
Tidur nyenyak Shei terganggu oleh suara keras di luar. Shei menggeliat sebelum bangkit dari tempat tidur, mencoba meregangkan tubuhnya agar lebih rileks. Melihat keadaan pakaiannya, dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia ingat sekarang. Setelah diantar pulang oleh Ello, ia langsung beristirahat karena merasa tidak enak badan terlepas dari kejadian di sekolah tadi. Benda bundar dari tongkat mayoret jatuh, membuatnya pucat.
Dia berjalan ke meja dan membuka lacinya, mengeluarkan surat-surat yang dia temukan secara misterius di loker setelah datang ke SMA Bakti Nusa. Dia menjajarkan tiga surat, termasuk yang baru saja dia terima di sekolah.
Dua surat mengisyaratkan Shei tentang pelaku yang menjebaknya di sekolah lamanya, dan menyuruhnya bergabung dengan ekstrakurikuler marching band.
Sedangkan dua surat lainnya berisi ancaman kepadanya. Sebuah foto tersebar persis sama dengan yang diposting di media sosial dengan akun @Broken_flower, karena foto itu semua orang mengira Shei adalah pemimpin pengganggu di sekolah. Dan ancaman lainnya adalah orang tersebut mengetahui bahwa Shei mengikuti ekstrakurikuler marching band dan menyebutnya sebagai 'pengkhianat'.
Shei menatap satu persatu teka-teki dibalik surat misterius ini. Dia sangat penasaran dengan siapa pelaku dari surat-surat ini dan juga akun @Broken_flower.
BAAM....!
Praaang....!
"AaaaAahhh....!"
Shei tersentak mendengar suara ledakan kecil dan pecah di luar kamarnya. Dengan panik dia segera keluar untuk memeriksanya. Shei takut ada orang di luar sana yang ingin membobol rumah neneknya. Tetapi. Langit belum terlalu gelap, bisa-bisa ada yang mau mencuri!
Shei mengambil sapu, berjalan perlahan-perlahan menuruni anak tangga dengan waspada. Suara-suara disana begitu ribut, suara perempuan dan laki-laki. Shei menjadi terheran. Arahnya berada di daerah dapur.
"Udah gue bilang apinya kecilin! Sana... beresin! Pungutin tuh popcorn popcorn nya! Dapur orang jadi berantakan. Untung nggak kebakaran nih rumah omah. Nyusahin kalian berdua ini!" geram dari pemilik suara Rave.
Kedua anak laki-laki di depannya terdiam dengan kepala tertunduk. Mereka berdua tidak bisa melawan singa betina yang mengamuk. Bahkan jika kemarahannya memiliki alasan. Keduanya langsung memungut popcorn yang berserakan di lantai setelah meledak juga ada percikan piring pecah.
"Lo sih.. Al..." tuduh dari anak laki-laki yang mengenakan kaos putih namun bawahnya masih menggunakan celana sekolah.
"Lo juga salah, El. Gara-gara lo nggak dengerin Si Rave, malah bercanda mulu. Gue jadi kena amukannya juga, kan," decit dari laki-laki satunya lagi yang mengenakan sweater.
"Salah lo!"
"Lo..!"
"Lo yang salah..."
"Kalian berdua... Mau gue remuk-remukin sampe mulut kalian diem?!" ancam Rave, kesal.
Dan kedua anak laki-laki itu tidak lagi bersuara, menutup rapat-rapat mulutnya. Daripada badan mereka menjadi sasaran tinjauan dari gadis yang memiliki sabuk hitam itu.
Nggak lembut dikit apa sama pacar sendiri? Batin Alvin menatap Rave.
__ADS_1
Rave melihat raut wajah Alvin yang meminta balas kasihan, itu sangat lucu tapi Rave menyembunyikan senyumannya. Jika Alvin dan Rave bersikap akrab, Ello akan curiga.
"Rave....?" Segera Rave menoleh mendengar suara yang ia kenali. Bukan hanya Rave, kedua anak laki-laki itu ikut menoleh. "Alvin? Ello? Kalian bertiga ngapain disini?" Shei terheran dengan Alvin dan Ello yang berada di rumahnya, juga terkejut dengan dapur yang berantakan seperti kapal pecah.
Alvin tersenyum ramah sementara Ello tersenyum lebar sampai matanya sipit, mereka menyapa tuan rumahnya.
"El bukannya lo udah balik daritadi? Terus lo Al... ada apa mampir kesini? Rave... Kalian buat apaan sampai dapur... aduh... kalau omah tahu gimana? Pama Jaka kemana?" Shei benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang ia lihat ini.
"Gue denger dari Paman Jaka, katanya lo sakit. Yaudah deh gue kesini buat ngecek lo," cetus Alvin.
"Terus lo ngapain masih disini?" Shei bertanya kepada Ello.
"Gue... pengen aja," kekehnya. Shei menahan kekesalannya, kerutan di dahinya membuat semakin pusing kepala. "Mau ikut gabung? Kita lagi buat popcorn." Ajaknya begitu polos.
Pandangan Shei langsung memeriksa kondisi dapur ini. Bukan lagi dapur tapi seperti pasar yang berantakan. "Popcorn meledak?" Sindirnya.
"Hehehe... yang barusan gagal. Tapi kita buat lagi. Yah, kan?" Ello menatap Rave lalu Alvin. "Buat jadi temen sambil nonton."
"Hah... terserah kalian. Yang penting dapur beresin, gue nggak mau omah marah," pesan Shei dengan ketus. "Rave... Paman Jaka kemana?"
"Pulang ke rumahnya. Kalau butuh sesuatu telepon aja katanya," sahut Rave.
"Lo udah nggak papa?" tanya Ello mengecek kondisi Shei yang belum mengganti pakaian sekolahnya.
Shei angguk. "Iyah. Gue ke atas dulu."
Pergi untuk menyegarkan tubuhnya, mandi. Shei tidak bisa tidak memikirkan Rave, Ello, dan Alvin. Teman sekelas. Sejak kapan dia dekat dengan mereka bertiga? Hingga mereka dengan santai menggunakan dapur dan memperlakukan rumah ini seperti rumah mereka sendiri.
Setelah beberapa menit kemudian....
Dapur dan popcorn sudah terselamatkan. Ello dan Rave tengah menyiapkan makanan ringan itu untuk menemani mereka sambil menonton. Tidak lama Alvin telah kembali dari rumahnya untuk mengambil beberapa kaset film.
"Filmnya udah ada," kata Alvin yang baru saja tiba.
"Kalian siapin. Gue panggil dulu Shei," balas Rave mendapat anggukan dari Ello dan Alvin.
Setelah tiba di lantai atas, Rave mengetuk pintu kamar Shei dan memanggilnya. "Shei." Pertama kalinya, selama tinggal disini, Rave berdiri di depan kamar Shei lagi. Setelah malam itu.
Tidak ada Jawaban. Agak ragu untuk masuk ke kamar tanpa izin. Tapi pikirannya takut terjadi sesuatu pada Shei di sana. Ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar Shei, pintunya tidak terkunci. Pandangan Rave sudah tersuguhi dengan dekorasi kamar Shei. Feminim. Tentu saja seperti gayanya Shei feminim dan mewah. Rave sama sekali tidak terkejut tentang itu.
__ADS_1
"Shei..?"
Kamarnya kosong. Tapi ada suara di balik pintu lain. Rave berpikir, Shei ada di sana, di kamar mandi. Dia hendak berjalan menuju kamar mandi untuk memanggilnya lagi, tetapi sesuatu menariknya ke arah lain. Rave menemukan surat-surat dan kertas-kertas berjajar di meja belajar.
Melihat satu persatu yang ia temukan dari surat-surat itu. Rave menatap kejut. "Kenapa ada empat surat? Foto ini?"
"Rave? Ngapain di kamar gue?"
Deg! Rave tersentak kejut. Shei sudah keluar dari kamar mandi tampak lebih segar dari sebelumnya.
Shei yang menyadari itu, dia dengan paniknya segera mengambil surat, foto dan kertas-kertas itu dimasukkanya lagi ke dalam laci.
"Sorry gue masuk tanpa izin. Gue udah manggil lo tapi nggak ada balasan. Gue kira lo pingsan di dalem. Gue kesini disuruh sama El buat manggil lo. Ki..ta nonton bareng, di bawah," ucapnya dengan datar. Rave dapat menyembunyikan kepanikannya itu yang tertangkap basah.
"Kita tunggu lo dibawah. Jangan sampe lo nggak ikutan, lo yang punya rumah soalnya," lanjutnya sebelum menutupi pintu kamar rapat-rapat.
"T'ck masih mikirin gue yang punya rumah?" gumam Shei terlepas mengingat mereka menggunakan dapur seenaknya.
Dia pun menatap kembali ke arah meja belajar dan surat-surat yang ada di dalam laci. "Dia liat surat-surat ini nggak ya?"
Shei khawatir jika Rave melihat sesuatu yang ia sembunyikan selama ini.
...🌸...
...Hallo!...
...Kelakuan Shei, Rave, Ello dan Alvin jika pelajaran sedang berlangsung....
...Yang normal cuman Alvin aja ya kayanya... Fokus banget nyimak penjelasan materi...
...Shei sama Rave mikirin apa sih sampe nggak konsen belajar?...
...Ello yang kebingungan dengan pembahasan materi yang berlangsung, yang akhirnya tidur saja...
...________...
...Ada yang mau buat deskripsiin mereka berempat? Kira-kira dialognya gimana?...
__ADS_1
...✨...