Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 74 Awal yang Baru


__ADS_3

Pintu kantor kepala sekolah terbuka, Shei dan Alya telah keluar dari sana.


"Shei..." Ello datang dengan perasaan khawatir. "Kamu nggak papa?"


Shei mengulum senyum, angguk.


"Alya." Ghesa pun datang tidak lama dari itu, dia kesini untuk menemui Alya.


Ghesa dan Shei bertukar pandang, tidak sepatah kata pun dari mereka, diam membisu.


"Ayok," ucap Alya kepada Ghesa mengajaknya pergi. Ghesa pun mengangguk.


Perginya mereka benar-benar tidak ada sepatah katapun yang terucap.


"Sheila," panggil Pak Satria yang baru saja keluar dari kantor kepala sekolah. Shei menoleh menatapnya. "Saya tidak dapat membantu kamu lebih banyak tentang masalah yang kamu miliki di sekolah lama, dan membawanya ke sini."


"Bapak sudah banyak membantu saya di dalam. Terima kasih, Pak."


Pak Satria tersenyum angguk. "Selama kamu di skors. Bukan berarti kamu hanya diam saja di rumah, kamu juga harus belajar."


"Baik, Pak."


"Bapak tenang aja. Kan ada saya. Saya bakalan bantu Shei belajar selama dia di skorsing," seloroh Ello.


Pak Satria menatap remeh anak muridnya ini, terlalu berbangga diri. "Kamu juga, harusnya introspeksi diri. Dateng ke sekolah sesuka hati, selalu membolos. Kamu ini seorang pelajar. Generasi muda penerus bangsa."


"Iyah yah, Pak," tukas Ello malas. "Saya paham. Apa yang dimaksud bapak." Pak Satria berdehem kecil. "Kita permisi, kelas dulu ya, Pak."


Ello dan Shei pamit lebih dulu dengan sopan.


......................


Alya dan Ghesa telah kembali ke kelas mereka. Fay yang sedang duduk di kursinya langsung bangkit setelah melihat Alya sudah kembali dari kantor kepala sekolah. Fay penasaran dengan hukuman apa yang didapat Shei.


"Alya. Gimana? Shei dapet hukuman apa? Apa dia keluarin dari sekolah kayak dulu?" tanyanya dengan tawa ledek.


"Dia di skorsing," jawab Alya tawar.


"Berapa lama?"


"Seminggu."


"What?! Kok bisa, sih, cuman sebentar!" cemooh Fay. "Harusnya. Orang kayak dia tuh di keluarin dari sekolah. Buat malu sekolah! Tukang bully! Apa bagusnya di pertahanin murid macam dia?! Ck. Pasti nyogok tuh anak."


Alya tidak peduli, tidak menganggapi apa yang dikatakan Fay yang terus mencerosos tentang Shei, dan saat itu pun Shei tiba.


Shei terdiam, menatap orang-orang yang menatapnya, Shei melangkah maju mencoba mengabaikan tatapan dan bisikan yang mereka berikan padanya. Dia ke kelas, hanya untuk mengambil ranselnya lalu pergi lagi.


Melihat Ello yang terus-terusan mengikuti Shei, mereka semakin dekat membuat Fay marah dan kesal. Apa yang dipikiran Ello sampai ia menyukai gadis seperti Shei yang lebih buruk daripada dirinya.

__ADS_1


Ello mengantar Shei ke gerbang sekolah. Shei mengawali hari skorsingnya hari ini, dan Shei akan pulang ke rumah.


"Maaf, aku nggak bisa nganterin kamu."


"Nggak papa. Makasih."


"Kamu hati-hati di jalan."


"Iyah," jawab Shei diselingi tawanya.


Ello tersenyum melambaikan tangannya sampai bayangan Shei telah hilang tidak terlihat.


"Ekhem! Sampai ngeliatinnya kayak gituh," sindir pria tua berseragam yang merupakan satpam sekolah.


Ello berseri. "Cantik, kan, Pak Japri. Pacar saya."


Pak Japri mengangguk-angguk. "Jagain pacarnya yah. Jangan buat sakit hati."


"Siap, Pak!" Ello tertawa kecil senang mendengarnya.


...****************...


"David."


Langkah David berhenti saat temannya yang merupakan kakak kelas sekaligus ketus OSIS, memanggilnya. "Kenapa, Dra?"


"Iyah."


"Nah, gue, bakal nunjuk lo buat hendel itu. Lo bisa, kan?"


"Bisa."


"Bagus. Ya... itung-itung pengalaman lo, dan nunjukin kalau lo cocok jadi ketua OSIS selanjutnya. Gantiin gue." David senang mendengar hal itu. "Oke. Nanti gue kabarin lagi. Pasti ada kumpulan buat bahas ini."


"Siap. Makasih, Dra."


David terdiam memikirkan sesuatu setelah temannya pergi. Pada saat yang sama dia memikirkan apakah dia pantas menjadi ketua OSIS setelah apa yang dia lakukan di semester lalu.


...****************...


Setelah mengantar Shei ke gerbang sekolah, Ello kembali ke gedung sekolah. Ia juga tak sengaja bertemu Feby, ketua ekstrakurikuler marching band.


"Eh, Feb. Kaki lo udah baikan?"


"Heem. Alhamdulillah. Lihat, udah bisa jalan gue."


"Syukur, deh," sahut Ello lalu menatapnya tidak percaya mengingat kejadian saat itu. "Ada-ada aja lo, bisa sampe jatuh gituh."


"Gara-gara tongkat nyebelin itu, tuh! Yang kepala bundarnya sering lepas! Tiba-tiba aja ada di depan gue, dan gue nggak lihat, keiinjek, jatuh. Ih kesel!"

__ADS_1


"Tongkat itu, buang aja! Beli yang baru," saran Ello yang cukup kesal juga. Feby mengangguk. "Soal marching band gimana? Udah ada susunan buat kegiatan?"


"Nah soal itu. Gue ada kabar baik buat anggota marching band kita."


"Apaan?"


"Lo pasti tahu, kan. Marching band dari SMA Merdeka?" tanyanya, dan Ello sangat tahu. Marching band dari SMA Merdeka adalah salah satu marching band yang berada di kota ini yang selalu memenangkan kejuaraan sampai nasional dan pernah tampil di luar negeri. "Mereka kepilih lagi wewakili provinsi Jawa Barat buat ikut Kompetisi Marching Band Nasional."


"Gue iri banget. Tapi mereka emang pantes buat ikut mewakili."


"Eh jangan sedih dulu, gue belum selesai. Waktu penampilan kita di Dies Natalis itu, ternyata pihak pelatih MB Merdeka lihat perform kita. Dia pengen ngerekrut beberapa anggota dari MB Baknus buat ikut gabung ke MB mereka."


"Wah seriusan?" kejut Ello berbinar-binar.


Feby angguk. "Nah gue minta lo kabarin anak-anak buat besok kumpul di lapangan. Karena pelatih MB Merdeka bakal dateng."


"Oke siap. Tapi, Shei. Dia lagi di skorsing, nggak bakalan bisa ke sekolah."


"Gue yang bakal bicara sama kepala sekolah, deh."


"Wah makasih nih, Feb. Lo emang ketua yang paling the best!"


"Alah bisa aja. Yaudah, jangan lupa kabarin anak-anak. Gue pergi dulu, mau ke perpustakaan."


"Sok sok an ke perpustakaan," ledek Ello.


"Minjem buku buat bikin tugas. Oke. Bye..."


Mendengar kabar baik ini, Ello begitu senang. Merasa kegiatan kali ini akan menjadi momen yang terbaik dan tidak pernah terlewatkan.


Waktu terus berjalan sampai bel masuk telah kembali berbunyi. Kelas Flower segera didatangkan oleh wali kelas mereka, Satria. Mereka bertanya-tanya padahal hari ini tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh beliau.


"Anak-anak mohon perhatiannya sebentar." Tampaknya para murid telah duduk dengan rapih dan siap untuk memulai. "Saya di sini untuk menyampaikan kabar baik bagi anggota kelas ini, yaitu teman kalian akan berpartisipasi dalam Olimpiade Sains Nasional. Diantaranya, Alvin Mahendra yang mewakili mata pelajaran Biologi. Dwi Alya Putri, mewakili matematika, dan…


Pak Satria menggantung kalimatnya melihat kertas yang dipegangnya, ada dua nama siswa yang mewakili pelajaran Bahasa Inggris, yaitu Shei dan Fay. Dan Pak Satria harus memilih, karena pilihan pertama seharusnya Shei tapi Shei diskors, oleh karena itu Pak Satria memilih Fay untuk mewakilinya.


"Callista Fay, yang mewakili mata pelajaran Bahasa Inggris."


Seisi kelas begitu ramai mengucapkan selamat kepada teman-temannya yang terpilih mengikuti olimpiade sains tingkat nasional. Mereka yang disebut-sebut seperti Alvin, Alya, dan Fay pun senang.


"Ada satu lagi kabar lagi. Brave Razita, terpilih untuk mengikuti O2SN cabang Karate Putri."


"Ouuuu.... Rave...." sorak semuanya melihat ke arah Rave berada. Namun Rave merasa salah tingkah, ia pun menjatuhkan kepalanya, menidurkan diri di atas meja. Membuat yang lain tertawa dan terhibur.


"Okeh. Karena guru yang mengajar pelajaran sekarang sudah tiba. Saya pergi dulu, terima kasih anak-anak. Semangat terus, semoga berhasil."


"Terima kasih, Pak."


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2