Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 90 Mess Up


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin dimana kejahatan yang mereka lakukan terungkap mereka diharuskan kembali ke kantor kepala sekolah dan diminta, orang tua mereka untuk datang ke sekolah.


Orang tua dari semua murid bermasalah ini telah berkumpul untuk pertemuan penting. Mereka sangat kecewa dengan anak-anak mereka yang telah melakukan kekacauan ini. Tentu disini kepala sekolah mengundang orang tua korban yaitu orang tua Shei namun Shei tidak datang kesini karena harus mempersiapkan diri untuk berkompetisi.


Orang tua siswa bermasalah memohon kepada Kevin dan Rosa sebagai orang tua korban untuk tidak melaporkan hal ini ke polisi, mereka juga terus menerus meminta maaf atas kesalahan anaknya. Sebagai orang tua mereka berusaha menyelamatkan anak-anak mereka meskipun mereka bersalah.


"Pak, bu. Kami benar-benar minta maaf atas kelakuan anak kami."


"Kami mohon untuk tidak melaporkan anak kami ke polisi. Pak, bu."


Kevin memandang siswa bermasalah yang telah menjebak putrinya, Kevin cukup kesal sebenarnya. Dia juga melihat David, dan Lisa, anak dari temannya. Juga mereka adalah teman dekat putrinya. Tapi kenapa mereka melakukan ini pada teman mereka sendiri. Kevin sangat kecewa. Karena itu, Kevin tidak tega melaporkan para murid tersebut ke polisi. Karena keputusan itu akan menghancurkan masa depan anak-anak.


"Jika kalian menyadari perbuatan kalian ini salah, dan tidak akan mengulanginya lagi di masa nanti. Saya tidak akan melaporkan kalian ke polisi. Dan terus terang saja,, saya tidak bisa membiarkan kalian lolos dari hukuman setelah melakukan kejahatan ini. Saya akan menyerahkan keputusan ini kepada pihak sekolah atas hukuman yang akan kalian terima.


"Maaf sekali kami harus pergi. Kami harus melihat anak-anak kami tanding."


"Ah baik. Sekali lagi kami dari pihak sekolah sangat menyesali dengan perbuatan murid-murid kami. Kami juga menyesali atas keputusan dikeluarkannya Sheila karena dia sudah menanggung kesalahan teman-temannya. Jika, tidak... kami akan menarik kembali agar Sheila dapat kembali bersekolah disini."


"Terima kasih. Tapi sepertinya anak saya tidak akan mau kembali ke sekolah ini, karena dia sudah menemukan sekolah baru dan teman-teman yang baik."


Ada ekspresi bersalah di wajah kepala sekolah.


"Ah iyah. Saya melupakan hal ini. Meski anak-anak, saya bebaskan tapi tidak untuk sekolah. Saya tahu para guru dan staf disini ada yang menerima suap dari para orangtua siswa. Jadi, siapkan diri kalian. Karena saya sudah melaporkan hal ini. Permisi."


Kevin dan Rosa pun keluar dengan penuh berwibawa.


Sementara kepala sekolah dan yang lainnya menjadi gelisah.


...****************...


Okeh, Sheila. Fokus. Ini pertempuran terakhir.


Ayoh... fokus Sheila.


Sheila memejamkan matanya terus-menerus mengingatkan dirinya untuk fokus. Karena pikirannya terus-menerus terganggu atas kebenaran yang terjadi pada anggota keluarganya, ia memiliki saudara tiri. Shei masih butuh waktu untuk menerima ini. Dia juga sangat kecewa dengan Rave yang sejak awal tidak jujur.


"Shei?" panggil Ello sambil meletakkan tangannya pada pundak Shei. Shei terbangun. "Kamu kenapa? Sakit?"


"Nggak. Aku baik-baik aja," jawab Shei tersenyum tipis.


"Aku tahu. Kamu pasti kepikiran soal kemarin, kan," ucap Ello. "Ini pasti berat buat kamu tahu soal ini, juga Rave. Rave benar-benar kesepian, Shei. Rave nggak bisa lihat ibunya sendiri karena saat dia lahir, ibunya nggak bisa selamat. Dan selama ini, Rave cuman punya aku, paman Retno, dan papah angkatnya yang udah meninggal juga dan setelahnya, dia baru tahu kalau dia masih punya ayah kandungnya. Dan itu ayah kamu, om Kevin."


Shei hanya diam namun ia mendengarkan.


"Rave nggak mau terlibat dengan ayah kandungnya, dia mencoba menghindar, dan nggak mau merusak kebahagiaan kalian. Tapi setelah ketemu kamu, tahu tentang adik tirinya, apa yang ku lihat, Rave sangat sayang sama kamu yah walaupun dengan caranya yang... yah begitulah. Tapi dia bener-bener sayang sama kamu karena dia udah anggap kamu sebagai adiknya."


Shei terdiam dengan pikirannya mengingat perlakuan Rave padanya. Rave selalu melindunginya, dan membantunya keluar dari masalah. Meski terkadang dia selalu menyebalkan dan tidak peduli dengan keselamatannya, membuat Shei selalu mengkhawatirkannya.


Apakah Shei harus menerima Rave sebagai saudaranya sekarang?


"Ello... Shei...."


Suara teman-temannya datang. Alya, Ghesa dan Joy terlihat. Fay pun berada di antara mereka. Kecuali Alvin yang pergi melihat pertandingan pacarnya.


"Kalian?" Shei melupakan kejadian kemarin tentang masalah sekolahnya dengan teman-temannya karena masalah keluarganya.


"Fay ngelaporin semuanya," ujar Alya.

__ADS_1


"Hah?" Shei dan Ello masih mencerna ucapan Alya tadi. Mereka berdua sama-sama melihat ke arah Fay.


Fay yang masih tampak ketus, dan menatap malas Shei dan Ello itu berbicara. "Kemarin gue udah ngaku ke Pak Satria sama ke sekolahan lo tentang masalah lo sama Lisa. Gue jujur gue yang udah ngirim lo surat ancaman dan buat aib Alya kesebar, dan itu juga disuruh sama Lisa. Gue juga ngelaporin Lisa kalau sebenarnya dia yang udah jebak lo atas tuduhan lo itu."


Teman-temannya menatap lekat lembut dia membuat dia sedikit salah tingkah.


"Gu-gue bukannya bantuin lo yah! Gue cuman mau nyelamatin diri gue sendiri, gue nggak mau terlibat dalam masalah lo sama Lisa!"


Shei tersenyum tipis. "Makasih."


Fay hanya berdeham gengsi.


"Gue tarik ucapan gue kemarin. Lo bukan temen yang jahat. Mmm, sedikit, lo masih punya hati nurani," cetus Ello membuat Fay sedikit terhibur dan senang mendengarnya. "Tapi, bukan berarti lo lolos dari hukuman ya."


Seketika kesenangan itu jatuh lagi. "Ya! Gue juga tahu! Setelah balik ke sekolah, gue disuruh jadi relawan di kantin. Dan gue bakal terus nyalahin ini sama kalian berdua!" pekik Fay pada Ello dan Shei, lalu ia pergi begitu saja setelah berbicara seperti itu.


Sementara Shei dan Ello mereka saling memandang dan segera tersenyum. Shei tidak tahu harus berbuat apa, apakah harus senang dengan masalah yang sudah berakhir dan namanya bersih kembali. Tapi dia juga harus kehilangan temannya, Lisa. Apakah Lisa akan baik-baik saja setelah ini?


Terjadi keributan di tim marching band Nusantara, Shei melihatnya, mereka terlihat panik dan juga kesal. Shei memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Kak Vero..." ucap Shei. "Ada masalah?"


Vero tampak marah. "Lisa. Dia buat kacau tim. Shei. Gue udah tahu."


Shei menatap bingung.


"Kita semua udah tahu. Kalau lo bukan orang yang udah bocorin soal ujian. Tapi Lisa, David, Bimo sama gengnya itu."


Ternyata kabar itu telah tersebar di sekolahan Nusantara High School. Syukurlah. Shei sudah tidak dipersalahkan lagi.


Shei tersenyum hanya angguk. "Mmm. Terus kenapa sama marching band kalian?"


"Iyah itu gara-gara Lisa," kelit Vero kembali kesal. "Dia dikeluarin dari sekolah dan kepala sekolah juga ngelarang dia ikut dalam perlombaan lagi."


Shei terkejut mendengar kabar itu. Mungkin bukan Lisa saja yang dikeluarkan tapi juga Bimo dan geng NHS pikirnya. Tapi bagaimana nasib David, sahabatnya. Apa dia juga dikeluarkan dari sekolah?


"Semoga kalian segera punya solusinya."


"Thanks. Kalau gitu gue kesana dulu."


"Iyah, Kak."


Setelah Vero pergi, teman-teman Shei pun datang mereka mendengar percakapan Shei dengan Vero.


"Dia pantes nerimanya," lontar Ello tertuju pada apa yang didapatkan Lisa.


Shei meliriknya sekilas. "Dia pasti nyalahin gue soal ini."


"Yang penting, dia nggak bakalan gangguin kamu lagi," ucap Alya.


Shei mengangguk dan berharap akan hal itu.


...****************...


"Ayah kecewa sama kamu!"


Lisa mendudukkan kepalanya.

__ADS_1


"Malu-maluin keluarga!"


"Aish! Mau ditaro dimana muka ayah ini huh?! Lihat tadi... Mereka meremehkan kita!"


Orangtua Lisa benar-benar tidak menyukai Kevin dan Rosa. Mereka selalu merasa ingin menang dari mereka atas keberhasilan bisnis mereka.


"Martabat keluarga kita jatoh! Dan itu salah kamu!"


"Setidaknya kamu jangan ketahuan kalau mau ngalahin anak Kevin!"


Lisa tidak tahan lagi. Dia sudah muak dengan orangtuanya. Lisa selalu kalah. Terus akan kalah dari Shei. Seperti orangtuanya yang ingin selalu dipandang sukses dan menang dari siapapun terutama orangtuanya Shei.


"Jadi ini salah Lisa?!" berangnya.


"Terus salah siapa? Ayah? Mamah?"


Muak. Benar-benar muak.


"Kapan kamu mau banggain ayah sama mamah, huh? Kalau kamu aja terus kalah dari anak Kevin!"


"Harusnya kamu pikiran dulu sebelum bertindak!"


"AaaAakh!" teriak Lisa begitu keras membuat kedua orangtuanya tersentak kejut.


"LISA!" bentak ayahnya.


"INI SEMUA SALAH KALIAN!!!" cecar Lisa. "Kalau aja ayah, nggak banding-bandingin aku sama Shei, anak dari temen saingan ayah itu! Lisa nggak bakalan kayak ginih! Dan mamah, nggak pernah mau dengerin Lisa, mamah terlalu sibuk sama urusan mamah sendiri! Sama temen-temen arisan mamah itu!"


Lisa menatap ayahnya penuh emosi. "Ayah bisa bilang kalau Lisa kalah dari Shei. Tapi ayah gimana? Masih tetep kalah dari om Kevin, kan?"


Ayahnya geram tidak kalah emosi. Tanpa sadar dia melayangkan tangannya ke wajah putrinya. Dan.


Slap!


Lisa mendapat tamparan di pipi kanannya. Mamahnya terdiam kejut begitu juga ayahnya yang benar-benar tidak berniat untuk menampar anaknya.


Lisa meneteskan air mata dan pergi meninggalkan rumah yang masih mengenakan seragam sekolah.


Setelah bertemu orang tua di sekolah. Tentu saja dia dan Bimo dan geng NHS yang terlibat akan dihukum. Mereka dikeluarkan dari sekolah seperti yang diterima Shei saat itu. Sementara David, dia tidak sampai dikeluarkan dari sekolah dan mendapat hukuman lain. Tapi orang tuanya memutuskan agar anaknya tidak sekolah di sini lagi. David dikirim ke luar negeri hari ini juga. Tentu mereka berusaha menutupi masalah ini, agar tidak mengacaukan jabatannya.


Lisa berjalan dengan murka. Untuk terakhir kalinya dia akan menuntaskan sendirian, dia tidak akan membiarkan ini berakhir begitu saja.


"Dasar pengkhianatan!"


"Sekarang lo ambil juga temen gue!"


"T'ck! Gue nggak akan biarain ini!"


Lisa sudah tahu bahwa Fay yang melaporkannya. Lisa juga diliputi amarah kepada Shei dan menganggap dia sudah merebut teman baiknya sejak SMP.


...🌸...


...Bau-bau tamat nih......


...Hehehe...


...✨...

__ADS_1


__ADS_2