Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 75 Rekrutmen


__ADS_3

Besok telah tiba di sore hari sepulang sekolah. Shei masih terdiam di gerbang sekolah enggan masuk karena sedang diskors. Tetapi anggota marching band menyuruh Shei untuk datang karena ada pelatih dari sekolah lain akan merekrut untuk lomba. Sebenarnya Shei tidak mau, tapi Ello terus mendorongnya dan juga seorang teman.


"El..." ucap Shei setelah Ello datang untuk menjemputnya. "Nggak papa aku masuk sekolah?"


"Nggak papa. Feby udah ngomong ke kepala sekolah, ke Pak Satria juga. Lagian, kamu ke sekolah waktu sekolah bubar."


"Tapi..."


"Nggak papa, Shei. Mereka semua nungguin kamu di dalem. Ayok."


Shei dengan ragu pergi bersama Ello ke sekolah. Shei juga merasa bersalah terhadap para anggota marching band atas kejadian di Dies Natalis saat itu.


Pada saat mereka tiba di lapangan sekolah, semua anggota marching band telah berkumpul seperti yang dikatakan Ello. Shei dengan ekspresi bersalah di wajahnya hendak meminta maaf kepada mereka.


"Temen-temen, Shei udah dateng, nih."


"Ah... Kak Shei. Kemana aja? Kita kangen heheh..."


Shei tersenyum, tersentuh bahwa dirinya masih diterima di ekskul ini. "Semuanya. Gue... mau minta maaf soal kejadian di Dies Natalis kemarin."


Semua orang senang mendengarnya.


"Nggak papa, Shei. Kejadiannya udah lewat ini. Yang penting lo udah baikan kan sama Alya?"


Shei terdiam sejenak, ia melihat ke arah Alya berada lalu ia mengangguk ragu.


Tiba-tiba seseorang merangkul Shei, yaitu Ahmad, kakak kelasnya. "Dan gue denger-denger, soal postingan itu bukan lo yang upload. Apa bener?"


"Masalahnya udah selesai. Nggak usah banyak tanya," sungut Ello dengan segera menyingkir tangan Ahmad dari pundak Shei dengan tidak suka. "Nggak usah dijawab, Shei."


Shei terdiam.


"Aish! Lo ngerusak suasana, Ahmad!" decit Feby menatap tajam padanya.


"Sorry sorry," sahut Ahmad.


"Okay! Lupain aja, sorry yah Shei," ucap Feby merasa bertanggungjawab juga. Shei tersenyum. "Guys... Kita semua tahu, sore ini pelatih marching band dari SMA Merdeka bakal dateng buat liat penampilan MB Baknus, kita. Dan beliau bakal merekrut beberapa dari kita buat bergabung sama MB Merdeka mewakili Jawa Barat untuk Kompetisi Marching Band Nasional."


Semua orang begitu senang mendengarnya dan berharap dapat direkrut oleh pelatih marching band Merdeka.


"Tapi sayangnya. Kesempatan untuk kelas 12. Nggak ada," lanjutnya.


"Kenapa?" tanya semua orang.


"Umur dibatasi, dan kita-kita kelas 12, nggak bisa ikut. Lagi pula, kita juga mau fokus sama ujian kelulusan. Jadi, buat kalian kelas 10, 11, gunain kesempatan ini, semoga kalian berhasil. Kalau nanti nggak sesuai harapan kalian, kalian jangan putus asa. Oke?"

__ADS_1


"Siap, Kak Feby."


"Oke, Feb!"


"Anak-anak.... Sudah pada kumpul semua?" Semua orang langsung melihat ke arah Pak Satria sebagai pembina dan dia datang dengan seseorang yang semua orang mengira adalah pelatih marching band dari SMA Merdeka.


"Sudah, Pak."


"Shei juga udah dateng."


Pak Satria tersenyum senang. "Oke anak-anak. Kalian semua sudah tahu kenapa kita kumpul di lapangan. Kita kedatangan pelatih marching band dari SMA Merdeka. Silahkan, Bu..."


"Baik. Hallo semuanya..." sapa ramah darinya. "Perkenalkan nama saya Vivian, kalian panggil saya kakak saja yah karena saya belum tua-tua juga." Semua orang tertawa mendengarnya begitu juga dengan Pak Satria. "Saya pelatih marching band Merdeka, dan kedatangan saya kesini, saya ingin melihat penampilan kalian. Sebelumnya saya melihat performa kalian kemarin di acara sekolah yah? Dan saya takjub atas penampilan kalian itu, itu sangat keren."


"Terima kasih, Kak."


"Dengan tujuan saya kesini. Saya ingin merekrut beberapa dari kalian untuk bergabung bersama saya dan MB Merdeka untuk ikut Kompetisi Marching Band Nasional. Jadi, harapan saya, semoga saya tidak salah memilih kalian untuk ikut bersama saya nanti. Baik, kalau gitu... bisa saya melihat penampilan kalian yang memakau seperti kemarin?"


Semua orang saling menatap satu sama lain dengan senyuman dan semangat mereka untuk menunjukkan penampilan yang memakau dari Marching Band Baknus.


"Shei." Feby memberikan tongkat komando padanya membuat Shei heran. "Lo yang jadi mayoret."


"Bukannya kaki Kak Feby udah baik-baik aja?"


"Yah, udah baik. Tapi penampilan kemarin itu, semuanya berjalan karena mayoret-nya lo. Berkat lo, kita bisa kedatangan pelatih MB Merdeka buat ikut lomba nanti," tutur Feby. "Udah... nggak papa, Shei. Gue kan nggak bisa kepilih juga, anggota kelas 12 dateng kesini itu buat bantuin kalian. Dan ada yang bilang sama gue, kalau lo itu dari dulu seneng banget jadi mayoret. Jadi, jangan sia-siain kesempatan ini, lo mungkin bisa direkrut oleh Kak Vivian."


"Makasih, Kak."


Feby tersenyum angguk. "Mereka udah nunggu mayoret Shei tuh."


Shei tertawa kecil. "Kalau gitu, gue kesana."


"Iyah. Semangat! Kalian semua semangat! Jangan-jangan malu-maluin Marching Band Baknus," teriak Feby menyemangati.


Semua telah diposisi masing-masing. Mereka akan menampilkan yang sama seperti saat di Dies Natalis.



Shei sudah memulainya.


Musik yang mereka mainkan terdengar begitu nyaring, berirama dan penuh apresiasi untuk menyampaikan apa yang mereka mainkan. Yang dikomandoi oleh Shei, sebagai mayoret yang telah berpengalaman selama sepanjang hidupnya di sekolah.


Tidak lebih dari tiga belas menit meskipun anggota mereka sedikit tetapi menunjukkan penampilan yang sempurna. Vivian yang merupakan pelatih marching band dari sekolah lain juga sangat senang melihat Baknus Marching Band dengan konsep yang jarang dilakukan oleh marching band biasa, apalagi melihat mayoretnya, benar-benar menjiwai dan bisa mengatur semuanya dengan baik.


Mereka menghela nafas lega setelah mereka selesai menunjukkan performanya dengan kemampuan, memberikan yang terbaik dan mendapat tepuk tangan dari para pelatih, dan ketua Feby di sini.

__ADS_1


Sekarang mereka gugup, menunggu pengumuman yang akan dikatakan oleh pelatih Vivian yang sedang berdiskusi bersama pak Satria disana.


"Bagaimana bu Vivian?"


"Mereka tidak mengecewakan saya," jawab Vivian. Pak Satria sangat senang mendengarnya, dan bangga pada anak-anak didiknya. "Sayang sekali. Tapi saya tidak bisa membawa mereka semua."


"Mereka pasti mengerti, Bu."


"Iyah. Jika saya lihat, saya begitu tertarik pada mayoret disini. Dia cukup pandai mengatur semua ritmenya, tampak profesional. Saya sudah memperhatikan dia sejak dia berada di SMP dan ternyata, dia melanjutkan SMA nya disini."


"Sebenarnya, Sheila belum lama sekolah disini, dia murid pindahan dari Jakarta, Nusantara High School."


"Ah begitu. Yah, sangat beruntung dia pindah kesini. Jadi, saya dapat merekrutnya," terang Vivian. "Ah iyah, yang memainkan semacam piano tadi siapa?"


"Rave, sebenarnya dia diposisi meniup terompet. Karena penampilan sekarang berkonsep lain, jadi dia memainkan alat musik lain dulu. Rave dan anak laki-laki yang memainkan drum, Ello. Mereka pandai memainkan alat musik."


"Yah, saya melihatnya juga. Mereka lihai memainkannya."


"Apa bu Vivian akan merekrut Rave juga? Jika benar, ibu tidak bisa."


"Kenapa?"


"Ada dua anak disini yang mengikuti perlombaan lain, seperti, Alya... dia ikut dalam olimpiade sains. Dan Rave, dia sudah memutuskan untuk fokus dalam perlombaannya. Dia perwakilan O2SN cabang Karate Putri."


"Ah sangat disayangkan. Tapi saya akan menghargai keputusannya. Anak didik bapak, banyak berprestasi." Pak Satria sedikit salah tingkah, senang mendengarnya. "Semoga dapat berhasil."


"Aamiin."


Setelah beberapa menit pelatih Vivian dan Pak Satria berdiskusi. Akhirnya waktunya tiba bagi anak-anak marching band mendengarkan pengumuman.


"Semuanya. Sekarang, saya akan mengumumkan siapa saja yang akan ikut bersama MB Merdeka untuk ikut berkompetisi. Saya harap kalian tidak berputus asa jika kalian tidak terpilih, kesempatan bagi kalian masih banyak. Mungkin tidak untuk tahun ini. Baik. Saya umumkan, ada empat anak yang akan saya bawa."


Semua orang gugup untuk mendengarkannya. Hanya empat orang yang pelatih Vivian akan bawa bersamanya dalam perlombaan.


"Lily," ucapnya. Gadis kelas 10 yang disebutkan itu menjerit senang. "Reyhan." Begitu juga dengannya, semua orang mengucapkan selamat pada mereka. "Lalu, Ello? Dan Sheila."


"Shei... kamu kepilih," ucap Ello bersemangat.


"Kamu juga," balas Shei senang.


"Selamat untuk kalian berempat. Saya harap kalian tidak mengecewakan saya dan untuk semuanya terima kasih sudah menunjukkan penampilan yang bagus. Jangan berputus asa, kesempatan akan datang lagi."


"Baik, Kak. Terima kasih...."


Akhirnya, kamu bisa ikut lagi dalam perlombaan marching band, Shei. Dalam hati Alya senang.

__ADS_1


...🌸...


__ADS_2