Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 33 Menarik Memori


__ADS_3

David terdiam dengan gelisah memikirkan sesuatu yang telah terjadi di masa lalu yang tidak bisa dia ubah lagi. Dia menggenggam tangannya erat dengan gugup.


Kenapa harus kayak ginih.


Harusnya gue nggak ngelakuin sampe sejauh ini. Sampe nimpalin kesalahan gue ke sahabat gue sendiri. Yang jadi korbannya. Tapi... kalau gue nggak ngambil langkah ini.


David menoleh ke samping, melihat pada pacarnya. Lisa.


Dia yang bakal jadi korban.


David mengacak-acak rambutnya frustasi. "Aaaahrg!"


"Sayang..." Lisa datang cemas setelah melihat pacarnya yang tidak baik-baik saja. "Kamu kenapa?"


"Hah..." David berusaha menenangkan dirinya. Meski pandangan matanya masih tajam. Dia hanya menggeleng kecil untuk menjawab.


Lisa tahu persis apa yang sedang dipikirkan oleh David. Masalah mereka berdua. Dirinya. Atau hanya dia.


"David. Maafin aku. Karena aku...--"


"Nggak, Lis."


"Tapi ini karena aku, Vid. Aku yang salah disini."


David meraih tangan Lisa, agar tetap tenang. "Masalah ini udah selesai. Shei udah dikeluarin dari sekolah. Hum? Kamu nggak usah khawatir."


"Aku yang khawatir sama kamu, David. Kamu ngegantiin aku buat.... buat..-"


"Shuhtt... udah yah. Masalah ini udah selesai. Kita nggak usah bahas ini lagi. Kamu paham, kan?"


Lisa pun tidak lama menganguk pelan, dengan murung.


...****************...


Mereka menghabiskan sepanjang hari di perpustakaan untuk belajar. Ello dan Joy sudah lama tertidur tidak dapat mencapai waktu yang lama untuk belajar. Ghesa yang berusaha menahan tidurnya, meski lelah, tapi tetap, lelahnya menguasai dirinya, ia tertidur. Adapun Alya, dia masih bertahan dengan buku-buku ini. Dan Shei. Meski dia masih terjaga, sibuk dengan penanya, tapi dia sama sekali bukan mencatat materi melainkan buku tersebut adalah catatan yang berisikan teka-teki masalah di sekolah lamanya dan sekarang.


Shruppp


Suara menyeruput dari minuman yang sudah habis, terdengar oleh Alya. Suara itu menggangu konsentrasi belajarnya.


"Shei!" bisiknya dengan tatapan tajam.


"Apa?" Polosnya bertanya.


"Jangan berisik. Ini perpustakaan."


"Oh. Lo keganggu?"


"Iyah, lah! Bukan gue aja. Yang lain juga pasti ke ganggu."


Shei sama sekali tidak merubah ekspresi datarnya itu, melirik ke arah sekelilingnya. "Mana? Nggak ada orang." Alya pun ikut melihat sekelilingnya. Ternyata orang-orang sudah tidak ada. Pulang. "Mana ada orang yang betah seharian di perpustakaan. Kecuali lo." Sindirnya mengenai Alya.


Alya pun dengan kesal kembali pada bukunya.


Kreek Kreek


Apa lagi sekarang?!

__ADS_1


Alya bertambah kesal, tatapan sangat menusuk pada Shei yang tengah memakan es batu. Alya tiba-tiba saja berdiri dan pergi menuju arah rak-rak buku membuat Shei mengikuti perginya Alya. Namun Shei kembali lagi pada catatan dan menggigit es batu yang ia makan.


Ada nama yang sudah ia coret dari beberapa daftar orang yang ia curigai di anggota marching band. Termasuk Ello dan anggota kelas 12. Tapi tidak dengan Rave dan Alya. Dia harus memastikan mereka terlebih dahulu. Juga, dua sahabatnya di Jakarta, Lisa dan David.


Apalagi tadi. Apa yang dikatakan oleh Alya. Bahwa dia dan David telah putus. Shei mempertanyakan hal itu. Bukan hanya itu saja banyak pertanyaan yang harus ditanyakan padanya. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?


Dengan berbagai alasan yang berbeda dan jawaban yang berbeda pula.


Tak! Suara buku yang diletakkan di atas meja, di depan Shei.


"Baca buku ini. Dan berhenti buat gigit-gigit es batu." Sebuah komik diberikan pada Shei, tatapan dia padanya menyadarinya. "Gue bukannya care sama lo. Cuman gigitan es batu lo itu, buat ganggu konsentrasi belajar gue." Setelah menjelaskan alasannya agar Shei tidak salah paham, Alya pun segera duduk kembali, dan menandai materi yang penting dengan stabilo-nya.


Shei menyingkirkan buku catatan dan pikiran tentang masalahnya dan beralih pada komik yang diberikan oleh Alya. Komik Crayon Shinchan. Mengingatkannya kembali pada masa-masa dulu, ketika dirinya masih bersahabat dengan Alya.


"Alya.... Jangan belajar mulu. Gue bosen, nih. Gue nggak mau dikacangin," rengeknya.


"Kan udah aku bilang kamu pulang aja. Aku masih harus nyatet materi buat besok. Udah malem juga ini, kamu emang nggak dicariin orang rumah?"


"Nyariin gimana? Mamah papah gue sibuk kerja."


"Mereka pasti khawatir, Sheila. Nggak boleh gitu." Meski dia berbicara tapi matanya fokus pada buku pelajaran.


Shei mengetik sesuatu di ponselnya. "Beres. Gue udah kasih kabar mereka kalau gue mau nginep di rumah lo."


Alya hanya menggeleng dengan tingkah sahabatnya ini.


Shei tidak suka diabaikan. Di rumah sudah sangat kesepian kenapa disini juga dirinya tetap merasa sendiri. "Alya...."


Terus mendengarkan rengeknya. Alya segera mengambil komik Crayon Shinchan diberikannya kepada Shei. "Baca ini selagi aku belajar biar kamu nggak bosen. Tapi awas. Kalau ada yang lucu jangan ketawa."


"Kenapa?"


"Ihss... dasar. Lo aja yang gila. Gila belajar nggak berhenti-henti. Kasian otak kecapean."


Mereka tertawa meski dengan lelucon garing.


"Phtt..." Shei berusaha menahan tawanya ketika membaca dialog dan melihat gambar yang lucu dari komik ini. "Hahaha.... hahahah...."


"Phht... Hahaha...."


"Berisik. Dasar gila," sindir Alya sambil membuka lembar kertas baru.


"Lo aja yang gila. Gila belajar," balas sindir Sheila padanya.


Alya terdiam menatapnya. Obrolan ini merasa tidak asing baginya. Lagi. Mengungkit masa lalu. Dia segera menghapus pikiran itu. Berlama-lama bersamanya akan terus menarik pada memori lama. Dia membereskan buku-buku dan alat tulisnya, dan dia juga membangun teman-temannya yang tertidur.


"Guys... bangun. Kita pulang."


"Ghesa..." Alya juga membangunkannya yang tertidur di sebelahnya.


"Eummgh... jam berapa ini?" tanyanya.


"Udah sore. Ayok pulang."


Ello ikut terbangun mengucek matanya. Sementara Joy masih asik tertidur.


"Joy bangun," ucap Shei.

__ADS_1


Joy belum terbangun juga.


"Nih, Shei. Kalau lo mau bangunin dia pake jurus ini nih...."


"Aaaarghhh.... Sshh sakit!" ringkis Joy langsung terbangun setelah diinjak kakinya oleh Ello. "Siapa yang nginjak kaki gue? Sakit tahu! Eh pasti lo kan pelakunya?"


Tuduhan yang tepat pada Ello.


"Salah siapa nggak bangun bangun."


"Yang disana," panggil dari seorang penjaga perpustakaan. "Jangan berisik."


Mereka langsung membungkukkan kepalanya meminta maaf atas keributan yang dibuat.


"Ayok pulang. Kalian buat malu aja," sesal Alya.


Dan mereka pun segera pergi dari perpustakaan mengikuti Alya. Sekarang mereka sudah berdiri di luar.


"Gimana guys mau kemana lagi?" tanya Joy sambil menguap.


Ghesa menoleh pada Alya meminta jawaban lebih dulu.


"Gue langsung pulang aja. Lagian udah sore," sahut Alya.


"Kalau lo, Ghes?" tanya Joy.


"Gue...."


Ting! Notif pesan masuk pada ponsel Ghesa, dia segera memeriksanya. "Ah Alya."


"Hem? Kenapa?"


"Mamah gue nyuruh pulang. Di rumah ada saudara soalnya. Gue pergi duluan nggak papa?" Alya tersenyum angguk. "Oke. Makasih ya Alya. Guys gue duluan... dadah..."


Ghesa pun pergi.


"Gue pamit pulang juga," sambung Shei.


Namun sempat ditahan oleh Ello sebelum pergi. "Bareng gue."


"Gue bisa naik taxi."


"Lo keluar dari rumah bareng sama gue pulang juga harus sama gue. Nanti kalau omah marah sama gue gimana?"


Shei menggerutu. "Bawa-bawa omah."


"Nah bener tuh... lo pulang sama El aja. Nah gue anterin Alya," usul Joy. "Yaudah Alya, ayok." Alya hanya mengangguk dengan ajakan Joy ini. "Kita cabut duluan. Shei. Lo, El bawa Shei baik-baik."


"Dih kayak emaknya Shei aja," ledek Ello. "Yaudah Shei kita pergi juga."


Dengan terpaksa Shei pun ikut pulang bersama Ello.


...🌸...


...So, Terus dukung Author dengan like, rate 5, vote, masuk Favorit ❤️ dan jangan lupa komen : Saran dan kritikan agar Author lebih bersemangat dan memperbaiki kesalahannya...


...Jangan lupa juga follow ig author ya @aniedaa__...

__ADS_1


...✨...


__ADS_2