Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 21 Bergelut Pikiran


__ADS_3

Shei berada di dalam ruangan melihat ke luar jendela, menatap langit malam tanpa bintang yang menyinarinya. Hanya lampu jalan, rumah-rumah yang menghidupkan malam yang sunyi ini.


"Lisa, kenapa lo kayak ginih? Sebenarnya ada apa? Apa yang lo sembunyiin dari gue? Atau emang lo nggak mau temenan lagi sama gue?"


"David...."


Setelah apa yang dia temukan sebelumnya, dan informasi yang dia dapatkan tentang sahabatnya. Dia tetap diam dan memikirkannya, mencoba menelepon mereka tetapi nomor mereka tetap tidak aktif. Berusaha untuk tidak mencurigai sahabatnya sendiri, tapi kenyataannya dia tidak bisa melewati hal itu. Lisa dan David, dicatatkan nama mereka ke dalam daftar orang yang ia curigai bersama yang lain.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk kamar Shei, Shei membalik untuk melihatnya.


"Omah?"


"Omah kira kamu udah tidur, omah panggil-panggil daritadi loh."


"Maaf, omah."


"Kenapa? Kamu ada masalah?"


"Hem? Nggak kok, omah." Shei tersenyum. "Omah ada apa manggil Shei?"


"Ada temen kamu dibawah."


"Siapa?"


"Putra Mahendra."


"Alvin?"


Diberitahu bahwa ada Alvin dibawah sana, Shei segera turun untuk menemuinya. Benar. Dia ada disini, sedang duduk di kursi tamu. Dia tersenyum ke arahnya.


"Hai," sapanya.


Alih-alih menyapanya kembali, Shei dengan cepat menarik Alvin keluar. Alvin terheran.


"Lo ngapain kesini?" Shei berbisik dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh neneknya. "Kalau mau bahas soal gue bolos tadi pagi. Plis! Jangan disini, gue nggak mau omah denger. Yah?"


Shei memohon.


"Gue kesini bukan karena itu. Gue mau ngajak lo makan nasi goreng di taman komplek, mau kan?"


Shei terdiam setelahnya.


...****************...


Seorang gadis dengan rambut diikat, mengenakan jaket kulit bersandar di motor cross putihnya selaras dengan helmnya. Dia adalah Rave yang tengah mengamati jalanan, dia seperti serigala dan singa yang menyatu, memiliki hati yang besar dan jiwa pemimpin. Dia tidak menyukai keributan--kekerasan, jika melihatnya di depan mata, maka ia akan memusnahkannya.


Vroom! Vroom....!


Suara motor melintas dengan kecepatan penuh. Akhirnya. Malam ini tidak akan membosankan, dia memiliki tugas untuk mengakhiri kerusuhan ini.


Segera Rave mengenakan helm, menaiki motor cross miliknya dan menghidupkan mesinnya.


Dia akan menyusul orang-orang itu.


...****************...


"Makasih, Pak."


Shei dan Alvin berada di taman dekat perumahan mereka, mereka sedang makan nasi goreng yang baru saja dibuat.


"Om Kevin sama tante Rosa apa kabar?"


"Baik."


Cukup ragu untuk menjawabnya. Pasalnya, Shei belum saling mengirim kabar kepada orangtuanya.


"Mereka di Australia?"


Shei angguk. "Kok bisa tahu?"


Alvin tersenyum. "Kepindahan lo kesini nggak bakal jauh dari kesibukan om dan tante yang balik ke Australia. Dulu juga gitu, lo kesini karena hal itu."


"Lo tahu banyak, tapi gue malah lupa."


"Itu wajar, reality kehidupan. Bukan kayak di film-film, yang mengangkat pertemanan masa kecil yang masih diinget sampe cinta pertamanya."


Ucapan itu membuat Shei tertawa kecil.


...****************...


Di tempat yang begitu ramai, seseorang yang tampak asing berada di antara orang-orang yang tengah menunggu balapan liar.


"Lo ngapain ngajak gue kesini bego?" kelakar remaja laki-laki yang tidak pernah hilang dengan busana style dirinya.


"Nonton balapan lah."


"Eh kalau si Rave tahu lo ada disini, habis." Dia mencoba mengingatkannya. "Gue mau balik."


"Lo pergi banci."

__ADS_1


Segera dia menoleh, menatapnya sinis. Kalimat itu, ia tidak suka. Namun mampu membuatnya kembali ke tempat semula.


"Lo bilang mau cabut?"


Dia menahan emosinya terus menatapnya tidak suka. Jengkel. Mereka adalah Joy dan Ello.


Awas aja lo ya, gue sumpahin lo ketahuan sama si Rave. Batin Joy.


WOAAAAAA


Vroom! Vrom!


HOHOO


WOAAAAAA


Penonton bersorak saat dua sepeda motor tiba di garis finis. Disini ramai sekali karena ada balap motor liar. Kebanyakan yang menonton di sini adalah remaja, diusia mereka SMA dan kuliahan.


"Udah beres kan? Buruan balik dah, gue nggak suka lama-lama disini. Bukan pergaulan gue."


"Tar dulu, biasanya ada cewek cantik. Sayang kalau dilewat."


"Ck, logo rabbit," celetuk Joy mengejeknya sebagai playboy. "Awas aja lo deketin Shei dengan tampang playboy lo ini."


"Oooh kalau Shei beda lagi. Dia spesial."


"Jangan lo jadiin target buat nambahin mantan lo yang kayak cabe-cabean!"


"Sialan lo Joy, gue udah taubat. Selama ini lo pernah liat gue godain cewek-cewek lagi nggak? Jalan sama cewek? Nggak kan?"


Joy terdiam, sudah lama sekali dia tidak melihat Ello dengan tingkah playboynya. Namun ia tetap waspada, agar Shei dijauhkan dari orang-orang seperti Ello. Tampangnya selengkengan, tapi kelakuannya kikuk tapi playboy.


"Mantan terakhir lo siapa?"


"Lia."


"Maksud lo Kak Lia kelas 12 - IPS 2?"


"Iyah, mantan terakhir gue yang paling manis."


"Manis dari Dubai." Joy yang mendengar hal itu langsung merasa mual. "Bukannya mantan terakhir lo itu adik kelas ya? Si Nana."


"Ah~ Nana. Mantan terakhir lah Lia."


"Terus Si Nana?"


"Temen doang."


"Makanya jadi cewek jangan baperan. Disapa sedikit baper," lontar Ello nyinyir.


Joy menghela nafas panjang tidak tahu harus berkata apa lagi pada teman sekelasnya ini. Dasar laki-laki kelinci.


Orang-orang mengucapkan selamat kepada pemenang balapan liar tadi. Pemenangnya mengocok botol soda, lalu dia membuka tutup botolnya sehingga sodanya keluar. Mereka sedang merayakan kemenangan.


Vroom Vroom Vroom!


Motor berhenti di tengah-tengah keramaian itu, membuat mereka terheran dan kesal. Siapa dia? Yang mencoba merusak momen ini.


"Ouw! Gue tahu motor itu." Ello tertegun, menjadi gugup. Ditariknya Joy untuk bersembunyi di balik tubuh orang-orang disini. "Ngumpet anjir!"


"Apaan sih?"


"Ada Si Rave bego."


Joy mengintip, dan memang benar. Pengendera motor cross itu baru saja menunjukkan dirinya, membuka helm. Kesempatan untuk balas dendam. Joy menyeringai.


"Oy Rave...." sapa Joy dengan suara keras membuat orang-orang dapat mendengarnya.


Dan disisi lain, orang yang tengah bersembunyi, ketakutan sedang menyumpahi anak ini. "Sialan Joy!"


Rave menoleh pada suara itu, menemukan teman sekelasnya berada di sini. Berpikir bahwa sejak kapan Joy menyukai tempat seperti ini? Dan ternyata. Seketika raut wajah Rave semakin dingin, melihat Ello.


"Mampus, gue bakal kena ciprat!" Batin Ello.


Dan Joy sangat bahagia, tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan Ello ini.


Rave mengurungkan untuk marah pada Ello. Dia akan menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dengan mereka yang mengadakan balapan liar. Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan Rave. Semua orang tahu. Termasuk aparat kepolisian dan TNI.


"Siapa yang buka balapan liar disini? Huh?"


"Hei hei, kita cuman seneng-seneng aja, main-main lah... jangan dibawa serius. Okey."


"Oh lo orangnya?" tuduh Rave langsung. "Kembaliin uang taruhannya."


Dia tersenyum kecut. "Nggak ada yang taruhan. Bener, kan yah kan guys?"


"Bubar atau gue panggil polisi kesini?"


"Oke oke. Bubar semuanya bubar."


"Kecuali lo."

__ADS_1


Dia menelan ludah gugup.


Orang-orang disini berhamburan, berlari terbirit-birit untuk cepat pergi meninggalkan tempat ini. Tidak ada yang bisa melawan kekuasaan gadis bernama Rave disini. Ello dan Joy yang hendak ikut pergi, namun tatapan Rave langsung mengurungkan niatnya itu. Mereka masih terdiam ditempat.


"Bos, jangan bawa gue ke polisi. Ampun gue salah beneran deh tapi jangan bawa gue ke polisi, gue nggak mau dipenjara lagi."


"Ini yang terakhir."


"Iyah janji yang terakhir."


Rave diam mengampuninya.


"Dibebasin nih?"


"Hem," dehamnya. "Kecuali lo ikutin apa yang gue suruh."


"Hah?"


"Gue ada tugas buat lo."


...****************...


"Enak nggak nasi goreng nya tadi?"


Shei mengangguk senyum. "Makasih."


Setelah makan nasi goreng, mereka pindah ke kompleks taman. Mereka duduk di ayunan taman bermain. Cukup hening beberapa menit, karena tidak ada topik yang dibahas. Akhirnya Shei membuka suaranya.


"Omah bilang, lo juga punya suadara perempuan?"


"Ah Gadis. Gue baru inget, dia titip salam buat lo. Sebenarnya tadi gue ngajak dia juga, tapi dia lagi ngerjain tugas sekolahannya."


"Dia inget gue juga?"


Alvin angguk. "Dia pengen ketemu lo. Mungkin lain hari ya. Lo mampir aja ke rumah nanti."


Shei tersenyum. Pandangannya kembali ke depan menatap langit-langit malam. Tampak kesedihan dari matanya itu.


"Kalau mau cerita gue pasti dengerin."


Mereka menatap satu sama lain, Alvin terus tersenyum membuat Shei sedikit tenang dalam pikirannya.


"Lo punya sahabat?"


"Sahabat? Mmm..."


"Kalau sahabat lo berkhianat sama lo, apa lo bakalan marah?"


Sebelum menjawab pertanyaan awal, Shei sudah mengajukan pertanyaan lain. Alvin mencoba mencerna pertanyaan itu dengan mungkin itu masalah Shei sekarang.


"Kasus seperti apa dulu. Kalau emang itu sesuatu yang nggak bisa dimaafin, tentu gue bakalan marah. Tapi, kalau emang dia bener-bener sahabat bagi lo, sejahat apapun, yang namanya sahabat pasti bisa saling memaafkan."


Shei menyimak dengan sungguh-sungguh. Apa yang akan terjadi nanti, apakah Shei akan dimaafkan atau memaafkan.


...****************...


Dua sepeda motor sampai di tujuan rumahnya. Ello dan Rave. Mereka segera melepaskan helmnya, yang satu akan melarikan diri dan satunya mencoba menahannya untuk tidak kabur.


"Mau kemana lo huh?"


"Rave Rave ampun aahw...!"


"Ngapain lo ke sana? Ikut taruhan?"


"Engg--"


"Jawab!"


"Nggak Rave nggak. Serius dah, tanyain aja si Joy. Gue cuman nonton doang."


Rave melepaskannya. Ello langsung merentangkan lengannya itu, karena kesakitan.


"Kalau tangan gue patah, itu gara-gara lo. Gue aduin lo sama nyokap."


"Sana aduin. Gue bisa aduin balik, anaknya ikut-ikutan balapan liar. Siapa yang akhirnya bakal dibela?"


Rave menyeringai menang.


"Nonton doang, Rave," ulangnya. "Nonton."


"Sama aja. Kagak bener."


Hening sejenak.


"Lo ngobrol apaan tadi sama siapa itu,, orang tadi."


"Kepohhh. Sana pergi."


Rave mengusirnya, dan langsung memasuki rumahnya meninggalkan Ello sendirian yang tengah kesal.


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2