
Seluruh kelas bubar, Shei yang masih duduk di kursi paling belakang melihat kelas yang menghadapnya, Alya.
"El udah ngasih tahu lo belum?" Shei hanya angguk. "Nanti pak Satria juga bakal kesana ngecek lo."
Setelah Alya memberi tahu Shei, dia segera pergi tetapi sebelum pergi dia mendapat salam dari Joy. Alya tersenyum untuk membalasnya. Dan hal itu membuat Joy jantungnya terserang.
Shei sedikit terkekeh melihat kebahagiaan Joy karena itu. Sambil merapikan alat tulisnya, dia juga memikirkan kejadian kemarin dengan Alya di dekat toilet. Berpikir bahwa Alya sepertinya tidak mengerti surat yang dia katakan
Apa bukan Alya ya?
"Shei." Joy membangunkan lamunan Shei. "Lo emang mau apa?" Bertanya tentang apa yang dikatakan Alya barusan.
"Gue dihukum."
Joy mengingat-ingat kesalahan Shei. "Ah! Yang kemarin bolos itu. Disuruh ngapain?"
Shei angguk lalu beranjak. "Bersihin kolam renang. Gue duluan."
"Eh eh gue ikut." Joy langsung menggandengnya disaat Shei sudah berjalan.
"Mau ngapain?"
"Nemenin lo."
......................
Alvin menaiki tangga menuju tempat biasanya untuk menemui Rave. Mereka masih berada di lingkungan sekolah. Dia membuka pintu, menemukan Rave duduk di depannya. Alvin segera duduk disampingnya.
"Kamu nggak papa?" tanyanya khawatir setelah ia tahu tentang semua yang menyangkut kehidupan keluarga pacarnya. Rave hanya angguk.
Hening sejenak.
"Rave.... Soal itu, apa El udah tahu?"
"Dia tahu almarhum papa bukan papah kandungku. Tapi soal aku pernah ketemu sama omah, ayah kandung ku.... Pak Kevin..." Rave menggeleng. "Aku belum cerita soal itu."
"Kapan kamu mau cerita?"
"Dengan?"
"Adik kamu."
Rave diam.
"Apa dia juga nggak tahu soal permasalahan ini? Kalau dia punya kakak?"
"Kayanya. Gue juga nggak tahu. Apa dia tahu atau nggak kalau ayahnya pernah nikah sama ibu gue sebelum ibunya. Gue pikir lebih baik kayak ini. Dia nggak tahu."
"Bukannya lebih baik dia tahu. Dari pandanganku, dia pasti seneng punya kakak kayak kamu."
Rave menghela nafas. "Nggak semudah itu, Al. Buat nerima semua kenyataan. Gue masih benci."
__ADS_1
"Dengan ayah kandung kamu? Atau dengan adik mu?"
"Bukan keduanya. Tapi dengan kejadian ini."
......................
Hanya lima belas menit kemudian, Joy, yang membantu Shei membersihkan kolam renang di sekolah, sudah kalah. Dia kelelahan.
"Shei... hah... gue capek, gue istirahat dulu sebentar nggak papa?"
Shei tersenyum tipis. "Udah gue bilang, lo pulang aja nggak usah bantuin gue."
"Nggak bisa!" Joy segera berdiri tegak. "Sebagai sahabat lo gue harus bantuin lo dalam senang maupun susah. Tapi... gue istirahat dulu."
"Iyah sana," kekeh Shei.
Joy berseri segera meletakkan leaf skimmer alat menjaring kotoran di kolam renang. Dia berjalan ke arah tempat duduk untuk istirahat.
Shei masih sibuk menyikat tepi kolam. Sebenarnya dia sudah terbiasa menerima hukuman di sekolah. Itu jika dia bergabung dengan gengnya. Dimana untuk melakukan sesuatu yang begitu buruk. Meskipun Shei tidak pernah benar-benar mengotori tangannya untuk hal buruk itu, dia hanya mengikuti induknya. Dengan paksa dan tertekan.
Jika mengingat masa lalu di sekolah itu, Shei teringat Lisa dan David. Apakah terjadi sesuatu di sana, di antara mereka yang membuat mereka tiba-tiba menjauh darinya. Soal Lisa, dia adalah teman pertama Shei saat masuk SMA. Dia sangat populer, meskipun sedikit berani untuk membalas dendam pada sesuatu yang tidak dia sukai, tetapi dia baik dan tidak termasuk dalam geng manapun. Tidak sepertinya. Lisa dan David juga dikejutkan oleh sikap Shei yang berubah drastis saat mereka baru satu bulan duduk di bangku SMA dan bergabung dengan geng terkenal di sekolah.
Shei memiliki alasan tersendiri untuk hal itu.
"Sheila."
"Hum?"
"Menurut lo tipe Alya kayak gimana?"
"Yaaaa.... nanya doang. Kan lo cewek, mungkin bisa nebak."
"Mmm... Alya yah." Shei tampak berpikir, seolah-olah dia benar-benar berpikir keras. Lalu dia memeriksa penampilan Joy dari atas sampai bawah. Pemuda yang manis. Ada tawa kecil darinya. "Lo bukan tipenya."
Mata Joy membulat, tidak percaya. "Lo bukannya buat gue percaya diri malah buat down ajah."
Dan Shei terus tertawa meski tidak ada suaranya.
"Gimana udah selesai?" tanyanya pak Satria yang baru saja datang.
"Satu baris lagi, Pak," jawab Shei.
"Udah aja. Kamu rapihin lagi alat-alatnya, dan pulang."
"Beneran, Pak? Shei boleh pulang nih?"
Pak Satria tersenyum angguk.
"Makasih, Pak."
"Hem. Tapi jangan sekali-kali lagi kamu bolos lagi ya Sheila."
__ADS_1
"Iyah, Pak. Maaf."
"Yasudah."
"Makasih bapak yang baik hati...." ucap Joy membuat pak Satria menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan tingkah anak didiknya itu. "Ayo Shei, cuss pulang."
Shei segera merapihkan alat-alat yang dia gunakan tadi. Disimpannya ke tempat semula dan bergegas pulang bersama Joy.
...****************...
Ello berjalan dengan beberapa temannya menuju parkiran. Mereka berpisah setelah itu, Ello mengenakan helm dan menaiki motornya. Di saat ia akan melaju, dua teman sekelasnya melintas beriringan mengobrol. Mereka adalah Alya dan Ghesa.
Ello teringat percakapan Shei dengannya kemarin, dimana Shei menanyakan tentang alasan kepindahan Alya. Sebenarnya Ello juga tidak tahu karena dia tidak tertarik untuk mengetahuinya. Tetapi karena Shei, dia menjadi tertarik untuk mencari tahu. Dan berpikir bahwa Shei memiliki hubungan dengan Alya di sekolah lama mereka. Entah itu apakah hubungan keduanya baik atau buruk.
Ello segera menghidupkan mesin motornya untuk menghampiri mereka yang sudah keluar gerbang sekolah, dia menyapanya.
"Alya Ghesa..."
"Oh El, hei."
"Mau kemana?"
"Pulang. Ghesa mau ke kosan gue," sahut Alya.
"Oooh lo mau ke kosan Alya." Ello melirik Ghesa. "Ngapain?"
"Belajar bareng," jawab Alya lagi.
"Lo kenapa jadi ngepoin kita...." tuduh Ghesa.
"Nanya doang nggak boleh, huu! Bye gue duluan..." cicit Ello segera pergi dengan motornya. Ghesa dan Alya pun hanya bisa menatapnya heran.
"Nggak jelas," lontar Ghesa.
Dan tidak lama kemudian, kedatangan Shei dan Joy berjalan ke arah keberadaan Ghesa dan Alya yang belum kembali beranjak. Mereka saling pandang.
Shei menatap Alya, meski dingin. Tapi dia memperhatikan dengan perhatian untuk sahabat lamanya. Namun waktu dan peristiwa yang telah mereka lewati, telah mengubahnya. Alya pasti membencinya, pikir Shei.
Shei melewati mereka tanpa senyum, tidak merubah sedikit pun ekspresi wajahnya. Dingin dan acuh. Sementara Joy tersenyum pada mereka, menyapanya.
Alya terus memandangi kepergian Shei yang semakin jauh. Teman pertama dan menjadi sahabat sejak SMP dan setelah masuk SMA semuanya berubah. Sikapnya berubah, dan dirinya menjadi bahan candaan baginya bersama teman se-gengnya di sekolah sebelumnya. Sebagai Babu.
"Lo itu cupu! Gue nggak suka lo deket-deket gue lagi. Jadi gue harap lo pergi jauh-jauh dari gue, dan jangan sok kenal lagi sama gue. Ngerti?!"
"Tunggu." Alya menahannya, menatapnya sedih pada sahabatnya yang menjadi berubah. "Kamu kenapa jadi berubah ginih, Shei? Kamu tiba-tiba aja keluar dari marching band padahal kamu seneng banget jadi mayoret, dan malah masuk geng nggak baik. Kita udah sahabatan dari SMP. Kamu jujur sama aku, apa kamu... diusik sama gengnya Kak Yura?"
"Ck! Cewek populer kayak gue nggak bakalan ada yang mau ngusik gue. Lo tahu itu. Mereka lebih baik daripada lo. Jangan berharap lo bisa temenan lagi sama gue apalagi sahabatan. Lo itu cuman cewek cupu yang bagusnya disebut. BA. BU."
Begitu menyakitkan kata-kata yang dilontarkan oleh Shei yang merupakan sahabatnya sendiri. Semenjak itu persahabatan mereka putus, dan Alya menjadi bahan candaan baginya dan gengnya. Sebagai Babu seorang pesuruh.
"Alya... ayok."
__ADS_1
"Iyah, Ghes."
...🌸...