Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 83 Di Mulai


__ADS_3

Kompetisi tingkat nasional telah dimulai hari ini. Siswa SMA Bakti Nusa yang menjadi perwakilan seperti pada Olimpiade Sains Nasional adalah Alvin, Alya, Fay dan beberapa anak lainnya. Kemudian pada Olimpiade Olahraga Pelajar Nasional (O2SN), Rave menjadi perwakilan cabang Karate Putri. Mereka semua berada di mobil yang sama untuk pergi ke Jakarta.


Sementara Ello dan Shei, mereka bergabung dengan anak-anak marching band SMA Merdeka menaiki bus untuk memulai aksi pertarungan mereka nanti di Jakarta.


...****************...


Hanya Joy dengan Ghesa berada di sekolah dan teman mereka semua pergi ke Jakarta untuk mengikuti perlombaan. Ghesa sudah berdiri di depan pintu kantor kepala sekolah cukup lama menunggu seseorang keluar dari sana. Tidak lama pintu itu pun terbuka, sosok Joy yang Ghesa tunggu.


"Gimana?" tanya Ghesa selepas Joy keluar.


Joy mengangkat jempolnya dan tersenyum lebar bertanda berhasil. Ghesa pun girang mengetahuinya.


Dengan akses yang dimiliki Joy dan alasan yang dia berikan kepada kepala sekolah, apa pun yang dikatakan Joy, dia bisa meminta izin untuk pergi ke Jakarta untuk mendukung teman-temannya, dan Ghesa pergi bersamanya.


Tapi tidak dipungkiri bahwa nanti para murid SMA Bakti Nusa akan menyusul mendukung teman-teman mereka.


"Soal rencananya?" tanya kembali Ghesa. "Mereka pasti ketemu di perlombaan sebagai lawan."


"Ini masih awal. Gue yakin nggak bakal terjadi apa-apa. Kita tunggu aja sesuai rencana," terang Joy. "Ayok. Kita susul temen-temen kita."


"Naik apa?"


"Naik KRL."


"Nggak naek mobil?"


"Nggak. Selagi ada fasilitas umum, kita gunain itu."


Ghesa berdehem meledek mendengar itu. "Bilang aja nggak punya SIM. Gue tahu. Lo berangkat sekolah sering naik busway, kemana-mana jalan kaki, atau nggak sama supir lo."


Joy setelahnya cengegesan.


...****************...


Bus Marching Band Merdeka baru saja tiba di hotel tempat mereka akan tidur selama tiga hari dua malam. Mereka dengan semangat turun dari bus dengan memakai jaket kebanggaan mereka berwarna merah putih sesuai dengan nama mereka yaitu Marching Band Merdeka.


Shei, Ello, Rayhan, dan Lily bangga bisa menjadi bagian dari MB Merdeka meskipun akan lebih bangga lagi jika timnya MB Baknus dapat ikut serta. Tapi apa daya sekolah kami kekurangan personal maupun tidak memiliki pelatih yang cukup handal. Kami berusaha tidak akan mengecewakan sekolah kami maupun sekolah mereka SMA Merdeka yang telah mempercayakan kami untuk ikut bergabung dalam perlombaan.


Anak-anak marching band semuanya berbaris dengan rapih sesuai kelompok pembagian kamar.


"Hari ini kalian boleh beristirahat karena besok kita akan bertempur di Gelora Bungkarno. Kalian siap?"


"Siap, Coach!"


"Ada yang ditanyakan?" Ello mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. "Silahkan."


"Apa kita dibolehin keluar?"


Coach Vivian tersenyum. "Kalian mau diam di hotel, ataupun mau keluar untuk jalan-jalan. Saya perbolehkan." Sontak membuat anak-anak girang sangat. "Tapi. Kalian tidak boleh terlalu lelah. Keluar hanya sekedar jalan-jalan saja tidak lebih. Pada pukul empat, kalian harus kembali karena kita akan mempersiapkan untuk hari besok. Paham?"


"Siap, Coach!"


"Jika kalian terlambat. Hukuman masih berlaku. Okey! Barisan bubar, semuanya ke kamar masing-masing."


"Shei," panggil Ello menghampirinya. "Kalau udah selesai kabarin. Kita langsung pergi liat pertandingan Rave."


Shei tersenyum angguk.


Mereka semua pun bergegas menuju kamar mereka di hotel ini.


...****************...


Nusantara High School sebagai tempat diselanggarakannya Olimpiade Sains Nasional. Alya tidak percaya dia kembali ke sekolah ini lagi, menginjak dirinya sendiri di sekolah yang membawa kembali kenangan buruk.


"Pasti bisa," ucap Alvin menyadari kekhawatiran Alya berada di sekolah lamanya.


Alya tersenyum berusaha untuk tidak mengingat kenangan buruknya dan berharap dia tidak bertemu dengan orang-orang yang pernah merundungnya disini. Geng NHS termasuk Yura.


"Kamu nggak bisa lihat Rave tanding," ucap Alya.


Tampak raut wajah Alvin yang sedih tidak dapat melihat dan mendukung pertandingan pacarnya. "Gue harap dia nggak gugup. Tapi gue rasa, dia nggak bakal gugup." Alvin terkekeh. "Semoga dia nggak terluka, dan bisa menang. Biar gue bisa lihat dipertandingkan selanjutnya."


"Aamiin. Apa sebaiknya kamu video call Rave," usul Alya. "Kasih semangat."

__ADS_1


"Gitu ya?"


Alya angguk. "Rave pasti seneng dapat dukungan dari pacarnya."


"Kalau gitu gue video call dulu ya."


Alya tersenyum angguk, Alvin pun pergi mencari tempat yang lebih baik.


Fay datang dengan keterkejutan melihat perginya Alvin setelah mendengar pembicaraannya dengan Alya. "Eh Alya! Gue nggak salah denger? Al pacaran sama Rave?"


Alya tertegun, apakah dia boleh membicarakan hubungan teman-temannya.


"Alya!"


"Iyah," potong Alya keceplosan karena terkejut.


Fay membulatkan matanya kejut bagaimana bisa dia tidak tahu soal Alvin yang berpacaran dengan Rave. "Dari kapan? Kok gue nggak tahu, sih?"


"Aku nggak tahu. Kamu tanyain aja langsung ke orangnya."


"Ayok," ajak Pak Satria baru saja tiba. Melihat satu anak didiknya tidak ada. "Mana Alvin?"


"Dia izin ke toilet," jawab Alya.


Sementara Fay berdecak kesal mendengar jawaban Alya itu yang berbohong.


"Oh yaudah. Kita tunggu disana aja. Nanti kabarin Alvin nya."


"Iyah, Pak."


Mereka pun pergi dengan Fay yang kesal entah kenapa.


......................


Di suatu tempat, Alvin menunggu video call nya diangkat oleh Rave. Tidak lama kemudian akhirnya tersambung juga.


"Sayang..." ucap Alvin segera.


"Mana Rave?" dengus Alvin mengerutkan keningnya ternyata yang mengangkat bukanlah pacarnya. Melainkan alien Baknus.


"Tuh...." Ello mengganti kamera belakang yang menunjukkan Rave di tengah dengan setelan karatenya bersiap untuk bertarung.


Alvin tersenyum juga gugup melihat pacarnya akan bertanding, Alvin tidak mau Rave terluka.


Ello mengubah kembali menjadi kamera depan. "Olimpiade lo belum mulai?"


"Belum. Lo nggak sama Shei?"


Shei tidak lama muncul dengan senyumannya. "Hallo Al. Semoga berhasil ya, kalian semua."


Alvin angguk. "Kalian juga."


"Woah mau mulai tuh..." ucap Ello antusias melihat Rave sudah masuk ke dalam lingkaran.


Alvin yang mendengar itu sangat ingin melihatnya. "Yaudah. Gue tutup ya. Bilangin ke Rave semangat dari gue."


"Iyah. Semangat juga buat lo, Alya. Em Fay juga."


Alvin terkekeh lalu video call pun berakhir.


"Rave semoga kamu berhasil. Doain aku juga ya."


...****************...


"RAVE... SEMANGAT!!"


"FIGHTING!"


Rave membenamkan matanya untuk berdoa apa pun hasilnya tidak ada yang terluka sama sekali. Dia juga menyebut nama Alvin agar dilancarkan dalam olimpiade nya.


Thring! Thing!


WAAAAAAAAA

__ADS_1


Pertandingan pun dimulai. Tidak hanya Shei dan Ello di sini, tapi pendukung Rave yang merupakan tim karate dari SMA Bakti Nusa serta para guru dan pelatih mereka. Rave yang mengenakan sarung tinju merah, dia sangat waspada dan gesit namun masih setenang biasanya.


"Rave Rave Rave Rave...."


Tendangan dari Rave membuat lawannya tak mampu melawan dan terjatuh. Rave mendapat poin.


WAAAAAAAAA RAVE



Shei yang duduk di tribun penonton melihat itu merasa ngilu, pasti itu akan terasa sakit pikirnya.


Memang. Bela diri tidak bisa dipisahkan dari seorang Rave.


...****************...


"Al. Lo pacaran sama Rave?" tanya Fay cukup tidak santai.


Alvin terkejut diam, dia menatap Alya bertanya. Alya tersenyum kakuk. "Maaf. Fay denger obrolan kita tadi."


"Nggak papa," sahut Alvin lalu menatap Fay untuk menjawab pertanyaannya. "Iyah. Gue pacaran sama Rave."


Fay berdecak pinggang.


"Kenapa?" tanya Alvin melihat Fay yang tidak terlalu senang mendengar hubungannya.


"Nggak. Tapi, kok bisa? Kok lo mau pacaran sama cewek sangar kayak gituh? Bos preman, ih!"


"Mmm Rave baik. Tulus. Nggak macem-macem. Cantik juga," jawab Alvin terukir bahagia membanggakan pacarnya.


Tapi Fay menatap ilfil. "Emang yah cinta itu buta."


"Yah. Bisa sampai ngelakuin hal di luar batas."


Fay tidak menyukai tatapan Alvin itu dengan kata-katanya seperti yang menyindir.


"Mohon perhatian untuk para peserta Olimpiade Sains dipersilahkan masuk sesuai ruangannya masing-masing."


Suara itu Alya kenali, pandangannya bertemu dengan orang yang menginformasikan hal itu, dia adalah David.


"Semuanya. Tarik nafas... keluarkan. Kalian tidak usah gugup, kerjakan dengan tenang, dan sisakan waktu buat diperiksa lagi jawabannya. Oke?"


Mereka mengangguk paham.


"Nati sebelum mengerjakan, berdoa dulu."


Mereka kembali mengangguk dan bergegas pergi ke ruangan mereka yang berbeda-beda.


Sampai saat ini Alya bersyukur tidak bertemu dengan orang-orang yang mem-bully-nya di sekolah ini, namun saat akan memulai lomba ia bertemu dengan mantan pacarnya.


Ketika Alya saling papas dengan David.


"Semangat," bisiknya.


Alya mendapat dukungan darinya, Alya hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya.


David terus memandangi Alya sampai Alya masuk ke dalam ruangan. Jika dia harus jujur tentang perasaan, dia masih mencintai Alya.


Sekitar empat bulan yang lalu hari itu cukup menyakitkan bagi David. Alya pindah sekolah dan memintanya untuk putus, dengan alasan bahwa dia tidak bisa menjalin hubungan lagi.


Padahal David sangat menyukainya meski dirinya dulu tidak begitu mempedulikan penampilan Alya. Dia tetap menyukainya. Tapi dia menghormati keputusan Alya yang ingin putus.


Dan sekarang.


David harus memastikan bahwa hubungannya dengan Lisa adalah apakah Lisa memanfaatkannya atau tidak. Apakah Lisa di balik insiden yang merugikan dirinya dan Shei seperti yang mereka katakan padanya.


Dia akan memulai misinya.


...🌸...


...Gambar sebuah ilustrasi untuk mendukung cerita...


...✨...

__ADS_1


__ADS_2