas sedang mempersiapkan lomba lari estafet. Mereka semua berada di posisinya masing-masing. Untuk kelas Flower ada Alya sebagai runner pertama, kemudian runner kedua yaitu Rave, kemudian Alvin sebagai runner ketiga dan runner terakhir adalah Joy.


Adapun Shei, dia bergabung dengan teman-teman lain untuk mendukung kelas Flower. Shei bersama Ello sekarang.


"Shei."


"Hum?"


"Nanti temenin gue ya buat latihan sama Fay."

__ADS_1


"Kenapa harus ditemenin? Nanti Fay marah lagi sama gue."


"Nggak bakalan. Gue kan nggak mau berduaan aja sama Fay. Temenin ya?" Ada tatapan harapan kepada Shei untuk menemaninya. Shei berpikir sejenak namun tidak lama dia menjawab dengan anggukan. "Makasih." Shei hanya tersenyum.


Bukanya tidak senang. Tapi anehnya Shei tidak membantah dulu percakapan ini tidak seperti biasanya. Ello sangat bertanya-tanya dengan perubahan Shei yang tiba-tiba.


1... 2... 3...


"ALYA... ALYA...."


"BURUAN ALYA! LEBIH CEPET!!!"


Alya berada di tempat ketiga sekarang sampai dia tiba di tempat Rave berada. Rave mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengejar lawannya. Tentu saja, bukan Rave, ia berhasil melewati kedua lawannya dan kini berada di posisi pertama untuk menuju ke jalur selanjutnya dimana Alvin sudah menunggunya tiba.


"WAAAAA......"


"RAVE! RAVE! GO GO RAVE!"


Seketika kelas Flower memiliki harapan kemenangan ketika Rave menyusul lawannya. Mereka dengan penuh semangat mendukung aset kelasnya, Rave.


"YAH! PAYAH LO RAVE! KALAU KALAH GUE ANCURIN MOTOR CROSS LO!" teriak Ello untuk meledeki teman kecilnya itu.


Shei yang mendengarnya tidak bisa menahan senyum. Sementara orang yang dicemooh sedang sibuk dengan lari mendengar hal menyebalkan itu dari Ello. Tentu saja Rave tidak mau diremehkan olehnya, ia langsung berlari semakin kencang hingga mencapai lane ketiga, ia menyentuh tangan Alvin. Seketika sentuhannya agak lama karena Alvin sengaja meraihnya sambil tersenyum lalu berlari untuk mencapai jalan terakhir.


Rave diam tentang apa yang terjadi sebelumnya, dia tersenyum tipis setelah itu. Karena mereka tidak pernah berinteraksi atau berpegangan tangan saat berada di keramaian sekolah karena mungkin orang akan curiga dengan hubungannya dengan Alvin. Apalagi salah satu gosipnya, Rave tidak percaya ada yang menemukannya dipeluk oleh seorang anak laki-laki di luar sekolah, jika Ello sudah terbiasa dan Rave curiga itu adalah Alvin. Tapi untungnya mereka tidak tahu siapa anak laki-laki yang dipeluk Rave. Begitu juga dengan teman kecilnya, Ello juga tidak tahu dan menganggap itu hanya gosip.


"ALVIN BURUAN VIN!!"


"AL AL AL AL...!"


Akhirnya Alvin sampai di lane terakhir dimana ia menyentuh Joy, Joy langsung berlari menuju garis finish. Jalan yang menentukan siapa pemenangnya. Namun yang dilihat orang, mereka geli dengan tingkah Joy karena memakai bondu bunga matahari yang menutupi seluruh kepalanya.


Jika tahu, Joy kalah taruhan dengan teman sekelasnya saat bermain game online sebelum balapan ini berlangsung. Dan jika kalah, ia akan mengenakan bondu matahari ini hingga upacara penutupan Dies Natalis. Hal sial bagi Joy adalah mengapa dia harus bertaruh lebih awal. Sehingga ia tak bisa mengenakan busana stylish saat upacara penutupan Dies Natalis. Bagaimanapun, pertunjukan akhir itu adalah inti dari semuanya yang ia tunggu-tunggu.


"WAHAHAHAGAHAHAH GILA ADA MATAHARI LARI-LARIAN..."


"MATAHARI NYA PUNYA KAKI, BRO!!"


Dan disana Joy sedang mengumpat terhadap orang-orang yang meledekinya.


Tapi berbeda untuk gadis-gadis yang menyukai Joy. Ikat kepala bunga matahari menambah manisnya Joy. Ya. Joy dicap sebagai anak yang manis.


Shei sangat terhibur dengan acara Dies Natalis ini, ini sangat menyenangkan karena di sekolah lamanya dia tidak bisa menikmatinya seperti ini dengan teman sekelasnya. Karena ia lebih menghabiskan waktu dengan geng NHS.


Apa gue harus ngehancurin acara sekolah yang nyenengin ini?


Shei dilema dengan pilihannya. Selama ini ia terganggu dengan surat misterius yang ia terima beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


...🌸...


__ADS_2