Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 64 Adanya Teman


__ADS_3

Langit hampir gelap, obrolan diskusi untuk mencari pelakunya masih belum mendapat jawaban tapi mereka sudah menemukan titik terang. Rave mengatakan Shei harus mewaspadai geng NHS terutama yang curiga terhadap dua temannya, Lisa dan David. Rave mengira mereka semua tahu sesuatu, apalagi mereka memiliki akses yang bagus sebagai geng di sekolah mereka pasti memiliki informasi penting.


Shei pun akhirnya bisa menceritakan beban yang dipikulnya seorang diri selama ini tentang masalah sekolahnya saat masih duduk di bangku Nusantara High School. Perubahan adalah sebuah paksaan, tidak ada pilihan lain selain bergabung dengan geng NHS karena harus melindungi sahabatnya, Alya. Shei juga mengatakan bahwa dia adalah korban bullying juga, meskipun dia adalah anggota geng NHS tetapi dia tidak luput dari diremehkan dan diintimidasi oleh mereka.


Ello, Rave, dan Alvin tidak menyangka sekolah elit seperti Nusantara High School memiliki siswa yang begitu kejam. Apa yang dilakukan para guru selama ini? Apa mereka tidak tahu atau dengan sengaja tutup mata dan telinga.


Mereka bahkan tidak mendengar pernyataan Shei, mereka hanya melihat apa yang mereka lihat sebagai bukti bahwa Shei adalah pencuri soal ujian dan kunci jawaban.


Karena sudah larut malam, Rave, Alvin dan Ello juga tidak bisa kembali ke Bogor yang akhirnya Shei mengerti dan meminta mereka untuk bermalam di rumahnya.


"Em Shei. Gue kayaknya nggak bakalan nginep di rumah lo. Gue pulang ke rumah bokap aja, mumpung lagi disini sekalian nengokin," ucap Alvin.


"Ah gitu, Yaudah. Makasih, Al. Salam buat om Mahendra," sahut Shei tersenyum.


Alvin angguk. "El, lo ikut gue aja. Nginep rumah bokap gue. Lo kan bawa motor sekalian anterin gue."


"Hah?? Nggak-nggak! Gue disini," tolak Ello. Alvin terus melihat ke arahnya memberikan isyarat membuat Ello heran padanya.


"Ya. Shei, Rave. Kita pamit dulu."


"Kita? Lo aja!"


"Ayok..." Alvin menarik Ello untuk ikut bersamanya. Alvin kembali lagi menatap Shei untuk berpamitan kemudian kepada Rave dengan senyuman kasih untuk pacarnya.


"Gue bisa sendiri!" Dilepasnya oleh Ello. "Shei, besok pagi gue kesini lagi. Harus kangen ya." Ello tersenyum lebar. Shei pun ikut tersenyum selalu saja mendapat hiburan darinya.


Setelah Ello dan Alvin pergi. Shei dan Rave masuk ke dalam rumah. Shei membawa Rave ke kamarnya. Ada sedikit kecanggungan bagi Shei, setelah dia bercerita tentang dirinya sendiri.


Rave tidak menyangka akan kembali ke rumah ini lagi. Memikirkan masalah keluarga yang belum bisa diungkapkan kepada Shei, tetapi Rave akan bertindak seperti ini seolah-olah dia tidak tahu apa-apa tentang fakta bahwa mereka memiliki hubungan darah dari ayah yang sama. Tidak terpikirkan bahwa Rave akan memberi tahu Shei, dia akan menyembunyikannya bahwa dia adalah saudara perempuannya.


"Rave." Rave terbangun dari lamunannya dan segera menoleh ke Shei yang telah menyerahkan piyama padanya. "Nggak mungkin kan lo pake baju bau buat tidur."


"Bau?" Rave mengerutkan keningnya. "Mana ada!"


"Yah nanti baunya," kekeh Shei berhasil membuat Rave jengkel padanya. Kali ini Shei menang. "Yaudah sana mandi. Pake kamar mandi ini aja. Gue bisa pake kamar mandi lain."


Shei pun meninggalkan kamarnya bergegas untuk mandi. Rave memandangi kepergian sambil berpikir dalam hati.


Kalau lo tahu. Apa lo akan nerima gue jadi saudara lo?


...****************...


Setelah Joy diundang makan malam oleh keluarga Alya untuk rasa terima kasih mereka karena telah menemani putrinya pulang. Joy berpamitan untuk pulang. Alya mengantarkan Joy sampai depan rumah meski sebelum pergi mereka berbincang-bincang dulu.


"Jonathan."


"Iyah, Ay?"

__ADS_1


"Kamu udah dapet kabar belum dari Shei?"


Joy menggeleng sedih. "Belum. Kamu khawatir ya sama Shei?" Alya mengangguk tidak bisa berbohong. "Tapi dia udah berbuat buruk sama kamu. Kamu masih khawatirin dia?"


"Aku nggak bisa benci sama dia. Dia sahabat aku dari SMP. Cuman dia yang bisa nerima aku dengan tulus jadi temannya. Dia nggak pandang fisik, aku dulu culun. Padahal dia populer banget malah mau temenan sama aku."


"Culun nggak nya kamu. Shei lihat kamu, itu kamu, Alya," tutur Joy membuat Alya menatapnya. Dia paham apa yang ingin dikatakannya itu. "Shei tahu kalau kamu tulus. Makanya dia mau berteman sama kamu. Yah meski sekarang berubah.... Tapi aku percaya,, kalian sama-sama masih menganggap satu sama lain sebagai sahabat. Kamu. Dan juga Shei."


Alya tersenyum manis, senang dapat mendengar hal itu.


"Kalau gitu aku pamit pulang."


"Udah malem. Kamu langsung pulang ke Bogor?"


"Nggak. Disini ada rumah tante, aku bakalan nginep disana," jelas Joy membuat Alya lega. "Mm... Ay. Kalau besok kamu nggak sibuk. Aku mau ngajak jalan, kamu mau nggak?"


Alya sedikit terkekeh. "Nggak sibuk."


"Berarti mau yah?" harap Joy bersemangat.


Alya tersenyum angguk.


"Yes! Yaudah, aku pulang dulu ya. Sampai besok. Dah..."


Alya melambaikan tangannya tidak hilang senyuman dari bibirnya kepada Joy.


...****************...


"Sorry, gue tinggal dulu tadi."


"Santuy," sahut Ello. Lalu ia merubah posisi duduknya menjadi lebih santai. "Al. Waktu obrolan tadi, menurut lo siapa yang udah ngirim surat ancaman sama jebak Shei?"


"Nggak tahu. Tapi, gue pikir sih... geng NHS tahu sesuatu. Mana mungkin mereka nggak tahu apa-apa sama insiden kayak gitu, setidaknya mereka punya informasi, lah."


"Bener kata lo, Al. Gue pikir juga gitu."


"Hah... Kasian Shei. Ngalamin yang namanya pembullyan di sekolah. Ini udah parah, apalagi ngejebak Shei sampai dia dikeluarin. Nggak habis pikir."


Ello juga merasa kasihan pada Shei. Tapi ia bersyukur sekarang Shei tidak sendirian lagi untuk menghadapi masalahnya. Dengan perasaan yang lega Ello membaringkan dirinya di atas kasur. "Gue mau tidur duluan. Eh, Al..."


"Hem?" Alvin yang sambil berganti pakaian.


"Lo kok bisa barengan sama Rave kesini?"


"Dia ngajakin gue buat ke rumahnya Shei."


"Sejak kapan Rave akrab sama lo?" Ello menatapnya curiga, karena Rave orang yang tidak terlalu selalu akrab dengan orang lain meskipun itu teman sekelasnya. Alvin tertegun sedikit gugup pada tatapan curiganya.

__ADS_1


"Dia kan temen sekelas. Mana mungkin nggak akrab."


"Tapi dia bukan orang kayak gituh." Alvin dibuat gugup olehnya. Dia tidak bisa mengatakan bahwa Rave adalah pacarnya. Bisa diamuk nantinya. "Ah ngantuk, tidur aja deh."


Alvin menghela nafas lega.


...****************...


"Shei...." panggilnya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Shei ternyata yang pertama selesai dia sedang duduk di tempat tidur dan langsung berbalik saat Rave memanggilnya. "Lo ada piyama lain selain ini nggak?"


"Hem? Kenapa emang sama piyamanya?" Rave tampak berpikir melihat dirinya sendiri yang mengenakan piyama merah muda. "Gue udah pilih piyama yang ada celananya buat lo. Gue tahu lo nggak bakalan mau pake piyama yang kayak gue pake sekarang." Rave membenarkan, dia tidak akan mau memakai piyama dress seperti yang dikenakan Shei.


"Makasih," ucap Rave pasrah.


Shei tersenyum mendengarnya.


Rave masih berdiri di tempatnya, dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia bahkan belum mengantuk untuk tidur, bermain ponsel seperti yang dilakukan Shei sekarang, Rave tidak pernah kecuali itu penting. Tatapannya ia menemukan sesuatu yang menarik game console.


"Shei ini punya siapa?"


"Oh itu punya papah. Kalau lo mau mainin pake aja."


Papah... Ayah... Batin Rave.


"Gue pinjem."


Shei angguk. Rave pun ikut duduk di atas kasur bersama Shei yang sedang memainkan ponselnya. Shei sedang mengirimkan pesan kepada orangtua dan neneknya yang sudah lama menunggu kabar darinya.


"Udah kabarin omah?" tanya Rave sambil memilih permainan yang ada di game console ini.


"Udah barusan. Omah sehat, kan?"


Rave angguk, Shei merasa lega.


"Setelah ini apa yang bakal lo lakuin? Lo masih mau cari pelakunya, kan?" tanya Rave. Kali ini dia sudah memainkan game console nya.


Seketika pandangan Shei keluar arah. "Sekarang gue nggak tahu apa yang harus dilakuin. Tapi yang pasti gue bakal cari tahu pelakunya sampai menyebrangi planet bumi pun gue mau."


Rave tertawa kecil mendengarnya. Dia merasa senang dengan kembalinya karakter Shei yang sebenarnya. "Lo pasti bisa. Nemuin pelakunya."


Shei tersenyum. "Makasih." Pandangan Rave teralihkan pada Shei sekarang. "Hah.. awalnya sih gue marah. Tapi sekarang gue berterima kasih sama lo. Mungkin kalau lo nggak ngirim surat itu, gue nggak tahu apa jadinya nanti."


Rave tersenyum tipis.


...🌸...


..."Apa yang terjadi... Pasti akan ada orang yang datang untuk membantu mu. Seperti teman yang selalu ada dibelakang mu menahan mu agar tidak terjatuh dan di depan mu yang akan selalu melindungi."...

__ADS_1


...✨...


__ADS_2