Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 76 Fay & Lisa


__ADS_3

"Fay. Tolong kasihin ke Pak Satria ya," ucap Alvin memberikan daftar hadir kelas.


"Ah males. Ngapain minta tolong ke gue?" tolaknya.


"Yah cuman ada lo disini," timpal Alvin. Begitu Fay melihat sekeliling, kelas tampak sepi. Fay juga lupa, dia tidak pergi dengan teman-temannya, karena dia malas. "Tolongin gue yah. Gue buru-buru nih disuruh Pak Raja."


"Hmm. Yaudah, siniin."


Alvin tersenyum. "Makasih, Fay."


Setelah Alvin pergi, disusul oleh Fay yang keluar kelas menuju ruang guru untuk memberikan berkas ini kepada Pak Satria selaku wali kelas.


Seorang Fay sangat jarang menerima permintaan bantuan. Sesekali membantu teman sekelas, tidak masalah, dapat pahala.


"Permisi..." salam Fay memasuki kantor guru.


"Oh kamu, Fay. Ada apa kemari? Tumben," celetuk Pak Satria yang sedang duduk bersama guru lain tengah sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Ini, Pak. Daftar hadir kelas," tawar Fay malas.


"Oh.. simpan di meja saya. Makasih yah."


Fay hanya berdeham lalu berjalan ke arah mejanya Pak Satria dan melekatkan berkas daftar hadir kelas Flower. Karena meja Pak Satria dekat dengan jendela, pandangan Fay melihat keluar jendela yang memperlihatkan lapangan sekolah. Apa yang Fay lihat disana, dia sedikit terkejut dan terheran-heran. Di lapangan ada Shei. Padahal Shei di skorsing, mengapa bisa dia ada di sekolah.


"Pak...."


"Kenapa Fay?"


"Kok Shei ke sekolah? Bukannya dia diskors ya."


"Ah dia emang diskors. Tapi dia ke sekolah cuman sebentar, bakal pergi lagi sama temen ekskulnya."


"Ngapain?"


"Sheila kepilih buat ikut Kompetisi Marching Band Nasional, dia bakal gabung sama Marching Band SMA Merdeka," jelas Pak Satria membuat Fay tersentak kejut. "Sama anak yang lain juga, termasuk Ello."


"Apa?!" kejutnya. "Shei sama Ello?!"


"Kenapa kamu kaget gituh?" heran Pak Satria.


Fay diam membisu karena terlalu terkejut. Fay mati-matian berusaha membuat Shei tidak nyaman di sekolah dan memperburuk keadaan dengan sikapnya, tapi kenapa Shei selalu mendapat kesempatan untuk bersama Ello. Dan sekarang... Mungkin waktunya tidak sebentar lagi, mereka akan terus menghabiskan waktu bersama hingga kompetisi tiba.


Apa yang harus ia lakukan lagi untuk membuat Shei tahu dengan situasi ini? Apa masalah kemarin tidak cukup untuknya?


Gila tuh anak! Nggak ada kapok-kapoknya! Batin Fay.


Fay dengan kemarahan pergi dari sini. Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Fay menuju ke suatu tempat yang tidak terlalu ramai.


...****************...


Lisa berada di lapangan bersama teman-teman ekstrakurikulernya. Dia sedang mempersiapkan kompetisi yang akan datang nanti. Dia telah berlatih keras sampai akhirnya dia terpilih sebagai mayoret lagi dan akan ikut dalam perlombaan Marching Band lagi. Lisa sangat senang.


Suara telepon berdering di saku baju sekolahnya. Dia juga melihat nama kontak yang memanggilnya sekarang. Fay.

__ADS_1


"Hallo?"


"Hallo, Lis!"


"Ada apa nelepon gue? Gue lagi sibuk."


"Lebih pentingan kerjaan lo sekarang atau kabar tentang Shei," tuntutnya.


Lisa terdiam memancarkan aura yang tidak mengenakkan. "Apaan?"


"Shei bakal ikut kompetisi marching band!"


"Apa?!" kejut Lisa keras. "Kok bisa, sih?! Kata lo dia dapet skorsing dari sekolah."


"Gue juga nggak tahu! Tapi yang pasti dia bakal ikut lomba bareng anak-anak marching band SMA Merdeka. Terus gimana? Lo bakal bersaing lagi sama Shei di perlombaan, kayak waktu SMP. Kali ini gue nggak yakin, lo bisa ngatasin ini, Lis."


Lisa terdiam dengan emosi. Apa yang dilakukannya selama ini sia-sia untuk membuang Shei dari kehidupannya, sekolah, dan terutama marching band. Inti dari kebencian Lisa kepadanya.


"Lis? Lisa?! Lo dengan yang gue bilang, kan?"


"Iyah. Gue denger."


"Terus gimana ini? Gue nggak mau yah, gebetan gue juga ikut, dan bakal terus bareng sama Si Shei!"


"Hem. Nanti gue pikirin dulu. Gue juga nggak mau, kesel! Mm... Fay, Ghesa kemana?"


"Ghesa?"


"I..yah. Dia masih main sama Alya. Nggak ada yang aneh. Mereka juga keliatan nggak suka sama Shei."


"Bagus, deh. Thanks infonya, Fay."


"Yah. Gue tunggu kabarnya."


Telepon pun berakhir.


"Shei...!" geram Lisa berucap setelah memutuskan sambungannya dengan Fay, teman SMP-nya.


Perlombaan Drum Band Junior Tahun 2015. Dari berbagai daerah setingkat SMP. Mereka semua berusaha memberikan yang terbaik untuk penampilan mereka, untuk mendapatkan juara dan agar mereka dapat dilirik oleh para pelatih sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam kompetisi di tingkat Nasional dan tampil di luar negeri.


Tampaknya ada dua sekolah yang menonjol untuk menarik perhatian para pelatih. Kedua sekolah tersebut adalah SMP dimana Shei bersekolah, begitu juga SMP tempat sekolahnya Lisa. Mereka bersaing dalam merebut perhatian para pelatih dan memperjuangkan kemenangan mereka dalam menampilkan drum band-nya.


Drum band sekolah menengah Shei sedang tampil. Shei adalah mayoret-nya saat itu. Mereka menunjukkan yang terbaik, dan band drum sekolahnya selalu yang terbaik dari tahun ke tahun apalagi tahun ini. Karena ada sosok Shei itu. Semua orang mengenalnya, dia sangat populer.


"Lisa. Kita tidak boleh kalah dari sekolah mereka. Saya sangat mengandalkan mu. Kamu juga tidak mau kalah dari mayoret itu, kan?"


Lisa dengan gugup, tapi penuh dengan tekad menganguk. Bahwa dirinya ingin mengalahkan sekolah itu, terutama Shei.


"Saya tahu. Orang tua kamu sangat ingin kamu menang dan bisa ikut berpatisipasi dalam perlombaan nasional dan tampil di luar negeri. Jadi, jangan kecewakan mereka. Begitu juga dengan sekolah."


Lisa hanya angguk, dengan pandangannya terus menatap ke arah Shei berada sampai penampilan sekolah itu telah selesai, Lisa masih memperhatikan Shei, Shei yang begitu bersemangat merasa bahagia.


"Sheila," panggilnya seseorang. Yang ternyata sosok yang berada di samping Lisa sedari tadi. Gadis dengan rambut kepang, berkacamata. Shei dengan senyuman menghampirinya.

__ADS_1


"Gue kira lo nggak kesini."


"Mana mungkin. Aku kan harus nyemangatin sahabat ku, nanti bisa-bisa dia ngambek," ledeknya membuat Shei tertawa.


Merasa ada yang memperhatikannya selama ini, Shei menoleh ke samping dan menemukan sosok yang mengenakan kostum drum band yang sepertinya berasal dari sekolah lain. Shei tersenyum padanya tetapi tidak ada jawaban dari Lisa. Meski begitu Shei tetap ramah dan kembali ke temannya, Alya, mengajaknya pergi dari sini.


"Lisa? Lis, Lis!"


"Hem?" Lisa tersadar dari lamunannya yang terus menatap Shei. Teman terdekatnya yang bernama Fay memanggil dirinya.


"Semangat!" ucap Fay menyemangati temannya.


Lisa tersenyum lebar kembali sadar, dan penuh semangat. Lisa pergi bersama teman setimnya memasuki lapangan untuk menampilkan drum band mereka.


Awalnya, semuanya berjalan lancar. Sekolah Lisa tahun ini lebih baik menampilkan drum band mereka. Namun ketika penampilan menjadi bagian penting, dan itu juga membuat Lisa khawatir melakukannya. Lisa gagal. Melakukan beberapa aksi plus harus mengambil tongkat yang dia lempar cukup tinggi. Semua orang menatapnya kaget. Lisa semakin gelisah, menatap pelatihnya yang menatapnya dengan kecewa. Lisa segera mengambil tongkatnya dan melanjutkan penampilannya meskipun sebelumnya telah terjadi sesuatu yang membuatnya malu.


Setelah penampilan selesai. Tentu Lisa dipersalahkan dalam kekalahan timnya. Padahal ini kesempatan emas bagi sekolahnya dan juga dirinya.


Sekolah Shei menang.


Sedih, kesal, marah dan menjadi kebencian terhadap sosok bernama Shei. Semua orang terpusat pada Shei, memperhatikannya, dan memujinya. Tapi Lisa? Sama sekali tidak mendapatkan hal itu. Meski sudah memberikan yang terbaik di timnya untuk sampai seperti ini di perlombaan meski ada insiden yang tidak diinginkan, tapi Lisa tetap melanjutkannya. Namun, timnya menyalahkannya dan membanding-bandingkan dengan Shei, seorang mayoret dari sekolah lain.


Fay yang merupakan temannya mencoba menenangkan Lisa, dan memberikan semangat padanya. Dia tahu Lisa sedang kesal sekarang.


"Di kesempatan lain. Gue nggak akan biarin lo menang, Shei."


Setelah kejadian itu orangtua Lisa kecewa padanya yang tidak bisa mengikuti kompetisi nasional dan tampil di luar negeri. Membuat Lisa semakin kesal dengan apa yang terjadi.


Dimana Lisa masuk Nusantara High School karena memiliki marching band yang terbaik dan Lisa ingin meraih mimpinya yang dulu tertunda. Tapi ternyata Shei juga masuk ke SMA ini. Sebuah mimpi buruk.


Namun Shei, tidak mengingat masa lalu itu. Dia tidak tahu siapa Lisa. Yang membuat Lisa mendekatinya dan berteman dengannya, seolah tidak ada masalah sama sekali dengan Shei.


"Gue nggak akan biarin lo menang lagi. Gue akan rebut posisi lo sebagai mayoret. Sampai lo, bener-bener nggak ada hubungannya lagi sama marching band!"


Awal yang menjadi sebuah kebencian terhadap Shei bagi Lisa karena insiden perlombaan drum band ketika SMP.


Lisa sedang mencari sesuatu di ponselnya, dia menekan tombol hijau untuk menelepon seseorang dengan perasaan emosinya. Ketika telepon itu tersambung.


"Bimo. Gue tahu apa yang harus lo lakuin sama mereka."


Dia menyeringai.


...****************...


Bagi Fay. Sebagai sahabat Lisa sejak dulu. Dia ingin membantunya sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk menghancurkan Shei karena kedatangan Shei di SMA Bakti Nusa membuat Shei menjadi pusat perhatian semua orang, terutama Ello, cowok yang disukai Fay di kelas.


Pada akhirnya, Fay membantu melaksanakan rencana yang diinginkan Lisa. Seperti meneror Shei dengan surat misterius yang disimpan di loker dan membuatnya terancam. Dan masalah lain yang terjadi pada Shei.


Seperti....


Saat dirinya meretas akun Instagram milik Shei di hari terakhir acara Dies Natalis sekolah. Dia bisa melakukan hal itu karena Lisa.


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2