
Berlanjut...
Alya mengajak Shei untuk berbicara dan sekarang mereka berada di tempat lain untuk membicarakan hal-hal yang serius tentang masalah yang menimbun di masa lalu. Shei agak ragu untuk memberi tahu Alya, tapi mungkin ini akan sedikit membantu menemukan teka-teki surat itu.
"Setelah rumor gue tersebar di sekolah ini. Ah sorry, bukan rumor, tapi emang bener. Setelah itu gue nemu surat di loker gue. Persis amplop warna biru yang lo pegang," ungkap Shei setelahnya Alya melihat ke arah surat yang ia masih pegang. "Awalnya surat itu ngasih gue petunjuk dan nyuruh gue buat nyari orang yang udah nge-jebak gue di sekolah lama. Terus surat-surat lain dateng tapi isinya bukan lagi petunjuk. Surat itu ancaman buat gue. Gue pikir ada dua pelaku yang ngirim surat itu ke gue."
"Jadi. Apa yang aku liat di buku catatan kamu itu, orang-orang yang kamu curigain?" Alya mendapat anggukan dari Shei. "Tapi kenapa marching band?"
"Karena surat pertama yang gue terima, ngasih petunjuk marching band biar gue bisa nemuin pelakunya."
"Shei. Ini Bakti Nusa bukan Nusantara High School. Mereka nggak tahu apa-apa," cetus Alya untuk mengingatkan bahwa anak-anak SMA Bakti Nusa sama sekali tidak ada hubungannya dengan sekolah lama.
"Gue tahu. Gue pikir juga gitu, gue pernah datengin geng NHS nanyain soal ini. Tapi mereka nggak tahu apa-apa."
"Kamu... datengin geng NHS? Kamu masih anggota mereka?" gugup Alya. Namun Shei enggan menjawab pertanyaan itu. Alya menyadarinya dan akan menghindari soal tersebut. "Biar aku bantu buat nyari pelakunya."
"Nggak usah. Gue bisa sendiri."
Alya menghela nafas berat sedikit kesal. "Selalu aja ginih." Mendengar itu, Shei langsung menoleh ke arahnya, ada ekspresi sedih di wajah Alya. "Kamu nggak mau jujur soal masalah kamu. Apa susahnya kamu cerita?! Biar aku nggak salah paham lagi."
"Posisi kita beda," terang Shei. "Kalau lo mau bantu gue, ikutin sudut pandang lo sendiri. Sesuatu yang lo udah temuin."
Alya sepertinya tidak suka dengan jawaban yang diberikan Shei. Agak kesal, Alya memutuskan untuk meninggalkan Shei. Shei menghela napas berat, mengulangi lagi. Shei tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Alya, sahabatnya sendiri.
......................
Rave berjalan di lorong sekolah bertanya-tanya siapa pelaku sebenarnya di balik surat misterius yang berisi ancaman kepada Shei. Dia sedikit mendesah kesal. Mengapa anak kucing seperti Shei terjebak dalam masalah liar di sekolah.
Tatapan Rave kembali menatap lurus ke depan, tiba-tiba langkahnya terhenti. Karena di hadapannya ada seseorang yang sedang ia hindari untuk sementara waktu. Alvin, pacarnya.
"Rave." "Alvin."
Ucapnya bersama.
"Ke rooftop," lanjut Alvin memutuskan untuk mengawalinya lebih dulu.
Rave mengangguk setuju karena dia lelah dengan masalah yang belum terselesaikan yang membuatnya semakin pusing.
"Aku minta maaf," ucap Alvin. Mereka berdua telah berada di rooftop sekolah. "Kemarin aku terlalu berlebihan. Aku tahu kamu ngelakuin itu ada alasannya. Maafin aku."
"Maafin aku juga," ucap Rave.
Setelah saling meminta maaf dan mengakui kesalahan masing-masing. Mereka berdua tersenyum. Perselisihan ini telah diselesaikan.
"Sayang..."
"Hem?"
"Tapi kalau ada temen kita yang bertengkar apalagi cewek. Aku pengen kamu nggak diem aja. Kecuali kalau cowok. Kamu biarin aja. Hindarin perkelahian. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Rave tersenyum angguk.
"Ngangguk-ngangguk aja. Tapi bakal dilakuin lagi," cicit Alvin.
"Gimana situasi," kekeh Rave.
"Hmm kamu itu..." Alvin mengacak-acak rambut pacarnya lalu tersenyum satu sama lain.
......................
Setelah percakapan dengan Alya. Shei kembali ke tempat marching band berlatih. Saat baru kembali, Shei langsung dipanggil oleh Faby, ketua ekstrakurikuler ini. Disana juga ada Ello.
"Lo darimana?" tanya Feby.
"Dari belakang."
__ADS_1
"Oh. Lo temenin El ke tempat jahit ya." Shei sedikit bingung menoleh ke arah kanan darinya untuk menatap Ello. Ello hanya tersenyum. Pandangan Shei kembali lagi pada Feby. "Harusnya sih Si Rave. Tapi daritadi gue cariin nggak ada. Alya juga."
Alya belum balik? Dalam hati Shei.
".... Kenapa orang-orang yang gue cariin nggak ada, sih?! Shei. Lo temenin El yah."
Shei pun angguk.
"Nah oke. Ahmad... mana kunci mobilnya?" teriak Feby.
"Ambil nih...." Ahmad melemparkan kunci mobil dan Feby berhasil menangkapnya. Tentu saja seorang mayor seperti Feby seharusnya bisa dengan mudah menangkap sesuatu yang terapung.
"Oke siip makasih Ahmad," sahut Feby. "Nih El kuncinya. Bawa mobilnya hati-hati. Mobil Si Ahmad nih."
"Siap kapten!"
"Awas mobil gue lecet!" teriak Ahmad untuk Ello.
"Nggak bakalan. Gue ahli, pembalap nih," canda Ello.
Mereka tertawa kecil setelahnya.
"Ini pegang sama lo," kata Feby memberikan kertas yang berisikan nama-nama anggota dengan ukuran pakaian juga memberikan sejumlah uang kepada Shei. "Uangnya itu udah pas."
"Yaudah, Feb. Kita cabut dulu," sosor Ello langsung menggenggam tangan Shei secara tiba-tiba membuat Shei terkejut.
Ello dan Shei pergi, kepergian mereka menimbulkan pertanyaan bagi Feby melihat tangan Shei digenggam oleh Ello. Feby hanya bisa tersenyum lalu kembali berkumpul bersama yang lain.
...****************...
Suasana sedikit canggung bagi Shei karena kehadiran Ello, mengingat Ello menyatakan perasaannya padanya. Tapi sepertinya Ello biasa saja, hanya canggung sepihak, Shei merasa malu pada dirinya sendiri. Akhirnya dia akan berusaha untuk tidak canggung dan melupakan kejadian itu.
Mobil itu berhenti di depan tempat penjahit Tailor Amna Ketika Shei hendak membuka sabuk pengamannya, sepertinya dia mengalami sedikit masalah. Ello mendekat untuk membantunya. Tapi rupanya, itu membuat Shei tidak bergerak satu inci dari posisinya, dia membeku.
Ini terlalu dekat.
Apa... Aku mulai suka sama El?
"Shei?"
"Iyah?"
Mata mereka bertemu, Ello tersenyum padanya tapi Shei masih enggan untuk tidak canggung. Suara terbukanya pintu mobil terdengar oleh Ello, membuat Shei tersadar.
"Ayok," ajak Ello dengan senyum khasnya.
Kami berjalan ke dalam, sangat menyenangkan di sini untuk melihat pemandangan yang indah, pegunungan dan kabut terlihat di sini. Terlihat seorang wanita paruh baya disana sedang sibuk dengan mesin jahit, kami masuk ke dalam dan langsung mendengar suara mesin jahit. Wanita itu segera beranjak dan tersenyum melihat kedatangan kami.
"Eh Nak El. Mau ngambil kostum, kan."
"Hehe iyah, Bu Siti. Udah beres?"
"Udah, dari kemarin. Sebentar ya." Penjahit bernama Siti itu berjalan ke belakang untuk mengambil beberapa baju yang dipesan siswa SMA Bakti Nusa.
Shei di sini melihat sekeliling, sangat nyaman melihat rumah jahit ini dengan dekorasinya yang sederhana. Mungkin mengingat jika dirinya masih tinggal di Jakarta, rumah seperti ini sudah jarang ditemukan.
Belum lama ini ibu penjahit datang dengan tangan penuh dengan pakaian yang telah dibungkus plastik dan juga seorang gadis di belakangnya membantu membawakan pakaian tersebut. Ello segera membantu ibu penjahit itu.
"Oh kalian..." kata seorang gadis berambut pendek, mengenakan kaos putih terbungkus kemeja yang membantu ibu penjahit itu. Dia melihat kami.
Shei berpikir bahwa gadis itu mengenal kami. Terutama Ello. Tapi Shei tidak mengenal siapa dia.
"Seragam baru?" tanyanya dia.
"Hu'um. Ekskul marching band aktif lagi," sahut Ello.
__ADS_1
"Bagus. Kapan-kapan yang ngeramain perlombaan basket ekskul marching band. Biar nggak cheerleader terus. Bosen," katanya sambil bercanda.
"Nah bener tuh, Fra! Hahaha...." Ello dengan gadis yang tidak dikenal Shei, terlihat sangat akrab. Namun Shei mengira gadis itu berada di sekolah yang sama. Karena mereka membahas ekstrakurikuler.
Melihat Shei yang kebingungan. Ello pun segera memperkenalkan seorang gadis ini. "Oh. Shei. Ini kakak kelas kita di sekolah, Afra. Dia ketua ekskul basket putri."
Shei pun ber'oh. Akhirnya dia tahu siapa gadis itu. "Hallo, Kak. Sheila."
"Afra."
Keduanya memperkenalkan diri. Shei mengira kakak kelas ini akan banyak bertanya atau karena Shei, murid baru yang membuat masalah di sekolah. Tapi sepertinya dia sangat cuek. Setelah perkenalan, itu saja. Terdiam.
"Lima belas seragam.... ditambah sama tiga kostum yang diperbaiki," kata Siti, ibu penjahit. Terlihat selesai menghitungnya.
"Ini uang nya, Bu." Shei memberikan sejumlah uang kepadanya.
"Makasih ya."
"Makasih juga, Bu."
"Makasih, Bu. Kalau gituh saya langsung pamit," pamit Ello. "Fra..."
"Hem. Makasih udah mau ngejahit disini," ucap Afra.
"Tailor Amna. Paling keren... Makanya kita mau ngejahit disini," puji Ello. Dan mereka tersenyum senang mendengarnya. "Yaudah, Bu. Assalamu'alaikum."
"Permisi, Bu. Kak," sambung Shei.
"Iyah. Wa'alaikumsalam. Makasih ya.."
Setelah mengambilnya. Mereka kembali lagi ke sekolah untuk membagikan seragam ekskul marching band pada yang lain.
...🌸...
...Apa yang udah disembunyiin sama Shei ke Alya ya?...
...Apakah Shei udah mulai suka sama Ello? Apa mereka akan jadian?...
...Author penasaran......
...Meski romansa sebagai pemanis di cerita ini. Tapi author pengen tahu, kalian lebih suka interaksi dari pasangan siapa nih?...
A. Shei dan Ello
B. Shei dan Alvin
C. Alvin dan Rave
D. Rave dan Ello
E. Shei dan Joy
F. Joy dan Alya
G. Alya dan Ghesa
H. Shei dan Rave
I. Shei dan Alya
J. Alya dan Rave
K. Lisa dan David
L. Shei, David, Lisa
__ADS_1
...✨...