
Shei dan Rave duduk bersama di sofa dengan televisi menyala. Meskipun mata mereka tertuju pada televisi tetapi pikiran mereka terpaku memikirkan sesuatu yang terjadi pada mereka sebelumnya di sekolah.
Kenapa gue jadi kepikiran sama El terus, sih! Kenapa juga dia bisa suka sama gue? Batin Shei.
Lo kemana kayak ginih sih, Rave! Kalau Al ngambek keterusan gimana? Tadi, gue diem nggak ngelerai mereka juga kan ada alasannya. Batin Rave.
Keduanya memikirkan anak laki-laki yang berbeda dan masalah yang berbeda. Shei yang mendapat pernyataan cinta sedangkan Rave yang marah pada pacarnya.
"Hah..." Bersama-sama mereka menghela nafas dan bersandar di sofa. Menyadari melakukan gerakan yang sama, mereka segera saling memandang dengan terkejut.
"Ngapain ngikutin?!" sungut Shei.
"Dih! Kegeeran!" timpal Rave.
Sudut mata Shei masih menyipit untuk menyelidiki Rave yang ada di sampingnya. Jika kalian bertanya tentang Rave masih di rumah ini. Tentu saja karena Nenek Kartika. Nenek Kartika tidak pulang karena ada urusan di Jakarta belum lama ini. Tidak habis pikir, Shei dipercayakan kepada neneknya adalah sebuah kebohongan, dia juga ditinggal pergi.
Shei menopang dagunya dengan tangannya. "Lo kenapa... Hah....? Ada masalah?" Shei mengulang kembali helaan nafas seperti Rave.
Dan Rave juga mengikuti kembali pertanyaan dan helaan nafas seperti Shei. "Lo juga kenapa... Hah...? Punya masalah? Oh. Gue salah nanya. Emang punya, kan?" Sindiran keras untuknya. Rave menyeringai.
"Nyebelin lo!" cicit Shei menyesal untuk mengajaknya berbicara. Tapi entahlah. Sekarang Shei butuh teman curhat. "Rave..."
"Hem?"
Shei sedikit kesal dengan deheman Rave seolah malas untuk membalasnya. Tapi bukan saatnya mencari keributan. Shei sedang lelah. "Pernah nggak, ada cowok yang nyatain perasaannya sama lo?"
Mendengar pertanyaan itu, Rave segera menoleh dengan tatapan curiga meski tampak lebih datar eskpresinya. "Lo habis ditembak?"
Tepat sasaran. Tapi Shei berusaha untuk tidak memberitahunya. Karena cepat atau lambat, Rave juga akan tahu karena dia sahabat Ello. "Gue yang nanya malah balik tanya," gerutu Shei. "Nggak. Gue cuman... pengen nanya doang. Mm lo punya orang yang disuka nggak? Atau lo pernah pacaran gitu?"
Rave mengubah posisinya untuk menghadap Shei. Sedikit terkejut mengapa Shei menanyakan itu, seolah-olah mereka dekat sampai menanyakan perihal cinta. Meski begitu, Rave mengikuti percakapan itu.
__ADS_1
Dia menggeleng untuk memberi jawaban kepada Shei. Sebuah kebohongan. "Kalau lo?"
Shei mengangguk pelan, sedikit ragu. "Waktu kelas 2 SMP." Rave tersenyum menganguk-angguk mendengarnya. "Tapi cuman seminggu."
"Seminggu?" kejut Rave.
Shei angguk sambil berseri. "Karena TOD. Apa itu kehitung pernah pacaran?"
"Kalau sama-sama suka yah... mungkin bisa kehitung." Rave berusaha menjawabnya meski sebenarnya ragu.
"Mm kayanya nggak, deh. Gue nya nggak suka," ujar Shei begitu polos.
"Terus kenapa maen TOD an? Nggak kasian apa sama yang jadi korban lo?"
"Kan bukan gue yang mau. Temen-temen gue. Lagian juga cowok itu mau-mau aja. Enak di dia kan pasti? Bisa pacaran sama cewek populer kayak gue." Shei tersenyum puas sekaligus memamerkan popularitasnya di SMP.
Rave yang mendengarnya hanya bisa menggeleng dengan tingkahnya itu. "Jadi. Selain pacaran karena TOD. Lo belum pernah pacaran serius?"
"Yap. Betul."
"Banyak yang suka sama gue. Tapi gue nya nggak mau. Hah... entahlah. Gue belum sempet kepikiran pacaran. Sama masalah di sekolah juga udah pusing. Apalagi nanti kalau pacaran terus punya masalah," ungkap Shei.
Rave tersenyum, senyum yang tulus dan bangga. Dia menepuk bagian belakang kepala Shei dengan ringan. "Bagus. Nggak usah pacaran dulu. Masih kecil." Sambil beranjak pergi ke arah dapur.
Shei mengerucutkan bibirnya karena Rave menyebutnya 'anak kecil'. "Gue bukan anak kecil, Rave!"
"Iyah tahu. Lo kan anak kucing," ledeknya lagi dari Rave tidak bisa berhenti tersenyum. "Gue mau masak. Lo mau makan apa?"
Yang pada awalnya akan marah karena Rave terus menggodanya, tetapi tidak karena Rave menawarkan untuk membuat makan malam.
"Nasi goreng," sahut Shei dengan suara pelannya malu. "Nasi goreng buatan lo enak."
__ADS_1
Rave senang mendengarnya.
Selama tinggal di sini, ada sisi baru yang Shei temukan. Rave yang sangar di luar dan selalu berkelahi ternyata pandai memasak juga. Dan saat itu, Shei selalu mencicipi masakan Rave. Itu tidak terlalu buruk. Tapi untuk nasi goreng buatannya, rasanya enak.
Selagi menyiapkan bahan masakan. Rave memikirkan tentang percakapan tadi. Siapa yang udah nembak Shei ya? Apa... Elmo?
...****************...
Alya sedang bersantai sejenak di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ia cukup lelah dengan latihan marching band, dengan tugas kewajibannya sebagai ketua kelas dan wali kelas selalu meminta bantuannya.
Tapi tiba-tiba dia memikirkan perdebatan di sekolah dengan Ghesa. Kenapa Ghesa bisa bersikap seperti itu? Menuntut agar Shei tetap bersalah, dan mencoba agar dirinya membenci Shei.
Shei adalah sahabatnya sejak SMP. Namun saat masuk SMA, Shei berubah drastis. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja selama satu bulan menjadi murid SMA tapi kemudian lama-lama Shei menjadi berubah.
Meskipun Shei selalu menjadi siswa populer, ketika dia masuk SMA dia menjadi nakal seperti bergabung dengan geng sekolah yang buruk, kemudian menyebabkan masalah, menggertak siswa lain, selalu membolos. Tapi dari semua itu, Alya tidak pernah melihat Shei secara fisik menyakiti siapapun kecuali teman gengnya terkadang memakai fisik untuk menyakiti orang lain. Shei hanya diam melihat teman satu gengnya menggertak mereka atau tidak dia hanya menggunakan kata-kata yang menyakiti orang lain atau menyuruh mereka seperti pelayan.
Tapi dari sudut mata Shei ketika teman satu gengnya menggertak para siswa. Alya menangkap sorot kecemasan dan rasa bersalah di mata Shei. Saat kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut Shei untuknya. Kedengarannya seperti kebohongan bagi Alya. Berpikir ada sesuatu yang Shei sembunyikan darinya.
Alya memang pernah ditindas oleh geng NHS sebelum Shei bergabung dengan geng tersebut. Shei tidak tahu bahwa Alya benar-benar diganggu oleh mereka. Namun setelah itu dengan kaget, Shei bergabung dengan geng NHS yang selalu mem-bully Alya, tentu saja Alya kecewa dengan Shei. Namun lama kelamaan Alya tidak pernah di bully lagi oleh mereka, tapi malah menjadi Babu bagi sahabatnya sendiri, Shei. Juga dengan Lisa. Tapi Alya sedikit bersyukur bukan Kak Yura atau anggota geng NHS lainnya karena jika iya, bullying mereka akan lebih menyakitkan.
Benarkah Shei bergabung dengan geng NHS atas kemauannya sendiri atau karena ancaman atau paksaan. Karena apa yang dilihat Alya, Shei sangat tertekan dan merasa bersalah atas korban bullyingnya.
"Surat. Surat?" Alya mengingat kata-kata Shei saat itu, dan juga melihat surat yang disebutkan Shei secara langsung. "Isi suratnya apa ya? Kalau nggak salah dia nuduh gue yang ngirim surat itu. Apa... Shei udah nemuin orangnya?"
Alya langsung teringat buku catatan Shei yang tidak sengaja terjatuh saat hendak mengambilnya, isi catatan itu adalah nama-nama orang yang dia kenal.
"Ouh! Apa jangan-jangan daftar nama itu, orang yang dicurigai sama Shei?" Alya terkejut sendiri. "Nama-nama itu... semuanya anak marching band. Termasuk gue dan.... Lisa, David?"
Alya ingat nama di bawah adalah nama Lisa dan David yang ditandai dengan tanda tanya.
"Kenapa dia curiga sama anak-anak marching band?" heran Alya. "Jadi, ini alasan lo mau ikut ekskul marching band lagi, Shei?"
__ADS_1
Alya menjadi penasaran dengan isi surat yang diterima oleh Shei.
...🌸...