Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 48 Envy


__ADS_3

Satu minggu menuju Baknus Dies Natalis. Ekstrakurikuler marching kembali berlatih sehingga dapat menampilkan penampilan yang memukau dan tujuan utama mereka dapat memikat kepala sekolah agar marching band tetap aktif dan dapat mengisi acara maupun perlombaan kembali.


Minggu-minggu ini dijadwalkan untuk siswa yang di remedial atau ujiannya di bawah rata-rata dan diharuskan remedial untuk meningkatkan nilai mereka. Meskipun semua nilai pada mata pelajaran tersebut belum keluar semua hanya beberapa saja yang sudah diumumkan.


Empat kali penampilan yang sudah dilakukan oleh anak-anak marching band untuk berlatih mungkin sudah memakan waktu lebih dari lima jam. Beberapa anggota marching band juga sekarang sudah tidak canggung dan takut pada Shei karena ternyata jika mereka mengenalnya, Shei tidak terlalu buruk.


Sikap Shei sedikit berubah, dia tidak sedingin dan seseram dulu. Sesekali dia tersenyum dan tertawa. Dia juga tidak seketus dulu saat berbicara dengan Ello setelah mereka jalan-jalan bersama. Terkadang mereka berdua mengobrol dan bercanda satu sama lain.


Namun, keraguan Shei terhadap anggota ekstrakurikuler ini masih ada dan trauma dengan sesuatu yang berhubungan dengan ekstrakurikuler marching band seperti yang terjadi kemarin maupun yang berhubungan dengan masa lalu.


"Kalau gitu kita ke kelas dulu ya, Kak."


"Iyah makasih ya."


Latihan telah berakhir untuk hari ini. Satu demi satu, mereka meninggalkan sekre marching band setelah merapikan alat-alat yang mereka gunakan.


"Gue duluan," pamit Rave kepada Ello yang masih meletakkan drum elektrik.


"Oke!"


Ketua Feby mengambil ranselnya yang ada di atas meja diikuti oleh Alya. Feby masih melihat Ello dan Shei yang sedang sibuk merapikan peralatan marching band.


"Belum beres juga?" tanya Feby.


"Dikit lagi. Lo duluan aja, Feb. Alya," sahut Ello.


"Oke, deh. Gue duluan ya, mau remedial takut nggak dapet contekan," kekeh Feby.


Mereka yang masih ada disini terkekeh mendengar lontaran Feby barusan.


"Awas di remedial lagi." Ello berteriak di sela-sela Feby berjalan keluar, dia masih bisa mendengarnya langsung memberikan tatapan tajam dan kesal, tapi ada tawa.


"Maaf. Gue duluan juga. Dipanggil sama Pak Satria," ujar Alya.


"Santuy, Alya," sahut Ello. "Kabarin kalau nilai udah keluar."


"Iyah. Nanti bakal dipajang kok di papan pengumuman kelas, dikirim juga ke grup."


"Oke sip!"


Alya telah pergi. Ello dan Shei masih di sini. Shei terlalu fokus merapikan alat-alat sehingga dia tidak mendengar percakapan antara Alya dan Ello sebelumnya.


Shei telah selesai memasukkan tongkat-tongkat ke dalam wadahnya. Lalu dia pergi ke meja tempat biasanya untuk diskusi karena tasnya ada di atas meja tersebut.


"Udah beres, Shei?"


"Heem."

__ADS_1


Penglihatan Shei menemukan sesuatu di antara alat tulis di atas meja ini. Amplop yang sama dengan yang diterimanya selama ini. Surat misterius. Dia mengambil satu untuk diperiksa. Persis sama. Amplop berwarna biru muda.


Kalau emang pelakunya ada di ekskul ini. Tapi kenapa gue belum nemu juga? Gue udah merhatiin mereka, tapi tetep aja nggak ada yang mencurigakan. Batin Shei sedikit pasrah.


"Shei..."


Shei segera menoleh ke belakang. "Ada apa?"


"Jangan balik dulu. Gue perlu bantuan." Shei sama sekali tidak membantah maupun berdebat seperti biasanya. Ia menghampiri Ello disana dengan tenang. "Tolong pegangin ini. Sebentar."


Ello sedang memperbaiki drum elektrik yang sedikit longgar. Ia perlu bantuan Shei untuk memeganginya, agar Ello lebih mudah untuk memperbaiki drum itu. Dia begitu serius. Shei tanpa sadar menatap Ello dengan cermat dan lekat dari surai rambut cokelatnya yang sedikit berantakan--matanya yang bersinar--hidung yang mancung--bibirnya.... Shei tidak bisa bohong, anak-anak laki-laki ini memang tampan. Sayangnya, bersikap seenaknya.


"Hah... selesai juga. Makasih," ucap Ello menatap Shei. Tapi sepertinya dia menemukan Shei yang lebih dulu memandangnya.


Mereka saling memandang memuji satu sama lain dalam hati mereka. Lima detik, Ello langsung menyadari keduanya. Dia meniup ke wajah Shei. Fhuuww~


"Emk! Ih.. ngapain, sih?! Bau tahu!" cicit Shei berbohong. Sebenarnya ada sesuatu yang fresh yang keluar dari mulut Ello.


Ello tidak bisa mempercayainya, karena sebelum dia memakan permen hangat, dia meniupnya kembali dengan mulut tertutup tangan. Fhuww~


"Bohong banget. Wangi permen ginih," lirih Ello.


Wajah Shei kentara sekali, dia gugup dan malu. "A-ayok balik."


Grep


Dia menarik lengan Shei membuatnya membalik, dan jarak mereka lebih dekat. Tentu saja detak jantung Shei tidak bisa dikendalikan sekarang. Ello mengangkat tangannya perlahan ke arah Shei, lebih tepatnya dia meraih sesuatu, yang mengacak-acak rambut Shei.


"Ngapain?! Rambut gue jadi berantakan!" cicit Shei lagi.


"Ada debu di rambut lo, gue cuman bersihin doang. Sini.. biar gue rapihin lagi." Sikap Ello sekarang terlalu manis. Shei tidak bisa mengontrol dirinya. "Udah cantik lagi."


"Lo-lo kesambet ya?!" sungut Shei, dia sedang menutupi kegugupannya. Pipinya sudah merah merona karena malu.


"Hah?" Ello malah terheran.


Shei menatap tajam, lalu kemudian ia bergegas pergi segera mengambil ranselnya keluar dari ruangan ini. Ello dari belakang memandanginya, dia tersenyum melihat tingkah Shei.


"Lucu."


"Meski lo gabung ke ekskul ini karena maksud lain."


Ello sedikit kecewa pada Shei.


...• • •...


Shei terus berjalan menyusuri lorong membawanya ke kelasnya. Ketika masuk melalui pintu depan, di belakang sana siswa kelas tengah berkerumun.

__ADS_1


"Shei," panggil Joy melihat temannya yang sudah tiba. Dia menyuruh Shei untuk mendekat.


"Ini ada apaan?" tanya Shei.


"Shei. Keren banget lo." Ucapan itu bukan dari mulut Joy melainkan teman kelas yang lain. Shei mengangkat alisnya terheran. "Selamat."


Shei tersenyum kaku, karena dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka. Mengapa mereka memberi ucapan 'selamat'. Adapula mereka yang menatap Shei begitu sinis.


"Jangan pada iri kuy," sindir Joy pada mereka yang menatap sinis ke arah Shei berada.


"Joy ada apa? Kenapa mereka ngasih selamat ke gue?"


"Gara-gara ini...." ujar Joy semangat mengarah ke arah papan pengumuman kelas yang memberitahu daftar nilai ujian yang telah ada.


Shei segera mengecek nilainya.


"Ohoy nilai udah keluar nih?" tanya Ello yang baru saja tiba lewat pintu belakang. Dia ikut bergabung bersama Shei mengecek nilainya.


Dari beberapa mata pelajaran yang sudah out of value. Shei sedikit terkejut. Sedikit. Dia tidak heran jika nilai ujiannya bagus dan hampir sempurna karena semenjak dulu dia selalu masuk rangking kecuali dibandingkan dengan Alya. Alya lebih pintar. Dari beberapa nilai ujian yang keluar, Shei tidak mendapat nilai di bawah sembilan puluh.


"Wih nilai lo gede-gede," puji Ello yang melirik nilai Shei di papan pengumuman kelas. "Pantesan, banyak sorot mata sinis ke lo. Ternyata karena nilai." Sindiran kepada mereka yang mengiri pada Shei. "Lo bisa masuk lima besar nih."


"Nggak, lah. Gue baru disini," sahut Shei biasa-biasa saja. Dia tidak berharap lebih, dan tidak terobsesi masuk rangking.


"Bisa, Shei. Termasuk Alya juga," cetus Joy. "Kalian bisa ngegeser posisi rangking mereka." Karena Alya dan Shei sama-sama termasuk siswa baru yang baru pertama kali melakukan UAS di sekolah ini.


Sebenarnya penghuni Flower Class adalah orang-orang istimewa sejak sekolah membuat kelas diskriminasi ini. Berprestasi tinggi dan konglomerat. Meski bersaing namun mereka juga bersolidaritas dan hanya dua puluh orang di kelas ini, tidak seperti kelas lain yang memiliki lebih dari itu.


Tentu saja di sini, Alvin adalah juara kelas yang mendapatkan tempat pertama tahun lalu. Rave dan Ello juga termasuk di antara lima besar seperti Ghesa dan Fay. Sementara itu, Joy masih berada di peringkat sepuluh besar di kelas.


Namun, untuk tahun ini, kami tidak tahu apakah peringkat mereka masih sama atau apakah ada yang mampu menggeser posisi juara di kelas ini. Tapi sepertinya dua anak baru dari sekolah yang sama, akan ada pengaruh untuk peringkat kelas.


"Cih. Nggak tahu malu banget ya. Bisa jadi dia berbuat yang sama kayak di sekolah lamanya." Obrolan Fay dengan teman-temannya di bangku mereka, membuat Ello, Joy dan Shei tentu saja mendengarnya karena suara Fay sedikit keras untuk menyindir seseorang.


Mereka tahu. Untuk siapa sindiran tersebut.


"Nyuri jawaban biar masuk rangking," lanjutnya di sela-sela tawa mereka.


Shei sadar sindiran itu untuknya. Dia juga tidak tinggal diam, dia segera mendatangi Fay dan teman sekelompoknya disana dengan geram.


"Ohooo... Orangnya dateng nih guys kesindir keras.... Hahahaha...." ledek Fay.


"Heh! Lo kalau emang ada masalah sama gue bilang sekarang!"


Oh no. Semua anak di kelas ini menyadari bahwa akan ada perang lain yang terjadi antara siswa baru populer Shei dengan segudang rumor dan siswa sok Fay sang ratu.


...🌸...

__ADS_1


...Bab 37 ada revisi silahkan bisa dicek kembali ^^...


...Makasih temen-temen...


__ADS_2