Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 47 I Know


__ADS_3

Sudah berjam-jam Shei masih merasa betah mengobrol dengan Lisa dan David. Mungkin mereka sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi satu sama lain setelah Shei dikeluarkan dari sekolah.


"Sayang...." panggil Lisa kepada David sontak membuat Shei mengolok-olok mereka. Terlihat Lisa dan David tersenyum malu. "Aku ke toilet dulu. Shei..." Lisa pergi setelah mendapat izin dari mereka berdua.


Ada kesempatan bagi Shei disaat Lisa pergi ke toilet. "David," panggilnya menatap penuh pertanyaan. "Kok bisa lo pacaran sama Lisa? Alya? Lo sama Alya kenapa putus? Lo tahu... Alya pindah sekolah dan sekolahan dia sama kayak gue sekarang di Bakti Nusa."


"Hah? Kalian satu sekolah?" David tersentak kejut.


Shei segera mengangguk. "Gue juga kaget waktu itu. Lisa. Lisa udah tahu lo pernah pacaran sama Alya?" David menggelengkan kepalanya ragu. "Kenapa?"


"Itu...." Tampaknya David ingin mengatakan sesuatu tetapi tampak ragu-ragu.


...****************...


Ghesa dan Alya baru saja keluar dari kafe dan belum lama ini Ghesa mendapat telepon dari seseorang namun terlihat ragu untuk mengangkatnya, ia terus menatap ponsel yang terus berdering. Karena itu, Alya bertanya padanya.


"Nggak diangkat?" tanyanya.


"Hh-ah?" Ghesa seketika panik.


"Siapa yang nelepon?" tanyanya lagi sambil sedikit melirik ke arah ponsel Ghesa.


"Ah--ini... nyokap," kilah Ghesa dengan gugup. "Mm Alya. Sorry, gue pulang duluan nggak papa? Soalnya mamah gue nyuruh cepet-cepet pulang lagi."


"Iyah nggak papa. Salam buat tante," balas Alya dengan senyum.


Ghesa tersenyum lega. "Makasih ya, Al. Sorry. Dadah..."


Alya melambai padanya sambil memikirkan apa yang baru saja dilihatnya yaitu seseorang yang menghubungi Ghesa. Namun dengan cepat Alya langsung membuang pikiran itu, karena banyak orang yang menggunakan nama itu, bukan hanya 'dia'.


"Alya..." Namanya terpanggil segera ia menoleh melihat Ello dan seseorang yang bersamanya menghampiri ia. "Sendirian? Mana Ghesa?"


"Udah pulang duluan."


"Eh Alya..." sapa orang yang bersama Ello tadi. Alya tersenyum, wajah orang itu sedikit familiar baginya. "Apa kabar?"


"Ba..ik," jawab Alya ragu. "Tapi maaf. Lo kenal sama gue?"


"Lo lupa? Ini gue. Ken."


"Ken?"


"Iyah. Temen SMP lo. Murid baru... waktu itu."


Alya masih terdiam mengingatnya. Namun belum lama ini ia teringat teman SMP-nya yang merupakan murid baru saat itu. "Ah yang rambutnya kayak mangkok?" Bola matanya melebar kejut.


Di sisi lain, Ello yang mendengar rambut mangkok itu tertawa terbahak-bahak.


"Yaelah, Alya. Lo malah inget rambut mangkok gue," decit Ken.


Alya berseri. "Maaf."


"Lo banyak berubah ya," lanjut Ken. Alya hanya tersenyum. "Gimana kabar Sheila?" Seketika Alya tergemap lalu melirik Ello dan kembali lagi pada Ken.


"Dia... baik. Mungkin," jawab Alya gugup.


Melihat Alya yang kegugupan seperti itu, Ello menyadari dan langsung mengalihkan topik. "Alya. Lo mau pulang?"

__ADS_1


Alya angguk. "Ini mau mesen driver online."


"Batalin aja. Biar gue anter." Alya diam menatapnya dan penuh tanda tanya karena sejak kemarin Ello selalu menawarkan tumpangan. "Ken. Gue sama Alya cabut duluan."


"Eh gue sama Alya masih mau ngobrol, nih."


"Tunda dulu aja. Alya nya mau pulang."


"Yaudah Alya kapan-kapan ngobrol lagih ketemuan, ajak juga Sheila."


Alya hanya mengangguk mengikuti Ello yang menuntunnya ke motornya yang terparkir.


...****************...


Shei masih menunggu jawaban dari David yang masih ragu-ragu. Mengapa David begitu menguras pikirannya hanya untuk menjawab itu. Keringat dingin yang dialami David sekarang, dia sangat gugup dan gelisah, Shei bahkan lebih terkejut dengan sikap David.


"Vid? Lo...." heran Shei karena tiba-tiba David meraih tangannya.


"Shei!" potongnya. "Gu--gue sebenarnya...."


"Sorry guys aku kelamaan di toi... let." Suara Lisa membangunkan David dan Shei, David dengan kaget langsung melepaskan tangan Shei dari genggamannya. Tatapan Lisa pada adegan itu membuat suaranya lebih rendah sebelumnya.


"Kamu udah balik sayang? Sini." Basa-basi David untuk meredakan kegugupannya. Lisa hanya mengangguk sebagai jawaban, dan masih memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Shei tersenyum untuk meringankan suasana seolah-olah tidak ada yang terjadi. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mengapa setelah Lisa datang, David lebih terlihat gelisah.


Sementara disana Rave yang sudah menunggu Shei sangat bosan hingga minuman yang dipesannya habis, dia tidak memesan makanan karena tidak mau kenyang saat makan malam dengan nenek Kartika nanti. Ia segera mengirimkan pesan pada Shei. Setelah pikirannya dipenuhi pertanyaan apa yang dilihatnya antara Shei dan David tadi.


Ting!


Shei menerima suara notifikasi pesan. Rave mengiriminya pesan yang memberitahunya bahwa waktu makan malam sudah dekat, dan menyuruhnya untuk segera pulang.


"Salam buat omah yah," pesan David dengan senyuman. "Kabarin gue kalau lo udah sampe rumah." Shei tersenyum angguk.


Namun di sini berbeda, ada ada dua bola mata yang memperhatikan interaksi David dan Shei, yakni Lisa yang cemburu.


"Hati-hati yah, Shei. Kabari lagi kalau lo kesini, kita ketemuan," kata Lisa.


"Oke. Kapan-kapan kalian maen juga ke tempat omah gue. Dah..." Setelah berpamitan Shei pun segera pergi.


Senyuman David belum hilang saat melihat kepergian Shei, saat berbalik dia mendapatkan tatapan kekasihnya, Lisa. "Kamu kenapa natap aku kayak gituh?"


"Kamu nggak maen di belakang aku, kan?" Curiga Lisa.


"Maen belakang?" herannya. "Maksud kamu... Aku sama Shei?" David sedikit terkekeh saat mengucapkannya. "Nggak ada lah sayang."


"Terus yang aku lihat barusan apa? Aku lihat kamu pegang-pegangan tangan sama Shei. Kamu juga senyum-senyum liatin Shei," rajuk Lisa.


Lisa merajuk, David justru tertawa karena menurutnya apa yang dikatakan Lisa sangat lucu dan tidak masuk akal.


"Sayang. Hei... dengerin aku." David meraih kedua tangannya pacarnya. "Itu cuman refleks doang. Aku sama Shei kan udah lama nggak ketemu. Masak kamu cemburu sama Shei, sih? Hem? Dia kan sahabat kamu. Sahabat aku juga."


"Kamu beneran nggak punya perasaan sama Shei?"


"Nggak sayang. Kepikiran itu pun aku nggak pernah," tambah David.


Namun tatapan Lisa masih penuh kecurigaan. "Kamu nggak ada niatan buat ngasih tahu Shei soal insiden itu?"

__ADS_1


Seketika David terperangah namun tak lama kemudian ia tersenyum memberikan kepercayaan pada Lisa. "Nggak sayang."


Dan setelah itu, Lisa pun tidak banyak bertanya lagi.


......................


Rave bersandar di mobil menunggu Shei keluar dari kafe. Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.


"Ayok buruan. Nanti omah marah lagi kalau kita pulang telat," seloroh Shei tiba-tiba membuat Rave mengerutkan keningnya kesal.


"Heh! Siapa yang daritadi keasikan disini? Elo! Gue dengan baiknya sabar nungguin!" lirih Rave.


"Siapa suruh? Gue nggak minta, kan? Lo sendiri yang mau nganterin gue," balas Shei terdengar menyebalkan di telinga Rave. Shei dengan sikap tidak tahu malunya masuk begitu saja ke dalam mobil.


Sementara Rave mengepalkan tangannya kesal, berusaha untuk tenang menghadapi sikap Shei yang lebih menyebalkan.


Liat aja. Gue bakal buat lo makin mikir-mikir sama masalah lo itu. Batin Rave.


"Rave! Buruan...!"


"Sabar! Gue bukan supir lo!"


...****************...


"Alya. Gue mau ngisi bensin dulu sebentar ya."


"Iyah."


Mereka masuk ke SPBU, untuk mengisi bahan bakar motor Ello.


"Tunggu sebentar." Alya hanya angguk. Motor Ello melaju kembali mengikuti antrian disana.


Berdiri diam menunggu Ello kembali setelah mengisi bahan bakar. Pikiran Alya tertuju pada teman SMP-nya, Ken, yang dia temui secara kebetulan. Ken bahkan bertanya bagaimana keadaan Shei di depan Ello. Alya tahu, wajar Ken bertanya tentang Shei padanya. Karena semua teman SMP tahu bahwa Alya dan Shei adalah teman dekat dan tidak bisa dipisahkan. Mungkin dulu. Mereka tidak tahu sekarang Alya dan Shei sangat jauh.


"Alya. Naik." Ello telah kembali. Namun Alya masih diam melihatnya.


"El..."


"Hem?"


"Soal tadi...."


"Soal apa?" Meski Ello tahu apa yang akan dikatakannya. Tapi dia akan berpura-pura tidak tau.


"Ken."


"Ken? Kenapa sama anak itu?"


"Enggak. Ayok pulang," sela Alya.


"Kalian satu SMP, sama Sheila yang kita kenal juga," beber Ello membuat Alya terdiam. "Dulu lo sahabatan sama Shei, kan?"


Alya bisu enggan untuk menjawab.


"Nggak papa kalau lo nggak mau jawab. Karena gue udah tahu dari Ken. Kalian sahabatan. Tapi, kenapa sekarang kalian jadi kayak musuhan ginih? Kalian kok bisa berantem? Emang ada masalah apa?" Melihat raut wajah Alya yang menunduk dan terdiam, Ello sadar mungkin terlalu dini untuk bertanya. "Oke. Gue nggak akan maksa lo, Alya. Tapi, kalau lo butuh temen cerita butuh bantuan gue. Gue siap. Lo bilang aja sama gue." Ello mendapat anggukan darinya. "Yaudah naik. Kita pulang."


Alya hanya mengangguk lalu menaiki motor Ello.

__ADS_1


...🌸...


__ADS_2