
Hari demi hari menjelang Dies Natalis Baknus, semua kelas dari tingkat satu, dua dan tiga sibuk mempersiapkannya serta dari beberapa ekstrakurikuler dan organisasi sekolah.
Marching band. Para anggota ekstrakurikuler bekerja sangat keras meskipun bukan kompetisi, tetapi mereka sangat antusias dan tidak ingin mengecewakan sekolah atau orang-orang yang menontonnya. Acara pertama mereka setelah sekian lama, mereka berharap prestasi mereka dapat menghidupkan kembali ekstrakurikuler ini dan juga dapat kembali berkompetisi untuk mengharumkan nama sekolah.
Senyum Shei terukir di sana, dia berlatih sebagai penari bersama yang lain. Tatapan Ello tidak bisa lepas dari senyum Shei, dia telah terhipnotis olehnya. Dia adalah seorang playboy dan telah memiliki beberapa mantan. Tapi dari semua gadis yang ia pernah pacari, hanya Shei yang begitu menarik dan mampu membuatnya selalu mengkhawatirkannya. Ello berharap Shei dapat menerima cintanya.
"Jadi, ini... yang udah nembak Shei."
Suara yang tiba-tiba itu mengagetkan Ello, ia langsung mengalihkan pandangannya dari Shei ke arah pemilik suara itu.
"Eh, Rave! Lo tahu dari siapa gue nembak Shei? Padahal gue belum cerita ke siapa-siapa," seloroh Ello nanap. Rave menyeringai senyum. "Masak... Shei cerita sama lo?"
"Mmm bisa jadi. Tiba-tiba aja cerita soal percintaan ke gue. Yah gue nebak-nebak aja, asumsi gue dia ditembak. Dan.. ternyata bener, kan? Orang yang nembak dia, lo. Jadi, gimana? Ditolak, diterima, atau digantung?"
Ello menghela nafas sambil menggeleng. "Gue nyuruh dia jangan jawab dulu sampai bener-bener dia yakin sama perasaannya sama gue."
"Oke. Semangat!" Rave menepuk bahunya untuk menyemangati teman masa kecilnya.
"Udah? Gitu doang?" Ello membuat Rave bingung.
"Iyah... Emang lo mau apa?" tanyanya ragu.
"Bantuin gue, kek. Biar Shei suka sama gue."
"Kalau buat Shei suka sama lo, gue nggak bisa. Itu tergantung sama hati." Rave tersenyum, sedikit mengeluarkan kekehan.
"Hidih... Omongan lo.... Sendiriya belum pernah pacaran, suka sama cowok juga belum pernah--Akgh!" ejek Ello dengan meringkis sakit karena mendapatkan tepukan keras di bahu oleh Rave. "Lo nggak bisa apa? Nggak mukul gue sehari... aja!"
"Makanya jangan banyak ngomong!"
"Hih omongan gue emang bener! Kenyataan lo."
Rave mendengus kesal padahal percintaan dia lebih baik daripada Ello. Rave belum berani jujur untuk cerita soal itu.
Sepertinya Shei dan yang lainnya beristirahat sejenak, dan tak lama kemudian Joy menghampirinya sambil membawa minuman untuk diberikan kepada Shei.
"Minum dulu."
"Makasih."
"Sama-sama."
Shei tersenyum senang tapi sebelum meminum minumannya, dia mengecek tanggal kadaluarsanya dan benar saja, tinggal seminggu lagi. "Seminggu."
Joy cengegesan. "Udah meningkat. Hehehe...."
Ada kemajuan dari Joy jika dia memberi Shei sesuatu seperti makanan dan minuman dengan tanggal kadaluarsa lebih lama, seperti sekarang.
"Nggak nemuin Alya?"
Saat Shei menyebut nama itu, Joy langsung melirik ke arah Alya berada. Tampaknya Alya sedang sangat sibuk disana. "Nggak, deh. Gue nggak mau ganggu. Mmm gue nitip ini ke lo ya, tolong kasihin ke Alya."
__ADS_1
Shei langsung menggeleng menolaknya. "Nggak. Sendiri aja."
"Pliss, Shei! Tolongin gue. Lo juga kan sering gue kasih cemilannya..."
"Ohh... Jadi selama ini nggak ikhlas. Hitungan."
"Bukan gituh..."
"Ahahah bercanda. Iyah nanti gue kasihin."
Joy sumringah memeluk Shei sekejap. "Thanks you, Shei. Gue cabut dulu ya, ngurusin ekskul lagi. Makasih."
"Iyah." Shei tersenyum.
Dan disana Ello yang melihat Joy memeluk Shei, tersentak kejut. "Wah apa-apaan tuh Si Joy maen meluk aja!"
"Eits! Mau kemana?" Rave segera mencegahnya.
"Nyamperin dia, lah! Awas!"
"Orangnya juga dah pergi. Beloon! Marah-marah... Shei nya juga belum jadi pacar lo. Latihan lagi sana."
Ello mendengus kesal melihat Joy mencuri kesempatan untuk memeluk Shei. Bahkan untuk sesaat.
Shei mencari keberadaan Alya, padahal tadi Alya masih disana bersama yang lain berlatih. Shei pun bertanya pada mereka.
"Alya nya kemana?"
"Oh gituh. Makasih."
"Iyah, Kak."
Shei terdiam sejenak apakah dia temui Alya di Sekre atau menunggu disini. Tapi dia berpikir dia lebih baik menemui Alya di Sekre. Tidak lama dari Shei pergi, Rave datang.
Pandangan Rave mengikuti kemana Shei pergi. "Dia mau kemana?" tanyanya kepada yang lain.
"Oh mungkin nemuin Kak Alya, Kak. Di sekre. Soalnya tadi nanyain Kak Alya dimana."
Rave hanya berdehem setelahnya. "Mm kalian istirahat dulu aja."
"Ah iyah, Kak Rave."
Rave tersenyum lalu pergi.
......................
Alya tampak bahagia, dia menulis sesuatu di kertas, setiap kata yang menyusun kalimat dia tidak ingin mengecewakan seseorang yang menerimanya. Setelah selesai menulis, dia mengambil amplop biru yang ada di sekretariat marching band, lalu dia memasukkan kertas itu ke dalam surat itu.
"Semoga.... Kali ini nggak gagal," ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Namun ternyata ada seseorang yang melihat apa yang dilakukan Alya di dalam sana. Tentu saja orang itu adalah Shei yang awalnya berniat memberikan titipan Joy kepada Alya dan tanpa sengaja, dia menemukan sesuatu yang selama ini menjadi teka-teki surat misteri yang selalu dia terima.
__ADS_1
Grep!
Alya tersentak kaget tiba-tiba Shei ada di sini menggenggam tangannya erat-erat dengan mata berburunya seolah-olah dia sedang marah.
"Lepasin!" Ditepisnya kuat-kuat oleh Alya.
"Lo bilang lo nggak tahu apa-apa soal surat! Tapi ini apa?!" tuduh Shei.
Alya mengerutkan keningnya kebingungan.
"Jangan pura-pura nggak tahu, Alya! Lo salah satu pengirim surat misterius ke gue, kan?! Kasih tahu gue! Lo yang nyuruh gue nemuin pelaku yang jebak gue di sekolah lama, atau lo yang ngancem gue?!"
Alya sama sekali tidak mengerti apa yang Shei katakan. Semuanya. Melihat Alya yang hanya diam, Shei yang semakin murka memutuskan untuk membuka surat Alya tadi, dan berharap Alya bukanlah pelaku isi surat ancaman itu melainkan seseorang yang memiliki petunjuk tentang orang yang menjebak Shei di sekolah lama.
"Jangan dibuka, Shei!" Alya mencoba menghentikannya tapi sepertinya gagal, Shei berhasil membuka surat itu. Tapi apa yang Shei lihat, dia terlihat bingung setelah membaca surat itu.
"Bukan ini." Ada kekecewaan dari suara rendah Shei barusan. Diambilnya kembali oleh Alya surat miliknya itu dari yang Shei.
"Bukan surat ini kan yang kamu cari?" sindirnya kesal. "Bukan aku pelakunya!"
"Hem," deham Shei merasa bersalah.
"Kita harus bicara." Shei langsung menatap Alya ada keseriusan di wajah Alya saat mengatakan itu.
......................
Di luar ruangan ada seseorang yang mendengar pertengkaran kecil Shei dengan Alya, orang itu adalah Rave. Dia tidak sengaja menguping, jangan salahkan telinganya yang berfungsi untuk mendengar.
"Kalau bukan Alya. Siapa yang ngirim surat ancaman ke Shei?"
Rave ingat surat-surat yang dia temukan di meja Shei di kamarnya. Shei menerima empat surat misterius, dua di antaranya adalah petunjuk dan duanya lagi adalah ancaman.
Ia semakin penasaran dengan pelaku yang mengirimkan surat ancaman tersebut karena di balik surat yang memberikan petunjuk baik tersebut, pelakunya selama ini, Rave-lah orangnya. Dia ingin membantu Shei untuk tidak menyerah dalam pencarian keadilan, menemukan pelakunya yang telah menyebabkan kerugian besar, dikeluarkan dari sekolah dan reputasi buruk. Rave tidak ingin melihat adiknya tidak mendapatkan keadilan dari sekolah.
Dengan mengirimkan petunjuk melalui surat yang selalu dia simpan di loker Shei. Mungkin dia setidaknya bisa membantunya secara tidak langsung. Sebenarnya Rave bisa saja langsung mencari pelakunya, tapi dia ingin melihat Shei mencoba mencari tahu sendiri, berusaha sendiri untuk dirinya.
Ketika dia baru tahu, belum lama ini. Shei tidak hanya menerima surat darinya, ada surat lain yang Shei terima seperti sebuah ancaman. Rave awalnya memiliki pandangan buruk tentang Alya karena dia ingat bahwa Alya sangat panik untuk menyembunyikan surat itu darinya. Namun rupanya, kini, dia tidak sengaja mendengar pengakuan Alya sendiri bahwa dia bukanlah pelaku surat misterius kepada Shei.
...🌸...
...Satu teka-teki terungkap nih......
...Ada yang sama dengan pemikiran kalian?...
...Ada yang pernah nganggep kalau Rave itu jahat? Atau emang Rave jahat sebenarnya?...
...Umm.......
...Rave salah satu pelaku pengirim surat misterius. Lalu Alya?...
...Kira-kira pelaku satunya lagi siapa ya?...
__ADS_1
...✨...