
Pagi yang begitu cerah untuk menjadi hadiah perginya nenek Kartika yang akan menunaikan ibadahnya di tanah suci.
"Omah,, disana omah harus banyak minum, makan, jangan lupa minum obatnya. Jangan sampe telat. Kalau udah sampe Jakarta jangan lupa kabarin Sheila juga. Omah harus banyak-banyak kabarin, Sheila deh."
Nenek Kartika terkekeh dengan tingkah cucunya. Shei kembali memeluk neneknya. Ini sudah terhitung belasan pelukan yang dilakukan olehnya.
"Omah...." Shei mengerucutkan bibirnya sedih.
"Aduh... cucu omah yang cantik. Kenapa nangis? Omah kan mau ibadah."
"Karena omah mau ibadah. Shei jadi inget dosa."
Rave tampak terkejut, menatap Shei tidak percaya dengan lontaran itu.
"Makanya kamu harus sholat yang rajin. Sholat lima waktu, ngaji."
"Iyah, Omah. Nggak pernah kelewat, kok. Kalau nggak ketiduran," kekeh Shei langsung mendapatkan tatapan tajam dari neneknya. "Bercanda, Omah."
"Harus sholat."
"Iyah, Omah."
Paman Jaka mengingatkan kembali nenek Kartika, untuk segera pergi. "Bu..."
Nenek Kartika angguk. "Kalian berdua hati-hati di rumah. Kalau perlu bantuan, panggil paman Jaka yah."
"Iyah, Omah," sahut Shei.
Sementara Rave hanya mengangguk.
Shei kembali memeluk neneknya. Tidak lama. Nenek Kartika melihat ke arah Rave, segera dipeluknya membuat Rave membeku.
Nenek tersenyum, mengelus rambut Rave dengan tatapan lembut. Rave kembali merasakan kehangatan dari keluarga setelah sekian lamanya.
"Kalau Sheila nakal. Kamu hukum aja dia, jangan sungkan-sungkan. Nggak usah takut."
Rave tersenyum mendapat amanah seperti itu. Dan Shei menatap kejut, melihat senyum evil Rave itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Omah hati-hati... dadah... Paman Jaka jangan ngebut-ngebut."
"Siap, Non Sheila."
Rave melirik sekilas ke arah Shei, melihat lagi karakternya seperti pertemuan pertama mereka. Shei yang manja, dan ceria.
Terdengar helaan napas panjang. Rave menoleh ke samping untuk menemukan Shei yang juga meliriknya. Tatapannya menyempit, dan pergi begitu saja. Rave menggelengkan kepalanya.
Aneh.
Berjalan mengikutinya untuk masuk ke dalam rumah. Dan tidak lama kemudian, langkahnya terhenti, membalik.
"Apa?" tanya Rave menatapnya balik.
Shei melipatkan kedua tangannya di dada. "Omah udah pergi. Jadi nggak usah pura-pura baik. Kalau lo mau pergi, balik ke rumah lo, balik aja. Sana..."
Rave mengikuti posenya. "Gue nggak mau." Setelahnya dia kembali melanjutkan langkahnya, melewati Shei.
"Hei! Gue belum selesai ngomong!" kelakarnya menyesuaikan langkahnya dengan Rave dari belakang. "Lo baru sekali ketemu omah! Kenapa lo mau aja bantuin omah gue?! Alasannya kenapa? Huh! Rave! Jawab dong!"
Dugh!
__ADS_1
"--awww!" ringkis Shei kesakitan. Karena tiba-tiba Rave berhenti berjalan membuat Shei menubruk punggungnya. Rave membalik. "Ihs! Kalau mau berhenti bilang dulu, dong! Sakit tahu." Shei mengerutkan keningnya kesal sambil mengusap hidungnya yang berdenyut sakit. Sementara Rave memasang muka datar.
"Lo mau tahu alasannya apa?"
"Apa?" ketusnya.
"Nggak ada," tawar Rave.
Dahinya sudah berkerut ditambah bibirnya mengerucut kesal dengan gadis jangkung menyebalkan di depannya ini. Tangannya sudah mengepal karena dia terlalu kesal dengan Rave. Tapi Rave yang melihat itu tidak takut, malah orang di depannya ini, Shei, sebagai hiburan sekarang.
"Lo nggak cocok buat jadi garang," ledek Rave kepada Shei. "Meong..." Rave mengikuti suara kucing membuat Shei heran. "Hah, nggak usah pura-pura jadi singa. Uuuluu kucing manis."
Kenapa si Rave jadi begini? Batin Shei merinding.
Shei memundurkan langkahnya ke belakang. Dia takut jika Rave dimasuki roh yang membuatnya bersikap lucu seperti itu. Meski lucu. Tapi itu bukan Rave yang ia kenal.
"Hih... lo kerasukan setan lucu ya? Keluar nggak lo dari tubuh Rave!" teriak Shei disela-sela kabur. Melarikan diri keluar rumah.
Dan Rave tertawa terbahak-bahak. Ternyata menyenangkan juga bermain-main dengan seorang adik. Pikirnya.
"HahahaHAHAHhahaha....."
BYURRRR
Mematung.
Seluruh tubuh Rave basah kuyup.
Shei tersenyum senang sepertinya setan yang merasuki Rave telah keluar. Karena jelas, tawa yang terbahak-bahak itu telah berhenti.
"Woah keren nih gayung omah. Manjur buat ngusir setan, Rave," ucap Shei begitu bangga telah mengguyuri Rave dengan air dalam gayung milik neneknya. Seolah Shei tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Lo ngerjain gue?" tanya Rave memandang tidak percaya kepada Shei yang menatapya balik begitu polos.
Tidak ada senyum dan tawa dari Rave. Shei merasakan aura membunuh, yang keluar darinya. Dia melihat, rahang Rave menjadi mengeras, menatap tajam padanya.
Panik.
"Ja-jangan marah. Gu--gue cuman bantuin lo, kan. Liat tuh... lo udah berubah jadi preman lagi."
Perkataan Shei malah membuat suasana menjadi mencengkram.
Aduh gue salah ngomong. Cabut deh.
"Maaf." Shei menyengir seperti orang bodoh sebelum hendak kabur.
Dan.
"Mau kabur kemana, huh?!" Rave berhasil menangkapnya, dia menarik baju Shei dibelakang.
"Aaa! Ampun, Rave. Nggak sengaja. Sumpah."
"Nggak sengaja lo bilang?!"
"Se-sengaja, deh."
"Sengaja?!"
"Ma-maksudnya gue... nggak ada niatan ngerjain lo. Gue takut aja lo kerasukan setan. Jadi lucu, ketawa-ketawa. Nyerimin kalau lo kayak gituh, tahu!"
"Oh.... Sekarang lo berani ngatain gue?"
Aish serba salah gue ngomong. Batin Shei.
__ADS_1
"Yaudah deh gue minta maaf. Lepasin sekarang," sungut Shei karena baju belakangnya masih ditarik oleh Rave.
"Hoho nggak segampang itu kucing," kekeh Rave menyeringai.
KUCING?!
Beberapa menit kemudian.....
Suara mesin cuci terdengar cukup keras tengah mencuci pakaian kotor milik Rave. Shei yang berdiri disana dengan malas dan kesal, menunggu cucian itu.
Rave, yang baru saja selesai membilas dirinya, membiarkan rambutnya kering, yang masih basah dengan handuk. Dia berjalan tidak lupa dia melirik ke arah Shei, dia tersenyum puas melihat Shei yang kesal padanya. Shei di sana memperhatikan, senyum jahat Rave muncul. Terganggu.
Suara mesin cuci berhenti. Shei segera mengambil cucian dan memasukkannya ke dalam ember. Dia berjalan melewati Rave yang tengah duduk manis sambil menonton televisi. Shei menyipitkan matanya menahan kekesalan. Rave menahan tawanya.
Sekarang Shei tengah menjemur cucian itu di halaman belakang sambil mengoceh, meluapkan kekesalannya terhadap Rave. Yang tengah duduk santai seperti Ratu. Sedangkan dirinya menjemur pakaiannya, seperti seorang pelayan.
"Dasar cewek nyebeliin. Bisa-bisanya dia nyuruh gue cuciin bajunya?! Di rumah gue lagi!" gerutunya. "Tu orang udah preman, kayak singa, nyebelin banget. Haha ck baik?" Shei mengingat perkataan orang-orang tentang Rave. "Baik dari Paparan Ciamis."
"Udah puas ngejeknya?"
Suara menyebalkan itu terdengar dari arah belakang. Disana Rave dapat melihat Shei dengan jelas. Karena ruang tengah terhubung, dapat melihat ke halaman belakang.
Shei memutarkan bola matanya. Jengkel. Dia dengan kesal mengambil ember, dia telah selesai menjemur pakaian Rave. Berjalan dengan hentakan kaki keras menuju arah keberadaan Rave.
"Udah puas ngerjain gue nya?"
Shei mengikuti cara bicaranya tadi.
"Gue aduin lo ke omah. Biar lo diusir dari rumah ini."
"Ho udah berani ya kucing ngancem singa?" ledeknya.
Shei tidak bisa berkata lagi. Sosok Rave sekarang berbeda dengan Rave di sekolah. "Rave yang dingin, cuek, baik hati, pahlawan nasional, sering menabung. Wleek... yang kayak ginih?" Menatap sinis kepada Rave yang tengah memperhatikannya sedari tadi.
"Sheila... murid baru yang berani sama geng ThreeZ, sering bolos, cewek nakal. Ah, termasuk anggota geng NHS di sekolah lama lo. Yang mirip kucing orangnya?"
Rave berhasil membalas ejekan itu.
Tapi tampaknya kalimat terakhir membuat Shei marah bukan lagi kesal. "Emang kenapa kalau gue anggota geng NHS?? Tukang bully, cewek bar-bar, murid yang dikeluarin sekolah karena nyuri soal ujian. Kenapa?! Lo mau hengkang gue juga dari Bakti Nusa huh?!"
Rave menyadari perubahan sikap Shei, yang lebih sensitif karena menyebutkan geng di Nusantara High School.
"Ah~ gue paham sekarang. Lo mau-mau aja disuruh sama omah buat tinggal disini. Karena lo punya niat. Biar gue dikeluarin dari sekolah lagi? Gituh? Gituh huh, Rave?! Silahkan! Lo mau jebak gue kayak di sekolahan lama. SILAHKAN! Atau sama cara lain. Gue nggak peduli! Ck... Sekolah.... Geng.... GUE BENCI, MURID MACAM LO!! PERGI!! Pergi lo dari rumah omah gue...!!"
Shei mendorong Rave pergi. Tapi Rave masih bisa mempertahankan posisinya, dia tidak menghentikan Shei sama sekali.
"PERGI....!!"
Rave masih bertahan.
Shei sudah muak. Nafasnya memburu karena terus berteriak, meluapkan emosinya. Tidak mengatakan sepatah kata lagi, Shei pergi ke arah kamarnya meninggalkan Rave.
"Hah... Jadi ini masalahnya," gumam Rave disela helaan.
...🌸...
...Rave & Shei...
...Yang sabar ya Rave sama kelakuan adik luknut mu (**)...
...Jadi.... Apa nih alasan Rave mau tinggal bersama Shei untuk sementara waktu???...
__ADS_1
...✨...