Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 42 Go for A Walk


__ADS_3

Alya dan Joy masih bekerja. Menjadi sukarelawan di perpustakaan kota selama seminggu. Alya mengisi waktu luangnya seperti ini setelah ujian selesai. Dia menyukai perpustakaan, melihat orang membaca untuk mencari pengetahuan, melihat rak-rak yang penuh dengan berbagai jenis buku. Alya menyukainya. Namun tidak sangka, Joy ingin ikut mendaftarkan dirinya sebagai sukarelawan juga.


Sekarang Alya sedang memperbaiki buku-buku yang telah dibaca orang dan meletakkannya di rak. Satu per satu dia menyelipkan buku lain sesuai rak dengan jenis bukunya. Namun, untuk buku yang dia pegang, harus diletakkan di atas rak, Alya berjinjit menaikkan tinggi badannya karena dia tidak sampai. Terus mengatur tingginya, dan buku hampir bisa diletakkan.


"Aah!" Jeritan kecil terdengar dari suara Alya karena terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Dia membeku karena dia ditarik ke dalam pelukan teman laki-lakinya ini.


Klotak..!


Suara buku jatuh dari rak menghantam punggung anak laki-laki ini, yaitu Joy. Joy menahan erangannya, kesakitan. Dia menyadari bahwa gerakan Alya tadi membuat buku yang ada di rak jatuh, dan segera dia berlari menarik Alya agar tidak mengenai buku yang jatuh itu. Joy telah melindunginya.


Alya dengan khawatir melepaskan diri dari pelukan Joy yang telah melindunginya dari buku yang jatuh. "Kamu nggak papa? Punggung kamu..."


Joy tersenyum tidak menampakkan dirinya yang sakit. "Nggak kenapa-kenapa, kok. Nggak usah khawatir."


"Alya... Jonathan?" panggil dari salah satu penjaga perpustakaan. "Udah jam makan siang. Kalian boleh istirahat dulu."


"Iyah, Bu."


"Ayok, Ay. Kita makan..." ajak Joy bersemangat. Namun mendapat respon keheranan dari Alya.


"Ay?" tanya Alya mengulangi panggilan dari Joy.


"Iyah, Ay. Alya. Kenapa?"


"Enggak. Agak.. aneh aja tiba-tiba kamu manggil Ay. Biasanya kan Alya atau singkatnya Al."


"Hehehe tapi bagus dipanggil Ay aja. Kalau panggilan Al kan udah punya Alvin." Alya tersenyum, ia tidak keberatan dengan nama panggilan baru dari Joy. "Suka nggak?"


Alya angguk. "Suka. Jadi lucu."


"Joy gitu, loh." Joy berbangga diri.


"Kalau gitu aku panggil kamu pake nama asli, Jonathan."


"Loh kenapa?" heran Joy.


"Aku suka artinya. Sebuah anugerah."


Apakah Joy tidak salah dengar? Perkataan Alya mampu membuat pipi Joy memerah karena merona karena malu dan senang. Namun ternyata, Alya tidak tahu bahwa ucapannya itu membuat Joy semakin berharap dengan perasaan cintanya.


"Ayok," ajak Alya untuk pergi beristirahat.


Joy tersenyum lebar sambil mengangguk semangat. Jonathan dan Ay. Seperti memanggil nama panggilan kesayangan satu sama lain. Pikiran Joy berbunga-bunga.


...****************...


Shei meninggalkan kamar untuk mencari makanan di lantai bawah, meskipun dia sudah makan tetapi perutnya membutuhkan cemilan. Tidak lama kemudian, pintu kamar lain terbuka memperlihatkan Rave yang hendak mengenakan jaketnya saat meninggalkan kamar sementaranya.


Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik setelah itu mereka mengabaikan satu sama lain. Shei melanjutkan langkahnya dan Rave sama dengan aktivitasnya. Rave melewati Shei dengan sangat cepat menuruni tangga, Shei hanya mendengus melihat kelakuannya yang pergi tanpa permisi.


Rave sudah berada di luar bersiap-siap untuk naik motor cross, hendak memakai helmnya. Motor dengan pemilik Ello kembali lagi berkunjung ke rumah ini.


"Mau pergi?" tanya Ello.


"Hum. Lo mau ketemu siapa?"


"Shei, lah. Ngapain nemuin lo. Bosen," celetuknya.


Rave memutar bola matanya malas. Ia pun kembali memasang helmnya dan melaju pergi.

__ADS_1


Setelah Rave sudah tidak terlihat. "Si Rave mau pergi kemana ya? Gue lupa nanya."


"El..?" Suara itu membuat kepala Ello menengok untuk melihatnya. Shei yang berdiri sambil memegang cemilan terheran melihat ke arah Ello. "Ada yang ketinggalan?" tanyanya.


"Nggak ada," balasnya. "Gue mau ngajak lo jalan. Mau?"


"Nggak," tolak Shei cepat tanpa berpikir panjang.


Ello mendesah. "Diajak jalan satu detik udah ditolak. Apalagi kalau gue ngajak lo pacaran."


Deg! Shei tercengung sampai dia tidak berkedip sebentar.


"Ekmh. Playboy nya lagi kumat ya bang?" sindirnya.


Ello tertawa kecil mendengar itu. "Jadi gimana? Mau nggak?"


Kali ini Shei tampaknya berpikir untuk menerima ajakan Ello jalan-jalan. Karena sebenarnya, Shei sangat bosan di rumah.


"Emang lo mau ngajak gue kemana?" tanyanya.


"Mau atau nggak? Lo nggak bakal nyesel deh kalau ikut."


Shei mengerucutkan bibirnya karena Ello tidak mau memberitahunya. Karena bosan dan penasaran juga Shei pun memutuskan untuk menerima ajakannya. "Lo tunggu disini. Gue ganti baju dulu."


"Oke," balas Ello bersemangat.


Akhirnya setelah sekian lamanya Shei dapat menerima ajakan Ello.


...****************...


Sepeda motor Rave berhenti di kantor polisi. Dia memarkir sepeda motornya dan berjalan masuk untuk bertemu seseorang.


"Brave? Kapan sampe?" tanya pria tua berseragam polisi yang dipanggil Rave.


Rave salam padanya sambil menjawab pertanyaan itu. "Baru."


Orang tua berseragam polisi ber'oh. Namanya Retno dan Rave selalu memanggil paman. Paman Retno adalah teman terdekat mendiang ayah angkatnya, Haris. Dan kemudian paman Retno bersedia menjadi wali Rave setelah Jenderal Haris meninggal. Karena Dara sudah tidak ada. Rave tidak memiliki siapa pun untuk menjaganya.


"Gimana ujiannya? Lancar?"


"Lancar, Paman. Udah selesai."


"Oh udah selesai. Kapan pembagian raportnya? Biar nanti paman yang dateng sebagai wali kamu."


"Nggak usah, Paman. Rave bisa ambil sendiri, nanti Rave cari alasan aja."


"Ih nggak boleh, dong. Tahun kemarin kan paman nggak bisa nemenin kamu. Nah tahun ini waktunya. Semoga aja kerjaan paman nggak bentrok sama hari kamu yah."


Rave tersenyum, tersentuh oleh paman Retno. Meskipun dia tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Selain dibesarkan dan dididik oleh ayahnya, Haris. Paman Retno juga berperan dalam perkembangan Rave hingga saat ini.


"Yaudah kalau gitu. Prajurit Lion kau sudah siap?" ucap Paman Retno bersemangat dan tegas pada kalimat terakhir.


Rave langsung berdiri tegak sambil tersenyum. "Siap, Pak!"


Kalung besi identitas ayahnya Jenderal Haris dengan nama samaran Lion ia kalungkan dilehernya. Rave memakai penuh dengan kebanggaan. Saat ini Rave akan berlatih menembak dengan Paman Retno. Sudah menjadi kebiasaan mereka saling bertemu meluangkan waktu dengan cara seperti ini, latihan menembak.


Jika bertanya tentang mimpi Rave. Tentu saja, suatu hari nanti Rave ingin seperti ayah kebanggaannya, Jenderal Haris sebagai pasukan Angkatan Darat ataupun seperti paman kebanggaannya, Paman Retno sebagai pasukan Kepolisian.


...****************...

__ADS_1


Ello dan Shei telah tiba di suatu tempat. Ternyata Ello mengajak Shei jalan-jalan ke Bogor Mini Zoo. Melihat hewan-hewan disana Shei sepertinya tidak bisa membohongi perasaannya. Shei sangat ceria, sudut bibirnya menjadi cerah seiring dengan sikapnya yang tidak dingin lagi. Ello yang melihatnya ikut senang.


"Woah... ternyata disini ada kebun binatang juga?"


Ello tersenyum angguk. "Lo nggak takut hewan, kan?"


Shei segera menggeleng kepalanya dengan senyuman yang masih ada. Degup jantung Ello tidak terkendali ketika melihat senyumannya yang jarang ditunjukkan itu.


Oy El. Kendaliin jantung lo. Batin Ello mengingatkan dirinya sendiri.


"Kalau gitu... Let's go," kata Ello bersemangat.


"Go!" ulang Shei tersenyum.


Shei sangat takjub ternyata ada anak-anak domba dan kambing yang dibiarkan berkeliaran. Karena anak-anak domba, tubuhnya yang kecil dan putih mulus membuat Shei gemas melihatnya. Sementara Ello gemas melihat Shei.


Mbeee....


Suara domba itu akhirnya terdengar dimana-mana.


"Mau pegang?"


"Boleh?"


"Boleh, dong. Kalau lo mau kasih makan juga nggak papa."


Shei tidak menyesal menerima ajakan Ello. Shei sangat senang. Sudah lama sejak dia melakukan perjalanan seperti ini. Pikirannya hanya sekolah, sekolah, dan sekolah dengan masalahnya itu. Mereka terus menjelajah edukasi satwa disini. Bermain dengan hewan-hewan jinak, membuat Shei lebih rileks. Dan Ello rasa sekarang Shei tengah menjadi dirinya sendiri. Sisi yang Ello ingin lihat semenjak bertemu dengannya.


...🌸...


...Epilog Chapter 42...


Ello dan Shei sedang berjalan-jalan melihat pemandangan di sekitar area ini. Sesuatu terlintas di benak Ello, ia segera mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera. Dia terdiam, mengatur posisi kamera depan tanpa sepengetahuan Shei yang sedang menikmati hijaunya dedaunan.


"Shei..." panggil Ello membuat Shei menengok ke belakang.



...CEKREK!...


Suara kamera berbunyi.


"Yaa! El!" teriak Shei.


Sementara Ello dia berseri-seri melihat hasil foto selfie pertamanya bersama Shei.


"Ih El...! Kenapa nggak bilang mau foto? Gue nya belum siap. Mana...? Hapus ah!"


"Nggak mau!" Ello menjahilinya.


"Ih jelek itu!"


"Kalau diulang pasti lo nya nggak mau. Wleee.... bye bye..."


"Yaaa Ello...! El!"


Ello melarikan diri dan pada akhirnya mereka saling kejar mengejar.


...✨...

__ADS_1


__ADS_2