Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 46 Meet Again (2/2)


__ADS_3

Berlanjut....


Shei memberi tahu Lisa tentang sekolah barunya. Apa yang dia alami di sekolah barunya, di mana masalah di sekolah lamanya terungkap di sana. Meski sebenarnya Shei tidak mempedulikannya, karena sejak dulu dia dipandang rendah oleh semua orang. Yah, Shei mengakui kesalahannya di masa lalu. Tapi untuk surat misterius itu dan akun. Shei agak ragu untuk memberitahu Lisa.


"Aduh... sahabat gue ngalamin kayak ginih lagih." Lisa memeluknya ikut sedih mendengarnya. "Tapi lo nggak papa, kan?"


Shei tertawa kecil. "Gue udah biasa. Udah berpengalaman juga ngadapinnya."


"Ihh lo mahn! Gue kan khawatir! Lo sih... dulu kenapa mau-maunya masuk geng NHS. Kan jadinya kayak ginih. Gue heran, deh."


Lisa memang tidak tahu alasan Shei berubah dratis saat itu dan masuk anggota geng yang cukup mengerikan bagi anak sekolahan. Ada sedikit kecewa. Perubahan ini juga berimbas pada sahabat Shei sejak SMP yaitu Alya, dibandingkan dengan Lisa, ia baru bertemu Shei di SMA dan akhirnya berteman. Lisa tidak cukup dekat dengan Alya tetapi dia mengenalinya.


"Gue masuk geng NHS pun lo masih mau berteman sama gue," kekeh Shei.


"Sebenarnya sih gue ogah. Apalagi berurusan sama geng NHS," celetuknya. Sontak mendapatkan tatapan Shei yang kecewa. "Tapi kalau sama lo, beda lain. Lo kan sahabat gue. Masak iya gue ninggalin lo," lanjutnya membuat mata Shei berbinar-binar. Kekecewaan itu hilang seketika.


"... Eh tapi lo masih komunikasian sama geng NHS?"


"Nggak, lah. Gue udah bebas," sahut gembira dari Shei.


"Yah.. bagus, deh. Tapi lo nggak masuk geng baru di sekolah baru lo, kan? Gue yakin tiap sekolah ada aja geng kayak gituh."


"Nggak...Gue males geng-gengan. Tapi mereka pernah ngajakin, sih. Tapi gue tolak."


"Bagus! Nggak usah geng-gengan, nggak berfaedah juga."


Shei tertawa mendengarnya. Sikap Lisa yang seperti ini membuat Shei ingin berteman dengannya. Meskipun Lisa telah bar-bar lebih dari Shei sendiri tetapi Lisa bukan anggota geng mana pun.


"Kalian...?!" Shei! Lo apain dia?!" Lisa menatap sahabatnya tidak percaya. Saat itu Lisa dan Shei masih kelas 10.


Shei, Ketua geng NHS Yura, dan anggota NHS lainnya menindas salah satu siswa Nusantara High School.


"Eh, Lis! Lo nggak usah ikut-ikutan. Pergi aja sana!" usir Yura.


"Nggak! Sebelum gue bawa Shei gue nggak bakal pergi!" seru Lisa.


Yura mendengus murka. Ketika dia hendak mendekati Lisa, Shei segera menahannya. "Biar gue yang urus, Kak." Shei menarik Lisa pergi dari sini menuju tempat lain.


"Shei...!" teriak Lisa menepisnya. "Lo kenapa jadi ginih, sih?! Sumpah! Apa yang lo lakuin itu udah kelewatan!"


Meskipun tidak diberitahu. Shei menyadari apa yang dia lakukan salah. Tapi apa yang Lisa lihat sebelumnya? Ada sudut pandang yang berbeda dari Shei sendiri, Shei hanya menemani geng NHS dalam menindas tetapi dia tidak pernah ikut menyakiti korban bully mereka.


"Gue tahu...! Gue juga kadang ngerjain anak-anak. Gue bar-bar, gue tahu! Tapi lo ini udah kelewat batas, lo sadar nggak sih?!"


Sesak rasanya bagi Shei untuk menutupinya. Tapi ia tidak ada pilihan lain. "Lis. Gue minta maaf buat lo kecewa sama sikap gue sekarang. Gue tahu apa yang gue lakuin ini salah."


"Udah tahu salah kenapa masih ngikut geng NHS?! Lo keluar aja dari sana!"


"Gue nggak bisa."


"Kenapa?!"


"Yah nggak bisa! Yah nggak bisa, Lis!" erang Shei. Pertengkaran yang cukup menguras emosi ketika Lisa tahu perbuatan Shei ini. "Lo... lebih baik jangan ikut campur lagi kalau geng NHS berulah. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Sekarang... lo udah tahu gue. Kelakuan gue ini. Gue nggak masalah kalau lo jauhin gue."

__ADS_1


Lisa sangat kecewa pada sahabatnya. Tapi ia juga tidak bisa pergi meninggalkan sahabatnya dalam masalah. "Gue nggak akan jauhin lo. Lo masih tetep jadi temen gue, Shei."


Shei tersenyum tipis. Dalam hati ia merasa senang bahwa temannya tidak meninggalkannya. "Makasih."


"Tapi," kilah Lisa menitip pesan. "Nggak masalah lo mau masuk geng, ngekorin Kak Yura. Tapi gue pesen, jangan sampai lo nyakitin orang-orang."


Shei tersenyum lalu mengangguk.


Meskipun Rave duduk terpisah dari mereka. Tapi Rave masih bisa mendengar percakapan Shei dengan Lisa di sana. Meski terdengar redup. Tapi saat obrolan membahas geng. Lisa berbicara seolah-olah dia bukan anggota geng mana pun. Dan itu membuat Rave heran.


"Bukannya Lisa masuk geng NHS juga," gumam Rave kebingungan.


Berarti ada suatu kebohongan dalam hal ini.


Dert Dert Dert


Rave langsung terbangun melihat ponselnya yang bergetar di atas meja. Nenek Kartika memanggilnya. Rave meninggalkan kafe untuk mengangkat telepon.


"Hallo omah?


"Rave? Kamu keluar sama Shei?"


"Iyah, Omah. Maaf nggak ngasih tahu omah dulu. Saya sama Shei lagi di kafe.


"Iyah, nggak papa. Omah seneng dengernya kalian bisa pergi berdua. Omah mau kalian akrab, sebagai adik kakak."


"Iyah, Omah. Saya nggak janji." Rave sedikit ragu untuk hal itu.


"Hoy David.... Apa kabar coy?"


"Kamu sama Shei pulang sebelum jam makan malam ya."


"Hah? Iyah, Omah."


Ternyata telepon masih terhubung dengan nenek Kartika.


"Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut."


"Iyah, Omah."


Setelah Nenek berpesan untuk pulang sebelum waktu makan malam, telepon pun berakhir. Setelahnya Rave memperhatikan pemuda bernama David itu.


David, anak laki-laki berpenampilan eksotis dengan kulit hitam manisnya. Masih berdiri di tempatnya, berbincang dengan teman-temannya.


"Lo mau ketemu sama pacar lo, Si Lisa ya."


"Iyah. Lo lihat dia nggak?"


"Ada di dalem tuh. Lo tahu, Vid? Dia lagi sama Si Shei."


Seketika bola mata David terkejut. Namun ia mencoba temannya itu memberikan lelucon. "Jangan bercanda, yaelah."


"Serius, Vid. Kita nggak bercanda. Liat ajah noh sono... Emang lo nggak dikasih tahu?" David menggeleng. "Ah... mungkin mau kasih kejutan buat lo. Kan lo sahabat Si Shei."

__ADS_1


David pun terukir senyum untuk menutupi kegugupannya. "Yaudah. Gue ke dalem dulu."


"Oke oke. Titip salam buat Shei ya." Dan mereka bersorak untuk mentertawakan salah satu temannya itu. "Napa lo pada sirik? Kalau mau titip salam ya titipin juga noh!"


David berseri dengan temannya itu. "Gue masuk dulu."


"Oke, Vid!"


David berjalan ke kafe. Tapi akan masuk ternyata pada saat yang sama dengan seseorang. David memeriksanya, gadis itu lebih tinggi dari pacarnya yang sudah cukup tinggi untuk seorang gadis. Tapi sorot mata gadis itu, David tidak menyukainya. Meski begitu, dia tetap harus sopan, dia tersenyum memberi jalan untuk gadis itu terlebih dahulu dan dia masuk setelahnya.


Rave berpapasan dengan orang itu, David. Pemilik tatapan gadis itu adalah milik Rave. Dia telah kembali ke meja makannya. Mengingat sikap sopan David tadi, terpikir lagi kalau David adalah anggota geng NHS. Cukup mengejutkan bagi Rave, ternyata orang seperti David masih memiliki sopan santun yang bagus.


Disana David terus berjalan menemui Lisa yang ternyata bertemu dengan Shei. Lisa tidak memberitahu David tentang hal itu sama sekali. David terkejut, meski begitu dia sangat gugup sekarang.


Lisa melihat kedatangan pacarnya. "David..." Panggilnya itu membuat Shei menoleh ke belakang untuk melihatnya.


Pandangan Shei dan David bertemu. David tersenyum seperti biasanya kepada Shei. "Shei...." Suara kejut dan senang dapat melihat lagi temannya itu.


Shei segera berdiri dari duduknya dipeluknya oleh David secara tiba-tiba. "Kemana aja lo? Lo baik?"


"Vid! Lepasin! Lo mau pacar lo cemburu sama gue?!" pekik Shei sambil bercanda. Pelukan pun terlepas.


David langsung mendapat tatapan cemberut dari Lisa. Tapi David tertawa kecil. Ternyata Shei juga sudah mengetahui hubungannya dengan Lisa. David kembali ke arah Shei. "Lo baik, Shei? Lisa.. kenapa kamu nggak ngasih tahu aku kalau kamu ketemuan sama Shei?"


"Iyah, Lis. Lo kenapa nggak ngasih tahu gue?" sambung Shei.


Lisa hanya berseri. "Ngasih kejutan. Nggak asik dong kalau dikasih tahu."


Mereka pun tertawa. Shei sangat merindukan berkumpul seperti ini lagi dengan mereka.


"Sekarang lo sekolah dimana?" tanya David.


"Di SMA Bakti Nusa."


"Bakti Nusa? Bukannya itu di daerah Bogor, kan?"


Shei angguk. "Gue di sekolahin disana. Tinggal sama omah lagi."


David sedikit terkejut. "Pasti lo ditinggalin sama tante Rosa, om Kevin ke Australia. Kayak waktu kecil."


Shei hanya berdeham. Lalu menatap David penuh tanya lagi. "Vid. Nomor lo juga nggak bisa dihubungin kayak Lisa. Kenapa?"


David tersentak menatap Lisa meminta bantuan. Harusnya Lisa memberitahunya lebih awal, jadi David bisa memikirkan alasannya terlebih dahulu.


"HP nya hilang juga, Shei," cetus Lisa. David sedikit menghela nafas lega.


"Kok bisa barengan gituh?" heran Shei.


"Kan waktu itu gue lagi barengan sama David. Eh dua-duanya HP nya hilang. Dicuri mungkin," asal Lisa.


"Kalian ini... nggak hati-hati. David. Harusnya lo jagain Lisa yang bener," tegur Shei kepada David.


"Yah Shei...." cicitnya.

__ADS_1


Shei pun terkekeh. Lisa tertawa mendengar.


...🌸...


__ADS_2